
Thomas pulang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Tubuhnya terasa lemas, kakinya terasa lunglai. Dia menghubungi Bram untuk mengurus penerbangannya ke Jerman. Bram merasa heran, tadinya Bram mengira Thomas akan berhasil membujuk Amelia. Ternyata Thomas gagal, dan sepertinya menjadi pukulan berat di dalam hidupnya. Dan ini adalah kedua kalinya Bram melihat sang Abang begitu putus asa.
Kabar kegagalan Thomas membujuk Amelia, dia laporkan kepada Mama Celine. Mama Celine pun harus bertindak cepat, untuk membantu menyelesaikan masalah keduanya. Celine menyuruh Bram untuk mengantarkan dirinya ke rumah Amelia. Ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengan Amelia, sesuatu yang mungkin membuat Amelia berubah pikiran.
Hanya dalam waktu dua puluh menit mereka sampai di rumah Amelia. Amelia begitu terkejut dengan kedatangan Mama Celine. Dia mencium punggung tangan yang sudah dia anggap seperti ibu kandung.
"Apa kabar, Sayang?" tanya Celine, menitikkan air matanya sambil memeluk Amelia.
"Baik, Ma," jawab Amelia tidak bisa membendung rasa sedihnya di depan wanita paruh baya ini.
"Kenapa harus pergi dari rumah? Kita bisa bicarakan ini baik-baik," tuturnya sangat lembut. "Mama mengerti bahkan sangat mengerti dengan keadaan kamu, Sayang!"
"Kita bicarakan di dalam saja, Ma! Silahkan masuk," ucap Amelia mempersilahkan Mama Celine masuk ke dalam rumah.
Amelia mengambil Aska yang sedang tidur di dalam kamar. Celine langsung mengambil Aska dari gendongan Amelia, dia menciumi cucunya dengan penuh kasih sayang. Dia sangat merindukan cucunya.
"Apakah kau tidak merasa kasihan dengan anak sekecil ini jika dia tidak mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya?" tanya Celine tiba-tiba.
"Amelia masih takut, Ma," jawabnya tergagap.
"Nak, Mama tahu kondisimu! Kau sangat terluka dan kecewa. Akan tetapi, bukankah ini semua takdir dari Allah. Kita sebagai manusia hanya bisa mengikuti alurnya. Dan kamu bisa lihat, betapa menyesalnya Thomas. Dia sangat mencintaimu, Nak. Mama bisa melihat di matanya. Dia benar-benar sangat mencintaimu," jelas Celine. "Besok, Thomas mengajak Sherly ke Jerman. Dan besok juga hari pernikahan kalian. Mama akan serahkan kepada kalian berdua, mau dibawa kemana hubungan kalian. Jika kalian memang peduli dengan anak kalian, maka kalian harus menikah. Sudah cukup Sherly yang menjadi korban karena kurangnya perhatian dan kasih sayang kedua orang tua. Jangan biarkan Aska mengalaminya. Mama mohon, buang jauh rasa ego kamu." pinta Celine kepada Amelia. "Percayalah Thomas sangat mencintai kamu. Dia sudah menyesali semuanya," ucap Celine terakhir kali.
Setelah mengobrol cukup lama dengan Amelia, akhirnya Mama Celine memutuskan untuk pulang. Sebelum pulang, Mama Celine mencium Aska dengan gemas. Dia juga memeluk Amelia dengan sayang seperti putrinya sendiri.
Setelah kepergian Mama Celine, Amelia memikirkan apa yang dikatakan calon mertuanya. Dia menimbang-nimbang baik buruknya. Dan berdoa kepada Allah, agar keputusan yang dia ambil adalah jalan yang terbaik untuk masa depannya.
Amelia tertidur sejenak, tubuhnya merasa lelah dan letih. Tiba-tiba, sosok ayah dan bundanya datang di dalam mimpinya. Dia mengerjapkan matanya, dia begitu bahagia bisa bertemu dengan ayah dan bundanya kembali. Amelia langsung berhambur ke pelukan orang tuanya.
"Ayah, Bunda? Amelia kangen!" ucapnya.
"Ayah dan Bunda juga sangat kangen, Sayang." ucap Ayah dan bundanya. "Nak, kenapa kau membatalkan pernikahan mu?" tanya Bunda.
__ADS_1
"Bunda tahu dari mana Amelia akan menikah?" tanya Amelia.
"Tentu saja kami tahu, karena kami selalu memantau kamu dari sini," jawab Ayahnya.
Amelia pun menceritakan keluh kesahnya kepada sang bunda dan ayah.
"Nak, kepergian kami bukanlah salah siapapun! Karena, Allah sangat menyayangi kami, sehingga kami menjadi terpilih diantara yang dipilih. Kamu sudah banyak menderita, sekarang waktunya kamu berbahagia. Raihlah kebahagiaan kamu, Sayang! Lakukan demi putra kamu, Ayah dan Bunda yakin kamu tahu apa yang kami maksud."
"Tapi, Yah, Bunda! Tolong jangan pergi, Amelia masih ingin bertanya!" ucap Amelia. "Bunda, Ayah?" teriak Amelia. Seketika kesadarannya kembali, keringat dingin membasahi tubuhnya, ternyata yang barusan dia alami hanyalah sebuah mimpi.
"Apa maksudnya?" batin Amelia.
Keesokkan paginya
Semua barang-barang sudah dimasukkan di dalam mobil. Thomas dan Sherly berpamitan kepada Mama Celine dan Alina. Mama dan Alina terlihat sangat sedih, karena mereka akan berpisah dalam waktu yang lumayan lama.
Mereka semuanya menaiki mobil yang dikendarai oleh Bram. Bram mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan kediaman Williams. Sepanjang perjalanan Sherly hanya diam tidak mengatakan sepatah katapun, bukan ini yang dia inginkan. Dia tidak ingin pergi, walaupun pergi dia ingin bersama dengan Mommy Amelia dan dedek bayinya.
"Bram, Kenapa kau bawa aku kesini?" tanya Thomas. Bram hanya terkekeh geli.
"Masuklah dulu, Bang!" ujarnya.
"Bram, Kau jangan bercanda ya? Aku bisa terlambat ke Bandara!" kesal Thomas.
"Kenapa aku harus bercanda denganmu? Kau pikir kita sedang bermain petak umpet?" dengus Bram kesal.
"Bram, Jangan bercanda!" marah Thomas. "Kenapa Kau bawa aku ke KUA?" tanya Thomas lagi.
"Masuklah!" suruh Bram mendorong tubuh Thomas agar masuk ke dalam.
Begitu terkejutnya Thomas, ternyata di KUA sudah ramai orang. Ada Mamah, Alina, Pak Penghulu dan beberapa pelayan yang bekerja di rumahnya. Dan, seorang wanita cantik dengan memakai kebaya warna putih. Dia sangat cantik sekali. Dan wanita tersebut adalah .....
__ADS_1
"Amelia?" panggilnya.
"Mas," ujarnya malu-malu.
"Akhirnya," ucap Alina.
Prok .... Prok .... Prok
Suara riuh para saksi, bertepuk tangan karena mempelai pria sudah datang. Mereka memberikan semangat dan dukungannya.
"Thomas, Kemarilah!" perintah Mama. Thomas pun mendekat ke arah mereka.
"Ada apa ini?" tanya Thomas bingung.
"Apakah kau lupa ini adalah hari pernikahanmu?" tanya Mama.
"Thomas ingat, Ma! Kan sudah Thomas batalkan semuanya," jawabnya. "Lagipula Amelia juga tidak mau menikah dengan Thomas," lirihnya.
"Siapa bilang dia tidak mau menikah denganmu?" goda Mamanya. Mama Celine menoleh ke arah Amelia.
"Sayang, Apakah kau mau menikah dengan putra bodoh, Mama?" tanya Mama kepada Amelia. Seketika orang-orang di sana tertawa, karena melihat Thomas salah tingkah.
to be continued....
****************************************
Kira-kira Amelia mau nggak ya? ?????
Note. Terima kasih atas dukungannya, masih setia membaca novel aku. Kasih dukungannya dengan cara like, Favorit, rate bintang lima, vote dan bunga. Author sangat berterimakasih sekali kepada para pembaca sekalian. Semoga kebaikan para pembaca di balas oleh Allah. Amin.
Baca juga novel paling baru aku, berjudul "Hidden Rich Twins"
__ADS_1