
"Siapa bilang dia tidak mau menikah denganmu?" goda Mamanya. Mama Celine menoleh ke arah Amelia.
"Sayang, Apakah kau mau menikah dengan putra bodoh, Mama?" tanya Mama kepada Amelia. Seketika orang-orang di sana tertawa, karena melihat Thomas salah tingkah.
"Iya, Ma," jawab Amelia dengan menganggukkan kepalanya. "Iya, Mas, Aku mau menikah dengan kamu," jawab Amelia menoleh ke arah Thomas. Seketika wajah Thomas bersinar, senyumnya mengembang. Ingin rasanya dia berteriak sekencang mungkin untuk mengungkapkan perasaannya. Namun sayangnya dia berada di KUA.
"Mommy?" teriak Sherly. Sherly menghambur ke arah Amelia, memeluknya dan melepaskan kerinduannya. "Jangan tinggalkan Sherly, Mom!" pintanya. Bagaimana Amelia bisa melepas begitu saja ikatan yang sudah ia jalin sendiri. Meskipun Sherly bukanlah darah dagingnya, tapi, Mereka memiliki ikatan batin yang tidak bisa dijabarkan dengan rumus manapun. Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Tidak bisa diuraikan dengan ilmu fisika. Mereka hanya tahu saling mengasihi, menyayangi dan mencintai.
"Tidak, Sayang! Mommy tidak akan pergi lagi. Mommy akan menjadi Mommy Sherly yang sesungguhnya," jawabnya.
"Hore, asyik," senang Sherly berjingkrak-jingkrak bahagia, membuat semua orang di sana tertawa.
"Sudah, Sudah! Kita mulai acaranya," tutur Mama.
Sebelumnya Mama sudah menyiapkan satu stel baju pengantin untuk Thomas dengan jasnya. Bram membantu Thomas memakaikannya. Setelah sudah siap semuanya, Mereka berdua duduk di depan penghulu. Pak Penghulu bertanya akan kesiapan mereka berdua, dan mereka mengangguk tanda sudah siap. Amelia yang sudah tidak memiliki siapapun sebagai walinya, dia menyerahkan semuanya kepada wali hakim.
Pak Penghulu menjabat tangan mempelai pria.
"Aku nikahkan Engkau dan Aku kawinkan Engkau dengan putriku Amelia binti Bapak Rahman Hakim almarhum dengan mahar seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan mas dibayar tunai." ucap Pak Penghulu dengan keras dan lantang.
"Saya terima nikahnya dan Kawinnya, Amelia binti Bapak Rahman Hakim Almarhum dengan mahar tersebut dibayar, TUNAI." jawab Thomas tidak kalah lantang dan keras.
"Sah?" tanya Pak Penghulu kepada para saksi.
__ADS_1
"Sah," jawabnya serentak.
Tepuk tangan riuh terdengar di Kantor Urusan Agama. Mereka semua memberikan selamat kepada pasangan pengantin baru tersebut. Thomas menyematkan cincin kawin di jari manis Amelia. Semua orang di sana bertepuk tangan, bersorak-sorai merasakan kegembiraan pasangan pengantin itu.
"Ah, akhirnya mereka sah juga menjadi suami istri," cibir Alina.
"Ha .... Ha .... Ha. Selamat ya, Bang! Akhirnya kalian menjadi suami istri juga, dan yang terpenting ada yang mengasah golokmu, Bang," ucap Bram tertawa terbahak-bahak. Membuat Thomas memberengut kesal.
"Dasar adik nggak punya akhlak," umpatnya.
"Selamat ya, Amelia, Thomas! Akhirnya kalian sah menjadi suami istri!" ucap Mama Celine memberikan selamat kepada pasangan pengantin baru itu.
"Terima kasih ya, Ma," jawab Amelia memeluk Mama mertuanya.
"Sekarang, Ayo kita pulang ke rumah!" ajak Mamanya.
Ada perasaan canggung diantara mereka, perasaan yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya. Mereka sama-sama terdiam tidak tahu akan memulai seperti apa dan bagaimana. Semuanya begitu cepat, instan dan tidak terduga. Thomas memberanikan diri untuk menggenggam tangan wanita yang sekarang sudah sah menjadi istrinya beberapa menit yang lalu.
"Aku tidak tahu harus mengucapkan apa? Aku benar-benar sangat bahagia, Sayang!" ucapnya. Amelia menoleh ke arah suaminya.
"Aku juga, Mas! Aku juga sangat bahagia," ujarnya. "Aku minta maaf, Mas, karena sudah membuat kamu menunggu dan menderita! Kenapa saat itu kamu pergi begitu saja, Mas? Kenapa nggak pamitan sama Amel?" tanya istrinya.
"Karena waktu itu, kamu juga sudah menolak mas, Sayang! Mas pikir keputusan kamu sudah bulat dan tidak bisa dirubah lagi," jelasnya. "Tapi, kenapa tiba-tiba kamu berubah pikiran?" heran Thomas.
__ADS_1
"Karena Mama berhasil membuat Amel percaya bahwa kamu benar-benar serius dengan hubungan kita," jawab Amelia.
"Tapi, Aku memang serius dengan hubungan kita, Sayang! Aku mencintai kamu bukan karena ada Aska. Aku mencintai kamu, karena kamu memang pantas untuk dicintai, kamu wanita yang baik, wanita yang lembut dan semua yang ada pada kamu, aku sangat menyukainya," jelasnya panjang lebar. Semua pengakuan Thomas membuat Amelia tersipu malu.
"Apakah kamu sudah mau menerima aku dan memaafkan ku?" tanya Thomas tiba-tiba.
"He'em, Kita sudah sah menjadi pasangan suami-istri, berarti aku sudah menerima kamu dan memaafkan kamu, Mas," jawabnya. Tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata rasa bahagia Thomas, secara refleks dia langsung mencium bibir istrinya. Amelia mendorong tubuh Thomas karena reaksi suaminya yang berlebihan membuatnya sangat malu kepada Pak Sopir.
"Mas, Kau ini benar-benar tidak tahu malu! Kita sedang berada di mobil, dan ada Pak Sopir di sini, Apakah kau tidak malu?" cibir Amelia kesal. Thomas hanya cengengesan saja, dia lupa kalau dirinya sedang berada di dalam mobil. sikapnya adalah bentuk rasa bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Tidak terasa mobil mereka sudah sampai di depan rumah besar dan mewah keluarga Williams. Dan mereka berdua sangat terkejut, pasalnya di depan rumah Mama sudah ramai orang menyambut kedatangan mereka. Mama meneruskan acara resepsi pernikahan, padahal Thomas sudah membatalkannya.
"Mah, bukankah Thomas sudah membatalkan semuanya?" tanya Thomas.
"Mamah yang mengatur ini semua, jadi, Mamah yang berhak untuk membubarkan semuanya!" ucap Mama penuh penekanan. Thomas hanya manggut-manggut saja.
Resepsi di gelar cukup meriah, semua tamu undangan mayoritas dari kalangan pengusaha, teman-teman dekat, kerabat, dan keluarga besar. Ada hiburan musik dan penyanyi di atas panggung. Kedua mempelai berganti baju saja sudah sampai empat kali untuk mengikuti acara pemotretan. Amelia terlihat sangat kelelahan.
"Mas, Aku capek banget," bisiknya.
"Iya, Sudah, kita duduk saja di pelaminan," ucap Thomas. Namun lagi-lagi mereka harus dihadapkan dengan tamu yang memberikan ucapan selamat kepada pasangan tersebut. Mau tidak mau mereka harus berdiri kembali, memberikan senyuman yang paling manis dan beramah-tamah kepada para tamu.
Selesai resepsi masih dilanjutkan dengan acara makan-makan, dan pesta dansa. Amelia sudah terlihat sangat pucat. Thomas jadi tidak tega melihat istri cantiknya merasa kelelahan. Akhirnya dengan menggunakan alasan Aska menangis meminta ASI akhirnya mereka bisa memaklumi keadaan Amelia. Amelia pun bergegas ke kamarnya. Ternyata sang putra masih tertidur dengan pulas, ditemani oleh baby sister yang sengaja di sewa oleh Mama Celine.
__ADS_1
"Huft, akhirnya aku bisa istirahat," ucapnya lega.
to be continued.....