Amelia

Amelia
Episode 191


__ADS_3

Sekitar dua puluh lima menit, Mobil mereka sampai diparkiran Rumah Sakit. Ternyata Pak Bram sudah menunggu kedatangan mereka di depan gerbang Rumah Sakit. Lina jadi lega, jadi, dia bisa langsung kembali ke rumah, menjaga anak-anak yang sempat dia tinggal.


Alina langsung ditangani oleh Dokter di ruang persalinan. Antara hidup dan mati, Alina berusaha keras untuk mengejan. Akhirnya bayi cantik berhasil terlahir di dunia. Dengan suaranya yang sangat keras, bayi cantik itu membuat geger seisi Ruangan persalinan.


Segurat senyum nampak di bibir Bram. Dia bersyukur anaknya telah lahir di dunia dengan selamat. Bram tidak sabar ingin melihat keadaan istri dan bayinya pasca setelah melahirkan.


"Pak Bram!" panggil suster.


"Iya, Suster."


"Bayi Anda sudah lahir. Bayinya perempuan. lengkap! Selamat ya, Pak!"


Ah senangnya!


"Boleh, Saya masuk?"


"Sebaiknya nanti saja, Pak. Bu Alina sedang dibersihkan, nanti setelah dipindahkan ke ruang rawat, Bapak boleh menemuinya!"


"Oh, begitu."


"Bapak boleh ikut saya ke ruangan bayi. Setelah dimandikan, Bapak boleh mengadzani bayi Bapak!"


"Baik, Suster. Terimakasih banyak!"


Lina kembali ke rumah Keluarga Williams. Dia lupa, kalau tadi meninggalkan Sherly dan Aska habis mandi. Dan tentunya mereka belum memakai baju. Saking paniknya, dia sampai lupa kalau sedang mengurus anak majikanya yang lain.


Saat memasuki rumah ternyata ada Thomas dan Amelia. Nampak Anak-anak sedang bercanda ria dengan Momy dan Daddy-nya. Lina jadi merasa tidak enak.


"Nyonya, Tuan!" sekarang Lina merubah panggilannya pada Amelia. Dia sudah tidak memanggil Mba. Karena Alina yang memerintahkan Lina untuk memanggil Nyonya dan Tuan pada majikannya. Semua itu Alina lakukan supaya tidak memberikan celah bawahannya bersikap kurang ajar.


Lina mendekat ke arah mereka. Ada sedikit rasa takut dibenaknya. Bagaimanapun juga dia pernah melakukan kesalahan pada Amelia. Orang yang selama ini sudah terlalu baik padanya.


Amelia melihat Lina datang. Dan memeluk pengasuh anaknya. Dengan tersenyum manis dia menanyakan kabar pengasuh anaknya. Lina semakin terharu diperlukan seperti itu.


"Nyonya ada disini!" ujarnya, "Maafkan saya, Nyonya. Saya sudah meninggalkan anak-anak. Tadi saya benar-benar panik! Nyonya Alina mau melahirkan. Ketubannya sudah merembes banyak!" gagapnya.


"Tidak apa-apa, Lin. Tadi Mbok Iyem sudah menceritakan semuanya pada saya!"


"Nyonya sehat?" tanya Lina. Karena kabar terakhir yang Lina dengar, Nyonya nya depresi. Dan dia sedang menjalani penyembuhan.


"Alhamdulillah, sehat!"


"Mommy. Aska mau makan masakan Mommy!" pinta putranya. Bicaranya sudah semakin jelas. Karena Aska tumbuh menjadi anak yang sehat dan pintar.


"Nanti ya, Mommy sedang bicara dengan Mba Lina!"


"Mommy!"


"Aska, Sini sama Daddy!" Thomas juga sudah sangat merindukan kedua buah hatinya. Dipangkunya tubuh bocah laki-laki itu. Kemudian menggelitiknya. Membuat Aska tertawa terpingkal-pingkal, Sherly tidak tinggal diam. Dengan bantal sofa, Sherly memukuli tubuh sang Dady untuk melepaskan adiknya. Mereka bercanda bersama. Tertawa mereka sangat renyah, membuat hati Amelia sangat bahagia.


"Bagaimana keadaan Alina?"


"Saya belum tahu, Nyonya. Setelah mengantarkan Nyonya Alina ke Rumah Sakit, saya melihat Pak Bram sudah disana. Saya pun langsung pamitan pulang. Saya teringat anak-anak dirumah tidak ada yang menjaga!"


"Oh." Wanita cantik itu membulatkan bibirnya.


"Terimakasih, Kamu sudah menjaga anak-anak saya dengan baik! Saya berutang budi sama kamu!"


"Nyonya, justru saya yang berutang budi. Saya berterimakasih sekali, Nyonya mau memaafkan kesalahan saya!" Amelia mengangguk.

__ADS_1


"Sayang, sebaiknya kamu istirahat. Kamu harus banyak istirahat! Besok kamu harus fit, untuk menghadapi sidang besok pagi!"


"Iya, Mas."


"Ayo aku antarkan ke kamar!" ajak Thomas.


"Aska ikut!"


"Sherly juga ikut!"




Keesokkan paginya, setelah sarapan Thomas mengantarkan Sherly sekolah. Cukup lama, Sherly tidak sekolah. Teman-temannya menyambut kedatangan Sherly bahagia.



Sedangkan Aska merengek meminta Mommy nya memandikan dirinya. Bocah itu takut, kalau dirinya sedang mandi, sang Mommy pergi lagi. Membuat Aska sedikit manja dengan nya.



"Uh, Anak Mommy sudah ganteng!"



"Iya dong, kan anak Mommy!" gelaknya.



Amelia sudah siap dengan dress berwarna merah muda. Dia terlihat sangat cantik dan segar. Hari ini adalah persidangan perdananya. Dia berusaha untuk menata hatinya.




Amelia mendengus berat. Tapi, Thomas berusaha untuk meyakinkan sang istri bahwa dia harus berani, tidak boleh takut.



Dengan terpaksa Amelia dan suaminya meninggalkan Aska dengan Mbok Iyem. Lina harus menjadi saksi di persidangan nanti. Tidak mungkin juga, dia membawa Aska saat persidangan dimulai.



Mobil Thomas melaju dengan kecepatan tinggi menuju kantor pengadilan. Amelia mengarahkan pandangannya ke luar jendela mobil. Dia meremas jari-jarinya. Gelisah. Thomas bisa melihat rasa cemas yang luar biasa pada istrinya.



Thomas menggenggam tangan sang istri. Dingin. Kemudian mengulas senyum. Membelai lembut wajah cantik sang istri.


"Jangan takut! Aku tahu, Kau wanita, istri dan ibu yang kuat! Kau harus berani!"


"Iya, Mas." istrinya mengulas senyum.



Akhirnya mereka sampai. Amelia turun dari mobil. Sementara itu, nampak Diego juga baru keluar dari mobil polisi. Manik mereka saling bertemu. Amelia menundukkan pandangannya. Tubuhnya bergetar. Takut, itulah sekarang yang dia rasakan.


__ADS_1


Thomas tidak beranjak dari samping istrinya. Dia akan terus menemani sang istri sampai persidangan selesai. Bahkan Thomas sudah mempersiapkan pengacara terkenal. Dia ingin keadilan untuk istrinya. Bagaimanapun caranya itu, dia rela merogoh kocek mahal untuk membayar pengacara ternama di Indonesia.



Dicky juga datang. Dia duduk dibarisan paling depan. Dia juga ingin menyaksikan persidangan kakaknya berlangsung. Di barisan kedua ada Lina. Amelia duduk di samping sang suami.



Acara persidangan mulai berlangsung. Suasana semakin memanas, saat semua bukti-bukti terkumpul di meja hakim. Para saksi juga dihadirkan untuk menguatkan dakwaan. Ditambah lagi tuduhan itu juga dibenarkan oleh tersangka. Yang akhirnya hakim memutuskan menunda acara persidangan hingga Minggu depan.



Amelia merasa sangat lega. Akhirnya persidangan pertamanya berjalan lancar. Kini tinggal menunggu persidangan keduanya. Dan dia berharap akan lancar juga.



Dari kejauhan, Diego menatap Amelia. Mengulas senyum terbaiknya, dan melambaikan tangan. Amelia yang melihat itu, dia melengos pergi tanpa memperdulikan pria jahat itu.



The end ...



☄️☄️☄️☄️☄️☄️



Yuk mampir juga di cerita Author yang lain.


Judul : My Beloved Mafia Queen



Blurb:



Clara Lunoks adalah anak seorang mafia yang cukup terkenal di Indonesia. Ayah dan anak buahnya dibantai habis oleh musuh, hanya karena sebuah persaingan bisnis.



Clara tidak mau mati konyol, dia pun lari dan bersembunyi ke suatu tempat.


Sebelum ayahnya meninggal, sang ayah memberikan amanat kepada Clara untuk melindungi dua orang wanita yang sangat dia cintai. Yang tak lain adalah adik tiri dan ibu tirinya. Dan ternyata wanita itu adalah cinta sejati sang ayah.



Clara Lunoks, dia mencari keberadaan sang adik dan ibu tiri ke kota lain. Di kota tersebut dia menyembunyikan identitasnya dari musuh dan semua orang. Dan berpura - pura mendaftar sebagai dosen cupu berkaca mata tebal di sebuah Fakultas, dimana adiknya menuntut ilmu.



Menjalani hari-harinya sebagai seorang dosen cupu, Apakah Clara bisa melindungi adik dan ibu, satu-satunya keluarga yang dia miliki??



"Jika kau menyakiti keluargaku, Aku bersumpah akan membuat perhitungan dengan kalian!"


__ADS_1


Baca pelan-pelan, no Boomlike ...


__ADS_2