
Alina bersandar di pintu toilet, menunggu hasil testpack kali ini. Hari ini sudah kesekian kalinya dia mengetes urinenya. Namun hasilnya tetap negatif. Dia keluar dari kamar mandi dengan muka yang masam.
"Lho, Sayang, ada apa? Kenapa raut muka mu seperti itu?" tanya Bram.
"Al sedang sedih, Bang!" ucap Alina.
"Lho kenapa?" tanya Bram lagi merasa heran, karena tidak puas dengan jawaban istrinya.
"Ini sudah kesekian kali Alina mengecek tapi hasilnya tetap negatif," ujarnya.
"Oh, soal itu lagi. Kan sudah Abang katakan, kita harus bersabar, Sayang. Mungkin saja Tuhan belum percaya dengan kita. Makanya kita belum dipercaya untuk mempunyai anak," tutur Bram.
"Tapi Al sudah ingin menggendong bayi," ucap istrinya sangat lucu.
"Jangan cemberut gitu dong, Sayang. Semuanya itu ada prosesnya. Kita nikmatin dulu kebersamaan kita," ujar Bram.
"Tapi, aku ingin segera memiliki anak, Bang!" ujarnya.
"Bagaimana kalau hari ini kita buat? Kalau belum jadi kita cetak lagi? Kalau masih gagal juga, setiap jam kita cetak sampai jadi?" ucap Bram.
"Ck, Dasar mesum!" kesal Alina, "Abang pikir aku mesin?" sungutnya membuat Bram terkekeh geli.
"Sabar, Sayang. Aku yakin kok, kamu pasti akan menjadi seorang ibu!" ucap Bram.
"Terima kasih, ya, Bang. Abang tidak menuntut banyak dari Al. Padahal Al belum bisa membahagiakan Abang,"
"Senyum kamu itu sudah membuat hati Abang bahagia, kamu itu segala-galanya buat Abang," tuturnya sambil mengecup kening istrinya.
"Benarkah?"
"Iya, Sayang," jawab Bram.
"Aku sangat merindukan keluarga di Indonesia. Kapan kita bisa pulang ke Indonesia?" tanya Alina.
"Sabar, ya, Sayang. Kita belum bisa pulang, nanti jika ada waktu dan kesempatan kita pulang ke Indonesia," ujar Bram.
"Aku merindukan Mama, kakak ipar, Bang Thomas, Sherly dan si kecil Aska. Pasti Aska sudah bisa berjalan," ucap Alina.
__ADS_1
"Iya, aku juga merindukan mereka semua," jawab Bram memeluk tubuh istrinya.
Tinggal jauh dari orang-orang yang disayangi, membuat Alina sangat mandiri. Bangun pagi, menyiapkan sarapan buat suami kemudian menyiapkan baju kantor suaminya.
Sembari menunggu suaminya pulang dari kantor, Alina membantu para pelayan memetik sayur-sayuran dan buah-buahan di ladang belakang rumah. Hasil panen yang mereka dapatkan hari ini lumayan banyak. Dan mereka hanya akan memanen sayur dan buah jika bukan musim gugur dan salju. Karena pada musim tersebut semua tumbuh-tumbuhan kalau tidak mati mereka akan gugur. Ternyata lumayan sulit tinggal di Jerman. Alina sampai heran, suaminya bisa menyesuaikan diri dengan musim di sini selama beberapa tahun.
Dia merasa bosan, sesekali dia melihat acara televisi. Tapi, tidak ada yang membuatnya tertarik. Dia merasa sangat dan sangat bosan. Biasanya kalau di Indonesia, dia masih di RS menangani pasien. Namun kali ini dia hanya duduk melamun menunggu kedatangan sang suami.
Karena merasa sangat bosan, dia pun memutuskan untuk mendatangi suaminya di kantor. Dengan menggunakan taksi, Alina sudah sampai di pusat kota. Sebelum sampai di kantor suaminya,, dia mampir dulu ke sebuah toko roti.
"Mau beli yang mana, Nona?" tanya pelayan dengan menggunakan bahasa Jerman.
"Saya pesan yang ini, ini dan ini," ucap Alina dengan menggunakan bahasa Jerman juga. Dia menunjuk roti keju, coklat dan strawberry kesukaannya.
Sambil menunggu pesanan Alina dibungkus, tiba-tiba ada seorang ibu hamil yang hendak melahirkan. Dia berteriak karena air ketubannya sudah merembes keluar. Semua orang berteriak meminta pertolongan, Alina yang melihat kejadian tersebut langsung berlari mendekatinya.
"Ada apa?" tanya Alina dengan bahasa Jerman.
"Dia sepertinya mau melahirkan," ucap salah satu pengunjung di sana.
"Panggil taksi! Kita harus membawanya ke RS. Bayinya sudah mau keluar!" teriak Alina. Seorang security memanggil taksi, dan membopong tubuh wanita itu ke taksi tersebut. Tidak ada yang menemaninya ke RS. Terpaksa Alina harus ikut ke taksi tersebut.
"Sakit!" pekik wanita itu. Sopir taksi melajukan kendaraannya dengan kecepatan penuh.
"Apakah masih lama?" tanya Alina kepada Pak Sopir.
"Setengah jam lagi, Nona," jawab sopir tersebut.
"Setengah jam? Tidak ada waktu untuk pergi ke sana," batinnya.
"Hufffff .... Hufffff !" wanita itu terus berteriak, sesekali menghembuskan nafasnya.
"Oke, saya seorang Dokter kandungan di Indonesia. Jadi, Tolong bekerja samalah dengan saya. Tidak ada waktu lagi, bayinya harus segera dikeluarkan. Jika tidak secepatnya dikeluarkan nyawa bayinya bisa terancam!" ucap Alina.
"Baiklah. Tolong saya, Nona!" ucapnya.
"Sekarang ibu tarik nafas lalu hembuskan. Kemudian tarik lagi hembuskan lagi. Hitungan ke tiga dorong bayinya supaya keluar, Oke!" teriak Alina, karena bisingnya taksi yang ia tumpangi membuat dirinya harus berbicara keras.
__ADS_1
"Satu .... Dua .... Tiga! Ayo mengejan! Pasti kamu bisa!" ucap Alina memberi semangat.
"Huffffff ..... !"
"Ayo, mengejan sekali lagi!" ucap Alina.
OEK .... OEK .... OEK
Lahirlah seorang bayi cantik bermata biru. Alina langsung melepaskan jaket rajutnya, kemudian membungkus tubuh bayi itu. Wanita itu nampak kelelahan setelah mengalami perjalanan yang panjang, matanya hampir saja menutup, kemudian Alina berusaha menggerakkan tubuh wanita itu supaya tidak tertidur.
Taksi yang mereka tumpangi sampai di depan RS. Sopir taksi berteriak meminta pertolongan untuk wanita yang baru saja melahirkan di dalam taksinya. Tiga orang petugas datang dengan membawa brankar, dan memindahkan tubuh wanita itu di atas brankar. Banyak darah yang dikeluarkan wanita tersebut, hingga baju Alina penuh dengan noda darah.
"Tolong, wanita ini habis melahirkan. Berikan dia pertolongan segera!" ucap Alina kepada Dokter spesialis kandungan.
"Baik, Silahkan Nona menunggu diluar!" perintah Dokter. Alina pun menunggu di luar ruangan tersebut.
Beberapa menit kemudian, Dokter keluar.
"Apakah Anda yang membantu persalinannya?" tanya Dokter tersebut.
"Iya, Dok. Kebetulan saya seorang Dokter kandungan," jawab Alina.
"Pantas saja, Anda menanganinya dengan tepat. Nyawa ibu dan bayinya bisa tertolong berkat Anda!" puji Dokter tersebut.
"Dokter bisa saja. Saya hanya mempraktekkan apa yang saya ketahui," jawab Alina.
"Baiklah, Saya tinggal dulu! Mari Nona!" ucap Dokter berpamitan. Alina melihat dirinya sendiri, banyak sekali noda darah yang menempel pada bajunya. Dia pun langsung menelfon suaminya untuk segera datang ke RS dengan membawa baju ganti. Bram nampak kebingungan, namun setelah diberikan penjelasan, akhirnya dia pun mengerti dan khawatir juga dengan keadaan sang istri.
Satu jam kemudian, Bram datang membawa baju ganti istrinya. Alina langsung mengganti bajunya dengan baju yang bersih.
Selesai mengganti baju, dia pun menceritakan kejadiannya secara detail kepada sang suami. Bram yang mendengarkan penjelasan sang istri hanya manggut-manggut saja.
"Selamat siang!" sapa Alina dan Bram, memasuki ruang rawat inap wanita itu. Di sana sudah ada keluarga wanita tersebut. Mereka semuanya berkumpul bersama, merayakan kedatangan makhluk cantik ke dunia. Wanita yang sudah di tolongnya, begitu bahagia dan memeluk Alina. Berkali-kali ia mengucap rasa terima kasih. Begitu juga dengan suami dan mungkin keluarga besarnya. Mereka mengucapkan banyak terima kasih kepada Alina.
Sebelum berpamitan, wanita tersebut meminta alamat rumah Alina. Wanita itu memperkenalkan dirinya bernama Maura dan suaminya bernama James. Mereka suami istri yang sangat ramah dan baik.
to be continued....
__ADS_1