
Satu Bulan Berlalu
Bram dan Alina keluar dari Bandara Indonesia. Memang hari ini mereka sengaja ingin mengunjungi Mamanya.
"Akhirnya kita sampai di Indonesia, Bang! Aku sangat rindu dengan Mama, Kak Thomas, Kakak ipar dan kadua ponakan ku," senang Alina.
"Ayo, Sayang, kita cari taksi. Kita akan membuat kejutan untuk Mama dan semua orang dirumah!" ajak Bram.
"Ayo!"
Taksi yang mereka tumpangi malaju dengan kecepatan sedang. Alina sudah tidak sabar ingin bertemu dengan keluarganya. Keasyikan mengobrol, membuatnya tidak sadar sudah sampai di depan gerbang. Taksi masuk ke dalam, dan berhenti tepat di depan rumah.
Setelah membayar ongkos taksi, mereka berdua turun. Mereka langsung memasuki rumah utama.
"Assalamualaikum?"
"Walaikumsalam," ucap Celine, "Alina, Bram. Kalian pulang?" kaget Mama.
"Mama?" Alina langsung memeluk Mamanya, "Al, kangen banget!" isaknya.
"Mama juga kangen. Kalian pulang kok nggak ngabarin?" tanya Celine.
"Karena kami ingin memberikan kejutan untuk Mama," jawab Bram.
"Ish, kalian ini. Benar-benar anak yang nakal!" cibir Mama. Mereka terkekeh geli.
"Kemana semua orang?" tanya Alina. Mama nampak bersedih.
"Ada apa, Ma?" tanya Bram.
"Itu, Thomas dan Amelia!" Celine menjeda kalimatnya.
"Ada apa dengan Kak Thomas dan kakak ipar?" tanya Alina.
"Thomas sedang marah dengan kakak iparmu," ujar Mama.
"Kok bisa?" heran Bram. Celine pun menceritakan awalnya sampai akhir.
Saat itu, setelah Sherly sembuh dari demam, Sherly terlihat sangat sedih. Setiap hari dia nampak murung, bahkan Sherly nampak tidak bersemangat. Itu membuat Amelia merasa bersedih dan bersalah.
Amelia pun berencana untuk mempertemukan Sherlly dengan Clara. Sherly sangat bahagia setelah mendengar akan bertemu dengan Mommy nya.
Awalnya Clara mengatakan kalau ingin mengajak Sherly jalan-jalan ke Mall dan akan mengembalikan Sherly ke tempat Amelia bekerja. Tentu saja Sherly sangat bahagia. Amelia pun mengijinkan Clara membawa Sherly berjalan-jalan.
Namun Clara mengingkari janjinya, dia tidak mengembalikan Sherly kepada Amelia. Sampai sekarang Sherly belum kembali. Itu yang membuat Thomas murka kepada istrinya. Dan sampai sekarang Thomas mendiamkan Amelia.
"Mama sangat bersedih," ucap Celine.
"Lalu dimana Bang Thomas, Ma?" tanya Bram.
"Mama rasa dia sedang mencari anaknya. Semalam nggak pulang ke rumah," jawab Mama.
__ADS_1
"Dan Kakak ipar?"
"Dia ada di kamar, mengurung dirinya. Pasti Amelia sangat sedih, karena Thomas masih saja menyalahkannya," jawab Mama, "Al, Bisakah kau menghibur kakak iparmu? Mamah sangat khawatir dengan Kakak iparmu!" ujar Celine.
"Baik, Ma," jawab Alina.
Alina melangkahkan kakinya menuju kamar Amelia.
Tok .... Tok .... Tok
"Masuk,"
"Kakak ipar?" panggil Alina.
"Alina." Alina memeluk kakak iparnya yang baru saja menidurkan Aska.
"Bagaimana kabar kamu?" tanya Amelia.
"Aku sehat. Kakak sendiri, bagaimana?"
"Aku juga sehat," jawab Amelia. Tapi sepertinya Amelia sedang tidak sehat. Wajahnya terlihat pucat, kantung matanya terlihat menghitam. Alina yakin bahwa kakak iparnya semalaman menangis dan tidak tidur.
"Kakak baik-baik saja kan?" tanya Alina cemas.
"Iya, aku baik-baik saja. Kamu tenang saja, Al," jawabnya.
"Alina sudah mendengar ceritanya dari Mama. Kakak ipar yang sabar ya?" ujar Alina berusaha menguatkan hati Amelia.
"Iya, Kak. Alina paham, kalau kakak sangat menyayangi Sherly. Semoga Sherlly cepat ketemu ya, Kak?"
"Terima kasih atas doa kamu, Al,"
"Apakah kakak sudah makan?" tanya Alina.
"Bagaimana Kakak bisa makan? Kakak tidak tahu, Apakah di sana Sherly sudah makan?" isak Amelia.
"Yang sabar ya Kak? Kak Clara pasti tidak tega membiarkan anaknya kelaparan," ucap Alina.
"Semoga saja begitu,"
Malam hari menjelang, Thomas baru pulang dalam keadaan berantakan.
"Bagaimana Thom? Apakah kau sudah menemukan Sherly?" tanya Celine cemas.
"Belum, Ma. Tapi, Thomas sudah mengerahkan anak buah Thomas untuk melakukan pencarian pada Sherly. Dan beberapa detektif swasta untuk mencari keberadaan Clara dan Sherly," jawab Thomas.
"Semoga Sherly cepat ketemu," ujar Celine.
"Do'a kan ya, Ma?"
"Tentu saja, Thomas. Oya, Tolong jangan mendiamkan Amelia lagi, Nak. Kasihan istri kamu, Thom. Itu bukanlah kesalahannya. Hati Amelia terlalu baik, dia tidak tega melihat Sherly bersedih, makanya dia memberikan kesempatan Sherly bertemu dengan Mommy nya," tutur Celine.
__ADS_1
"Huft."
"Pikiran Thomas sedang kacau, Ma. Jadi, biarkan Thomas tenang dulu!" ujarnya sambil berlalu ke kamar.
Thomas masuk ke kamarnya. Dia melihat istrinya sedang terlelap tidur. Dia mendekati tempat tidur Amelia, dia membelai rambut istrinya yang menutupi wajah.
"Maafkan aku, Sayang. Aku sudah kasar. Aku sangat panik, sudah satu Minggu, aku belum mendapatkan kabar dari Sherly. Kehilangan seorang anak, aku benar-benar seperti orang yang kehilangan akal," ujar Thomas merutuki dirinya sendiri.
Kemudian, Thomas langsung pergi ke kamar mandi untuk mandi dan bersih-bersih. Setelah mandi dan berganti baju, tiba-tiba ponselnya berdering. Ada notifikasi panggilan masuk dari detektif swasta yang dia bayar untuk mencari putrinya.
"Hallo?"
"Ada apa?"
"Begini, Pak. Setelah saya selidiki, ternyata mantan istri Anda datang bersama suaminya. Mereka sempat menginap di hotel X. Satu Minggu yang lalu, mereka sudah check out. Dan satu kabar lagi, mereka pergi dari hotel dengan membawa seorang anak kecil. Kira-kira berusia tujuh atau delapan tahun," jalas detektif tersebut.
"Itu pasti Sherly, Pak. Apakah ada informasi lagi?"
"Mereka tercatat sebagai penumpang pesawat X, tujuan Sydney," jawab detektif tersebut.
"Apakah Anda yakin?" tanya Thomas.
"Yakin, Pak! Karena saya sekarang berada di pesawat tujuan Sydney. Setelah sampai di Sydney, saya akan mencari informasi lebih lanjut lagi. Lalu, saya akan langsung menghubungi Bapak!"
"Baiklah, terimakasih informasinya. Malam ini juga saya akan terbang ke Sydney. Tolong cepat kabari saya jika menemukan informasi!"
"Siap, Pak!" jawabnya.
Thomas langsung mengemasi barang-barangnya untuk dimasukkan ke dalam koper. Dia juga menyuruh Bram untuk ikut bersamanya.
"Thomas, Apakah harus malam ini kamu pergi, Nak?" tanya Celine sedih.
"Iya, Ma. Aku harus pergi malam ini, sebelum Thom kehilangan jejak lagi," jelasnya.
"Tapi, Amelia belum bangun. Apakah kau tidak ingin membangunkannya, dan memberitahukan kepergian mu?" tanya Celine.
"Thomas tidak punya waktu, Ma. Thomas harus berangkat sekarang juga. Tolong nanti Mama yang memberitahukan kepada Amelia," ucapnya.
"Baiklah,"
"Bram, Ayo kita berangkat. Aku sudah memesan tiket!" ajak Thomas kepada Bram.
"Okey, Bang. Ini aku sudah siap!"
"Mah, doakan kami!" ucap Thomas.
Dret ... Dret ... Dret
Nampak Thomas kembali mengangkat teleponnya. Karena kali ini raut mukanya nampak panik, entah apa yang sedang dia bicarakan dengan seseorang ditelepon tersebut.
to be continued......
__ADS_1