Amelia

Amelia
Episode 128


__ADS_3

Tut ... Tut ... Tut


Alina mengakhiri panggilannya secara sepihak, karena mobil yang sedang dikendarai suaminya sedang dipepet oleh mobil itu.


"Ada apa, Mas?" tanya Amelia khawatir. Thomas langsung mengganti bajunya dan menyambar jaket dan kunci mobil.


"Sayang, Bram dan Alina dalam bahaya!" ucapnya.


"Apa?"


"Aku harus menolongnya," jawab Thomas.


"Aku ikut,"


"Sayang, ini berbahaya!"


"Tapi aku nggak mau terjadi apa-apa dengan kamu, Mas?"


"Aku aktifkan GPS nya. Jika dalam waktu satu jam aku tidak kembali, telepon polisi! Kau mengerti!"


"Baik, Mas!" Amelia menganggukkan kepalanya. Mobil Thomas langsung melesat cepat ke alamat yang Alina kirim.


Sambil menyetir, Thomas menelfon polisi untuk datang ke alamat itu. Thomas melajukan mobilnya membelah jalanan yang sudah mulai sepi dengan sangat kencang seperti orang kesetanan. Pikirannya bercabang kemana-mana.


Mobil Thomas sudah mendekati titik lokasi. Namun belum juga menemukan mereka. Hatinya dan pikirannya diliputi oleh kekhawatiran.


Hingga berhenti di jalanan yang sepi, sayup-sayup Thomas mendengar suara orang berkelahi. Ia pun mencari sumber suara tersebut. Dari kejauhan Thomas bisa melihat Bram sedang berkelahi dengan seseorang berpakaian serba hitam. Namun, Bram sepertinya kalah. Dan di dalam mobil, Alina hanya berteriak ketakutan.


Thomas memarkiran mobilnya di sembarang tempat, dia tidak perduli dengan para pejalan yang lain. Yang ada di dalam benaknya, adalah keselamatan Bram dan Alina.


Melihat kedatangan Thomas, orang tersebut berjalan cepat masuk ke dalam mobil. Thomas berlari dan mengejar orang itu, Tapi, dia sudah keburu kabur.


"Bram?" panggilnya. Thomas menghampiri Bram yang tergeletak di jalanan aspal dengan penuh luka lebam.


"Bram, Kau tidak apa-apa?" tanya Thomas membantu Bram berdiri.


"Abang?" teriak Alina keluar mobil, berlari dan menghambur ke pelukan suaminya.


"Gue nggak apa-apa, Bang!" jawab Bram.


"Nggak apa-apa bagaimana? Kamu itu babak belur, Bang!" isak Alina.


"Tapi, Abang nggak apa-apa, Sayang! Sudah jangan menangis!" ucap Bram berusaha menenangkan hati istrinya.


"Sudah babak belur begitu, masih juga menyangkal," manyun Alina. Bram hanya terkekeh.

__ADS_1


"Sudah, Ayo kita pulang!" ajak Thomas, "Apa mau ke Rumah Sakit?" ledek Thomas.


"Nggak usah, Bang. Cuma luka kecil saja!" ucap Bram.


"Tapi, kamu babak belur lho, Bang?" seru Alina.


"Tapi aku nggak apa-apa, Sayang!"


"Iya, Sudah kalau tidak mau!" manyun istrinya.


Lima menit kemudian Polisi baru datang. Thomas membuang nafasnya kasar. Percuma saja polisi datang, toh, penjahatnya juga sudah kabur. Batin Thomas. Mereka semua memutuskan untuk pulang.


Amelia sangat khawatir, hatinya begitu gelisah. Jika dalam satu jam belum ada kabar dari suaminya, berarti dia harus menghubungi polisi. Namun saat, Amelia hendak menelfon polisi, mobil suaminya sudah terlihat di depan gerbang. Amelia dan Celine sangat bahagia melihat kedatangan mereka.


"Mas, Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Amelia cemas.


"Aku nggak apa-apa, Sayang!" jawabnya.


"Alina, Kamu juga nggak apa-apa?" tanya Celine sangat cemas, pasalnya putrinya sedang hamil. Celine takut terjadi sesuatu dengan Alina.


"Nggak apa-apa, Mah!" isak Alina. Sebenarnya dia masih merasa ketakutan atas kejadian tersebut. Namun, dia berusaha untuk bersikap tenang. Dia tidak mau Mamahnya khawatir.


"Sekarang, Ayo masuk!" ajak Celine, "Ayo semuanya masuk!"


Mereka pun mengikuti langkah Celine untuk masuk ke dalam rumah. Badan Alina masih bergetar hebat, Amelia bisa melihat itu. Dia pun bergegas membuatkan teh hangat untuk adik iparnya.


"Terimakasih banyak Kakak ipar," sahutnya. Amelia menyunggingkan senyumnya.


"Bram, ikuti aku! Ada yang ingin aku bicarakan!" ajak Thomas.


"Oke, Bang!" Bram mengekor di belakang Thomas masuk ke ruang kerja. Mereka mendudukkan pantatnya di sofa.


"Kau mengenali wajah pria yang sudah mengahajarmu?" tanya Thomas.


"Mana bisa aku mengenalinya? Dia memakai topeng, Bang!" ucapnya.


"Topeng? Kenapa bisa kebetulan begini?" Thomas berfikir sejenak.


"Aku memang tidak tahu wajah dibalik topeng itu! Tapi, Aku ingat dengan plat mobilnya, Bang!" seru Bram. Seperti ada angin segar setelah mendengar kata-kata Bram.


"Okey, Nanti besok kita urus, Bram. Ini sudah malam sebaiknya Kau istirahat dulu! Dan Obati luka-lukamu!" suruh Thomas.


"Okey, gue ke kamar dulu, Bang!"


🍀🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


Pembahasan tadi malam berlanjut di meja makan. Thomas memerintahkan kepada semua keluarganya untuk tetap di rumah. Karena memang keadaannya belum aman untuk keluarganya keluar rumah.


"Sayang, Kamu di rumah saja dulu! Nggak ada yang boleh keluar, karena keadaan masih belum aman! Aku akan menyewa bodyguard untuk menjaga rumah ini!" ucap Thomas.


"Baik, Mas. Terserah kamu saja!" jawab Amelia.


"Mama dan Celine, kalian juga jangan kemana-mana! Ingat kejadian tadi malam kan, Al?"


"Iya, Kak. Alina akan di rumah saja. Maafkan, Al, ya, Kak! Sudah merepotkan banyak orang!" sesal Alina.


"Bagus, kalau begitu!" ujar Thomas, "Nanti siang akan datang beberapa bodyguard yang aku sewa untuk menjaga rumah ini!" ucap Thomas.


"Iya, Thom!" jawab Mama Celine.


"Daddy, tapi, Sherly ingin jalan-jalan! Sherly bosan di rumah terus!" ucap Sherly.


"Iya, Sayang. Dady ngerti, tapi, jalan-jalannya nanti saja, kalau keadaannya sudah aman ya?" ucap Thomas halus kepada putrinya.


"Aka uga mau alan-alan," sahut adiknya.


"Iya, Nanti Daddy sama Mommy ajak Kakak Sherly dan Aska jalan-jalan!" ucap Amelia.


"Yeay, asyik, kita akan jalan-jalan!" senang mereka berjingkrak-jingkrak.


"Sayang, aku kerja dulu!" pamit Thomas kepada istrinya.


"Iya, Mas. Hati-hati dijalan!" ucap Amelia seraya mencium punggung tangan suaminya.


Thomas dan Bram pun berangkat ke kantor bersama dengan menggunakan mobil Thomas. Sebelum mereka ke kantor, Thomas mengajak Bram ke kantor polisi untuk mencari info mengenai mobil tersebut.



Dicky membawa mobilnya ke bengkel untuk diperbaiki. Ada bagian-bagian body mobil yang nampak tergores. Dan tentu saja membuat mobilnya tidak enak dipandang. Memang sih mobil tersebut jarang ia pakai. Namun, mobil tersebut memiliki kenangan yang indah saat dirinya pertama kali bisa membeli mobil.


"Bagaimana, Bro? Apakah goresan itu bisa diperbaiki?" tanya Dicky kepada salah satu pekerja bengkel.


"Tenang saja, Pak. Tinggal saja mobilnya disini. Setelah beres saya akan menelfon Anda!" ucap orang itu lagi.


"Okey, aku tinggal! Seperti biasa, nanti aku ambil," ucapnya.


Dicky memberhentikan taksi untuk bisa kembali ke tempat kerjanya. Karena hari ini dia akan ada pertemuan penting dengan beberapa klien.


Di sepanjang perjalanan, Dicky melamun, entah kenapa ada sedikit ganjalan dihatinya. Namun dia tepis, dia tidak mau berfikir negatif dahulu sebelum ada bukti yang nyata.


Tidak terasa taksi yang ditumpangi sampai di depan kantornya. Setelah membayar ongkos taksi, dia langsung masuk ke kantor. Para karyawan menyambut kedatangannya dengan ramah.

__ADS_1


to be continued ....


__ADS_2