Amelia

Amelia
Episode 66


__ADS_3

Arga sangat frustasi setelah mendengar kabar bahwa uang yang dia investasikan kepada temannya telah dibawa kabur. Dan yang membuatnya sangat pusing, dia menggadaikan surat rumah milik Amelia dan Ratih kepada rentenir.


Jatuh tempo pelunasan juga sudah lewat, dia harus membayar semua uang yang dipinjamnya, atau sebagai jaminan adalah rumah pribadi yang ditempati bersama Ratih dan juga rumah yang dulu ditempati mantan istrinya.


Di rumah, Arga sudah ditunggu oleh dua orang bertubuh besar. Mereka adalah orang-orang suruhan rentenir. Mereka menagih uang yang dipinjam oleh Arga. Namun Arga belum memiliki uang itu, terjadilah aksi pukul kepada Arga. Ratih hanya bisa menjerit dan berteriak melihat suaminya dipukuli. Setelah suaminya babak belur, barulah mereka pergi.


"Kami akan kembali seminggu lagi, jika kau tidak membayar hutangmu, maka rumah ini menjadi milik Bos kami," bentak dua orang itu.


Arga hanya menunduk ketakutan, badannya sangat sakit dan luka dibibirnya terasa perih. Ratih memapah tubuh suaminya masuk ke dalam.


"Mas, Bagaimana ini? Apakah kau sudah mendapatkan kabar dari teman kamu, Mas?" tanya Ratih.


"Mereka kabur, Sayang," jawab Arga terbata.


"Apa?" Ratih nampak sangat terkejut. "Bagaimana bisa, Mas?"


"Aku telah ditipu," jawab Arga, membuat Ratih menunduk lemah.


"Bagaimana ini? Padahal dua rumah sudah kita gadaikan? Jika semua uang hilang, berarti kita sudah tidak memiliki apapun, Mas!" Arga menganggukkan kepalanya.


"Semuanya gara-gara kamu, Mas! Harusnya kamu lebih berhati-hati lagi!" ucap Ratih menyalahkan suaminya.


"Kamu jangan hanya menyalahkan ku saja! Kau juga bersalah!" bentak Arga kepada istrinya.


"Kenapa justru kau menyalahkan ku, Mas?" kesal Ratih. "Bagaimana dengan biaya aku melahirkan? Uang dari mana?"


"Ah, sudahlah! Kau jangan membuatku pusing!" ucap Arga meninggalkan Ratih yang masih terisak di sana.


Arga berusaha untuk menghubungi rekannya, tapi nomornya sudah tidak aktif lagi. Dia sangat frustrasi, dia berjalan mondar mandir mencari akal supaya rumahnya tidak jadi disita oleh rentenir itu.


Kediaman Williams


Thomas mengerjapkan matanya, setelah mendengar alarm ponselnya yang berbunyi nyaring. Dia sengaja menyetel alarm pukul lima pagi. Supaya dia mempunyai waktu untuk mandi dan bersih-bersih. Dia menoleh ke arah samping, istrinya masih tertidur dengan pulas. Thomas memandang wajah sang istri, ternyata meskipun dalam keadaan tidur, istrinya masih terlihat sangat cantik. Dia sangat beruntung mendapatkan istri seperti Amelia. Bukan hanya cantik, dia juga sangat baik dan lembut. Itulah mengapa Sherly begitu menyayangi Amelia.


Tidak bosan dia memandangi wajah sang istri, seketika dia tersenyum mengingat malam pengantinnya berjalan dengan mulus dan lancar. Dia mengingat bagaimana sang istri bisa mengimbangi permainannya tadi malam. Thomas sangat puas sekali, membuat dirinya kecanduan ingin mengulanginya sekali lagi. Ia pun mengecup bibir sang istri dengan gemas. Membuat Amelia menggeliatkan tubuhnya, ternyata sang suami sudah bangun.


"Pagi, Sayang!" sapa sang suami dengan senyum yang mengembang.


"Pagi, Mas," jawab Amelia.


"Bangunlah dulu! Pakai bajumu, Sayang!" suruh suaminya.

__ADS_1


"Hoam,"


"Masih mengantuk, Mas," ujarnya.


"Jika kamu masih dalam keadaan seperti ini, nanti Sherly takut Sayang," ucap suaminya sambil mengelus-elus pipi sang istri.


Barulah Amelia teringat bahwa ia masih dalam keadaan po****s. Dia pun bergegas menarik selimutnya, dan menggulung tubuhnya dengan selimut tersebut. Ia langsung menyambar handuk dan pakaian ke kamar mandi. Thomas yang melihat kelakuan istrinya seperti itu membuatnya terkekeh geli. Thomas memakai boxer dan baju, kemudian beralih memeriksa sedikit pekerjaan dilaptopnya.


Terdengar Aska menangis, dia pun mendekat ke arah putranya. Menggendong Aska dengan sayang, dia tidak menyangka kalau sekarang dia memiliki dua orang anak.


"Berkat kau, Daddy dan Mommy bisa bersatu," ucapnya sambil mengelus kepala Aska dengan sayang.


"Aska bangun, Mas?" tanya Amelia yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Iya, Sayang. Sepertinya lapar deh, Sayang?" ucap suaminya.


"Sini, biar aku memberikannya ASI dulu!" Thomas menyerahkan Aska kepada Amelia. "Cup .... Cup, Sayang. Kamu lapar ya?" Aska menyusu dengan semangat, sepertinya dia takut kalau stok ASI nya akan di minta oleh sang Daddy. Baby Aska enggan untuk melepaskan buah melon itu. Melihat sang istri kerepotan menyusui Aska sambil memegangi rambutnya yang basah, Thomas pun membantu Amelia mengeringkan rambutnya.


"Jangan di habisin dong, Sayang! Daddy juga mau nih?" candanya. Membuat Aska lebih erat menggenggam buah melon itu.


"Kurang besar tuh, Sayang!" tunjuk Thomas.


"Itunya," tunjuk Thomas ke arah buah melon milik Amelia.


"Ish, dasar mesum," jawab Amelia, Thomas terkekeh geli. Karena Amelia baru memiliki anak, jadi pu*****ngnya tidak terlalu besar, membuat Aska agak kesulitan meraih benda sebesar biji kacang.


"Nanti malam aku bantu membesarkannya ya, Sayang," ucap Thomas tanpa malu.


"Jangan mesum deh, Mas! Sana mandi," suruh istrinya.


"He ... He .... He."


"Oke, aku akan mandi, tapi, cium dulu!" pintanya.


"Muuuuuuuuaaaaaaaccccchhhhhh," Amelia mencium singkat bibir suaminya. Thomas pun bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan bersih-bersih.


Amelia bangun pagi dan sekarang dia sedang membantu para pelayan di dapur untuk membuat sarapan. Amelia memang wanita yang sempurna, dia tidak mengandalkan jasa pelayan untuk melayani keluarganya. Membuat para pelayan kagum dengan sifat lembut dan ramah nyonya mudanya.


"Pagi, Sayang!" sapa Mama Celine.


"Pagi, Ma."

__ADS_1


"Sedang masak apa?" tanya Mama.


"Amelia sedang membuat sup daging, Ma. Sangat bagus untuk memulihkan stamina," jawab Amelia, membuat mertuanya tersenyum penuh arti.


"Selamat pagi semuanya!" sapa Alina.


"Pagi, Al."


"Wah, wajah kakak ipar berseri-seri," goda Alina. "Sepertinya Kak Thomas berhasil memasukkan bola ke gawang," ucap Alina membuat Amelia membulatkan matanya.


"Kamu pikir mereka sedang bermain bola," cibir Mama. Alina terkekeh geli.


"Secara kan, Ma. Kak Thomas kan sudah menduda selama lima tahun, berarti sekarang golok karatan milik Kak Thomas akan sering di asah," ujar Alina terkekeh geli.


"Alina," pekik Amelia, membuat muka Amelia merah merona karena malu dengan kata-kata Alina. "Sekarang kamu duduk, sebentar lagi masakannya selesai!" ucap Amelia mendorong tubuh adik iparnya agar duduk di kursi.


"Kemana Thomas? Dan Bram juga belum keluar kamar?" tanya Mama.


"Mas Thomas masih di kamar, sedang bermain dengan Aska, Ma," ucap Amelia. "Biar Amelia panggil Mas Thomas," ucapnya bergegas ke kamar.


Ternyata Aska sudah mandi dan wangi. Dia juga terlihat sudah tampan seperti Daddy-nya.


"Wah, Aska sudah mandi, Kamu yang mandiin, Mas?" tanya Amelia kepada suaminya.


"Iya dong, Sayang," jawab Thomas.


"Kok bisa sih, Mas?"


"Bisa dong, Sayang. Sejak Sherly masih bayi, Kan aku yang memandikannya, aku yang memakaikannya baju, menyuapinya dan mengajarinya berjalan!" ucap Thomas. Kata-kata suaminya membuat Amelia kagum. Ternyata suaminya sangat perhatian dengan anak. Seketika Amelia mengecup pipi suaminya, hadiah kecil untuk sang suami.


"Jangan menggodaku, Sayang!" ujar suaminya, Amelia hanya terkekeh.


"Mommy?" panggil Sherly.


"Hei, cantiknya Mommy," ucap Amelia. "Sudah bangun, Ayo mandi! Dedek Aska juga sudah mandi dan ganteng!" suruh Amelia.


"Sherly mau dimandiin Mommy," ujarnya.


"Boleh, Ayo buruan!" Amelia menggelitik tubuh Sherly membuat dia terkekeh kegelian.


to be continued....

__ADS_1


__ADS_2