
Tiga hari berlalu, kondisi Thomas semakin baik. Luka-luka ditangannya sudah mengering. Dan kain yang membalut tangan kanannya juga sudah bisa dilepas. Hanya tinggal kaki yang masih terasa sangat sakit.
Arum tidak tega membiarkan pria itu hanya duduk dipembaringan saja. Dia pun memapah tubuh besar Thomas keluar kamar. Arum mendudukkan Thomas di kursi teras.
"Berapa lama aku pingsan?" tanya Thomas kepada Arum yang saat itu sedang mengumpulkan kayu bakar.
"Kak Thomas pingsan sekitar satu Minggu lebih," ujar Arum, "Awalnya aku dan Bapak pasrah dengan kondisi Kak Thomas. Tapi, syukur Alhamdulillah Kak Thomas siuman!"
"Satu Minggu? Lama juga ya!" ujar Thomas terkekeh.
"Kamu sedang ngapain sih? Sepertinya kamu sibuk banget?"
"Oh, ini. Arum sedang mengumpulkan kayu kering. Kayu yang sudah kering akan Arum gunakan untuk memasak!"
"Memangnya nggak ada kompor?"
"Mana bisa kami membeli kompor? Kompor kan harganya mahal?" kekeh Arum.
"Kasihan juga hidup mereka. Ternyata masih ada orang yang hidupnya susah seperti itu. Boro-boro membeli kompor, untuk makan saja susah!" batin Thomas.
"Kak, Arum mau masak dulu ya!"
"Baiklah," jawab Thomas.
Dalam waktu setengah jam, Arum keluar dari dapurnya. Dapur yang sempit, sangat kotor. Jauh dari kata layak.
"Kok cepet banget?" tanya Thomas.
"Iya, nih Kak. Arum cuma masak tumis daun singkong!"
"Hah, tumis daun singkong? Masakan apa itu?"
"Daun singkong. Arum baru saja memetiknya tadi pagi. Lalu langsung Arum masak!"
"Eh, Bapak sudah pulang?" tanya Arum saat melihat Bapaknya menaruh karung yang berisi rumput.
"Sudah,"
"Arum sudah masak, Pak. Ayo kita makan!" ajaknya.
"Ayo Mas kita makan!"
"Iya,"
Arum kembali memapah tubuh Thomas masuk ke dalam. Mereka duduk di dipan kayu di ruang tengah. Thomas dibuat melongo dengan menu yang akan dimakannya. Hanya nasi dan tumis daun singkong.
"Ayo mas Makan!" suruh Arum.
"Nak Thomas, jangan malu-malu. Ayo dimakan!" suruh Pak Badi.
"Bagaimana bisa aku makan makanan seperti ini?" batin Thomas tersenyum kecut.
"Apakah buburnya masih ada?" tanya Thomas tiba-tiba. Membuat Bapak anak itu saling berpandangan.
"Nak Thomas, Cobalah makan nasi! Nak Thomas kan sudah tiga hari makan bubur. Nanti lemes lho! Kaki dan tangan lama sembuhnya karena tidak ada tenaga!" terang Paka Badi.
"Masa sih, Pak?"
"Ya, iyalah. Bubur itu kan lembek. Kalau sudah dicerna pencernaan, akan cepat keluarnya. Jadi tidak ada yang bisa diserap tubuh sebagai sumber energi! Apalagi vitaminnya!"
__ADS_1
"Iya, juga sih," batin Thomas.
"Ayo makan!" ajak Pak Badi lagi.
Terpaksa Thomas memakan makanan yang sudah disediakan Arum. Nggak enak juga dia memilih-milih makanan. Sekarang dia sedang dirumah orang. Jadi harus menghargai apa yang diberikan oleh tuan rumah.
"Ehm, lumayan juga!" batin Thomas. Ternyata rasanya tidak terlalu buruk. Lidahnya bisa menerima makanan tersebut. Tidak tahu nanti perutnya.
Selesai makan, Pak Badi kembali berpamitan. Dia akan memberi makan rumput untuk domba-domba yang dipeliharanya. Bukan dombanya sih. Pak Badi hanya merawat domba milik warga sekitar.
"Bapak kamu mau kemana?" tanya Thomas saat Arum membereskan piring -piring yang kotor bekas makan tadi.
"Bapak mau ngasih makan domba,"
"Wah, ternyata kamu punya domba?"
"Bukan punya kami, Kak! Milik warga sekitar,"
"Oh," jawab Richard, "Memangnya dirumah ini, kalian cuma berdua?"
"Iya, Kak! Ibu sudah meninggal. Di rumah ini kami hanya tinggal berdua,"
Selesai membersihkan piring kotor ditempat cucian, Arum duduk di samping Thomas. Dia membantu Thomas membetulkan posisi duduknya.
"Sudah enakkan?"
"Lumayan," jawab Thomas, "Bapak kamu hebat ya, dia bisa menyembuhkan kaki saya yang patah!" Arum mengulas senyum tipis.
"Bapak kan orang desa. Jadi sedikitnya dia tahu pengobatan tradisional,"
"Oya, Bisakah aku meminta tolong!"
"Tolong, telpon kan nomor ini!" Arum nampak mengernyitkan alisnya.
"Nomor siapa ini, Kak?"
"Ini nomor istri kakak,"
"Istri?"
"Jadi Kak Thomas sudah memiliki istri?" batin Arum sedikit kecewa.
"Arum?" Thomas menggenggam tangan Arum.
"Eh, iya, Kak!" panggilan Thomas membuyarkan lamunan Arum.
"Tolong! Aku harus mengabari istriku. Aku yakin, pasti dia mengira aku sudah mati!"
"Tapi, Kak!"
"Tolong!" mohon Thomas. Melihat permohonan Thomas seperti itu, membuat hati Arum tidak tega.
"Baiklah," jawabnya dengan setengah hati, "Nanti Arum coba ya, Kak!"
"Terimakasih banyak, Arum. Semua jasamu tidak akan aku lupakan!" senang Thomas.
Arum berjalan meninggalkan rumah, menuju rumah Windi. Windi adalah salah satu teman Arum di desa. Arum ingin meminjam ponsel Windi untuk menghubungi nomor yang tercatat di kertas.
Sampai di depan rumah Windi, Arum sedikit ragu. Pasalnya, jika Arum menghubungi nomor tersebut pastilah keluarga Thomas akan menjemputnya. Dan dia tidak mau kalau Thomas sampai pergi dari rumahnya.
__ADS_1
to be continued ....
☄️☄️☄️☄️☄️
Ayo sayang, Mampir juga di novel aku yang lain dengan Judul " ISTRIKU BERBEDA"
blurb:
Menikah itu bukan satu atau dua hari. Tapi, untuk hidup sesurga. Pernikahan untuk mempersiapkan bekal yang cukup, baik lahir maupun batin, agar pernikahan menjadi pernikahan yang sakinah, mawadah dan warahmah.
Mau tahu kisahnya, yuk kita ikuti ceritanya???
Bab 1 :
Michele Laura adalah seorang wanita yang sangat cantik dan mandiri. Dia harus berhujan-hujanan karena dia lupa membawa payung di mobilnya. Biasanya dia selalu siap dan sedia, menyiapkan barang-barang yang nampak kecil namun besar kegunaannya dalam keadaan yang mendesak.
Michelle, wanita berparas ayu ini masuk ke dalam rumah dalam keadaan yang basah. Tubuhnya terguyur oleh air hujan. Hari ini dia tidak lembur, karena kebetulan semua pekerjaan ia selesaikan lebih awal. Michele melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, dan mendapati rumahnya tidak terkunci dengan ruangan yang gelap.
Michelle masuk ke ruang tengah, nampak baju suaminya berserakan. Dan yang membuatnya nampak sangat heran, ada baju wanita teronggok di lantai. ****** ***** dan bra juga teronggok di sofa begitu saja. Michelle mendengar suara-suara aneh didalam kamarnya. Suara ******* kenikmatan dari dua orang insan manusia yang berbeda lawan jenis.
"Argggggh." sebuah pelepasan yang sempurna, saat dua insan manusia itu mencapai titik klimaksnya.
"Hangat sekali, Sayang," ucap wanita cantik, yang suaranya sangat merdu ditelinga. Karena dia juga merasakan kenikmatan saat pelepasannya.
Michelle berjalan perlahan menuju kamarnya, dan membuka pintu kamar. Dia menghidupkan lampu kamarnya, betapa terkejutnya dia. Michelle melihat pemandangan yang membuat hatinya sangat hancur. Diranjang yang biasa ia gunakan untuk bercinta dengan suaminya, saat ini digunakan Nathan untuk bercinta dengan Dewi, sepupunya sendiri.
Nathan Hadiwijaya adalah suami yang dinikahinya lima tahun yang lalu. Selama lima tahun pernikahan mereka belum dikaruniai anak, dan itu membuat Nathan bosan dan jenuh dengan pernikahannya sendiri. Nathan dan Dewi begitu terkejut, aktivitas panasnya telah dipergoki oleh Michelle.
"Jadi ini yang kalian lakukan di belakangku? Teganya kalian melakukan perbuatan menjijikkan dibelakang ku?" teriak Michelle dengan amarah menggebu-gebu.
"Hebat, kamu, Mas. Saat aku sedang bekerja kau malah berselingkuh dengan j****Ng ini!" isaknya. Hatinya sangat hancur, dadanya terasa sesak.
Nathan langsung memakai pakaiannya, begitu juga dengan Dewi. Dia menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Dan kau, adalah sepupuku. Bagaimana bisa kau melakukan ini kepadaku?" bentak Michelle kepada Dewi.
"Maafkan kami, Michie. Kami bersalah. Aku dan Mas Nathan saling mencintai," ucap Dewi menunduk.
"Apa?" Michelle tidak percaya dengan apa yang dikatakan sepupunya.
"Aku dan Dewi sudah menjalin hubungan sejak lama. Bahkan sebelum kita menikah, aku dan Dewi sudah menjalin hubungan terlebih dahulu. Dan rencananya kami akan menikah. Namun kedua orang tua kita, sudah menjodohkan kita lebih dulu. Sehingga, hubungan ku dengan Dewi kandas. Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Sampai sekarang dan sampai detik ini aku masih sangat mencintai Dewi," jelas Nathan.
"Apa kamu bilang, Mas?" tubuh Michelle bergetar, dia tidak percaya suaminya mengakui semuanya.
"Aku tidak salah dengar kan?" herannya.
"Tidak. Aku masih mencintai Dewi sampai sekarang. Perasaanku tidak akan pernah berubah kepadanya, walaupun sudah lima tahun berlalu," jujur Nathan.
"Jahat kamu, Mas! Kalian benar-benar tidak tahu malu! Apakah kalian tidak takut, perbuatan kalian dilaknat Allah?"
"Hiks ... Hiks .... Hiks." Michelle meninggalkan kamarnya, menuju kamar yang lain. Hatinya sudah tidak kuat lagi, Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi.
Di kamar yang lain, tangis Michelle pecah. Dia tidak mengira, suami yang sangat dia cintai begitu tega menghianati dirinya. Padahal sebagai seorang istri dia berusaha untuk menjadi istri yang baik dan berbakti kepada suami. Namun apa yang dia dapatkan. Hanya pengkhianatan dan air mata. Tidak terasa air matanya membanjiri pipinya.
"Lima tahun sudah kita menikah, kenapa kau begitu tega menghancurkannya dalam sekejap mata?" isaknya.
"Bahkan aku baru tahu kalau kau sudah memiliki hubungan dengan sepupuku sendiri. Kenapa saat orang tua kita menjodohkan, kau tidak pernah bercerita kepadaku?" isaknya lagi.
__ADS_1
"Tidak, kau tidak boleh menangis Michelle. Kau wanita cantik, pandai dan berprestasi. Jangan menjadi wanita lemah dan bodoh dihadapan pria seperti dia!"