Amelia

Amelia
Episode 175


__ADS_3

Thomas sudah melaporkan kasusnya ke pihak yang berwajib. Tapi, Dia juga tidak tinggal diam. Dia menyuruh orang-orang kepercayaannya mencari keberadaan istri dan kedua anaknya.


Thomas sudah sangat murka dan geram. Dan dia tidak bisa hanya berdiam diri saja. Apalagi ini sudah menyangkut keluarga. Bram tahu, saat ini Thomas dalam keadaan emosi yang meledak-ledak. Dia hanya diam membisu mengikuti langkah kaki Thomas.


"Bram!" panggil Thomas tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Iya, Bang."


"Jika Kau ingin menebus kesalahanmu. Ini adalah saatnya! Cari istriku sampai ketemu. Cari dimana pun tempatnya. Suruh orang-orangmu untuk mencarinya juga. Bila perlu, pasang foto Amelia di koran atau brosur! Aku ingin secepatnya istriku ditemukan!"


"Baik, Bang! Akan aku lakukan!"


"Aku akan memaafkan mu, jika istri dan anakku sudah ditemukan. Jika belum, jangan harap Kau mendapatkan maaf dariku!" murka Thomas. Bram hanya bisa menelan salivanya.


"I-iya, Bang. Aku akan berusaha keras mencarinya!"


"Diego. Kau belum tahu siapa aku! Aku akan menunjukkan siapa Thomas sebenarnya!" marah Thomas seraya mengepalkan tangan.


Dua orang wanita bersikeras ingin menemui Dicky. Dia menunggu di lobi kantor agensi. Namun security bilang, bahwa bosnya belum kembali. Dicky masih diluar karena ada urusan penting.


Dua wanita itu terus saja menunggu. Setelah jam kerja selesai, mereka memang sengaja datang ke kantor Dicky.


Dua jam menunggu akhirnya Dicky datang. Dicky juga berusaha cepat datang ke kantor setelah mendapatkan telepon dari security. Dia penasaran kenapa dua pelayan wanita tersebut bersikeras ingin bertemu.


"Selamat sore, Pak!" sapa security.


"Sore!"


"Mereka yang ingin bertemu dengan Anda." tunjuk Security kepada Dicky.


"Baik, terimakasih."


"Silahkan duduk, Nona-nona!"


"Terima kasih, Pak. Apakah Anda yang bernama Pak Dicky!"


"Iya. Itu saya! Maaf ada perlu apa?"


"Begini, Pak. Sebenarnya dari kemarin saya ingin kesini. Tapi saya belum sempat. Baru hari ini saya sempat datang. Saya ingin memberitahu, ada seorang wanita yang menyuruh kami untuk menemui Anda!"


"Wanita? Siapa?"


"Wanita itu adalah seorang calon mempelai wanita. Dia dan calon suaminya memesan baju pengantin di butik tempat saya bekerja. Tapi anehnya, si perempuan menulis ini di kaca ruang ganti, Pak. Dan menurut saya, wanita itu sepertinya diculik!" pelayan tersebut menunjukkan foto kepada Dicky. Memang pelayan tersebut memfoto tulisan tangan Amelia di kaca. Pelayan tersebut sengaja melakukan itu, sepertinya untuk bukti juga.


"Tunggu!" Dicky menunjukkan foto kepada dua perempuan itu, "Apakah ini wanita yang datang ke butik?"


"Iya. Betul sekali, Pak. Dia orangnya!"

__ADS_1


"Jadi, kedua mempelai memesan baju di butik kalian!"


"Iya, Pak. Tapi, anehnya mempelai pria memesan baju keluaran lama. Padahal di butik kami baru saja datang model baru. Tapi si pria maunya model lama. Dia juga berani bayar mahal untuk baju pengantin tersebut!"


"Apakah baju itu sudah dikirim?"


"Sudah, Pak. Dua hari yang lalu!"


"Saya boleh minta alamatnya?"


"Boleh, Pak. Ini alamatnya!" pelayan tersebut memberikan kertas bertuliskan alamat.


"Terimakasih banyak. Informasi ini sangat berarti buat kami!" Dicky memberikan sepuluh lembar uang seratus ribuan kepada kedua pelayan tersebut. Awalnya mereka menolak, tapi, Dicky memaksa mereka untuk menerimanya.


"Tolong simpan bukti tersebut! Itu akan aku jadikan bukti!"


"Baik, Pak. Kami permisi!"


"Iya, hati-hati dijalan!"



Setelah kepergian dua pelayan wanita itu, Dicky bergegas mendatangi Thomas. Dia tidak menyangka sang Kakak sudah berada di ambang ketidak wajaran.


"Lina, Berjanjilah antarkan anak-anakku ke rumah besar itu!" ucap Amelia kepada Lina sambil menggenggam tangannya.


"Baik, Mba. Saya berjanji!" jawab Lina, "Memangnya Pak Diego akan membawa Mba kemana?"


"Maafkan saya, Mba. Seharusnya saya tidak boleh berkhianat kepada keluarga Mba Amelia. Semua adalah kesalahan saya!" isak Lina.


"Kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Ini tidak sepenuhnya kesalahan kamu!"


"Maafkan saya, Mba!"


"Iya."


"Tolong, katakan kepada anak-anak. Saya sangat menyayangi mereka. Mereka adalah harta yang paling berharga dari apapun!"


"Iya, Mba!"


"Amelia. Apakah Kau sudah siap?" tanya Diego. Amelia mengangguk. Dia berjalan ke arah tempat tidur. Memandangi wajah kedua buah hatinya yang tertidur pulas.


"Mereka tidak perlu tahu apa yang sedang aku rasakan. Mereka hanya perlu tersenyum untuk mengahadapi hari esok." batin Amelia seraya mengecup kening kedua buah hatinya.


"Mommy pergi, Sayang! Ada Tante Alina dan Om Bram yang akan menjaga kalian!"


Dengan hati yang sedih, Amelia pergi meninggalkan kedua buah hatinya. Dia membawa tas selempang kecil, dimana di dalamnya terdapat dompet dan Ponsel. Dia juga mengambil pisau dapur untuk berjaga-jaga. Dan Diego tidak curiga apapun.

__ADS_1


Diego menggamit tangan Amelia hingga masuk ke mobil. Kemudian mobil itu berjalan perlahan menjauh dari mansion besar itu. Tidak berhenti Amelia memandang Mansion tersebut. Bukan karena dia takut kehilangan kehidupan mewahnya. Tapi, dia sangat takut tidak akan pernah bertemu dengan kedua buah hatinya.


Apa yang akan dikatakannya jika dia bertemu dengan sang suami di alam sana?


Bukankah sang suami sudah pergi dari dunia ini? Pastilah di sana dia sedang berkumpul dengan Papa David, Mama Celine, Ayah dan bunda!


Aku ingin segera menyusul!


Air matanya terus mengalir tanpa dia minta. Berkali-kali ia menyekanya, tapi air mata itu semakin menganak sungai.


"Berhentilah menangis!" bentak Diego membuat Amelia terkejut.


"Sebentar lagi, Kau akan menjadi wanita yang paling bahagia. Bergelimang dengan harta. Apapun yang Kau mau akan aku turuti!" ujar Diego sambil menoel dagu Amelia. Amelia menepisnya dengan kasar.


Satu jam sudah Amelia berada di mobil. Melihat tujuannya, sepertinya arah ke Bandara. Kemungkinan besar, mobil yang mereka tumpangi akan berhenti di Bandara.


"Tunggu sebentar lagi! Ayolah Lina, Kau pasti bisa!" batin Amelia.


"Aku mohon lindungi anak-anak ku, Ya Allah!"


Tiiiiiiinnnnnngggg ...


Sebuah notifikasi masuk ke ponselnya.


Amelia menoleh ke arah Diego. Sepertinya Diego sedang sibuk dengan ponselnya.


"Pak Diego. Saya mau ke toilet. Bisakah kita berhenti sebentar di toilet umum?" Diego menoleh ke arah Amelia. Dia nampak berfikir.


"Ron, berhenti di toilet umum!" suruh Diego kepada supirnya.


"Baik, Pak!"


Amelia turun dari mobil. Ternyata dibelakang mobil yang ditumpanginya, ada satu mobil lagi. Yang tidak lain adalah pengawal-pengawal Diego. Bahkan saat Amelia mau ke toilet saja dikawal oleh dua pengawal. Membuat Amelia mendengus kesal.


Amelia masuk ke dalam toilet. Dia membuka pesan yang masuk diponselnya.


"Mba Amelia. Aku sudah berhasil membawa anak-anak keluar dari rumah Pak Diego. Sekarang aku sedang ada di taksi menuju rumah Pak Bram!"


"Syukurlah! ternyata memang benar dari Lina."


Terbit senyum manis di bibir Amelia. Amelia kembali ke mobil dengan perasaan tenang. Dia berusaha untuk bersikap setenang mungkin, supaya Diego tidak mencurigainya.


Mobil mereka berjalan kembali. Mobil yang mengekor dibelakang juga ikut berjalan. Mengikuti mobil didepannya.


Bersambung ...


☄️☄️☄️☄️

__ADS_1


Ayo mana Votenya????


Hari Senen Beb, Ayo dong kasih Vote biar Author semangat....😁😁😁


__ADS_2