Amelia

Amelia
Episode 48


__ADS_3

"Oh, ternyata kamu sudah terang-terangan mengumbar kemesraan kamu di tempat umum?" cebiknya. "Dengan laki-laki yang bukan suami kamu," teriaknya.


"Bukan seperti itu, Mas!" jawab Amelia, "Dia hanya menemani ku untuk membeli keperluan bayi," ujar Amelia.


"Ck, dasar wanita murahan! Kau berani berjalan dengan pria lain, padahal kau masih sah istriku," marah Arga.


"Hentikan!" teriak Thomas. "Kenapa kau begitu kasar dengan perempuan?" tanya Thomas. Ini adalah pertama kalinya Thomas dan Arga bertemu.


"Bukan urusan kamu!" bentak Arga. "Dasar tidak tahu malu, dia masih sah istriku," marah Arga hendak memukul wajah tampan Thomas. Thomas menghindar dan membela diri dari serangan Arga. Adu pukul dan jotos pun terjadi,


Amelia hanya bisa berteriak meminta tolong kepada security untuk memisahkan mereka.


Dua security datang dan berusaha memisahkan mereka. Thomas membenarkan jasnya yang berantakan, begitu juga Arga membenarkan rambutnya yang sudah sangat kusut.


"Saya tidak bersalah, Pak! Dia berusaha untuk merebut istri saya," ucap Arga. "Mereka memliki hubungan gelap, Pak! Mereka pasangan yang menjijikkan," ucap Arga kepada security.


"Kau yang tidak bisa mempertahankan istrimu! Kenapa menyalahkan orang lain?" bentaknya.


"Tentu saja kau salah, karena kami belum resmi bercerai! Dan jangan harap aku menceraikanmu, Amelia," ujarnya. Amelia membelalakkan matanya.


"Kau memang laki-laki bre******sek!" kesal Thomas.


"Kau memang tidak tahu malu, padahal sudah sangat jelas kita akan bercerai! Tapi, masih saja kau mempersulit ku," ucap Amelia. "Mas, Ayo kita pergi dari sini," ajak Amelia.


Mereka pun menaiki mobil dan meninggalkan parkiran mall. Sherly yang melihat kejadian tersebut hanya ketakutan dan duduk diam di belakang kursi penumpang. Begitu juga Amelia, dia enggan untuk membahas masalahnya.


"Bagaimana bisa Mas Arga di mall?" batinnya. "Apakah dia mengikuti ku? Jika memang dia sampai mengikuti, itu artinya dia juga mengikuti ku.sampai ke rumah Tante Celine," batinnya lagi. Banyak sekali pertanyaan demi pertanyaan yang melintas dipikirannya.


"Apakah dia suami kamu?" tanya Thomas, membuka percakapan.


"Iya, Mas! Dia suamiku," jawab Amelia.


"Ada apa dengan kalian? Sepertinya dia masih sangat mencintai kamu?" tanya Thomas. "Buktinya dia sampai mengikuti kamu ke mall," godanya.


"Maaf, saya masih belum bisa bercerita! Jika saya menceritakan semuanya kepada Anda yang bukan siapa-siapa bagi saya, itu berarti saya sudah mengumbar aib rumah tangga saya sendiri," terangnya. "Dan sedangkan posisi saya masih sah istri," imbuhnya lagi.


"Baiklah, saya tidak akan mencampuri urusan kamu," ujar Thomas.

__ADS_1


"Terima kasih banyak, mau mengerti saya," ucap Amelia. "Saya sudah bertekad untuk berpisah dengannya, karena sebuah alasan," imbuhnya sangat sedih. Thomas bisa merasakan kesedihan yang dialami oleh Amelia.


"Apa yang membuatmu ingin bercerai dengannya?" tanya Thomas.di dalam hati. Memang Thomas tidak begitu tahu soal Amelia, yang selalu mamanya banggakan dan sering sekali putrinya memuji-muji Amelia. Namun kali ini, Thomas melihat sosok yang sangat rapuh didepannya.


Amelia memang belum siap untuk bercerita, apalagi baginya Thomas bukanlah siapa-siapa. Jadi, sangatlah tidak pantas jika dia harus menceritakan semua kepada laki-laki lain, dan itu sama saja mengumbar aibnya sendiri. Tidak terasa mobil sudah sampai di depan rumah. Mereka semua turun dari mobil, Sherly nampak begitu bahagia karena dia sudah mendapatkan mainan barunya. Dan dia langsung memamerkannya kepada Omanya. Di dalam rumah ternyata ada Alina sedang mengobrol dengan Tante Celine.


"Oma?" panggi Sherly. "Oma, nih lihat bagus tidak boneka Sherly?" tanya Sherly kepada Omanya.


"Wah bagus banget, Sayang," puji Omanya.


"Iya, Cantik seperti Sherly," timpal Alina.


"Terimakasih, Tan," senang Sherly.


"Hey, semuanya," sapa Amelia, duduk di dekat Alina. Dan Thomas mengekor di belakang Amelia.


"Kalian benar-benar seperti sebuah keluarga yang sangat bahagia," goda Alina, Amelia tersipu malu.


"Do'akan saja, Semoga memang benar seperti itu," tambah Thomas, tentu saja Amelia membelalakkan matanya. Tante Celine dan Alina tersenyum senang sepertinya Thomas ada hati dengan wanita hamil itu. "Kapan kau datang?" tanya Thomas kepada Alina.


"Ish, Kau ini, ditanya malah balik bertanya," ujarnya. Alina pun tersenyum.


"Aku pulang, saat subuh tadi," jawab Thomas.


"Thom, kenapa dengan wajahmu?" tanya Mama tiba-tiba. "Kenapa wajahmu terluka?" tanya Celine sambil meneliti wajah tampan putranya.


"Ini cuma luka kecil saja, Ma! Jangan dibesar-besarkan," ucapnya.


"Daddy berkelahi, Oma," jawab Sherly membuka suara.


"Hah, berkelahi? Kau seperti anak kecil saja, Thom!" kesal Mamanya.


"Itu, tadi Mas Thomas berkelahi sama suami Amelia, Tan!" lirih Amelia merasa tidak enak.


"Apa? Kok bisa?" heran Celine. Amelia pun menjelaskan awal masalahnya kepada Tante Celine dan Alina. Tante Celine dan Alina yang mendengarkan malah tersenyum.


"Kok Mama tersenyum?" kesal Thomas. "Apakah Mama sedang menertawakan ku?" tanya Thomas.

__ADS_1


"Tidak, siapa yang menertawakan mu?" ucap Mamanya. Untuk mengalihkan pembicaraan dengan putranya, Celine sengaja bertanya kepada Amelia.


"Bagaimana? Apakah kamu sudah membeli semua perlengkapan bayi?" tanya Tante Celine.


"Sudah, Tan!" jawab Amelia tersenyum. "Tapi, Amelia pakai uang Mas Thomas dulu, nanti kalau Amelia gajian pasti Amelia ganti," ucapnya. Jawaban Amelia membuat Celine dan Alina tertawa terbahak-bahak. Amelia jadi bingung.


"Sepertinya tidak ada yang lucu, kenapa mereka berdua tertawa ya?" batin Amelia sambil menggaruk kepalanya.


"Ck, kau ini! Kan sudah aku bilang, aku tidak menganggap semua ini hutang, jadi, jangan berbicara masalah hutang lagi," tegas Thomas.


"Tapi, aku tidak mau berhutang budi," kilahnya.


"Astaga, kau menyebalkan sekali," sungut Thomas. Tante Celine dan Alina tertawa geli.


"Tan, Amelia izin ke kamar dulu! Kaki Amelia capek banget," ujarnya.


"Silahkan, Nak! Beristirahatlah, pasti kamu kecapean!" perintah Tante Celine. Amelia pun mengajak Sherly untuk bermain di kamarnya. Sedangkan Celine, Thomas dan Alina nampak sedang berbicara serius.


"Thomas, Apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Mamanya.


"Mungkin, Thomas akan menekuni Perusahaan Papa, Ma!" jawab Thomas.


"Benarkah? Mama jadi senang mendengarnya," ucap Celine.


"Lalu, bagaimana bisnis Kakak di Jerman?" tanya Alina.


"Kan ada Bram," ucap Thomas. "Aku menyerahkan bisnis itu kepada Bram, karena aku yakin, Bram bisa mengelolanya dengan baik," jawab Thomas. Ada semburat kesedihan di wajah cantik Alina. Jika Bram yang mengurus bisnis kakaknya di Jerman, kemungkinan besar dia tidak akan pulang ke Indonesia. Dan tentu itu membuatnya sangat sedih. Thomas bisa melihat kesedihan itu di mata adiknya.


"Kau tenang saja, Bram masih bisa pulang ke Indonesia," jelas Thomas.


"Itu berarti kau akan fokus di Perusahaan papa?" tanya Celine lagi.


"Iya, Ma! Thomas tidak tega dengan Sherly," kata Thomas.


"Ah, bahagiyanya Mama! Akhirnya kau mau tinggal di Indonesia dan mengurus Perusahaan Papa," girang Mama.


to be continued...

__ADS_1


__ADS_2