
Terbit senyum manis di bibir Amelia. Amelia kembali ke mobil dengan perasaan tenang. Dia berusaha untuk bersikap setenang mungkin, supaya Diego tidak mencurigainya.
Mobil mereka berjalan kembali. Mobil yang mengekor dibelakang juga ikut berjalan. Mengikuti mobil didepannya.
Dicky kembali ke rumahnya. Dimana hanya ada Arum di rumah tersebut. Arum juga ikut panik, melihat Dicky yang datang secara tiba-tiba dan menanyakan Thomas.
"Saya ikut, Pak. Saya tidak mau disini sendirian!" pinta Arum.
"Tapi ... !"
"Saya mohon. Saya khawatir dengan keadaan Kak Thomas!"
"Baiklah. Tapi, jangan lakukan apapun!"
"Baik. Saya akan menuruti kata-kata Anda!"
"Ayo Masuk!" ajak Dicky.
Dicky menjalankan mobilnya seperti orang kesetanan. Dia ingin cepat menemui Thomas. Dan bodohnya dia, harusnya dia memberikan ponsel baru untuk Thomas. Secara ponsel dan barang berharga Thomas ikut terbakar di mobil. Tentu saja sekarang dia tidak memiliki ponsel atau tanda pengenal lain. Saking gugupnya, dia lupa dengan hal sekecil itu.
"Kita kemana, Pak?"
"Kantor Thomas."
"Oh."
Mobil Dicky melaju dengan kencang ke Perusahaan milik keluarga Williams. Sampai di sana, ternyata Thomas tidak ada. Dicky bingung harus mencari dimana.
"Hah, Bagaimana ini?" kesal Dicky mengacak rambutnya sendiri.
"Pak, Saya minta nomornya Pak Bram!" pinta Dicky kepada security kantor.
"Sebentar ya, Pak. Saya cari dulu! Petugas resepsionis sudah pulang dari tadi, kan ini sudah bukan waktu jam kerja!"
"Silahkan, Pak! Maaf ya Pak, Saya merepotkan Bapak!"
"Tidak masalah!"
Setelah menemukan, Security langsung memberikannya kepada Dicky. Tidak menunggu lama, Dicky langsung menghubungi nomor Bram. Dia yakin, pasti Thomas sedang bersama dengan Bram.
Dret ... Dret ... Dret
"Hallo!"
"Pak Bram. Ini saya Dicky. Apakah Pak Thomas sedang bersama dengan Anda?"
"Nggak, Pak. Saya sedang menempel brosur di tepi jalan. Saya nggak bersama Bang Thomas!"
"Kira-kira kemana ya, Pak Bram. Ini saya sudah menemukan alamat Diego!"
"Sepertinya Bang Thomas ke kantor Polisi!" Jawab Bram, "Jadi, Pak Dicky sudah menemukan alamat Diego?"
"Iya, Pak."
"Sekarang, Pak Dicky ada dimana?"
"Saya ada di kantor Anda!"
"Kita bertemu saja di kantor polisi. Barangkali Bang Thomas ada di sana!"
__ADS_1
"Baik, Pak. Kita bertemu di kantor polisi!"
Thomas terus memegangi dadanya. Hatinya terasa semakin gelisah setelah mengetahui bahwa Diego akan menikahi istrinya. Cemburu, marah, kesal, cemas dan juga takut yang sekarang dia rasakan. Bagaimana kalau Amelia memang menikah dengan Diego. Tapi sebelum pernikahan itu terjadi, bagaimana kalau mereka sudah melakukan hubungan suami istri. Apalagi mereka tinggal satu atap.
"Tidak. Aku percaya dengan istriku. Aku percaya!" Thomas menjambak rambutnya sendiri karena terlalu kesal.
"Aaaaaaaaaa. Sial!"
Thomas membelokkan mobilnya ke Toko Ponsel. Dia harus membeli ponsel baru. Karena untuk saat ini ponsel adalah alat komunikasi satu-satunya yang efektif yang dia butuhkan.
Setelah membeli ponsel, Thomas langsung menghubungi orang-orangnya. Barangkali saja ada informasi tentang keberadaan istrinya. Namun sayangnya, belum ada kabar apapun dari orang-orangnya. Membuat dia mendengus kesal.
Thomas sangat frustasi. Hingga dia memutuskan untuk menelfon ponsel sang istri. Tapi lagi-lagi ponsel istrinya tidak aktif. Hanya operator telepon yang menjawab. Dia kembali sangat kesal dan kecewa.
Dia pun menuliskan pesan rindu untuk istrinya.
"Amelia, Sayang. Kau ada dimana? Aku Thomas, Suamimu. Aku masih hidup. Aku merindukanmu, Sayang. Sangat merindukanmu. Aku memaafkan apa yang telah Kau lakukan. Aku tahu ini hanyalah kesalahpahaman yang dibuat pria brengsek itu. Jadi, Aku mohon berjuanglah untuk bisa bebas. Aku tahu Kau wanita yang kuat. Ibu yang sangat hebat. Istri yang sangat sempurna. Aku mencintaimu dengan kekurangan dan kelebihan mu. Aku mohon jagalah kehormatan mu, kesucian mu, dan jagalah hatimu hanya untukku saja. Jagalah anak-anak kita. Aku tahu Kau ibu yang hebat. Tidak lemah. Dan sangat kuat. Itu kenapa aku sangat mencintaimu. Aku menginginkanmu kembali. Karena itu kita disatukan dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Sebuah ikatan yang disaksikan oleh para saksi. Sebuah ikatan yang suci. Jangan pernah menyerah. Aku pun juga tidak akan pernah menyerah. Aku akan membawamu kembali ke pelukan ku. Dalam keadaan apapun."
Thomas mengirimkan pesan tersebut ke nomor ponsel Amelia. Namun Diego sudah mengganti nomor Amelia. Dan mengganti data pada ponsel istrinya supaya tidak bisa dilacak.
Kembali Thomas marah, kesal dan murka. Dia pergi kembali ke kantor polisi. Dia tidak mau berhenti mencari istrinya. Meskipun tubuhnya sangat lelah. Meskipun hari juga sudah larut malam. Tapi, dia harus mencari keberadaan istri dan anaknya.
"Pak Thomas, ini Bripda Nadhif. Dia yang akan menangani kasus Bapak!" Thomas menjabat tangan polisi itu, dan menanyakan kembali pertanyaan yang sama kepada polisi.
"Begini, Pak Thomas. Kami sudah melacaknya. Tapi, orang ini sangat pintar. Dia langsung menonaktifkan ponselnya. Hingga kami mengalami kesulitan. Dan lokasi terakhir, orang ini berada di rumah istri Anda!"
"Jadi sudah jelaskan, Pak. Memang dia yang membawa istri dan anak saya. Buktinya sudah kuat, istri saya memang diculik!"
"Iya, Pak. Semoga ada kabar yang lain ya!"
"Bang Thomas!" panggil Bram saat memasuki kantor polisi. Dicky dan Bram baru saja datang.
"Bram, Dicky!"
"Bang, Dicky sudah tahu alamat Diego!" ucap Bram.
"Benarkah?"
"Iya, Pak. Saya dari tadi mencari Anda di Perusahaan. Tapi Anda tidak ada di sana!"
"Apakah benar yang dikatakan Bram?"
"Iya, Pak. Saya tahu dari dua orang pelayan. Katanya, merekalah yang mengantarkan pesanan baju pengantin ke rumah Diego!"
"Kalau begitu, Ayo kita ke sana!"
"Ayo!"
__ADS_1
"Pak Polisi!"
"Iya, Saya akan ikut dengan Anda!"
Mereka pun langsung menuju ke alamat Diego. Dua mobil polisi mengekor dibelakang mobil Thomas, Bram dan Dicky.
Bersambung ...
Mana dukungannya????? Dukung terus karya Author, kasih like biar tambah semangat. Komentar juga, dan Vote juga.
Jangan lupa bunga dan Kopinya.....
Go Vote ...
Go Vote ...
Go Vote ...
Go Vote ...
Go Vote ...
Go Vote ...
Go Vote ...
Go Vote ...
Go Vote ...
Go Vote ...
Go Vote ...
☄️☄️☄️☄️
Promo novelku yang lain ...

Blurb :
Menikah itu bukan satu atau dua hari. Tapi, untuk hidup sesurga. Pernikahan untuk mempersiapkan bekal yang cukup, baik lahir maupun batin, agar pernikahan menjadi pernikahan yang sakinah, mawadah dan warahmah.
Mau tahu kisahnya, yuk kita ikuti ceritanya???
__ADS_1
Dilarang boomlike, baca pelan-pelan....😘😘