Amelia

Amelia
Episode 133


__ADS_3

Dengan mengendap-endap, Thomas masuk. Dia mendapati istrinya sedang berendam di bathtub, dengan memejamkan mata. Thomas tertegun, jakunnya naik turun dengan cepat, tiba-tiba tenggorokannya terasa kering. Melihat tubuh istrinya telanjang.


"Sayang?" panggil Thomas sangat lembut. Sontak Amelia terkejut.


"Mas? Kamu sudah pulang?" tanya Amelia. Thomas sudah menceburkan diri di dalam bathtub yang sama.


"Mas, mau ngapain?"


"Iya, Mandilah!" ujarnya sambil terkekeh geli.


"Iya, sudah kalau Mas mau mandi. Amel sudah selesai kok!" ucapnya sambil beranjak berdiri. Namun, tangan Thomas menahan tubuh Amelia. Hingga dia terduduk kembali ditempatnya.


"Mau kemana?"


"Aku sudah selesai, Mas," ujarnya.


"Temani aku mandi, Sayang!" bisik suaminya tepat ditelinga. Hembusan nafas suaminya yang hangat menerpa kulitnya, membuat tubuhnya terasa meremang.


"Tapi, tadi pagi kan ...!"


"Tapi, melihatmu seperti ini, membuatku ingin lagi, lagi, dan lagi," bisiknya lagi.


"I-iya ... !" Amelia memejamkan mata seraya menggigit bibir bawahnya, ketika suaminya mencumbu leher jenjangnya.


"Umm, Mas ... !" napasnya mulai memburu, dan dadanya naik turun dengan cepat.


Tangan nakal Thomas sudah merayap diperut rata wanita itu. Dia tersenyum ketika menemukan gundukan kenyal yang sangat menggoda.


"Sayang?" bisikannya mempengaruhi sang istri sehingga sang istri tidak mampu bergerak selain bernafas. Tubuhnya membeku, namun momen seperti ini dia sangat menikmatinya.


Mereka memulai cumbuan dengan penuh perasaan. Keduanya saling memagut dengan sepenuh hati. Apalagi setelah dua tangan suaminya sudah ikut berperan, mulai menjelajah setiap lekukan tubuh sang istri dengan penuh cinta dan kasih sayang. Amelia sangat menikmati sentuhan-sentuhan lembut tersebut.


Thomas menarik pinggang Amelia hingga dia terjatuh di bawah, dan mengungkung wanita itu dibawahnya. Membuat Amelia tidak bisa bergerak dan terlepas dari kungkungan suaminya.


Thomas menatap wajah istrinya yang sudah memerah. Tubuhnya terlentang pasrah di bathtub. Sungguh pemandangan yang sangat indah, cantik membuat hasratnya meningkat dengan cepat.


"Mas?" erangnya ketika dia merasakan Thomas mulai bergerak.


Pria itu kembali menuruti naluri alami mengerakkan bagian bawah tubuhnya yang sudah mulai beraksi.


"Oh, Mas!" Amelia mulai mengerang saat Thomas menghentakkan tubuhnya sangat dalam.


"Mmmm ... !" erangan tertahan terus mengudara, seiring naluri seorang pria yang menghantarkan pada kenikmatan yang luar biasa.

__ADS_1


"Oh," erangnya, seiring cengkeraman kuat dibawah sana yang mengencang diikuti denyutan hebat yang luar biasa.


Cengkeraman dan denyutan hebat membuat keduanya kehilangan akal, sehingga tidak mampu menahan diri. Yang kemudian membuatnya melepaskan apa yang sudah ditahannya, sehingga segalanya meledak begitu saja.


"Sayang?" geramnya. Seraya membenamkan wajahnya di dada istrinya.


Lemas, itulah sekarang yang Amelia rasakan. Tubuhnya terasa lemas tidak bertenaga. Thomas menoleh ke arah istrinya, dia merasa tidak tega melihat istrinya yang sudah lemas tak berdaya.


"Sayang, Kau tidak apa-apa?" tanya Thomas.


"Ck, bagaimana tidak apa-apa? Badanku sangat lemas, Mas!" berengutnya. Thomas terkekeh geli.


"Mau aku mandikan?"


"Eh, tidak usah," jawab istrinya tergagap. Thomas semakin mengembangkan senyumnya.


Keluar dari kamar mandi. Kedua buah hatinya sudah menunggu mereka ditempat tidur. Maniknya tidak berhenti untuk menatap sang Daddy. Membuat Thomas merasa sangat risih.


"Kenapa? Kenapa menatap Daddy seperti itu?" tanya Thomas heran.


"Daddy dan Mommy sedang ngapain di kamar mandi?" tanya Sherly menyelidik.


"A-apa? Daddy nggak ngapa-ngapain! Jangan berburuk sangka!" ucap Thomas. Namun manik kedua bocah itu tidak berhenti mengintimidasi dirinya.


"Mommy? Kenapa lama sekali mandinya? Katanya mau main bersama kami. Tapi, Mommy mandinya sangat lama," cibir Sherly.


"Eh, iya, Sayang. Maafkan Mommy!" ujarnya.


"Apa yang dilakukan Daddy sama Mommy?" tanya Sherly balik mengintimidasi dirinya.


"Daddy nggak melakukan apa-apa," elak Amelia. Sedangkan Thomas hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum.


"Ehm, iya, sudah. Mommy mau ganti baju dulu. Habis ini Mommy mau buatin kalian makanan yang enak banget!" ucap Amelia supaya kedua buah hatinya tidak berfikir macam-macam.


"Baiklah, kami tunggu di luar bersama Oma, Tante dan Om Bram," ucap Sherly.


"Okey, Sayang," ucap Mommy nya.


"Ini semua gara-gara kamu, Mas," cebik Amelia menyalahkan suami.


"Ck, Sayang. Kamu tadi juga sangat menikmatinya," sahut Thomas.


"Ah, sudahlah. Lama-lama bersama denganmu, Kau semakin mesum!" hardiknya. Thomas terkekeh geli melihat wajah istrinya yang semakin menggemaskan.

__ADS_1


Amelia sibuk di dapur membuat menu istimewa untuk kedua buah hatinya. Dia memang sangat lihai berkutat dengan bahan-bahan makanan. Bukannya ingin memonopoli dapur, sesekali dia memasak kesukaan kedua buah hatinya.


"Selesai," ucap Amelia disela mencicipi makanan yang sudah selesai ia buat. Dia takut kalau rasanya kurang pas di lidah, makanya dia mencicipi kembali masakannya.


"Perfect," monolognya sendiri.


"Mommy?" panggil Sherly berteriak membuat Amelia terkejut.


"Sayang, Mommy jadi terkejut kan?" Sherly terkekeh geli. Anak kecil itu berpikir bahwa Amelia sedang membuat lelucon. Namun, Amelia tidak pernah marah atau tersinggung. Dia selalu berfikir bahwa anak-anak memang masih sangat suka bermain dan bercanda.


"Mommy, Apakah sudah siap? Sherly lapar," ucapnya sambil menunjuk cacing-cacing diperutnya yang mulai berdemo minta diisi.


"Sudah, dong," sahutnya, "Chicken katsu untuk anak-anak Mommy yang pintar dan menggemaskan," ucap Amelia.


"Yeay, asyik," senang Sherly.


Amelia membawa makanannya ke meja makan agar bisa dinikmati oleh anggota keluarganya. Bukan hanya chicken katsu yang ada di meja makan, ada sayur dan lauk pauk lainnya. Alina yang memang nafsu makannya sedang tinggi, dia langsung mengambil ayam yang dimasak oleh kakak iparnya, dan memindahkannya ke piring.


Alina menikmatinya dengan lahap. Hampir tiga ayam dia habiskan dalam sekejap. Membuat semua orang yang melihat, menatapnya dengan heran.


"Sayang, Kau sedang lapar atau apa?" tanya Bram.


"Mmmmm, masakan yang dibuat kakak ipar nggak ada duanya. Rasanya enak sekali," ucapnya.


"Kapan-kapan aku buatkan lagi," ucap Amelia sambil tersenyum.


"Ternyata orang hamil rakus juga ya!" ucap Thomas, membuat semua orang melengos ke arahnya, "Waktu kamu hamil Aska, kamu kayak gitu nggak, sayang?"


"Abang, Kak Thomas mengataiku rakus," isak Alina dengan nada manja.


"Hiks .. Hiks ... Hiks."


"Aku nggak rakus. Anakku memang sedang lapar!" isaknya lagi.


"Aduh, cup, cup, Sayang. Jangan dengarkan Bang Thomas. Dia itu sedang ngiri, karena sejak istrinya ngidam dia nggak pernah ada disampingnya," ucap Bram.


"Eh, kau mengejekku ya! Lihat saja ya, saat istriku hamil lagi, aku pastikan, aku akan menjadi suami siaga," cebiknya.


"Memang kalian berencana ingin mempunyai anak lagi?" tanya Mama Celine.


"Ah, itu cuma khayalan Mas Thomas saja, Mah," kekeh Amelia, "Aku ingin fokus membesarkan Aska dulu. Nanti, kalau Aska sudah berusia tiga tahun, barulah kami memikirkan memiliki momongan lagi," terang Amelia tersenyum simpul. Dia mendelik kan matanya ke arah sang suami. Namun Thomas hanya terkekeh geli.


to be continued ...

__ADS_1


__ADS_2