
Setelah mengantarkan Sherly ke Sekolah, barulah dia mengantarkan istrinya ke Butik.
"Sayang, nanti aku tidak bisa menjemput Sherly pulang Sekolah. Karena akan ada meeting. Bisakah kamu nanti yang menjemput Sherly? Nanti aku akan kirim mobil beserta sopirnya ke butik," ujar Thomas.
"Iya, Mas. Kamu tenang saja. Aku akan menjemput Sherly nanti. Kamu fokus kerja saja," ucap Amelia.
"Terimakasih ya, Sayang!"
Tidak terasa mobil yang mereka tumpangi sampai di depan butik. Tidak lupa, Amelia mencium punggung tangan suaminya.
"Aku masuk ya, Mas! Hati-hati di jalan dan semangat kerjanya!" ucap Amelia memberikan semangat kepada suaminya.
Setelah istrinya tidak nampak lagi, barulah Thomas melajukan kembali mobilnya. Hari ini dia ada meeting penting, itulah kenapa dia tidak bisa menjemput istri dan anaknya.
Seperti biasa, Amelia sibuk dengan pembukuan keuangan butik. Dia harus mengecek lebih teliti barang masuk dan barang keluar, supaya tidak terjadi kesalahan.
Beberapa jam di depan layar laptop, pinggangnya terasa sangat sakit. Amelia meregangkan otot-otot tubuhnya, dia menengok jam yang melingkar di tangannya.
"Sudah siang, waktunya menjemput Sherly," ujarnya. Sambil menunggu jemputan mobil kantor, dia mengemasi dan membereskan semua barang-barang yang berantakan.
"Mba Rani, saya mau jemput anak dulu. Tolong handle semuanya. Kalau ada waktu saya balik ke Butik," ucap Amelia.
"Iya, Mba Amelia. Beres!" jawab Rani.
"Terima kasih banyak, Mba!" ucap Amelia berlalu pergi meninggalkan butik. Di depan sudah ada mobil yang menjemput Amelia, tidak mau menunggu lama, Amelia langsung menaiki mobil tersebut.
Sekitar dua puluh menit mereka sampai di depan gerbang Sekolah Sherly. Amelia mencari sosok putrinya. Sherly keluar dari Sekolah, dia berlari tidak memperhatikan jalan.
"Mommy?" teriaknya.
"Sherly, jangan lari!" teriak Amelia juga.
Sebuah motor melintas dengan kecepatan tinggi, dan .....
"Sherly! AWAAAAASSSS!" teriak Amelia dengan nada tinggi.
BRAKK ....
Seorang wanita berhasil memeluk tubuh Sherly, dan membating tubuhnya sendiri ke trotoar, untuk menghindari motor yang melaju kencang. Karena terkejut, motor itu pun menghindar, membanting setir ke arah yang berlawanan, membuat penumpangnya terjatuh. Dan untungnya tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1
Amelia tahu ini bukanlah kesalahan orang itu, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Sherly yang menyebarang tanpa menengok kanan kiri, sehingga peristiwa itu terjadi.
"Maafkan saya, Bu. Saya tidak sengaja!" ucapnya ketakutan.
"Sudahlah. Lain kali hati-hati! Ini jalanan banyak anak kecil, jadi, Anda harus lebih berhati-hati!" tegas Amelia.
"Iya, Bu. Terima kasih banyak!" orang itu pun langsung pergi.
Amelia mendekat ke arah Sherlly dan wanita itu. Sherly nampak ketakutan, dan wanita itu juga terluka. Amelia memeluk putrinya.
"Kau tidak apa-apa, Sayang?" tanya Amelia kepada Sherly. Sherly hanya menggelengkan kepala saja.
"Anda tidak apa-apa?" tanya Amelia. Amelia melihat lutut wanita itu terluka.
"Tidak apa-apa," jawabnya sambil berusaha untuk bangun.
"Ayo kita ke Rumah Sakit?" ajak Amelia.
"Tidak usah. Ini hanya luka kecil saja!" ujarnya. Amelia mengamati wanita yang ada didepannya, dan ternyata dia mengenalnya.
"Kamu wanita yang tempo hari datang ke rumah kan?" tanya Amelia. Wanita itu mengangguk.
"Tunggu disini, aku akan membeli obat di toko itu!" Amelia pergi ke toko dekat dengan Sekolah untuk membeli Betadine dan plester. Setelah mendapatkan obat yang dibutuhkan, Amelia membantu Clara untuk mengobatinya.
"Sudah selesai!" ucap Amelia sambil tersenyum.
"Dia sangat cantik dan baik, pantas Thomas begitu menyukainya," batin Clara, "Terima kasih banyak," jawabnya.
"Sama-sama," jawab Amelia.
"Sebenarnya kedatangan saya kesini, saya ingin bertemu dengan Anda. Bisa kita ngobrol sebentar. Sebentar saja!" pinta Clara.
"Ehm, kita ke Taman Kota itu saja. Di sana tempat yang aman untuk bermain anak-anak!" tunjuk Amelia.
"Baiklah, Ayo!" ucap Clara. Mereka pun menunju taman kota yang letaknya tidak terlalu jauh dari Sekolah. Mereka berdua duduk di kursi taman, sedangkan Sherly bermain perosotan di sana.
"Ada apa, Mba ingin menemui ku?" tanya Amelia.
"Kamu tahu kan kalau saya adalah Mamanya Sherly. Saya Mama kandungnya," ucap Clara, "Nama Saya, Clara. Boleh saya tahu nama kamu?"
__ADS_1
"Amelia. Panggil saja Amelia," jawab Amelia.
"Senang bisa berkenalan dengan Mommy sambungnya Sherly. Kamu sangat cantik, baik dan keibuan. Pantas saja, Sherly sangat dekat denganmu," ucap Clara. Amelia hanya tersenyum saja.
"Terima kasih banyak atas pujiannya. Kalau saya boleh tahu, ada apa Mba Clara mencari saya?"
"Begini, Amelia. Saya tahu, kalau saya sudah melakukan kesalahan besar dengan meninggalkan Sherly saat masih bayi. Itu adalah kesalahan yang tidak pernah bisa dimaafkan. Tapi, bukankah semua orang pasti punya kesalahan? Benarkan Amelia? Kamu juga pasti punya kesalahan? Benarkan?" tanya Clara, dijawab anggukan kepala oleh Amelia.
"Karena itu Amelia, Apakah kesalahan saya tidak bisa mendapatkan pengampunan? Apakah tidak bisa dimaafkan? Saya seorang ibu, hanya ingin mendapatkan pengakuan dari putri saya. Saya ingin dekat dan lebih mengenal Sherlly. Apakah saya salah?" cecar Clara dengan banyak pertanyaan.
"Mba tidak salah. Tapi, Mba tidak bisa langsung mengatakan bahwa Mba adalah ibu kandungnya. Karena, itu akan berdampak buruk bagi perkembangan Sherlly sendiri. Paling tidak, Mba tunggu sampai dia tumbuh dewasa. Barulah Mba bisa memberitahukan kepada Sherly. Dia masih terlalu kecil untuk mengetahui masalah orang dewasa," tutur Amelia.
"Tapi, aku adalah ibunya. Aku ibu kandungnya," ucap Clara.
"Iya, Saya tahu. Tapi, Mba tidak bisa seenaknya menemui Sherly tanpa izin. Anda harus meminta izin kepada Daddy nya!"
"Tidak mungkin saya meminta izin kepada Thomas. Thomas tidak akan pernah mengizinkan saya untuk menemui Sherly. Dia sangat membenci saya," lirihnya.
"Saya akan bantu meluluhkan hati suami saya. Tapi, saya tidak janji. Tolong Mba bisa menjaga sikap, jangan menemui Sherlly secara diam-diam. Itu akan membuatnya takut," tutur Amelia.
"Baiklah," jawab Clara.
"Sherly?" panggil Amelia kepada Sherly. Sherly sedang asyik main perosotan.
"Yes, Mom," jawab Sherly mendekat ke arah Mommy nya.
"Sayang, perkenalkan ini Tante Clara. Saudara jauh Mommy," ucap Amelia memperkenalkan Clara kepada Sherly. Sherly nampak mengingat-ingat wanita yang berdiri di depannya.
"Tante yang kemarin ke rumah kan?" tanya Sherly.
"Iya, Sayang," jawab Clara. Clara memeluk tubuh putrinya. Perlakuan Clara kepada Sherly membuat bocah itu bingung. Namun Sherly hanya berdiri mematung tanpa merespon apapun.
"Kami harus pulang. Pasti Omanya di rumah menunggu!" ucap Amelia. Seketika Clarra melepaskan pelukannya di tubuh Sherly.
"Baiklah. Bisakah saya meminta nomer HP kamu, Amelia?" tanya Clara. Amelia menuliskan nomor ponsel-nya di ponsel milik Clara. Setelah berpamitan, mereka pun berpisah. Amelia mengajak putrinya masuk ke mobil.
Sedangkan di bangku taman. Clara nampak tersenyum bahagia. Dia menghapus air mata kepura-puraan.
"Ini adalah langkah awal yang bagus untuk mengambil alih kepercayaan seseorang. Tidak apa, aku korbankan lutut ku. Asalkan tujuan ku tercapai!" ucap Clara bermonolog sendiri.
__ADS_1
to be continued.......