Amelia

Amelia
Episode 107


__ADS_3

Dret ... Dret ... Dret


Nampak Thomas kembali mengangkat teleponnya. Karena kali ini raut mukanya nampak panik, entah apa yang sedang dia bicarakan dengan seseorang ditelepon tersebut.


"Siapa, Thom?" tanya Celine.


"Seseorang yang aku percaya untuk menyelidiki Clara," jawabnya.


"Apakah detektif suruhan mu?"


"Bukan. Ada seorang lagi yang Thom suruh untuk menyelidiki Clara!"


"Ada apa? Kenapa mukamu sangat panik?" tanya Celine yang juga ikut panik.


"Sherly, Ma. Clara menggunakan Sherly untuk menyelamatkan anaknya," jawab Thomas lemas.


"Maksud kamu?" Mama tidak paham apa yang dimaksud putranya.


"Multiple Myeloma. Anak Clara dan Billy terserang penyakit Multiple Myeloma. Karena itu mereka membutuhkan Sherly," jawab Thomas.


"Tapi, anak mereka sakit. Apa hubungannya dengan Sherly?" tanya Celine tidak mengerti.


"Ma, Alina pernah mendengar penyakit itu, kalau tidak salah Multiple Myeloma adalah sejenis kanker, kanker yang menyerang sel plasma di sumsum tulang. Sel Plasma sendiri adalah jenis sel darah putih dalam sumsum tulang. Dan penyakit ini sejenis kanker langka. Dan Alina yakin, pasti Clara membutuhkan Sherly karena dia membutuhkan sumsum tulang belakang milik Sherly," jelas Alina.


"Ya Allah, Apa yang dipikirkan Clara selama ini? Kenapa dia begitu tega mengorbankan Sherly, padahal Sherly adalah anak kandungnya juga?" sedih Celine.


"Thomas harus berangkat sekarang, Ma. Thomas nggak mau terjadi apa-apa dengan Sherly," ucap Thomas.


"Baiklah, Hati-hati, Nak! Mama mohon bawa Sherly kembali ke rumah ini!" isak Celine.


"Thomas pastikan Sherly kembali ke rumah ini!" ucap Thomas, "Tolong sampaikan kepada Amelia, Thomas pergi ke Sydney, Ma!"


"Baiklah, kamu tenang saja. Mama pasti akan menjelaskan ke istri kamu. Yang penting kamu fokus mencari Sherly!" Thomas mengangguk dengan pasti.


Setelah berpamitan dengan Celine, mereka pun bergegas menjalankan mobilnya menuju Bandara.

__ADS_1


SYDNEY


Seorang anak kecil dengan menggunakan pakaian Rumah Sakit sedang menunggu di ruangannya untuk menjalani serangkaian tes. Dia adalah Sherly. Dia sangat bingung kenapa dirinya berada di Rumah Sakit, padahal sudah berulang kali dia mengatakan kepada suster kalau dia tidak sakit. Tapi, tetap saja dia diperiksa dan menjalani beberapa tes fisik.


Clara masuk ke ruangan Sherly, sambil tersenyum.


"Sherly?" panggilnya.


"Mommy, kenapa Sherly harus diperiksa? Sherly nggak sakit, Mom?" ujarnya. Sebagai seorang ibu pastilah dia tidak tega.


"Kamu sedang sakit, Nak. Mommy nggak mau kamu sakit, jadi kamu harus diperiksa ya, Sayang!" jawab Clara menenangkan hati putrinya.


"Tapi Sherly baik-baik saja. Sherly tidak sakit!" ucapnya.


"Eh, itu Pak Dokter datang sekarang Sherly harus diperiksa dulu ya?" ucap Clara kepada Sherly.


"Kami akan membawanya ke ruangan khusus. Jika memang mereka cocok, saya bisa mengambil sumsum tulang belakangnya. Tapi, kalau tidak. Saya mohon maaf, Nyonya. Kami tidak bisa meneruskan ini semua," ujar Dokter dengan menggunakan bahasa Inggris.


"Baiklah, Dok. Cepat lakukan!" ucap Clara. Apa yang Mommy dan Dokter tersebut bicarakan, Sherly sama sekali tidak mengerti.


Dua orang perawat mendorong kursi roda Sherly ke sebuah ruangan. Dimana Clara tidak diperbolehkan untuk masuk. Sherly merasa ketakutan, dia berusaha untuk memanggil Mommy nya.


"Tapi, Mas. Aku tidak tega!" ucapnya.


Setelah bercerai dari Thomas, Clara menikah dengan Billy, dan memiliki anak bernama Jenny. Namun sejak kecil Jenny memang tidak memiliki sistem kekebalan tubuh. Sehingga dengan mudah dia terserang penyakit. Baru tiga tahun ini, Jenny diketahui terserang Multiple Myeloma stadium tiga.


Tentu saja itu membuat Billy dan Clara sangat bersedih, melihat putri kecilnya harus menahan rasa sakit yang teramat sakit.


Penyakit ini termasuk penyakit yang sangat langka, bahkan Dokter pun belum menemukan dengan apa penyakit ini bisa sembuh. Penyakit ini hanya bisa dicegah, dan memperlambat sel kanker menyebar.


Tiga jam berlalu, Sherly nampak mengerjapkan matanya. Kepalanya terasa pusing, entah apa yang dilakukan oleh para Dokter itu. Tubuhnya terasa lemas dan sakit.


Sherly mencari keberadaan Mommy nya, dia pun keluar dari kamarnya untuk mencari Clara. Di luar ruangan, dia bingung harus bertanya kepada siapa. Karena tidak ada siapapun yang ia kenal.


Dia mencari keberadaan Mommy nya dari kamar satu ke kamar yang lain. Tetap saja Sherly tidak menemukannya. Hingga dia bertemu dengan perawat yang merawatnya. Perawat tersebut mengatakan sesuatu, namun Sherly tidak paham perawat tersebut mengatakan apa. Perawat itu hanya menunjuk pada salah satu ruangan, kemudian dia berlalu pergi.

__ADS_1


Karena rasa penasaran yang tinggi, Sherly pun mendatangi ruangan yang ditunjuk oleh perawat tersebut. Dan ternyata benar, bahwa Mommy nya berada di ruangan tersebut dengan seorang pria. Clara duduk di sebelah ranjang, di mana di ranjang tersebut terdapat seorang anak yang usianya hampir sama dengan dirinya, tergeletak lemah tidak berdaya.


"Kamu pasti sembuh, Sayang! Seseorang akan mendonorkan sumsum tulang belakangnya untukmu. Dan kau akan sehat seperti sediakala," ucap Clara.


"Siapa yang mau mendonorkan sumsum tulang belakang untuk Jenny?" tanya Jenny.


"Kebetulan anak itu seumuran denganmu. Dia anak teman papa dan Mama," ucap Billy.


"Tapi, Mas ...!" Billy mengedipkan matanya kepada Clara, supaya Clara tidak mengatakan kejujurannya. Billy menggandeng tangan istrinya keluar ruangan.


"Clara, Aku harap kau tidak bercerita apa-apa kepada Jenny. Jika, Jenny tahu bahwa kau memiliki anak lain, Jenny pasti tidak akan bersemangat untuk melakukan terapi. Dia akan berfikir bahwa kasih sayang mu akan teralihkan untuk anak yang lebih sehat darinya. Kau tidak mau melihat Jenny bersedih kan?"


"Tidak, Mas," Clara menggelengkan kepalanya.


"Bagus, katakan kepada Jenny, bahwa yang mendonorkan sumsum tulang belakang untuknya adalah orang lain yang tidak memiliki hubungan kerabat dengan kita. Bahkan kau sendiri pun tidak mengenalnya, atau kau bilang saja yang mendonorkan adalah anak dari teman kita!" tutur Billy kepada istrinya.


"Baik, Mas. Aku akan menuruti semua perintahmu!" jawab Clara. Kemudian mereka masuk kembali ke ruangan itu.


Ternyata Sherly masih berdiri di sana, dia sengaja bersembunyi di balik tanaman, dia juga mendengarkan semua ucapan Mommy nya. Hatinya begitu sedih, dia tidak menyangka, kalau Mommy nya begitu tega akan mengorbankan dirinya untuk anak yang lain. Sherly kembali ke ruangannya dengan langkah kaki yang lemas. Dia kembali duduk di tempat tidur. Dia berusaha untuk mencari cara bagaimana dia bisa menghubungi nomor sang Daddy, atau menghubungi nomor Mommy Amelia.


"Aku harus pinjam telepon?" batin Sherly. Dia pun bergegas menuju ke resepsionis untuk meminjam telepon.


"Apakah aku bisa meminjam telepon?" tanya Sherly. Namun pihak resepsionis tidak mengerti apa yang dimaksud dengan anak kecil di depannya.


"Kamu kehilangan orang tua?" tanya petugas tersebut dengan bahasa Inggris. Namun Sherly tidak paham dengan kata-kata petugas tersebut.


"Aku mau pinjam telepon?" ucap Sherly dengan bahasa Indonesia. Setelah Sherly menunjuk telepon di depan petugas tersebut, barulah petugas itu paham maksud dengan gadis kecil di depannya.


Sherly menekan nomor milik Daddy-nya, namun tidak aktif. Kemudian dia mengingat-ingat nomor Mommy Amelia. Tidak juga diangkat, dia kembali menekan nomor Mommy nya.


Dret ... Dret .... Dret


"Hallo?"


"Mommy, Sherly mau pulang. Sherly takut!"

__ADS_1


"Hallo ... Hallo. Ini siapa?" tanya Amelia panik.


to be continued....


__ADS_2