
Taksi yang ditumpangi Amelia berhenti di depan Rumahnya. Setelah membayar uang taksi, Amelia turun dari taksi tersebut. Ia memasuki rumah dengan langkah yang malas.
Ia membuka pintunya, dan meletakkan tasnya. Ia tatap foto pernikahan yang dipajang di ruang tamu. Pernikahan dengan suaminya telah hancur karena sebuah pengkhianatan.
"Kamu menikahi perempuan itu, apakah orang tuamu juga mengetahuinya, Mas?" tanyanya dalam hati. Kemudian ia mendial nomor ibu mertuanya, Amelia ingin memastikan kepada ibu mertuanya.
Dret ... Dret ... Dret
"Assalamualaikum, Bu?" sapa Amelia.
"Walaikumsalam, ada apa kamu menelfon ibu?" ketusnya.
"Hiks ... hiks ..... hiks." tangis Amelia.
"Amelia ingin bertanya dengan ibu! Apakah ibu tahu bahwa Mas Arga menikah lagi?" tanya Amelia.
"Iya, ibu dan ayah mengetahuinya, terus kenapa?" jawab ibu, malah balik bertanya.
"Kenapa ibu dan ayah merestuinya? Ibu kan tahu, mas Arga sudah memiliki istri!" protes Amelia.
"Loh, tentu saja kami merestuinya, karena wanita itu sedang mengandung cucu kami! Bukan seperti dirimu! Kau mengandung, tetapi entah itu anak siapa?" ejeknya.
"Harusnya kamu tuh bersyukur, putraku masih mau dengan wanita yang sudah bolong seperti dirimu! Putraku juga masih menjatah uang bulanan untukmu! Kau terima saja madumu itu! Toh kamu tidak kekurangan apapun kan?"
"Sudahlah, kau terima saja nasib kamu, jangan berusaha menasehati ibu lagi! Jika memang kamu sudah tidak menginginkan pernikahan ini, kau bercerai saja dengan putraku!" hardiknya panjang lebar. Amelia terhenyak seketika dengan ucapan ibu mertuanya, dia tidak percaya kalau seorang ibu menyarankan agar anak-anaknya bercerai.
"Hiks .... hiks .... hiks." Amelia kembali menangisi nasibnya.
__ADS_1
"Kenapa ibu mertuaku begitu tega? Apakah karena anak yang aku kandung bukan cucunya, sehingga beliau begitu membenciku," ucapnya, berdialog dengan dirinya sendiri sambil mengelus-elus perutnya.
"Sabar ya, Nak, bunda pasti akan menjagamu dengan baik, meskipun tidak ada yang menginginkanmu, tetapi bunda sangat menginginkanmu, bunda akan menyayangimu dengan sepenuh hati," batin Amelia berlinang air mata.
Amelia beranjak dari duduknya, dia menuju kamar mandi untuk bersih-bersih. Selesai mandi dan berganti baju, dia memoleskan bedak dan lipstik, membuat wajahnya semakin cantik dan segar. Amelia pergi ke dapur untuk memasak makan malamnya.
Hari ini dia membuat nasi goreng seafood, karena menurutnya menu yang sangat praktis dan simpel. Dia menata masakannya di meja makan, nasi goreng seafood, ayam goreng, dan kerupuk. Dia berikan sedikit hiasan timun dan sayuran untuk nasi gorengnya.
Beberapa menit kemudian, suaminya pulang ke rumah seperti biasa. Meskipun sedang marah, Amelia masih tetap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri. Menyambut kedatangan suaminya di belakang pintu, dan membawakan tas kerjanya. Arga memberikan pelukan hangat untuk sang istri, namun Amelia hanya terdiam, menampilkan sedikit senyumnya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Amelia juga menyiapkan peralatan mandi suaminya, dari handuk sampai baju gantinya.
"Mandilah dulu, Mas! Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu!" ujarnya, mencoba untuk bersikap biasa saja. Arga membuka bajunya satu persatu, nampak sangat jelas bekas ruam-ruam merah di sekujur tubuh dan leher suaminya.
Sakit? Tentu saja Amelia sangat sakit, batinnya sangat tersiksa. Namun dia mencoba untuk bersabar dan berpura-pura tidak tahu.
"Terima kasih, Sayang." jawab suaminya, berlalu ke kamar mandi.
"Mel, aku minta maaf!" ucapnya lembut.
"Untuk apa?" ketus Amelia.
"Aku mohon terimalah Ratih sebagai madumu!" ujarnya lagi.
"Seenaknya saja kamu bicara, Mas! Kebohonganmu itu sudah sangat melukai hatiku! Sekarang kamu ingin, aku menerima wanita yang sudah merusak rumah tangga kita!" hardiknya.
"Tapi semuanya bukan kesalahan Ratih! Kamu juga ikut bersalah!" ujarnya lagi membuat Amelia benar-benar sangat muak.
__ADS_1
"Apa? Kesalahanku?"
"Hhhhhh, Bagaimana bisa menjadi kesalahanku juga?" marah Amelia.
"Malam disaat aku tahu kau hamil, aku sangat frustasi, aku pergi ke klub dan aku mabuk! Aku mendatanginya di Apartemen, dan aku melakukan hubungan itu dengannya!" ucapnya.
"Apa kamu bilang? Sejak kapan kamu membawa wanita ke Apartemen kita? Apartemen itu adalah tempat impian kita berdua sebelum menikah! Bahkan sejak aku menjadi istrimu, aku belum menginjakkan kakiku disana! Bagaimana bisa kau membawanya ke sana?" marah Amelia.
"Maafkan aku, Sayang! Aku tahu, aku bersalah! Itu terjadi begitu saja! Aku cuma ingin menolongnya dari kejaran preman! Tapi aku juga sudah terlalu jauh masuk kedalam kehidupannya! Aku juga mencintainya, seperti aku mencintai kamu, Mel!" ujarnya lagi.
Amelia membelalakkan kedua bola matanya, dia tidak percaya suaminya dengan jujur mengakui perasaannya. Bagaimana seorang Arga tidak jatuh cinta kepada Ratih, selain Ratih cantik, dia juga sangat pandai bercinta. Ratih selalu bisa membuatnya terbang melayang, Ratih juga sangat pandai bermain ranjang. Penampilan Ratih yang sangat seksi, selalu membuat birahinya naik. Amelia juga tidak kalah cantik, malah dia lebih cantik dibandingkan dengan Ratih, namun penampilan Amelia yang kampungan dan permainan ranjangnya tidak seperti istri keduanya, membuat Arga menjadi bosan.
"Kamu benar-benar sangat tega, Mas! Kamu tega menduakan aku! Apa kesalahanku? Apakah pengorbananku selama ini tidak cukup buatmu, Mas?" ketus Amelia.
"Justru karena pengorbananmu itu aku sangat mencintaimu, Sayang! Jadi aku mohon, kamu juga harus mengerti! Aku mohon kamu juga mau menerima kehadiran Ratih sebagai istri keduaku!" ucapnya tanpa rasa malu.
"Ck, kamu benar-benar tidak tahu malu, Mas! Kau begitu mudahnya, menyuruhku untuk menerima istri keduamu! Aku tidak mau, Mas! Aku tidak perduli dengan istri keduamu! Sekarang kamu harus memilih, kamu memilih dia atau aku!" tegas Amelia.
"Sayang, aku tidak bisa memilih! Aku mencintai kalian berdua! Tolong, jangan menyuruhku untuk memilih diantara kalian! Aku tidak bisa! Sayang, aku mohon terimalah Ratih sebagai madumu!" mohon Arga.
"Sekali tidak tetap tidak, Mas!" bentak Amelia.
"Baiklah, kalau kau tidak mau! Tapi aku tidak bisa menceraikannya, karena dia sedang mengandung darah dagingku! Aku akan ke rumah Ratih, aku terlalu pusing untuk memikirkan semua ini!" dengus Arga, sambil menyambar jaket dan kunci mobilnya tanpa menyentuh masakan yang dimasak oleh istrinya.
"Hiks .... hiks ..... hiks." tangisnya.
"Kamu benar-benar sangat tega, Mas! Bahkan kau meninggalkanku disaat aku membutuhkan dirimu?!" ujarnya.
__ADS_1
Malam ini Amelia tidur sendiri, ia hanya ditemani oleh bantal guling dan Tedy bear kesayangannya. Ia mendekap Tedy bear itu, dan menangis sesenggukan. Ia menatap langit-langit kamarnya, menerawang dan mengingat pengkhianatan suaminya. Dan sekarang suaminya menuntutnya agar dia menerima madunya. Tidak terasa air matanya kembali merembes, hatinya sangat terluka dan sakit. Ia hanya bisa menangis dan meratapi nasibnya. Lelah menangis, Amelia pun tertidur sangat pulas.
to be continued.....