
Selesai resepsi masih dilanjutkan dengan acara makan-makan, dan pesta dansa. Amelia sudah terlihat sangat pucat. Thomas jadi tidak tega melihat istri cantiknya merasa kelelahan. Akhirnya dengan menggunakan alasan Aska menangis meminta ASI akhirnya mereka bisa memaklumi keadaan Amelia. Amelia pun bergegas ke kamarnya. Ternyata sang putra masih tertidur dengan pulas, ditemani oleh baby sister yang sengaja di sewa oleh Mama Celine.
"Huft, akhirnya aku bisa istirahat," ucapnya lega.
Akhirnya acara selesai juga, Thomas bisa beristirahat. Dia duduk berselonjor di kursi, nafasnya nampak ngos-ngosan. Bram terkekeh geli melihat abangnya yang nampak lelah.
"Baru juga gitu," cibirnya. "Bagaimana kalau sudah bertempur?" godanya.
"Ish, Kau ini bicara apa?" sungutnya.
"Ha ... Ha .... Ha." tawa Bram.
"Apa yang aku katakan benar kan? Kau harus banyak berolahraga, Bang! Supaya tidak loyo!" goda Bram lagi.
"Sialan kau!"
"Ha ... Ha ... Ha."
"Apalagi sudah lama juga golok Abang tidak diasah!" candanya. Thomas langsung melemparkan bantal ke muka Bram.
BUGH ...
"Sialan Kau, Bang!" pekiknya, Thomas justru balik terkekeh.
"Sudah, ah. Aku mau bermesraan dengan istriku, sekarang nikmati saja kesendirianmu!" ujar Thomas balik mengejek.
"Ish, tega sekali kau, Bang!" cemberutnya. Thomas tertawa terbahak-bahak. Pasalnya, sampai sekarang cinta Bram dan Alina masih menggantung. Mereka berdua sama-sama diam, tidak berani mengutarakannya kepada sang Mama.
Thomas melangkah ke kamarnya. Hatinya begitu deg-deg ser. Walaupun ini bukanlah pertama kalinya dia akan melakukan malam pertama. Tapi, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Dia membuka pintu kamar, ternyata Amelia sedang menyusui Aska. Thomas mendekat ke arah istrinya. Ternyata, Amelia juga sudah mengganti bajunya dengan baju malam yang sangat seksi. Laki-laki mana yang tidak akan tergoda disuguhkan dengan pemandangan yang sensasional. Thomas menelan salivanya sendiri.
"Mas, Apakah tamu-tamunya sudah pulang semua?" tanya Amelia.
"Sudah, Sayang," jawabnya. "Kamu cantik sekali, Sayang," puji Thomas.
"Cepatlah ganti bajumu dulu, Mas," suruh Amelia.
"Wah, sepertinya Amelia memberi kode kepadaku," batin Thomas.
__ADS_1
"Baik, Sayang, Aku akan mandi dan bersih-bersih dulu," ucap Thomas.
Thomas pun langsung menyambar handuk dekat dengan kamar mandi. Selama satu jam dia berada di kamar mandi untuk bersih-bersih. Semua yang terlihat kotor dia bersihkan, bahkan kumis dan jenggot pun ia cukur bersih. Beberapa hari ia frustasi mencari calon istrinya, jenggot dan kumis tumbuh dengan subur. Kini, Thomas terlihat bersih dan terlihat muda kembali.
Thomas keluar dari kamar mandi, terlihat istrinya meletakkan Aska di box bayi. Tangannya melingkar di pinggang sang istri, sambil mencium bahunya. Bau tubuh sang istri sangat wangi, bahkan rambutnya saja sangat wangi. Membuat jiwa kelakiannya bangkit dan meronta-ronta.
Ia membalikkan tubuh sang istri begitu saja. Seperti singa kelaparan, Thomas ******* bibir merah delima itu dengan gemas. Ia memberikan kecupan-kecupan manis di sekujur tubuh sang istri. Amelia menggeliat dan melenguh mendapatkan perlakuan lembut dari suaminya.
Tidak mau menunggu lama, karena memang sudah lama goloknya minta di asah. Ia pun langsung membopong tubuh istrinya ke tempat tidur. Thomas mencumbui istrinya kembali, dan memberikan tato merah di sekujur tubuh Amelia. Amelia melenguh keenakan dan menikmati segala sentuhan yang diberikan suaminya.
Tiba-tiba .....
Tok ... Tok .... Tok
Mereka menghentikan aktivitasnya, Amelia mendorong tubuh suaminya.
"Mas, Ada yang mengetuk pintu?" ucap Amelia.
"Sudah, Sayang, abaikan saja!" ujar suaminya.
Tok ... Tok .... Tok
"Huh, Siapa sih, malam-malam begini mengetuk pintu? Nggak tahu lagi nanggung apa!" ucap suaminya memberengut sebal.
"Ish, buka dulu! Mungkin saja itu Mama," ujar Amelia.
"Iya, Sayang, aku buka," jawabnya.
Thomas dan Amelia pun membenarkan posisi bajunya, takutnya itu Mama. Dengan langkah malas Thomas membuka pintunya. Ternyata di depan kamar mereka adalah Sherly sambil menenteng boneka Teddy bearnya.
"Dad, Sherly tidur di sini ya?" tanyanya.
"Eh, nggak boleh! Sherly kan sudah punya kamar sendiri," larang papahnya.
"Kok nggak boleh?" Sherly memberengut kesal. "Dedek bayi saja boleh tidur di sini, kenapa Sherly nggak boleh?" tanya Sherly.
"Tapi, Sayang malam ini ....!" belum menyelesaikan kalimatnya Sherly menyerobot masuk ke dalam. Amelia yang melihat Sherly masuk dengan mimik cemberut, dia pun bertanya.
__ADS_1
"Kenapa? Kok cemberut?" tanya Amelia.
"Daddy nggak memperbolehkan Sherly tidur disini. Sedangkan dedek bayi saja boleh!" Sherly merajuk. "Sherly bolehkan, Mom, tidur disini," pinta Sherly.
Amelia melirik ke arah suaminya. Namun sang suami menggelengkan kepalanya, tanda tidak setuju jika Sherly harus tidur di kamar mereka. Tapi, Amelia tidak tega. Apalagi Sherly memasang wajah Popy eyes, membuat dirinya semakin tidak tega. Akhirnya Sherly diperbolehkan tidur di kasurnya. Betapa bahagia hati Sherlly, dia melompat-lompat seperti mendapatkan hadiah yang mahal.
Sedangkan muka suaminya masam, ditekuk seperti koran bekas. Amelia terkekeh geli saat suaminya cemberut, ia sedang duduk di sofa sambil menonton televisi.
Akhirnya Sherly tertidur pulas di kasurnya. Amelia mendekat ke arah suaminya yang sedang cemberut.
"Sayang?" panggilnya dengan mesra. Amelia duduk dipangkuan suaminya.
"Kenapa cemberut?" tanya Amelia. "Sherly sudah tidur," ucapnya.
"Biar aku pindahkan," ucap Thomas.
"Jangan, Mas. Jika dipindahkan, dan dia terbangun, maka dia akan bertanya dan sedih," tutur Amelia.
"Lalu, aku harus bagaimana, Sayang?" tanya Thomas. Amelia nampak berfikir keras.
"Disini saja, Mas," jawab Amelia sekenanya.
"Kamu yakin?" tanya Thomas.
"He'em," jawab Amelia. Thomas pun mengambil kasur lantai, selimut bersih dan bantal di lemarinya.
Mereka menatanya di dekat sofa, menghadap televisi. Thomas kembali melancarkan aksinya yang sempat tertunda gara-gara tikus kecil pengganggu. Dia kembali menciumi tubuh istrinya dan memberikan sentuhan-sentuhan di daerah terlarang Amelia. Thomas sudah tidak sabar menikmati apem milik Amelia. Ia pun langsung melucuti pakaian sang istri dan pakaiannya sendiri.
Dia menindih tubuh sang istri dan melakukan penyatuan dengan hati yang ikhlas dan sama-sama menerima. Amelia juga sudah sepenuhnya menerima dan memaafkan Thomas. Dia pun menikmati setiap sentuhan-sentuhan yang diberikan suaminya. Hanya ada suara kenikmatan-kenikmatan yang terdengar di ruangan tersebut. Untungnya Sherly dan juga Aska tertidur sangat pulas, membuat mereka mengeluarkan lahar panasnya dengan sempurna.
Hingga jam tiga pagi mereka melakukan penyatuan, sampai titik *******, akhirnya tubuh mereka sama-sama ambruk. Mereka pun sudah tidak kuat lagi, tubuh Amelia juga terasa sangat lelah. Dia pun langsung tertidur pulas, dengan mengeluarkan dengkuran halus yang nyaring bunyinya. Thomas begitu bahagia mendapatkan istri seperti Amelia. Dia pun mengecup kening, mata, hidung dan turun ke bibir.
"Terima kasih, Sayang! Aku akan selalu membahagiakan kamu," ucapnya sambil mencium puncak kepala Amelia. Ia pun ikut tertidur di samping istrinya hingga pagi.
to be continued......
__ADS_1