
Dengan sangat gagah dan tampan, Thomas berjalan ke arah Perusahaan papanya. Dia sering ke Perusahaan almarhum sang papa. Namun sekedar mengecek dan memeriksa keuangan saja, selebihnya dia serahkan kepada orang kepercayaannya.
Dengan memakai setelan jas warna biru, dia berjalan ke Perusahaan. Banyak mata memandang dan mengagumi ketampanan duda satu anak ini. Thomas berjalan ke arah kantor CEO. Semua karyawan yang mengenalnya, mereka membungkuk memberikan tanda penghormatan kepada CEO baru.
Kemudian diadakan meeting dadakan untuk menyambut CEO baru Perusahaan ini. Dan rencananya, semua kendali dipegang oleh CEO baru. Mereka yang berada di ruangan itu, bertepuk tangan menyambut Thomas sebagai pengganti dari CEO lama, yaitu papahnya.
Thomas memasuki ruangan Papahnya. Ruangan yang cukup besar dengan desain modern. Di dinding terpasang foto dengan ukuran besar, foto keluarganya. Sekilas Thomas memandangi foto tersebut.
Dia teringat saat papahnya masih hidup dan sehat. Dimana sang papa mengajarkan untuk selalu berbuat jujur dalam berbisnis dan memliki loyalitas yang tinggi, supaya tidak dipandang rendah orang lain. Papanya juga selalu mengajarkan, rasa tanggung jawab terhadap setiap masalah yang dihadapi. Dan yang paling penting di dalam hidup, kita harus menghormati dan menghargai wanita, terutama seorang istri. Karena kesuksesan kita adalah campur tangan do'a seorang istri. Itu adalah pesan yang selalu Thomas ingat dari mendiang papahnya.
Thomas duduk di kursi kebesaran sang papa. Biasanya dia hanya akan sebentar singgah di Perusahaan ini, bahkan duduk di kursi kebesaran sang papa saja dia tidak pernah. Dia langsung pergi lagi untuk mengurusi bisnisnya sendiri. Thomas membuka laci meja milik almarhum papanya. Di sana banyak terdapat jenis-jenis ballpoint, yang sering papanya pakai untuk menandatangani kontrak dan berkas-berkas penting Perusahaan.
Tugas pertamanya adalah mengecek pembukuan keuangan Perusahaan lewat laptopnya yang ada di meja kerja. Tidak ada yang mencurigakan, semuanya normal. Hanya pendapatan Perusahaan saja yang sedang mengalami kemerosotan.
Dan ini harus diperbaiki sistem manajemennya.
Dilain sisi, Amelia sedang menjalani sidang keduanya di pengadilan agama. Selama dua jam persidangan, akhirnya persidangan tersebut selesai juga. Dia keluar dari ruangan persidangan. Dan Arga mengekor di belakangnya.
"Amelia, tunggu!" Arga mencekal lengan Amelia. Amelia menepisnya dengan kasar.
"Apalagi, Mas?" ketus Amelia.
"Mel, Aku mohon! Tolong pertimbangkan semuanya! Kita saling mencintai selama lima tahun lebih, susah dan senang, kita lewati bersama! Apakah kau tidak mengingat masa-masa indah kita dulu," ucapnya panjang lebar. "Dan, saat kau sudah tidak suci lagi, bahkan aku masih mau menerimamu, jadi, aku mohon kau juga harus menerima ku! Menerima kekurangan dan kelebihan ku," tambahnya lagi.
"Mas, dulu sebelum kau mengenal perempuan itu, hatimu sangat baik! Akan tetapi, setelah kau bertemu dengannya sifat mu sudah berubah," terangnya, "Kau begitu acuh, kau tidak pernah memberikan sedikit perhatian mu kepadaku! Kau bahkan selalu merendahkanku, padahal kau adalah suami ku! Harusnya kau bisa melindungi kehormatan dan harga diriku sebagai istri di depan orang lain, meskipun itu adalah keluarga mu dan istri keduamu! Tapi, apa yang telah kau lakukan, kau injak-injak harga diriku sebagai seorang wanita dan seorang istri! Kau bahkan tega melukaiku demi ambisi mu! Sekarang aku tahu, siapa kau sebenarnya? Kau tidak pernah tulus mencintaiku, kau tidak pernah ikhlas menjalani pernikahan ini! Dan sebaiknya kita memang harus hidup sendiri-sendiri," jelasnya panjang lebar.
"Tapi, Amelia?"
__ADS_1
"Mas, Tolong! Jangan persulit perceraian kita, dan aku akan sangat berterima kasih sekali kepadamu," imbuh Amelia sambil berlalu pergi meninggalkan Arga yang masih terpaku di sana.
Amelia memberhentikan taksi, dan langsung menuju butik Tante Celine untuk bekerja. Di butik tenyata Tante sudah menunggu kedatangannya.
"Sayang, kau sudah kembali? Bagaimana persidangannya?" tanya Tante Celine.
"Alhamdulillah lancar, Tan! Semua berkat doa Tante," ujarnya.
"Alhamdulillah kalau begitu," Ucap Tante Celine turut berbahagia.
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, waktunya Amelia dan Tante Celine pulang ke rumah. Setelah menutup semua pintu butik, tiba-tiba saja ada mobil berhenti tepat di depan mereka. Ternyata itu adalah Thomas dan Sherly.
"Tante?" teriak Sherly kepada Amelia.
"Sherly," senang Amelia.
"Dimana Pak Sony?" tanya Celine kepada Thomas.
"Pak Sony sedang tidak enak badan, jadi, sekarang Thomas yang menjadi sopir kalian sementara," jawab Thomas.
"Oh, begitu, kasihan Pak Sony," ucap Tante Celine.
"Ayo, Mah, Naiklah!" ajak Thomas. Mamahnya naik ke mobil diikuti oleh Amelia.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Di sepanjang perjalanan Sherly tidak berhenti bercerita kegiatan di sekolahnya. Dan Minggu depan adalah acara hari ibu sedunia, dan di sekolah, masing-masing anak harus maju ke depan untuk membacakan puisi tentang ibu. Tiba-tiba saja Sherly terdiam kemudian menangis.
"Kenapa?" tanya Amelia. "Tadi begitu ceria, sekarang kok menangis?"
"Sherly nggak punya ibu, bagaimana Sherly membuat puisi tentang ibu?' sedihnya. Barulah Celine dan Amelia paham, kenapa tiba-tiba Sherly terdiam dan menangis.
__ADS_1
"Nanti Tante Amelia akan bantu Sherly membuat puisi tentang ibu, Bagaimana?" tawar Amelia.
"Benarkah, Tante? Tante akan membantu Sherly membuat puisi?" tanya Sherly sangat bahagia.
"He'em," dijawab anggukan kepala oleh Amelia.
"Terima kasih banyak, Tan! Sherly sayang Tante," ucapnya sambil memeluk tubuh Amelia. Thomas yang sedari tadi menyetir, merasa terharu dengan kedekatan Sherly dan Amelia.
Sampai di rumah, Thomas menyuruh putrinya untuk mandi dan bersih-bersih. Hari juga sudah semakin sore. Amelia membantu Sherly untuk menyiapkan baju gantinya, setelah Sherly rapi dan cantik, Barulah dirinya giliran mandi.
Arga berkali-kali memukul stir mobilnya, hatinya sangat dongkol dan marah. Dia tidak percaya, Amelia bersikeras ingin berpisah darinya. Padahal dengan berbagai cara, Arga sudah membujuknya. Arga pulang ke rumah dengan perasaan jengkel.
Sampai di rumah, Arga melihat ayah mertuanya sedang berkunjung ke rumah. Ratih langsung mencium punggung tangan suaminya, dan langsung membicarakan masalah uang dengan suaminya.
"Bukankah bulan kemarin aku sudah memberikan kamu uang? Kenapa kau meminta lagi?" tanya Arga kepada Ratih.
"Iya, Mas, Ratih tahu! Tapi, Bapak Ratih sangat membutuhkannya! Tolong mas kasih dua puluh juta saja buat Bapak!" mohon istri keduanya.
"Apa? Dua puluh juta? Kau pikir aku mesin ATM, setiap kau bicara, uang langsung keluar! Kita juga membutuhkan uang banyak untuk biaya persalinan kamu," ucap suaminya.
"Kamu kan manager, masa uang segitu saja nggak punya?" cibir Ratih.
"Cukup, ya, Ratih! Kita juga harus menabung untuk biaya persalinan," ucap Arga.
"Mas tenang saja! Aku pasti melahirkan secara normal, jadi, cukup ke bidan, semuanya beres," ucap Ratih. "Mau ya, Mas! Kasihan bapak," ucapnya.
"Baiklah, aku akan memberikan uang tersebut! Tapi, ingat jika saat persalinan kita tidak memiliki tabungan! Kau jangan merengek kepadaku," kesal Arga.
to be continued...
__ADS_1