Amelia

Amelia
Episode 92


__ADS_3

"Terima kasih, Sayang. Abang benar-benar sangat bahagia," ucap suaminya langsung memeluk tubuh Alina.


Perasaan rindu yang begitu menggebu-gebu, membuat Bram langsung menerkam istrinya. Tidak ada penolakan dari Alina, dia pun merasakan rindu juga terhadap suaminya.


Alina merasakan lapar pada perutnya. Setelah tubuhnya dikerjai oleh Bram, tiba-tiba perutnya terasa sangat lapar.


"Bang, Aku lapar?" rengeknya.


"Kau lapar? Oke, tunggu di sini. Aku akan turun dan membawakan makanan," ujarnya.


"Oke, Bang. Cepetan ya, Bang!"


Bram keluar dari kamarnya, dan mencari makanan di dapur. Sayangnya, tidak ada makanan di dapur. Mungkin pelayan sengaja tidak menyisakan makanan, karena sang majikan jarang makan di rumah. Yang ada hanya sosis saja di dalam kulkas.


Bram mengambil beberapa sosis, kemudian dia memanggangnya dengan mentega. Setelah matang, barulah sosis tersebut ia beri taburan keju dan saus tomat.


"Bang, Kok lama sekali?" tanya Alina, tiba-tiba sudah berdiri di belakang suaminya.


"Iya, Maaf, Sayang. Ternyata tidak ada makanan. Yang ada hanya ini," ujar Bram.


"Ini, Abang yang memasak?" tanya Alina.


"Iya,"


"Wah, sepertinya enak," ucap Alina. Alina langsung mengambil garpu dan segera mencicipi makanan yang dibuat suaminya.


"Ehm, ini enak, Bang!"


"Kau suka?"


"Iya, ini sangat enak," ucapnya sambil tersenyum.


"Baguslah kalau kau suka. Habiskan!"


"Abang tidak ikut makan?"


"Melihatmu saja, Abang sudah cukup kenyang," ujarnya.


"Aaaaaaa, Ayo, Al, suapi!"


Mereka makan bersama, sekali-kali gantian Bram yang menyuapi Alina.


Tiga Bulan Berlalu


Ratih membuka surat yang baru saja diterimanya. Surat perceraian dari pengadilan agama. Sekarang dirinya sudah sah bercerai dengan Arga. Dia sangat marah dengan keputusan surat tersebut. Pasalnya, hak asuh anak jatuh ke tangan suaminya.


"Aku tidak akan membiarkan mereka semuanya bahagia," ucap Ratih sambil meremas surat dari pengadilan tersebut.


Ratih masuk ke dalam rumah, dia disambut hangat oleh ibunya.


"Kamu sudah pulang, Nak?"


"Iya, Bu," jawab Ratih.


"Ada apa? Kenapa terlihat tidak senang?" tanya Ibunya.

__ADS_1


"Mas Arga sudah menceraikan Ratih. Sekarang Ratih sudah menjadi seorang janda," jawabnya.


"Bagus, dong!" ucap ayahnya tiba-tiba masuk dari pintu depan.


"Ayah, kok bagus sih?" kesal Ratih.


"Dengan begitu, banyak uang yang mengalir ke rekening mu!" ucap ayahnya.


"Maksud Ayah apa sih?" tanya ibunya tidak mengerti. Ibunya memang tidak tahu apa-apa pekerjaan yang sedang dilakoni putrinya.


"Sudah, sana bikinin aku kopi! Kamu tidak perlu ikut campur urusan kami!" hardiknya.


"Baik, Mas," jawab istrinya berlalu ke dapur.


"Hey, Nak. Ayah punya pelanggan baru, dia seorang bule dari luar negeri," ucap Ayahnya.


"Ratih nggak mau, Yah. Ratih masih capek," jawab Ratih.


"Tapi, ini tipsnya lebih besar dari Om Hans. Dolar lagi," ujarnya.


"Benarkah?" tanya Ratih.


"Tentu saja benar," jawab ayahnya.


"Tapi, kali ini, mainnya harus pakai pengaman, Yah. Ratih nggak mau sampai hamil," ucap Ratih. Memang setelah berhubungan dengan Om Hans beberapa bulan yang lalu, dia sempat hamil. Kemudian dia menggugurkan janinnya. Itupun di bantu oleh sang ayah untuk mengugurkan kandungannya


"Kamu tenang saja, Sayang. Nanti itu bisa di atur," ucap ayahnya.


"Apa yang bisa diatur?" tanya ibu tiba-tiba.


"Kamu tidak usah banyak tanya!" bentak suaminya, "Tugasmu itu memasak dan bersih-bersih! Mengerti?"


"Sudah, Yah. Jangan bentak Ibu lagi. Ratih tidak suka!" ucap Ratih kepada ayahnya.


Amelia sudah siap dengan pakaian terbaiknya. Hari ini adalah hari pembukaan cabang butiknya di mall. Dia sudah berdandan sangat cantik. Thomas tidak bosan mengagumi kecantikan istrinya. Tangan kekarnya melingkar dipinggang Amelia.


"Kamu cantik sekali, Sayang!" ucap Thomas.


"Ish, gombal. Sekarang Mas pandai merayu ya?"


"Aku merayu kan hanya sama kamu, Sayang?"


"Cepat bersiap-siap, Mas! Hari ini adalah hari pertama pembukaan butik baru. Kamu harus datang, Mas!"


"Tentu saja, Aku akan datang," jawab suaminya menggelayut manja di bahu Amelia.


Thomas menemani istrinya ke acara pembukaan butik baru di mall. Mama Celine tidak ikut, karena harus menjaga kedua cucunya di rumah.


Mobil Thomas melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang lumayan macet. Keadaan itu sudah terbiasa terjadi di pusat kota.Tidak terasa, mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di parkiran mall. Mereka turun dan berjalan beriringan, terlihat begitu romantis.


Semua orang sudah menunggu kedatangan pemilik butik. Sampai di depan butik, Amelia dan Thomas memotong pita merah. Sebagai awal yang baik untuk pembukaan butik tersebut di mall.


"Semoga semuanya lancar dan butik ini menjadi ladang rezeki untuk sekeluarga dan semua orang," ucap semua orang yang datang, memberikan do'a yang baik untuk usaha Amelia. Bukan hanya pemotongan pita, Thomas dan Amelia juga membagi-bagikan sedikit rezeki untuk orang-orang yang berlalu lalang di depan butiknya. Dia juga sudah menyiapkan sebagian rezekinya untuk orang-orang yang berhak menerimanya.


"Alhamdulillah, ya, Mas. Akhirnya jadi juga kita membuka butik baru," ucap Amelia.

__ADS_1


"Selamat ya, Sayang. Ini berkat kerja kerasmu!" ucapnya.


"Terima kasih banyak, Mas. Ini juga berkat kamu. Tanpa doa suami aku tidak akan seperti ini. Kalian semua adalah penyemangat ku," ujarnya. Thomas mencium kening Amelia dengan sayang.


Dari kejauhan, Ratih melihat kebahagiaan Amelia. Sekarang, hidup Amelia begitu beruntung. Tidak seperti dirinya, justru menjadi wanita penghangat ranjang bagi pria hidung belang.


to be continued.....



Yuk, mampir juga di Novel ku yang lain dengan Judul : "HIDDEN RICH TWINS".


Sedikit Penggalan Cerita:


Halwa membuka pintu itu, dia mendekati tempat tidur saudara kembarnya. Hatinya begitu sedih, baru pertama kali bertemu dengan saudara kembarnya, namun dia dihadapkan dengan kenyataan yang tidak menyenangkan. Dia harus dipertemukan dengan keadaan Salwa yang sedang terbaring lemah di tempat tidur Rumah Sakit.


"Hiks ... hiks .... hiks." Tiba-tiba saja air matanya luruh begitu saja, dia tidak tega melihat keadaan saudara kembarnya dengan selang infus dan oksigen di tubuh milik saudara kembarnya.


"Aku datang! Apa yang terjadi kepadamu? Kenapa sampai begini? Tolong bangunlah!" pinta Halwa kepada Salwa, agar saudara kembarnya membuka matanya.


"Aku sudah menemukan mu! Aku sudah memenuhi janjiku kepada ibu, tapi kenapa justru kau terus menutup matamu? Ayo, bangunlah!" ajak Halwa kepada Salwa. Kondisi Salwa masih tetap sama saja, tubuhnya tidak bergeming sedikitpun.


"Asisten Adam, Apa yang terjadi kepada Salwa?" tanya Halwa kepada asisitennya.


"Dia koma, Nona! Kata Dokter, dia koma selama enam bulan lebih akibat kecelakaan tragis, Nona!" jawab Asisten Adam.


"Kecelakaan?"


"Iya, Nona! Tapi, yang membuat saya heran, tidak ada satupun dari keluarga Nona Salwa datang untuk menjenguknya," ujar Asisten Adam.


"Apa yang kau ketahui lagi Asisten Adam?" tanya Halwa kepada Asistennya. Adam menunjukkan berkas hasil informasi dari detektif swasta yang dia percaya untuk mencari informasi tersebut. Halwa membacanya dengan seksama, apa yang tidak dimengerti oleh Halwa, Adam mencoba untuk menjelaskannya secara detail.


"Huft," Halwa menghela nafasnya panjang.


"Apakah menurutmu ini kecelakaan yang disengaja, Asisten Adam?" kesal Halwa.


"Saya rasa begitu, Nona!" ucap Adam. "Rasanya begitu aneh, menurut informan saya, Nona Salwa tidak bisa mengendarai mobil! Bagaimana dia bisa berada di mobil dan tiba-tiba saja terjun ke jurang? Rasanya sangat mustahil!" terang Asisten Adam. "Dan yang membuat saya merasa aneh, tidak ada satupun keluarganya yang mencari atau sekedar ingin tahu kabar beritanya! Padahal dia memiliki suami dan juga keluarga suaminya! Lalu, kemana mereka semua?" kira Adam.


"Apakah menurutmu begitu?" tanya Halwa.


"Iya, Nona!" jawabnya.


"Aku ingin mengetahui secara detail keluarga Salwa! Aku akan masuk ke rumahnya sebagai Salwa! Dan aku akan mencari tahu, bagaimana dia mengalami kecelakaan," ujar Salwa penuh penekanan.


"Anda serius, Nona!" ujar Adam.


"Tentu saja! Aku tidak akan membiarkan orang yang sudah tega mencelakai saudaraku bisa bebas berkeliaran di sana! Dia harus membayar semua perbuatan yang telah dilakukannya," marah Halwa.


"Baik, Nona! Saya akan laksanakan," cakapnya. Adam keluar dari ruang rawat Salwa, dia melaksanakan tugas yang diberikan oleh nona mudanya.


Halwa memandangi tubuh kurus dan kulit pucat Salwa. Dia kembali menitikkan air matanya melihat kondisi saudara kembarnya.


"Apa yang terjadi kepadamu? Apakah mereka semua menyakitimu? Ayo bangunlah dan katakan di mana makam ayah kita! Antarkan aku ke sana!" bujuk Halwa.


Penasaran????

__ADS_1


Yuk Intip-intip....💕💕💕💕💕


__ADS_2