Amelia

Amelia
Episode 73


__ADS_3

Di tengah perjalanan yang sepi, mereka dikejutkan dengan empat orang begal yang memberhentikan mobil travel yang mereka tumpangi. Mereka menyuruh sang sopir keluar dari mobil, kemudian mereka menyuruh Pak Sopir untuk menyerahkan dompet dan kunci mobil. Namun Pak Sopir menolak, mereka menghajar sopir itu dengan membabi buta. Meli dan Mila yang melihat kejadian tersebut merasa ketakutan, dan mereka pun berteriak sekencang mungkin meminta pertolongan. Namun naas, jarak mereka jauh dari perkampungan, sehingga teriakkan mereka tidak didengar oleh orang lain.


Empat orang begal tersebut menarik tangan Meli dan Mila ke semak-semak. Mereka memberontak dan menangis sekencang mungkin. Namun teriakkan dan tangisan mereka tidak dihiraukan oleh empat orang bertubuh kekar itu. Mereka tertawa dengan tatapan memangsa. Seakan-akan mereka adalah mangsa yang sangat empuk untuk diperebutkan.


Salah satu pria berwajah codet menarik kaki Meli. Dengan senyum menyeringai, dia melucuti pakaian gadis cantik yang ada dihadapannya. Meli berusaha memberontak, dia juga memohon untuk dilepaskan. Namun permintaan hanyalah permintaan, mereka berempat menggagahi kedua gadis kembar yang cantik dan masih muda secara bergilir di semak-semak, di tempat yang sepi dan jauh dari keramaian.


Setelah mereka puas dengan permainan mereka, keempat orang itu juga membunuh sopir travel di depan mata mereka. Meli dan Mila yang melihat itu, hanya menangis ketakutan. Tidak berani bersuara ataupun berteriak.


Mereka kembali mengalami pelecehan seksual, disaat salah satu teman mereka memutilasi tubuh sopir itu tepat di depan matanya. Hingga pagi hari tubuh mereka digarap hingga mereka tidak sadarkan diri.




Mentari pagi menyinari bumi, suara burung berkicau riuh menambah keindahan alam di pagi hari. Seperti biasa, Dahlia melakukan aktivitasnya kembali seperti biasa. Dia tidak bisa selalu berlarut-larut dalam kesedihan. Dia harus bangkit demi anak-anak. Dia juga tidak bisa membiarkan dirinya terlalu bersedih dan tidak melakukan apa-apa.



Selama berhari-hari tidak mengurus rumah, rumah semakin kacau dan berantakan. Ratih sebagai menantu di rumahnya, tidak mau sedikitpun membantu membereskan. Jika Dahlia menyuruh Ratih untuk beberes rumah, dia akan menjadikan kandungannya sebagai alasan.



Dahlia membereskan semua barang-barang yang berserakan, menyapu lalu mengepelnya. Dia sengaja tidak mempekerjakan asisten rumah tangga, karena menurutnya akan menambah biaya pengeluaran. Sejak suaminya masih hidup, dia mengerjakan pekerjaannya sendiri.



Dret .... Dret ..... Dret


Ponselnya bergetar, dia melihat siapa yang menelfonnya saat dirinya sedang sibuk seperti ini. Dia melihat layar kontak ponselnya, sebuah nomer tidak dikenal berkali-kali menghubunginya.


"Hallo, Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu. Ini dengan siapa ya?"



"Selamat siang ibu! Kami dari Rumah Sakit. Apakah benar ini ibu Dahlia?" tanya petugas RS.



"Iya, benar sekali. Ada apa ya?" tanya Dahlia bingung.



"Maaf ibu, kami dari rumah sakit ingin memberitahukan bahwa kedua anak kembar ibu sekarang ini berada di rumah sakit. Mohon ibu langsung datang kemari, kami akan mengirimkan alamat rumah sakit ini," ucap petugas Rumah Sakit.


__ADS_1


"Baiklah saya akan ke sana, terima kasih atas informasinya," ucap Dahlia. "Oya, memangnya mereka kenapa?" tanya Dahlia panik.



"Ibu bisa melihat keadaannya sendiri," jawab petugas RS.



Setelah mendapatkan alamat Rumah Sakit, Dahlia bergegas untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dia buru-buru menelpon putranya untuk menemaninya ke Rumah Sakit. Sepulangnya Arga dari kantor, dia langsung mengantarkan ibunya ke rumah sakit.



Mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Untung saja jaraknya tidak terlalu jauh, masih dalam lingkup satu kota. Sehingga mereka tidak terlalu lama menuju rumah sakit.



Mereka berdua melangkah kakinya menuju pusat informasi. Mereka menanyakan kamar kedua Putri kembarnya dirawat. Betapa terkejutnya Dahlia dan Arga melihat Mila dan Meli terbaring di brankar Rumah Sakit. Tidak berdaya dengan banyak luka di sekujur tubuhnya.



Ada dua orang polisi yang mendatangi mereka. Dan menceritakan kronologi kejadiannya. Dahlia yang mendengarkan cerita polisi sangat syok, dia pun tidak bisa menopang berat tubuhnya. Badannya terasa lemas, kakinya terasa lunglai tidak bertenaga. Dia pun terjatuh dan tidak sadarkan diri.


"Ibu?" panggil Arga.



Satu jam kemudian Dahlia terbangun. Tiba-tiba saja dia menangis sesenggukan, dia meratapi nasib keluarganya yang begitu buruk. Baru saja dia kehilangan suaminya, sekarang dia harus menerima kenyataan pahit bahwa kedua putrinya mengalami pelecehan seksual.



Arga yang menyadari bahwa ibunya sudah bangun dan menangis sedih, dia berusaha menenangkan hati ibunya.


"Sabarlah, Bu! Ibu harus kuat," ucap Arga.



"Bagaimana ibu harus kuat, Nak. Ibu sudah kehilangan ayahmu, sekarang kedua adikmu mengalami kejadian yang sangat tragis," ucap Dahlia.


"Hiks ... Hiks .... Hiks." tangis Dahlia pecah. Hatinya begitu sedih dan sangat sakit.



"Ayo, Bu. Kita lihat keadaan Mila dan Melly. Arga takut mereka terbangun, dan mereka histeris,"


__ADS_1


Benar saja, mereka berdua berteriak histeris. Karena telah mengalami kejadian yang sangat menakutkan dan pertama kali bagi mereka. Mereka digilir sepanjang malam oleh ke-empat penjahat itu. Bukan saja digilir, mereka juga disiksa hingga membuat tubuh mereka terdapat banyak luka sayatan.



Meli sangat histeris, dia terus saja berteriak-teriak. Arga sang kakak berusaha untuk menenangkannya, malah justru Meli begitu ketakutan dan tidak berani menatap wajah sang kakak.



Berbeda dengan Mila. Dia juga sama-sama histeris, dia menangis kencang. Dan sekali-kali, dia melukai dirinya dengan senjata tajam untuk mengakhiri hidupnya. Terpaksa Dokter memberikan obat penenang dosis tinggi, supaya kejiwaan Milla agak tenang.


"Ibu, Bapak. Saya sarankan supaya mereka dibawa ke rumah sakit jiwa, untuk mendapatkan penanganan khusus di sana," saran dokter.



"Tapi anak saya tidak gila, Dok!" Dahlia tidak terima anaknya dikatakan gila.



"Saya tidak mengatakan kalau putri Anda gila. Tapi, kejiwaannya mengalami trauma yang berat. Mereka mengalami trauma yang luar biasa hebat. Mereka harus mendapatkan penanganan yang serius. Jika tidak dilakukan, Apakah Anda mau, putri Anda benar-benar gila?" saran Dokter.



Dahlia benar-benar dibuat syok mendengar penjelasan dan saran dari Dokter. Bagaimana mungkin dia tega membawa putrinya ke Rumah Sakit Jiwa. Dahlia menangis sejadi-jadinya, kemudian barulah dia teringat perlakuan jahatnya kepada Amelia dulu, selama Amelia menjadi menantunya.


"Arga, Apakah ini karma untuk keluarga kita? Ibu sudah berbuat salah kepada Amelia dulu," ujarnya sambil terisak.



"Iya, Bu. Mungkin saja ini adalah karma. Kita tidak pernah memperlakukan Amelia dengan baik, padahal selama ini Amelia begitu baik dengan kita, Arga juga sangat menyesal, tidak pernah berlaku adil kepada Amelia," ucapnya sangat sedih.



"Kita harus bagaimana sekarang?" tanya Dahlia.



"Kita akan membawa Meli dan Mila ke Rumah Sakit Jiwa. Ibu harus kuat, bagaimanapun ini demi kesembuhan mereka," ucap Arga.



"Baiklah,"



to be continued....

__ADS_1


__ADS_2