
"Ibu bilang tidak, Arga!" tegas ibunya, "Ratih bukan wanita yang baik. Cari wanita yang lain!"
"Bu, Keyla membutuhkan sosok seorang ibu. Dia masih kecil, Bu. Butuh kasih sayang seorang ibu," ucap Arga.
"Ibu tahu, Arga. Tapi, Ratih bukanlah ibu yang baik. Ibu malu punya menantu seperti dia,"
"Tapi dia sudah berubah, Bu. Dia tidak seperti Ratih yang dulu. Dia sudah menjadi wanita yang Soleha, Bu!"
"Arga, Ibu mohon jangan mengulangi kesalahan yang sama, Nak!"
"Arga mohon, Bu. Ratih sudah berubah, dia bukan Ratih yang seperti dulu. Kalau Ibu tidak percaya, Ibu boleh bertemu dengannya! Ini demi Keyla, Bu!" bujuk Arga. Dahlia menghela nafasnya kasar.
"Baiklah, bawa dia menemui Ibu!"
"Benarkah, Bu?" senang Arga.
"Besok, bawa dia kesini!"
"Terima kasih banyak ya, Bu!" berkali-kali Arga menciumi tangan ibunya.
Ratih melangkahkan kakinya menuju butik Amelia. Dia nampak berdiri di depan butik, namun dia juga ragu untuk masuk.
"Apakah Amelia akan memaafkan ku?" batinnya. Hatinya terlalu takut, dia pun mengurungkan niatnya untuk menemui Amelia. Saat hendak pergi, Amelia turun dari mobil suaminya. Dia melihat wanita berhijab sedang berdiri di depan butik. Dan dia langsung mengenali sosok wanita tersebut.
"Ratih?" panggilnya. Amelia nampak tertegun melihat perubahan Ratih yang sekarang. Sangat cantik menurutnya.
"Kau, Ratih kan?"
"Iya, ini aku. Apa kabar, Amelia?" tanya Ratih.
"Alhamdulillah aku baik," jawab Amelia.
"Bisa kita mengobrol?" tanya Ratih lirih.
"Bisa, sebentar ya! Aku akan berpamitan dengan suamiku dulu!" Ratih menganggukan kepalanya. Amelia mendekat ke arah mobil suaminya. Dia melongok kan kepalanya di jendela mobil.
"Mas, kamu langsung berangkat saja. Aku ada tamu," ujarnya.
"Bukankah itu Ratih, Sayang?" dari kaca mobil, Thomas bisa tahu kalau itu Ratih.
"Iya, Mas,"
"Jangan-jangan dia ingin menyakiti kamu!"
"Ish, jangan berfikiran negatif dulu!"
"Ehm, iya sudah. Aku tinggal, tapi, kalau dia menyakitimu kau hubungi aku!" ujarnya.
"Iya, Mas,"
"Kau tidak lupa kan?" tanya Thomas.
"Apa?" Thomas memajukan bibirnya.
"Ck, tidak tahu malu!" cebiknya, "Nanti aku kasih ciuman di rumah saja, okey!" ucap Amelia terkekeh.
"Awas kau ya! Akan aku buat kau tidak bisa berjalan!"
"Bye!" Amelia melambaikan tangannya.
Amelia mengajak Ratih untuk berbicara di kantor. Karena tidak mungkin juga, mereka mengobrol di depan butik. Ratih nampak kagum melihat isi dari butik Amelia, yang semakin besar dan banyak pengunjung.
"Silahkan!" Amelia mempersilahkan Ratih masuk ke kantornya.
"Silahkan duduk, Ratih!" ucapnya.
__ADS_1
"Terima kasih, Amelia!"
"Ada perlu apa kamu kesini, Ratih? Apakah ada sesuatu yang penting?" tanya Amelia dengan ramah.
"Iya, Amelia. Kedatanganku ke sini, aku ingin minta maaf. Aku banyak salah sama kamu. Tolong maafin aku, Mel!" ucapnya sambil terisak.
"Sudahlah, Ratih. Aku sudah memaafkan kesalahan kamu. Aku sudah melupakan semuanya!" jawab Amelia.
"Benarkah?"
"Iya, aku sudah memaafkanmu. Jadi, lupakanlah apa yang sudah terjadi. Ambil hikmahnya. Lagipula aku sudah bahagia dengan keluargaku sekarang. Kamu juga harus bahagia, Ratih. Apalagi kamu sudah memiliki putri yang sangat cantik sekali, mirip seperti kamu!" tutur Amelia.
"Terima kasih banyak, Mel," ucap Ratih. Ratih memeluk tubuh Amelia.
"Aku malu. Tapi, aku lebih malu jika suatu saat kita bertemu, dan aku belum meminta maaf kepadamu. Aku yang sudah merusak rumah tanggamu. Maafkanlah aku!"
"Sudah ya, jangan menangis lagi! Aku cuma mau berpesan. Hargai hidup kamu. Bukalah lembaran-lembaran baru. Apa yang sudah terjadi, jadikanlah pelajaran dan kita ambil hikmahnya!"
"Terima kasih banyak,"
"Apa rencana kamu sekarang?" tanya Amelia.
"Aku akan rujuk dengan Mas Arga,"
"Wah, itu sangat bagus. Lakukanlah demi anak kalian! Bagaimanapun anak kalian masih membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tua,"
"Iya, kamu benar,"
Lumayan lama mereka mengobrol, hingga pukul sepuluh siang Ratih memutuskan untuk pulang. Dia berpamitan kepada Amelia. Dan sekali lagi, Ratih memeluk tubuh Amelia dan mengucapkan terima kasih hingga berkali-kali.
Setelah kepergian Ratih, Amelia buru-buru ke suatu tempat. Karena hari ini, dia ada janji ketemu dengan pemilik agensi di sebuah Restaurant.
Dengan menggunakan taksi, Amelia pergi menuju Restaurant tersebut. Ternyata Diky sudah menunggu di sana. Dia melambaikan tangannya kala melihat Amelia membuka pintu Restaurant.
"Selamat siang, Pak Diky. Maaf saya telat!" ucap Amelia.
"Terima kasih,"
"Mau pesan apa?"
"Jus strawberry saja," jawabnya. Diky pun memesan jus strawberry untuk Amelia.
Beberapa menit kemudian, jus yang dipesan sudah di sajikan di meja oleh pelayan. Amelia menyeruput jus tersebut, terasa sangat nikmat di cuaca panas seperti ini. Diky sampai tersenyum melihat cara Amelia menyeruput jus tersebut.
"Sepertinya kamu haus sekali?" tanya Diky tiba-tiba.
"Maaf, Pak. Saya memang haus. Sedari tadi saya tidak sempat minum, karena terlalu sibuk," jawabnya.
"Apakah mau nambah?"
"Eh, tidak usah," jawabnya, "Oya, ada yang ingin Bapak sampaikan?"
"Bisa tidak jangan panggil Bapak?"
"Lalu saya harus panggil apa?"
"Kamu bisa panggil Mas? Atau Abang?"
"Maaf, Pak. Rasanya saya lebih nyaman dengan panggilan Bapak!" jawabnya. Jawaban Amelia yang logis membuat Dicky semakin gemas.
"Baiklah, Bagaimana keputusan kamu? Apakah kamu menerima kerjasama ini?"
"Boleh saya baca dulu kontrak kerjasamanya? Saya harus tahu poin-poinnya!"
"Silahkan!" Amelia membaca dengan seksama perjanjian kerjasama dengan agensi tersebut. Dia harus lebih teliti dan detail, baru memutuskan semuanya. Setelah dia baca, dan lumayan menguntungkan bagi butiknya. Dia pun setuju dengan kerjasama tersebut. Hari itu juga mereka saling menandatangani kontrak tersebut.
__ADS_1
"Saya harap kerjasama ini berhasil dan menguntungkan bagi kedua belah pihak," ucap Dicky.
"Iya, Pak. Semoga saja!" Amelia melihat jam sudah menunjukkan waktunya makan siang. Dia pun berpamitan kepada pemilik agensi.
"Maaf, Pak. Saya harus pergi!"
"Makan sianglah bersama!" ajaknya.
"Tidak bisa. Karena saya sudah ada janji. Maaf permisi!" Amelia buru-buru meninggalkan Restaurant tersebut. Dia berdiri di depan Restaurant untuk mencari taksi. Ternyata Restaurant ini letaknya tidak terlalu jauh dari kantor suaminya.
"Apakah aku langsung ke kantor saja ya?" batin Amelia.
"Iya, lebih baik aku langsung ke kantor suamiku. Jaraknya juga tidak terlalu jauh," ucap Amelia berdialog dengan dirinya sendiri.
Dengan menggunakan taksi, Amelia langsung menuju kantor suaminya. Hanya sepuluh menit saja, dari Restaurant ke kantor suaminya. Setelah membayar ongkos taksi dia berjalan masuk ke perusahaan suaminya.
Para karyawan yang sudah mengenal istri dari CEO perusahaan menyapanya dengan ramah. Amelia tidak kalah ramah menyapa mereka. Dia tidak perlu repot menanyakan kepada resepsionis, karena dia tahu di mana letak kantor CEO.
Amelia masuk ke dalam lift khusus untuk atasan, berhenti di lantai tujuh gedung ini, dia sedikit berbelok sampailah di depan ruangan suaminya. Di depan ruangan suaminya sudah ada sekretaris, tapi sengaja dia menyuruh sekretarisnya untuk tidak memberitahu suaminya.
Tok ... Tok ... Tok
"Masuk!" suara dari dalam ruangan. Amelia masuk secara perlahan, dan dia melihat suaminya sibuk dengan berkas-berkas di tangan, hingga tidak sadar kalau yang berdiri di depan mejanya adalah Amelia. Amelia duduk di kursi, sambil mengamati Thomas yang sedang bekerja. Suaminya terlihat sangat tampan, jika sedang berfikir dan mengerjakan sesuatu. Namun Thomas masih belum menyadari kedatangan Amelia.
"Sepertinya sangat sibuk hingga istri sendiri dicuekin!" manyun Amelia. Thomas tersadar bahwa dia hafal betul dengan suara khas istrinya, ia pun menoleh ke sumber suara tersebut.
"Sayang?" kaget Thomas, "Kok bisa ada di sini?"
"Tentu saja. Sedari tadi aku disini, tapi mas tidak menyadarinya," cemberut istrinya.
"Maaf, Sayang. Pekerjaanku banyak, hingga aku tidak sadar kalau kau datang," jawab Thomas.
"Ini sudah jam makan siang, Mas!" jawab Amelia.
"Oya, Aku lupa," ucap Suaminya tersenyum, "Tapi, pekerjaanku sangat banyak,"
"Ehm, iya, sudah kita makan siang saja disini!" ucap Amelia.
"Apakah kau yakin mau makan siang di sini?"
"Iya, tentu,"
"Baiklah, kita pesan makanan lewat aplikasi saja,"
Dua puluh lima menit kemudian makanan datang. Sejenak Thomas meninggalkan pekerjaannya sebentar untuk makan siang. Dia menikmati makan siang berdua dengan sang istri di kantor.
"Sorry, aku mengganggu!" ucap Bram membuka pintu kantor Thomas secara tiba-tiba.
"Bram, Kemarilah! Ayo kita makan siang bareng!" ajak Amelia.
"Beneran kakak ipar?" senang Bram.
"Wah, rezeki nomplok!" batin Bram.
"Untuk apa sih Sayang mengajaknya?" ucap Thomas masih mengunyah makanan.
"Iya nggak apa-apa, Mas. Kan makanannya banyak? Nggak habis juga!" jawab Amelia.
"Ish, Abang. Jadi orang tuh jangan pelit-pelit!" cibir Bram.
"Ck,"
"Mengganggu keromantisan orang saja!" cebiknya.
Melihat Thomas dan Bram berdebat, Amelia hanya terkekeh geli. Pasalnya jika mereka sudah bertemu, mereka seperti anjing dan kucing. Namun, mereka saling menyayangi, seperti kakak beradik kandung. Orang lain saja mengira, bahwa mereka kakak beradik kandung. Padahal, Thomas dan Alina lah yang memiliki hubungan sedarah.
__ADS_1
to be continued......