Amelia

Amelia
Episode 61


__ADS_3

Amelia bangun pagi, seperti biasa dia melakukan aktivitasnya yang dulu, yang sering dia lakukan sebelum tinggal di rumah Mama Celine. Setiap hari dia bangun pagi untuk membersihkan rumah dan membantu bundanya memasak. Sekarang dia begitu merindukan saat-saat dimana dia memasak bersama dengan sang bunda.


Setelah membereskan rumah yang sedikit berantakan, sekarang giliran halaman rumah yang akan dia bersihkan. Rumahnya tidak terlalu besar, di depan rumahnya masih ada sisa tanah yang ia manfaatkan untuk menanam berbagai bunga di pot. Namun karena tidak dirawat, sebagian sudah mati dan kering. Amelia membuang bagian yang sudah mati dan kering itu. Setelah cukup bersih, Ia pun menyiraminya supaya tumbuh subur dan kembali segar.


"Amelia?" panggil seseorang. Amelia menoleh, ternyata itu adalah Ibu Ety, tetangga depan rumahnya.


"Ibu Etty," sapanya.


"Wah, kamu disini?" tanya Bu Ety begitu senang bisa melihat Amelia kembali.


"Iya, Bu." jawabnya.


"Sejak kapan?" tanya Bu Ety.


"Kemarin sore, Bu." jawabnya lagi.


"Oh, sama suami?" tanya Bu Ety, Amelia tersenyum kecut.


"Saya dan suami sudah bercerai, Bu." jawab Amelia.


"Ya Allah, kasihan banget. Yang sabar ya, Mel!" ujar Bu Ety, Bu Ety ingin banyak mengobrol namun dia mengurungkan niatnya, sepertinya Amelia sedang memiliki masalah makanya kembali ke rumah orangtuanya.


"Terima kasih," jawabnya. Dari dalam terdengar Aska menangis kencang.


"Maaf, Bu. Saya tinggal dulu! Anak saya menangis," ujarnya.


"Oh, Silahkan!" Bu Ety mempersilahkan Amelia masuk, kemudian berlalu pergi.


Setelah mencuci tangannya, Amelia langsung membopong tubuh Aska kedekapannya. Kemudian dia menyusui putranya agar lebih tenang. Saat sedang menyusui putranya, beberapa kali ponselnya berbunyi. Dia pun mengambil ponsel tersebut, dan ternyata Thomas kembali menghubunginya. Dia menonaktifkan nomornya supaya Thomas tidak kembali menghubunginya.


"Huft," Amelia menghela nafasnya panjang.

__ADS_1


"Pernikahanku tiga hari lagi, Apa yang harus aku lakukan?" ucapnya bingung.


"Apakah aku harus membatalkannya?" tanyanya pada dirinya sendiri. "Ah, masa bodoh! Yang penting aku sudah pergi, pasti Mas Thom sudah membatalkan semuanya," batinnya.


Di lain sisi, Thomas baru mendapatkan telfon dari seorang perempuan yang tidak dia kenal. Perempuan itu mengatakan, bahwa dia mengetahui keberadaan Amelia. Dan Thomas pun membuat janji untuk bertemu dengan perempuan itu di sebuah cafe.Ternyata yang tadi menghubunginya adalah wanita yang tempo hari menghina Amelia di mall bersama seorang ibu paruh baya.


"Ternyata kau?" ucap Thomas sambil mengernyitkan alisnya.


"Yup, ini saya. Anda masih ingatkan?" tanyanya.


"Iya, Saya masih ingat," jawab Thomas. "Sekarang, katakan dimana Amelia?" tanya Thomas tanpa basa-basi.


"Ish, tenang dulu. Kita ngobrol-ngobrol saja dulu," ujar Ratih.


"Saya tidak punya waktu untuk mengobrol," tegas Thomas.


"Ish, kau ini sombong sekali!" ucap Ratih. "Perkenalkan namaku Ratih, aku adalah madunya Amelia," ucapnya. "Ups, Maaf. Maksudnya mantan madunya." Ratih terkekeh.


"Aku akan memberitahukan kepada Anda, tapi, aku ingin uang lebih dari yang dijanjikan di brosur ini. Aku mau tiga ratus juta." ucap Ratih. Membuat Thomas membulatkan matanya.


"Cih, Kau ingin memerasku?" tanya Thomas.


"Ini bukan memeras, ini adalah negosiasi," jawabnya sangat menyebalkan. "Jika kau sangat mencintainya, pasti uang segitu nggak ada artinya buat kamu yang seorang pengusaha terkenal!" Saat mereka sedang tawar-menawar tiba-tiba Bram menghubunginya. Bram mengatakan ada seseorang yang melihat Amelia, dan sekarang Amelia tinggal di rumah Almarhum Ayahnya. Thomas pun tersenyum bahagia.


"Maaf, saya tidak bisa memberikan apa yang kamu minta," tegas Thomas. "Dan Arga si bodoh itu, dia benar-benar akan menyesal sudah mendapatkan istri macam dirimu," oloknya, sambil berlalu meninggalkan Ratih yang masih terpaku di sana.


"Hey, tunggu. Aku belum selesai bicara!" teriak Ratih. "Sial, kenapa setelah menerima telepon dia langsung pergi, apakah dia sudah mendapatkan alamat Amelia?" ucapnya kepada dirinya sendiri. "Ah, sial sekali aku. Aku seharusnya tidak tawar-menawar dengannya, Hilang kesempatan ku mendapatkan uang. Tiga ratus juta melayang, seratus juta rupiah juga melayang," sesalnya. "Ah, padahal uang segitu bisa aku manfaatkan untuk biaya melahirkan," sesal Ratih malah justru tidak mendapatkan apapun dari Thomas.


Thomas langsung melajukan mobilnya ke alamat yang Bram kirimkan kepada nya. Dia berada di depan sebuah rumah sederhana, namun terlihat sangat nyaman. Thomas turun dari mobilnya, dan dia mendekati rumah tersebut. Nampak pintu rumah terbuka, pastilah ada orang didalamnya.


"Assalamualaikum?" sapa Thomas, dia tidak berani untuk menerobos masuk, bagaimanapun dia harus menggunakan etika untuk memasuki rumah orang.

__ADS_1


"Walaikumsalam," jawab Amelia. Dia nampak sangat terkejut, ternyata yang datang adalah Thomas. "Mas Thomas?" Amelia langsung menutup pintu rumahnya, namun tangan kekar Thomas terlebih dulu menahannya.


"Bagaimana bisa Anda mengetahui rumah saya?" tanya Amelia begitu ketus.


"Amelia, berikan aku kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya. Aku mohon!" pinta Thomas.


"Aku tidak mau! Kau sudah menyakiti hatiku," ujarnya.


"Mel, aku rela melakukan apapun asalkan kau memaafkan diriku! Aku benar-benar menyesal," ujar Thomas.


"Jika memang Anda menyesal, seharusnya saat itu Anda mencari saya! Kenapa justru Anda membiarkannya begitu saja?" marah Amelia.


"Aku memang bersalah, saat itu aku tidak mempunyai keberanian! Aku memang seorang yang pengecut, aku begitu takut!" ujarnya.


"Anda takut dituntut untuk bertanggung jawab?" tanyanya. "Ck, Anda benar-benar pengecut!" seru Amelia.


"Bukan begitu, Mel! Saat itu aku belum siap untuk berumah tangga kembali, itu alasannya! Aku masih trauma dengan masa laluku! Aku belum siap untuk menikah lagi," jelas Thomas. "Aku mohon, Maafkanlah aku!"


"Maaf, seenaknya saja Anda meminta maaf! Anda tidak tahu apa yang saya lalui selama ini. Bahkan saya harus kehilangan kedua orang tua, semuanya karena Anda," hardiknya.


"Saya tahu, Mel. Karena itu saya akan memperbaiki semuanya. Ijinkan saya memperbaiki semuanya!" pinta Thomas.


"Tidak, aku tidak mau!" Amelia mendorong tubuh Thomas, dan dia menutup pintunya dengan cepat.


"Mel, buka pintunya!" pinta Thomas menggedor pintu rumah Amelia. "Aku tidak akan pergi sebelum kamu membuka pintunya dan memaafkan ku!" ucap Thomas dari luar pintu.


"Aku tidak perduli," jawab Amelia. Amelia masuk ke dalam kamarnya, karena dia mendengar Aska menangis.


"Cup ... Cup, Sayang! Jangan menangis, Aska kan anak Mommy yang cerdas, yang pintar!" ucapnya kepada Aska, namun Aska tidak mau berhenti menangis.


to be continued...

__ADS_1


__ADS_2