Amelia

Amelia
Episode 116


__ADS_3

"Aku mau kembali ke butik, Mas!" ucap suaminya.


"Nanti saja, Sayang. Aku masih membutuhkan mu!" ucapnya.


"Lho, memangnya kamu membutuhkan apa, Mas? Aku juga tidak bisa membantu pekerjaan mu!" ucap Amelia.


"Iya, bantu do'a, Sayang!" ucap Thomas terkekeh, "Kamu itu penyemangat ku, jadi, jika kamu disini, aku jadi lebih bersemangat lagi!"


"Ish, ada-ada saja!" cebik istrinya.


Mendengar rengekan suaminya, terpaksa dia harus mengurungkan niatnya untuk kembali ke butik. Untungnya, tidak ada pekerjaan yang merepotkan.


Sembari menunggu suaminya bekerja, dia merebahkan tubuhnya di sofa sambil bermain game di ponsel. Lumayan lama juga ternyata menunggu pekerjaan suaminya selesai. Hingga tanpa terasa matanya sudah menutup saja. Amelia sudah berada di alam mimpi.


Hingga pukul empat sore, Akhirnya pekerjaan Thomas selesai juga. Saat akan mengajak istrinya pulang, dia melihat kalau sang istri sedang tertidur. Dia tersenyum jahil, ingin mengerjai sang istri.


Dengan perlahan Thomas memencet hidung mancung milik Amelia, membuat mulut Amelia terbuka sedikit. Istrinya masih tidak bangun juga. Dia pun melakukan hal yang sama seperti tadi. Mulut Amelia kembali terbuka. Karena gemas, Thomas pun menyesap bibir mungil itu. Membuat Amelia terkejut dan memukul suaminya.


"Auw," pekik Thomas hingga terjatuh. Amelia terkejut karena mendengar suara orang berteriak. Ternyata Thomas terjatuh, dan dia sedang memegangi pipinya.


"Sakit, Sayang," ucapnya.


"Siapa suruh jahil!" cemberut Amelia.


"He ... He ... He." tawa Thomas.


"Maaf, Sayang. Pulang yuk, sudah sore!" ajak Thomas.


"Hah, sudah sore? Apakah aku tertidur cukup lama, Mas?"


"Iya, lama banget, sampai ileran!" ucap Thomas.


"Masa sih?" Amelia mengusap mulutnya. Thomas terkekeh geli.


"Mas mengerjaiku lagi ya?"


"Awas ya, Nanti malam nggak akan aku kasih jatah!" cemberut Amelia.


"Hah, jangan dong, Sayang!" rengek Thomas.


"Pokoknya aku nggak akan kasih jatah!" ucapnya penuh penekanan.


"Jangan dong, Sayang! Nanti kalau tidak di kasih jatah kasihan si Joni, Sayang!"


"Makanya jangan jahil!"


"Nggak lagi!" kekeh Thomas.


"Ayo kita pulang sudah sore juga! Kasihan anak-anak," ucap Amelia.


"Okey, Cinta! I Love you!"


"I Love you too,"


Mereka pun memutuskan untuk pulang. Keluar dari kantor, mereka saling bergandengan tangan. Semua mata yang melihat merasa iri dengan kemesraan mereka. Ada yang iri, ada yang menghibah dan ada juga yang merasa sakit hati. Karena bos tampan yang mereka kagumi sudah dimiliki oleh seseorang.


Hari ini ada jadwal check up ke dokter kandungan. Dari kantor, Bram langsung pulang, mandi dan bersiap-siap untuk mengantarkan istrinya ke Rumah Sakit.

__ADS_1


"Sayang, sudah siap?"


"Sudah dari tadi, Bang!"


Setelah berpamitan dengan Mamanya mereka pun pergi menuju Rumah Sakit. Dalam waktu empat puluh lima menit, mereka sampai di Rumah Sakit. Mereka tidak perlu mengantri karena, mereka sudah mendaftar terlebih dahulu lewat telepon.


Dokter memeriksa kandungan Alina yang lemah. Akhir-akhir ini, memang perut Alina terasa sakit. Membuat Bram cemas, dan langsung membawanya ke Rumah Sakit.


Selesai diperiksa, mereka duduk dihadapan Dokter. Sebenarnya Alina sangat cemas dengan keadaan kandungannya.


"Dok, Bagaimana keadaan kandungan istri saya?" tanya Bram panik.


"Kandungan istri Anda memang lemah. Sebisa mungkin Ibu Alina jaga dengan baik ya, Bu! Bapak juga boleh ikut membantu. Seperti, jangan membiarkan istrinya terlalu capek ya, Pak?" tutur Dokter.


"Tapi saya tidak pernah menyuruh istri saya mencangkul di sawah, Dok? Bagaimana bisa capek?" ucap Bram membuat Alina membelalakkan matanya. Alina pun mencubit lengan suaminya.


"Auw, sakit, Sayang!" pekiknya. Dokter terkekeh geli.


"Maksud saya bukan itu, Pak. Maksud saya, Jangan membuatnya kelelahan diranjang!" tutur Dokter.


"Oh, begitu, Dok! Padahal, jika melakukan hubungan diranjang, saya selalu menyuruh istri saya dibawah, Dok. Bagaimana bisa capek?" Dokter hanya geleng-geleng kepala saja sambil tersenyum.


"Bang, Kau ini. Tidak perlu menjelaskannya juga kali, Bang! Aku kan malu!" geram Alina.


"Lho, Dokter sendiri yang bertanya. Makanya aku jelaskan," terang suaminya. Alina hanya tersenyum simpul menahan malu.


"Tidak apa-apa, Bu. Saya sudah biasa dengan pasangan baru seperti kalian. Cuma ya itu yang perlu diingat. Tidak boleh sering melakukan hubungan suami istri. Kalian bisa menjedanya sebentar. Contohnya, satu Minggu dua kali, atau satu Minggu bisa sekali," tutur Dokter lagi.


"Apa? Satu Minggu sekali? Bagaimana bisa, Dok? Padahal setiap hari kami melakukannya!" ucap suaminya. Dokter semakin terkekeh. Sedangkan Alina memegangi kepalanya karena pusing dengan jawaban jujur suaminya.


"Sekarang dikurangi ya, Pak. Ini demi keselamatan calon anak Bapak," tutur Dokter lagi.


"Baik, Terima kasih banyak, Dok! Kami permisi dulu!"


Mereka pun keluar dari ruangan Dokter, kemudian menuju tempat pengambilan obat. Sambil menunggu antrian, mereka menunggu di bangku. Alina menyenderkan kepalanya di bahu sang suami.


"Kamu tunggu disini, Sayang! Aku ambil obatnya!"


"Iya, Mas!" jawab Alina.


Sambil menunggu suaminya, tiba-tiba seorang Dokter memanggilnya.


"Alina?" panggilnya. Alina menengok ke sumber suara yang memanggil namanya.


"Dokter Rian,"


"Apa kabar?" tanya Rian.


"Alhamdulillah baik. Dokter bagaimana?"


"Iya seperti ini,"


"Dokter pindah ke Rumah Sakit ini?"


"Iya," jawabnya.


"Kok bisa, Dok?"

__ADS_1


"Karena ini adalah Rumah Sakit ayahku. Dan aku yang mengurusnya sekarang!"


"Oh, begitu,"


"Kau sendiri, Apa yang kau lakukan disini? Apakah kau sakit?"


"Oh, tidak,"


"Kau datang bersama siapa?"


"Bersama suaminya," jawab Bram tiba-tiba.


"Eh, Bang. Kenalin ini Dokter Rian. Teman aku dulu di Rumah Sakit," ucap Alina memperkenalkan Rian kepada suaminya. Rian kaget, ternyata Alina datang dengan suaminya.


"Rian," ucap Rian memperkenalkan dirinya.


"Bram, suami Alina," ucapnya, "Maaf, kami harus pergi,"


"Silahkan!"


"Aku pulang ya, Rian,"


"Hati-hati dijalan!" ucapnya dengan ramah. Bram menatapnya tidak senang.


Rian adalah teman Alina saat di Rumah Sakit tempat dulu Alina bekerja. Sudah sejak lama Rian menyukai Alina, namun dia tidak berani mengungkapkannya. Malam itu saat Rian akan mengungkapkan perasaannya, tiba-tiba Alina memberikan undangan pernikahan. Membuat hatinya sakit dan hancur.


Satu bulan kemudian, Rian memutuskan untuk resign dari Rumah Sakit tempatnya bekerja. Dia memilih meneruskan Rumah Sakit milik kedua orang tuanya.


Di dalam mobil, Bram nampak cemberut. Biasanya Bram sangat cerewet kali ini suaminya hanya diam saja. Alina tahu kalau suaminya sedang cemburu.


"Abang?" panggil Alina sangat mesra.


"Kok nggak dijawab, Bang?"


"Ada apa?" tanya Bram.


"Aku lapar," ujar Alina.


"Sebentar lagi kita sampai di rumah," jawabnya.


"Ish, nggak peka banget!" sungut Alina.


Sampai di rumah, Alina keluar dengan wajah yang sangat masam. Dia membuka pintu mobil dan membantingnya dengan keras. Kemudian dia masuk ke dalam, dan langsung masuk ke kamarnya.


Bram yang baru akan keluar dari mobil begitu kaget, Alina mendorong pintu dengan keras.


"Seharusnya aku yang marah! Kenapa tiba-tiba saja dia yang marah?" batinnya.


Bram masuk ke dalam rumah. Mama Celine yang melihat perubahan pada raut muka putrinya, tentu saja bertanya-tanya.


"Ada apa, Bram? Kenapa istrimu cemberut?" tanya Celine.


"Entahlah, Ma. Bram juga bingung. Perasaan tadi yang cemberut Bram. Kenapa justru Alina?" ucap Bram.


"Susul Alina ke kamar. Wanita yang sedang hamil itu sangat sensitif," tutur Celine.


"Baik, Ma. Bram ke kamar dulu!"

__ADS_1


to be continued......


__ADS_2