Amelia

Amelia
Episode 11


__ADS_3

Hiks.....hiks......hiks


"Ayah? Ibu?" tangis Amelia, tubuh ayah dan bundanya sudah terbujur kaku.


Saat itu, saat Amelia berada dikamar mandi, berkali-kali ponselnya berbunyi, Amelia dengan cepat keluar dari kamar mandi, dan mengangkat panggilan tersebut.


Amelia mendapatkan sebuah kabar duka dari Rumah Sakit, bahwa kedua orang tuanya mengalami kecelakaan dan langsung meninggal di tempat. Dan kebetulan Rumah Sakit yang menangani pemandian jenazah kedua orang tuanya adalah Rumah Sakit tempatnya di rawat.


Amelia langsung berlari dan menuju ke ruang jenazah. Amelia menangis histeris, para suster mencoba untuk menenangkannya. Amelia mencoba menghubungi suaminya, namun tidak ada respon, mengirimkan pesan pun tidak mendapat balasan.


Amelia mencoba menghubungi ibu mertuanya, namun percuma, mungkin dengan sengaja ibu mertuanya tidak mau mengangkat panggilan, akhirnya dia pun mendial nomer telpon ayah mertuanya, dan Alhamdulillah ayah mertuanya bersedia mengangkat.


"Assalamualaikum, Yah?"


"Hiks .. hiks ... hiks!" tangis Amelia membuat ayah mertuanya sangat cemas.


"Walaikum salam, Ada apa, Nak?"


"Kenapa menangis?" tanya ayah mertuanya.


Amelia pun menceritakan semuanya, sontak ayah mertuanya sangat terkejut. Beliau bergegas pergi ke Rumah Sakit bersama istrinya, sebenarnya Dahlia sempat menolak, namun karena desakan suaminya, akhirnya Dahlia mau ikut juga.


Orang tua suaminya sampai di Rumah Sakit, ayah mertuanya mencoba menenangkan hati Amelia yang terus-menerus menangis.


Sedangkan Dahlia sendiri, memilih untuk duduk di depan kamar jenazah sambil sibuk dengan ponselnya.


"Apakah kamu sudah menelfon suamimu?" tanya ayah kepada Amelia.


"Sudah, Yah! Ponsel mas Arga aktif namun tidak diangkat-angkat!" ucapnya.


Akhirnya Pak Mono sendirilah yang mencoba untuk menghubungi putranya. Arga mengangkat panggilan dari ayahnya, yang kebetulan dia baru bangun dari tidur.


"Hallo, Yah!" suara Arga serak khas orang bangun tidur.


"Ga, kamu harus pulang! Orang tua Amelia mengalami kecelakaan, dan keduanya meninggal! Cepatlah pulang! Kasihan istrimu!" hardik ayah. Arga sangat terkejut mendengar berita ini, apakah ini ada kaitannya dengan masalahnya dengan Amelia, sehingga setelah pertengkaran itu, kedua mertuanya mengalami kecelakaan.


"Sebenarnya, Kamu ada dimana?" tanya ayah, membuyarkan lamunan Arga.


"Eh, itu, Yah! Di rumah teman!" bohong Arga.


"Oke, Oke, Arga langsung ke Rumah Sakit!" jawab Arga.


Setelah berpamitan dengan Ratih, mobil Arga langsung menuju Rumah Sakit.


Istrinya masih terlihat menangis di pelukan sang ayah, Arga menghampiri mereka.


"Amelia?" panggilnya. Amelia langsung menghambur ke pelukan suaminya, menangis histeris.


"Tenanglah! Aku akan mengurus pemakaman ayah dan bunda!" ucap suaminya.


Sebenarnya bukan itu yang ingin Amelia dengar, Amelia membutuhkan pelukan hangat dari suaminya, dan dukungan moril.

__ADS_1


"Iya, Mas! Terima kasih!" ucap Amelia.


Jenazah ayah dan bunda di bawa pulang ke rumah, banyak keluarga dan tetangga yang datang melayat. Memberikan dukungan moril untuk Amelia.


"Bersabarlah, Nak! Kematian memang tidak diketahui siapapun waktu kedatangannya selain Allah, namun kedatangannya sudah sangat diketahui kepastiannya!" ucap salah satu pelayat.


"Terima kasih banyak, Bu! Ibu sudah mau datang! Jika kedua orang tua saya, mempunyai kesalahan! Mohon dimaafkan!" ucap Amelia.


"Iya, Nak!" jawab ibu tersebut.


Setelah disholatkan, sekarang waktunya jenazah diantarkan ke peristirahatan terakhirnya. Dengan menggunakan beberapa mobil, jenazah di bawa ke tempat pemakaman. Kebetulan tempat pemakamannya tidak terlalu jauh dari rumah. Sampai di tempat pemakaman, jenazah diturunkan dari mobil, masing-masing keranda digotong oleh empat orang. Arga sengaja menyuruh orang untuk menempatkan kedua mertuanya beriringan, agar memudahkan acara pemakamannya.


Arga membantu menurunkan jenazah ke liang lahat, Amelia masih terus menangis sesenggukan.


Selesai jenazah di timbun dengan tanah, semua pelayat berpamitan kepada keluarga yang ditinggalkan, Amelia masih terus menangis pilu memeluk nisan bundanya, siapa yang mendengar tangisan Amelia pastilah tidak akan tega.


"Bunda! Jangan tinggalkan Amelia! Amelia sudah tidak memiliki siapapun!"


"Ayah! Amelia ingin ikut! Bawa Amelia bersama kalian!"


"Hiks .... hiks .... hiks!" tangis Amelia.


"Amelia! Sudah!" ucap ayah mertuanya.


"Ikhlaskan, Nak!"


"Jika kau seperti ini terus, ayah dan bundamu tidak akan tenang!" nasehat ayah mertuanya.


"Amelia, sudah!" ucap Arga mendekat ke arah istrinya.


"Aku tidak mau! Aku disini saja! Aku ingin menemani ayah dan bunda! Pasti mereka kesepian di sini!"


"Hiks .... hiks .... hiks!" tangis Amelia lagi.


"Amelia! Hari sudah sore! Sebentar lagi juga akan turun hujan! Ayolah kita pulang!" ajak suaminya lagi.


"Sebaiknya kamu pulang sendiri, Mas! aku masih ingin disini!"


"Aku ingin menemani ayah dan bundaku!" jawabnya.


"Hiks ... hiks ..... hiks!" tangis Amelia lagi.


Arga pun menyuruh ayahnya untuk pulang terlebih dahulu, Arga ingin membujuk Amelia untuk pulang bersamanya. Arga menatap tajam manik itu, ada rasa kasihan didalam dirinya.


Arga merutuki kebodohannya, karena sudah membenci wanita yang dulu sangat dia cintai.


Wanita yang selalu mengisi hari-harinya, wanita yang selalu ada disampingnya, saat dia berjuang untuk meraih cita-citanya. Wanita yang sudah mengorbankan segala-galanya, baik itu waktu, tenaga dan uang.


Arga memeluk tubuh Amelia, dan membujuknya untuk pulang. Amelia pun menuruti perintah suaminya.


Arga melajukan mobilnya, menuju kediamannya. Sampai di rumah, Arga melihat istrinya sudah terlelap di dalam mobil, mungkin merasa lelah karena seharian istrinya menangis. Arga tidak tega untuk membangunkannya, Arga membopong tubuh istrinya dan dia letakkan di tempat tidur miliknya. Arga melepaskan sandal istrinya, dan membenarkan posisi tidur Amelia, yang dirasa kurang nyaman.

__ADS_1


Dia memandangi wajah istrinya, ada rasa tidak tega untuk menceraikannya. Namun hari ini, dia sudah melakukan kesalahan besar terhadap seorang wanita. Dia pun berjanji akan menikahinya.


"Ah!" Arga mengacak rambutnya karena frustasi.


"Aku sudah mengkhianati Amelia!"


"Bodohnya diriku! Bagaimana kalau Amelia tahu?" Arga berdialog dengan dirinya sendiri.


Keesokan paginya, Amelia mengerjapkan matanya. Dia mengamati sekeliling ruangan, sepertinya ini bukan kamarnya.


Saat dia akan bangun, ada tangan kekar yang memeluknya dari belakang. Amelia sempat terkejut, namun saat dirinya menoleh ternyata itu tangan suaminya. Ada sedikit rasa bahagia, ini adalah pertama kalinya Arga memeluk dirinya setelah menikah.


Dengan hati-hati Amelia melepaskan tangan itu, Amelia beranjak dari tempat tidur suaminya.


Dia keluar dari kamar suaminya, menuju kamarnya sendiri. Dia mandi dan bersih-bersih.


Amelia sudah cantik dan wangi, juga terlihat lebih segar. Amelia melangkah ke dapur untuk membuat sarapan pagi, karena hari ini perutnya sangat lapar. Amelia membuat nasi goreng seafood untuk dirinya, ia sengaja membuat satu piring saja, karena dirinya yakin bahwa suaminya tidak akan mau memakan masakannya.


Amelia meletakkan nasi goreng tersebut di meja, dan dia mengambil satu gelas air putih, ia letakkan di sampingnya.


Arga bangun dan mencari keberadaan istrinya, ternyata Amelia sedang berada di dapur hendak menikmati sarapannya.


Arga menyerobot tempat duduk Amelia, dan mencicipi masakan istrinya.


"Hmmm, enak juga! Kenapa cuma buat satu piring?" tanya suaminya.


"Apa?" tanya Amelia heran.


"Bukannya mas gak suka makan masakan ku?"


"Mulai hari ini, aku akan sering makan di rumah!" jawabnya.


"Apa?" lirih Amelia tidak percaya dengan perkataan suaminya.


"Kemarilah!" Arga menarik tangan Amelia agar duduk di sampingnya.


"Mulai sekarang! Kau harus masak untukku!"


"Dan mulai sekarang juga kau boleh tidur bersama ku! Dan jadilah istri yang baik!" ujar suaminya lagi sambil mengusap-usap puncak kepala istrinya.


"Apa?" Amelia masih belum percaya dengan apa yang didengarnya.


"Apakah aku bermimpi?" batin Amelia.


"Tidak! Aku tidak bermimpi! Aku benar-benar mendengar dengan jelas, suamiku telah berubah!" senangnya.


"Makanlah!" ucap Arga menyuapi nasi goreng ke mulut istrinya.


"Aaaaaaaa!" Arga menyuapi istrinya dengan sayang.


Setelah sarapan, Arga mandi dan bersiap-siap ke kantor. Sebelum ke kantor, Arga mencium kening istrinya dengan sayang.

__ADS_1


"Aku berangkat ke kantor! aku akan pulang secepatnya, jadi jangan bersedih lagi! aku mencintaimu!" pamit Arga, membuat hati Amelia begitu bahagia.


to be continued........


__ADS_2