Amelia

Amelia
Episode 108


__ADS_3

Sherly menekan nomor milik Daddy-nya, namun tidak aktif. Kemudian dia mengingat-ingat nomor Mommy Amelia. Tidak juga diangkat, dia kembali menekan nomor Mommy nya.


Dret ... Dret .... Dret


"Hallo?"


"Mommy, Sherly mau pulang. Sherly takut!"


"Hallo ... Hallo. Ini siapa?" tanya Amelia panik.


"Sherly, Mommy,"


"Hiks ... Hiks ... Hiks."


"Hallo ... Hallo?"


"Tut .... Tut .... Tut,"


Sambungan telepon terputus karena sinyal yang memang sedang tidak bagus.


"Hallo, Mommy?" isak Sherly.


"Sherly?" tangan kekar memegang pundak Sherly. Sherly menoleh ke arah sumber suara, ternyata pria yang bersama dengan Mommy Clara berdiri dibelakangnya.


"Sedang apa disini?" tanya Billy menatap tajam Sherly.


"Sherly mau pulang. Sherly mau ketemu sama Mommy Amelia. Sherly mau ketemu Daddy!" teriaknya.


"Ayo kita kembali ke kamar!" ajak Pria tersebut.


"Nggak mau, Sherly nggak mau! Kalian jahat!" teriaknya.


"Tapi Mommy Clara menunggu kamu, Sayang. Apakah kau tidak kasihan dengan Mommy?"


"Dimana Mommy?" tanya Sherly.


"Ikutlah Om!" ajak Billy. Terpaksa Sherly menuruti kemauan orang itu.


"Sherly? Kamu ke mana saja? Mommy mencari kamu, Sayang?" ucap Clara kepada Sherly. Sherly nampak ketakutan melihat wajah Mommy nya.


"Sherly mau pulang. Sherly mau ketemu sama Daddy," jawabnya.


"Iya, Sayang. Nanti kamu pulang ya? Sekarang kamu istirahat dulu, karena sebentar lagi akan ada pemeriksaan dari Dokter," ucap Clara.


"Sherly nggak mau. Sherly mau pulang!" teriak Sherly.


"Sebaiknya, malam ini juga kita harus melakukan transplantasi tersebut. Semakin cepat semakin baik!" ucap Billy.


"Iya, Mas!" jawab Clara.


INDONESIA


Amelia bergegas menemui mertuanya, dia ingin menyampaikan kabar ini kepada Mama mertuanya.


"Ma? Mama?" panggil Amelia.

__ADS_1


"Iya, Nak,"


"Ma, tadi Sherly menelfon Amelia. Katanya dia ingin pulang!" ujar Amelia. Celine dan Alina saling berpandangan.


"Kapan?"


"Tadi, Ma. Amelia yakin tadi suara Sherly," ujarnya.


"Tapi, Sekarang Sherly sedang berada di Sydney," jawab Celine.


"Sydney?"


"Iya, Kak. Sherly berada di Sydney. Dan Kak Thomas dan Bang Bram menyusul ke Sydney tadi malam," timpal Alina.


"Mas Thomas ke Sydney? Kok nggak membangunkan Amelia? Memangnya Mas Thomas pulang jam berapa, Ma?" tanya Amelia bingung.


"Tengah malam, Nak. Thomas ingin membangunkanmu namun sepertinya kau kelelahan dan dia tidak tega membangunkanmu!" ujar Celine.


"Apakah dia semarah itu, sampai tega tidak membangunkan ku, dan pergi begitu saja?" batin Amelia sangat sedih.


"Kamu jangan salah paham, Nak. Thomas sangat ingin membangunkanmu namun dia tidak tega, karena kau sangat terlelap dalam tidur mu!" jelas Celine.


"Nggak, Ma. Amelia paham kok," jawabnya, "Kenapa mas Thomas harus ke Sydney?" tanya Amelia.


Celine pun menceritakan semuanya kepada Amelia, betapa terkejutnya Amelia mendengar cerita dan penjelasan Mertuanya.


"Kenapa Clara begitu tega, Ma?" tangis Amelia. Alina berusaha memeluk kakak iparnya supaya tenang.


"Entahlah, Mama sendiri tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya!" ujar Celine.


"Hiks ... Hiks .... Hiks."


"Sudah, Nak. Jangan menangis lagi. Kau sangat menyayangi Sherly, dan kau ingin melihat Sherly bahagia. Jadi, Jangan terus-terusan menyalahkan diri kamu sendiri!" tutur Celine.


"Maafkan, Amelia, ya, Ma!"


"Iya," jawab Celine, "Yang sekarang bisa kita lakukan adalah berdoa supaya Sherly cepat kembali ke rumah ini. Berhentilah menyalahkan diri kamu sendiri!"


"Terima kasih, Ma. Amelia mandi dulu ya, Ma!" pamitnya.


Amelia masuk ke dalam kamarnya. Dia melihat Aska masih tertidur. Dia masih saja menangis dan menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa Sherly.


"Clara? Aku harus menelfon Clara!" ucapnya. Amelia mendial nomor Clara, dan beruntungnya dia karena nomor Clara aktif.


Dret ... Dret .... Dret


"Hallo?"


"Hallo, Clara ini aku Amelia. Tolong jangan tutup telepon kamu. Aku ingin berbicara empat mata dengan kamu!" ucap Amelia.


"Ada apa?" tanya Clara.


"Aku sudah tahu semuanya! Kenapa kau tega membohongiku? Kenapa harus dengan cara seperti ini kau membawa Sherly?" cecar Amelia. Clara hanya termangu mendengarkan kata-kata Amelia.


"Sherly adalah anakku. Dia adalah darah daging ku. Jadi, terserah apa yang akan aku lakukan kepadanya!" jawab Clara.

__ADS_1


"Aku tahu, Kau akan kehilangan seorang anak. Aku juga kehilangan seorang anak, yaitu Sherly. Aku sudah menganggap Sherly seperti anak yang keluar dari rahimku. Saat kau membawanya pergi, ada sesuatu yang hilang dari diriku. Kau juga sama seperti itu kan? Cuma bedanya, kau adalah ibu kandungnya, dan aku bukan. Lalu, Apakah aku salah jika menganggap anak mu seperti anakku sendiri? Aku mohon jangan lakukan itu kepada Sherly! Kau sudah meninggalkannya selama bertahun-tahun, setidaknya berbuat baik sedikitlah kepada putrimu!" isak Amelia.


"Dia terlalu kecil untuk melakukan transplantasi sumsum tulang, dan jika transplantasi ini tidak berhasil, maka akan berdampak buruk bagi kesehatannya," ucap Amelia panjang lebar.


"Tapi Aku seorang ibu. Aku ingin putriku Jenny sembuh," isak Clara.


"Tapi tidak dengan mengorbankan putrimu yang lain. Dia juga darah dagingmu, yang selama sembilan bulan berada di dalam kandungan mu. Namun dia tidak pernah protes atau meminta haknya sebagai anak. Dia hanya ingin kau mengakuinya dan menyayanginya. Aku mohon Clara, berbaik hatilah! Jangan teruskan transplantasi itu! Aku mohon!" isak Amelia.


Tut ... Tut ... Tut


Clara mematikan sambungan teleponnya.


"Hallo? Hallo, Clara?"


"Hiks ... Hiks ... Hiks." Amelia menangis sejadi-jadinya, betapa bersalahnya dia.


"Apa yang harus aku lakukan?" isaknya.


Amelia pun mandi dan bersih-bersih. Dia melihat Aska masih tertidur pulas. Ia pun menggunakan Dhuha nya untuk meminta pertolongan kepada sang Pencipta. Tuhan di atas segala-galanya. Tuhan pemberi pertolongan.


Cukup lama Amelia berdoa dan menangis. Mengeluhkan segala permasalahannya, kesedihannya dan dukanya kepada sang Khaliq.


SYDNEY


Turun dari Bandara mereka disambut oleh detektif yang selama ini mengikuti pergerakan Clara dan suaminya.


"Pak Thomas?" panggil detektif tersebut.


"Pak Bastian!" Mereka berjabat tangan.


"Perkenalkan ini adikku, Bram!" ucap Thomas memperkenalkan Bram kepada Bastian.


"Bastian, seorang detektif swasta," ujarnya.


"Apakah ada informasi penting, Pak?" tanya Thomas.


"Ada, Ayo silahkan ikuti saya. Saya akan menunjukkan dimana Sherly!" ajak Bastian kepada Thomas dan Bram.


"Mari!"


to be continued.......


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Hello, semuanya!!! Kasih like dan dukungannya dong untuk karya ini, supaya Author semakin bersemangat ngetiknya. Penasaran kelanjutannya kan??? Ayo dukung karya ini dengan like, rate bintang lima, kasih komentar banyak ², bunga dan secangkir kopi untuk Author biar tidak mengantuk. Dukungan para Readers adalah penyemangat bagi Author ² semuanya.....


Dukung juga karyaku, di "Hidden Rich Twins" . Ceritanya juga nggak kalah seru.... tetap dukung karya Cahyaning Fitri.


Jangan lupa selalu kasih like nya.......😘😘😘


Happy Reading....,💕💕💕


Happy Reading....,💕💕💕


Happy Reading....,💕💕💕

__ADS_1


Happy Reading....,💕💕💕


Happy Reading....,💕💕💕


__ADS_2