Amelia

Amelia
Episode 172


__ADS_3

Promosi dulu Sayang... Mampir juga di karyaku berjudul "ISTRIKU BERBEDA '


"Tangisan adalah cara mata berbicara ketika mulut terbungkam, tak sanggup menjelaskan seberapa hancurnya hati ini."


"Kekecewaan sebenarnya hanya sebutan bagi penolakan kita untuk melihat sisi baiknya."


"Terkadang kita menciptakan sendiri rasa sakit hati melalui ekspektasi.""Harapan adalah akar dari semua rasa sakit di hati." - William Shakespeare


🍁🍁🍁🍁🍁


Nathan melangkahkan kakinya keluar Rumah Sakit. Kakinya bergetar hebat setelah mengetahui hasil Rumah Sakit mengatakan dirinya terjangkit penyakit Sifilis.


Dengan tergesa dia melangkahkan kakinya menuju Apartemen Dewi. Hatinya bergemuruh, pikirannya sedang tidak sinkron. Rasa marah, kesal dan jengkel melebur menjadi satu.


Dengan kecepatan penuh, Nathan melajukan kendaraannya menuju Apartemen Dewi. Sampai di depan Apartemen, Nathan mempercepat jalannya, memasuki lift dan berhenti di depan kamar Dewi.


Tok ... Tok ... Tok


Beberapa kali mengetuk pintu, Dewi baru membukanya.


"Nathan?" kagetnya. Nathan tidak kalah terkejutnya dengan Dewi. Wanita yang biasanya cantik dan menarik, wajahnya sangat pucat, dengan lingkaran mata yang menghitam.


"Kamu sakit, Wi?" tanya Nathan.


"Nggak," elaknya.


"Kenapa wajah kamu sangat pucat?" tanya Nathan.


"Masa sih?" Dewi meraba wajahnya. Nathan terkesiap, dia baru teringat dengan tujuan utamanya.


"Dewi, katakan sejujurnya! Apa kamu sakit?" ketus Nathan.


"Kamu ini datang-datang malah bertanya aku sakit? Maksud kamu apa sih?" kesal Dewi. Nathan memberikan surat kesehatan dari Rumah Sakit.


"Ini, Bacalah!" perintah Nathan kepada Dewi. Dewi nampak sedang membaca surat tersebut, dia nampak serius membaca perkalimatnya. Meskipun tidak begitu paham, tapi, disitu dengan jelas mengatakan bahwa Nathan mengidap penyakit sifilis. Dewi nampak terperangah, dia tidak percaya dengan apa yang dibacanya.

__ADS_1


"Sebelumnya aku tidak pernah mengidap penyakit terkutuk itu. Apakah kau yang membawa penyakit itu?" marahnya. Dewi sangat terkejut dengan tuduhan yang dilontarkan kekasihnya.


"Apa maksudmu, Nathan? Kau bicara apa sih? Aku nggak ngerti!" ucapnya.


"Sudahlah, Dewi. Jangan mengelak lagi!" marah Nathan, "Berapa pria yang sudah tidur denganmu?" tanya Nathan sambil mencekram lengan Dewi.


"Auw, sakit Nathan. Kau menyakitiku!" pekiknya, mengaduh kesakitan.


"Katakan padaku?" bentaknya.


"Bukan urusanmu! Sekarang pergi dari sini! Tinggalkan aku sendiri!" isaknya.


"Aku tidak akan pergi sebelum kau mengatakannya dengan jujur!" ucap Nathan.


"Aku tidak pernah merasa kalau diriku memiliki penyakit. Jadi, jangan pernah menuduhku sembarangan! Pergi dari sini! Jika tidak, Aku akan memanggil security!" ancamnya. Dewi mendorong tubuh Nathan supaya keluar dari Apartemennya.


"Dewi!" panggil Nathan menggedor pintu Apartemen Dewi.


"Pergi kamu, Nathan. Biarkan aku sendiri!" teriaknya dari dalam Apartemen.


Suara gedoran pintu dan teriakkan mereka membuat orang yang tinggal di kamar lain menjadi merasa terganggu. Satu persatu keluar dari kamarnya, membuat Nathan merasa tidak enak. Akhirnya, dia memutuskan untuk pulang.


Nathan merasakan seluruh tubuhnya terasa nyeri, lemas dan sedikit demam. Dia mengambil kotak P3K, mencari obat demam. Dan meminumnya. Istirahat sebentar saja, demamnya agak menurun.


Badannya terasa sangat gerah dan lengket. Dia memutuskan untuk mandi dan bersih-bersih. Selesai mandi, dia berdiri di depan cermin. Ia merasa aneh dengan tubuhnya. Entah sejak kapan banyak sekali ruam-ruam merah menempel di tubuhnya. Namun terkadang ruam itu hilang dengan sendirinya tanpa perlu pengobatan. Dia tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Ia menganggap penyakitnya tidak terlalu berbahaya.


Lama berdiam diri di rumah membuatnya sangat bosan. Nathan memutuskan untuk pergi ke luar. Memang dia sudah mengirimkan surat izin untuk tidak masuk ke kantor.


Dia memutuskan untuk pergi ke Supermarket. Semua stok sabun dan shampo sudah habis. Biasanya Michelle yang menyediakan semuanya. Dia tinggal mandi dan pakai saja. Namun kali ini dia harus membeli perlengkapan mandi sendiri.


Nathan mengambil trolly dan mendorongnya ke tempat sabun dan shampo. Banyak yang ia beli, untuk stok di rumah. Selesai dari tempat sabun, dia kembali mendorong trollynya ke tempat makanan.


Nathan mengambil beberapa mie instan, minuman kaleng, cemilan dan buah-buahan. Dia kembali mendorong trollynya ke tempat obat. Dia membeli salep untuk menghilangkan ruam-ruam merah di tubuhnya.


Setelah semua barang ia dapatkan, ia bawa belanjaannya ke meja kasir. Dia membayar semua barang belanjaannya. Dua kantong keresek, ia masukkan ke bagasi mobil.

__ADS_1


Selesai memasukkan barang belanjaannya. Nathan sedikit menarik nafasnya. Membawa dua kantong kresek, membuatnya kelelahan. Dia duduk di jok mobil dengan mengatur nafasnya.


Nathan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia harus sampai di rumah dan beristirahat sebentar. Tidak menunggu waktu yang lama untuk sampai di depan rumah, karena memang Nathan memilih Supermarket dekat dengan rumahnya.


Dia menaruh semua belanjaannya di meja dapur. Dia bergegas ke kamar mandi, karena dia merasa ingin membuang hajat kecil di kamar mandi. Saat air kencingnya dikeluarkan, rasa perih dan panas mendera di bagian alat vitalnya. Nathan harus berusaha keras untuk menahan rasa sakit itu. Air mata dan keringat bercucuran, rasa perih dan panasnya tidak tertahankan lagi.


Nathan duduk di kursi dapur. Mengatur nafasnya, sambil mengipas-ngipas rasa perih itu.


"Apa yang terjadi denganku? Apakah ini ciri-ciri penyakit terkutuk itu?" marah Nathan sambil menggebrak meja.


BRAKK ...


"Ini semua gara-gara Dewi. Jika dari awal dia mengatakan kalau dia memiliki penyakit itu, semuanya tidak akan pernah terjadi!" marahnya.


Dia menjambak rambutnya sendiri, dan terisak menyesali semua perbuatannya. Dia merasa menjadi pria yang sangat menjijikkan karena mendapatkan penyakit terkutuk itu.


Tiga hari berlalu, Nathan terbaring lemah di kasur. Tubuhnya panas, perutnya membengkak. Karena, dia berusaha untuk tidak mengeluarkan air kencingnya. Dia sadar, jika air kencingnya keluar, maka dia akan sangat tersiksa. Nathan akan kembali merasakan sakit yang luar biasa dari lubang kencingnya.


Dia terbaring lemah tidak berdaya. Dia sengaja tidak makan dan minum, supaya aktivitasnya ke kamar mandi tidak terlalu sering. Membuat badannya sangat lemah dan lemas.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hari ini Michelle berencana untuk pulang ke rumah. Ada barang yang tertinggal yang hendak ia ambil. Pulang dari kantor, dia melajukan mobilnya menuju rumah.


Di depan rumah, ada mobil suaminya. Itu berarti, Nathan tidak ke kantor, pikir Michelle. Sebenarnya dia sangat malas bertemu dengan sang suami, tapi, Michelle terpaksa harus pulang untuk mengambil sesuatu di rumahnya.


Michelle mengetuk pintu rumah tidak ada sahutan dari dalam, padahal jelas-jelas mobil suaminya di rumah.


"Apakah Mas Nathan sedang tidur?" tanyanya dalam hati. Dan yang paling membuatnya tercengang adalah pintu rumah tidak di kunci.


"Ck, Bagaimana sih Mas Nathan? Rumah kok tidak dikunci?" kesalnya.


Michelle masuk ke dalam rumah. Dia berfikir mungkin suaminya sedang tidur. Dia pun langsung masuk ke kamar untuk mengambil barang-barangnya.


Satu tas ransel kecil ia gedong dipundaknya. Ia pun harus bergegas keluar dari rumah itu. Namun entah kenapa, hatinya merasa tidak tenang, dia sangat penasaran apa yang dilakukan oleh suaminya selama ini. Karena membiarkan rumahnya sangat kotor, banyak tisu berserakan dengan bau amis yang menyengat. Dan bekas makanan dan minuman yang berserakan tidak dibuang pada tempatnya.

__ADS_1


"Dasar Mas Nathan! Padahal baru dua Minggu aku tidak tinggal di rumah. Sudah seperti kapal pecah!" sungutnya.


to be continued ....


__ADS_2