
Satu Bulan Berlalu
Di sore hari, Ratih merasakan sakit di bagian perutnya. Dia berjalan tertatih memegangi perutnya yang sudah semakin besar. Ada cairan kekuningan yang keluar dari pangkal pahanya.
"Mas?" teriaknya. Ratih berjalan tertatih mencari keberadaan suaminya.
"Mas?" teriaknya lagi. Perutnya semakin sakit, keringat dingin mengalir di dahinya.
Arga yang mendengar teriakkan istrinya, dia bergegas lari menghampiri sang istri.
"Ratih? Kamu kenapa, Sayang?" tanya Arga.
"Mas, perutku sangat sakit!" ucap Ratih menahan rasa sakit yang luar biasa. "Sepertinya aku akan melahirkan!"
"Oke, Oke. Ayo kita ke Rumah Sakit," ucap suaminya. Arga memapah tubuh istrinya masuk ke mobil. Dari dalam Dahlia mendengar teriakkan menantunya, dia juga merasa khawatir dengan keadaan Ratih.
"Arga, Ada apa?" tanya Dahlia ikutan panik.
"Ratih mau melahirkan, Bu!" ucapnya. "Arga harus membawanya ke Rumah Sakit."
"Oke, Oke. Kamu bawa dia ke Rumah Sakit. Ibu tidak bisa ikut, karena harus menjaga Mila," ucap Dahlia.
"Tidak apa-apa, Bu. Biar Arga saja yang menemani Ratih di Rumah Sakit," jawabnya.
"Hati-hati, Nak. Terus hubungi Ibu," ucap Dahlia.
"Baik, Bu,"
"Cepetan, Mas. Perutku sangat sakit," teriaknya.
"Iya, Sayang," jawab suaminya.
Setelah berpamitan Arga bergegas melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Mobilnya melesat dengan kecepatan penuh, membelah jalanan yang lumayan sepi.
Dalam waktu beberapa menit saja, mobil Arga sudah sampai di depan Rumah Sakit. Saking paniknya, Arga memarkiran mobilnya di sembarang tempat. Dia meminta tolong petugas RS untuk menangani istrinya yang akan melahirkan.
Dua orang petugas datang membawa brankar. Arga membopong tubuh Ratih, dan ia letakkan di brankar tersebut. Dua petugas itu membawa pasiennya ke ruangan persalinan. Arga mengekor di belakangnya.
__ADS_1
Arga selalu berada di samping istrinya. Dia sangat khawatir dengan keadaan istri dan bayinya. Dia tidak melepaskan pegangan tangan istrinya.
Seorang Dokter masuk ke ruangan tersebut. Dan berusaha untuk memeriksa keadaan pasien. Ratih terus mengaduh kesakitan, dan berteriak-teriak.
"Sabar ya, Bu. Saya periksa dulu!" ucap Dokter. Dokter memasukkan jarinya, ingin mengetahui pasiennya sudah pembukaan berapa. "Bapak, Ibu. Persalinannya bisa dilakukan secara normal. Bagaimana? Ibu siap?" tanya Dokter.
"Baik, Dok. Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya," jawab Arga.
"Tidak. Saya mau melahirkan secara Caesar," ucap Ratih tiba-tiba.
"Sayang, kenapa? Kamu bisa melahirkan secara normal!" ucap suaminya.
"Karena saya tidak mau sakit, Mas! Yang saya tahu, melahirkan secara normal membuat energi kita terkuras banyak, dan rasa sakitnya melebihi melahirkan secara Caesar. Dan saya juga tidak mau bagian inti saya longgar, seperti orang kebanyakan," ketus Ratih masih menahan rasa sakit sambil sekali-kali meringis. Arga mengacak rambutnya sendiri, istrinya sangat susah untuk dibujuk.
"Huft, bagaimana ini? Simpanan uangku di Bank sudah habis, Bagaimana aku bisa membayar biaya Caesar Ratih?" batin Arga.
"Cepetan, Mas! Ambil keputusan!" teriak Ratih.
"Baiklah, Dok. Lakukan apapun permintaan istri saya! Yang penting istri dan anak saya selamat," ucap Arga.
"Baiklah kalau begitu. Silahkan Bapak mengisi formulir, dan menandatanganinya. Kami akan melakukan yang terbaik untuk menolong pasien," ucap Dokter.
Arga berdiri di depan ruangan operasi, berjalan mondar-mandir menunggu kelahiran buah hatinya. Ada rasa bahagia dan sedih di benaknya. Rasa bahagia karena akan menjadi seorang ayah sebentar lagi, sedih karena bukan Amelia yang melahirkan anak-anak yang lucu, buah cinta mereka.
"Apa yang aku pikirkan? Kenapa aku selalu memikirkan Amelia? Kenapa wajahnya selalu terbayang-bayang di pikiranku?" ucap Arga berdialog dengan dirinya sendiri. "Ish, dia sudah menjadi milik orang lain. Dia juga sudah melupakan ku. Dia sudah bahagia. Aku juga harus bahagia dengan istri dan anakku," ucap Arga menepis pikirannya yang selalu mengingat Amelia.
"Oek .... Oek .... Oek." suara tangisan bayi dari ruangan persalinan. Arga bisa mendengar itu. Hatinya sangat bahagia, mendengar tangisan anaknya.
Seorang perawat keluar dengan membawa bayi tersebut. Arga menghampirinya.
"Selamat ya, Pak. Bapak dikaruniai bayi perempuan yang sangat cantik," ucap perawat kepada Arga.
"Terimakasih, Sus! Bolehkah saya mengadzaninya dulu?" pinta Arga.
"Tentu saja. Silahkan!" jawab suster.
Arga mengadzaninya tepat di telinga sang bayi. Kemudian dia memberikannya nama Keyla Mehendra.
__ADS_1
"Sudah, Sus," ujar Arga.
"Saya bawa bayinya dulu ya, Pak! Karena akan saya mandikan terlebih dahulu," ucap perawat.
"Baik, Sus! Hati-hati," ujarnya.
Operasi berjalan dengan sangat lancar, dan pasien sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat. Beberapa jam kemudian, pasien dipindahkan ke ruang rawat. Ratih masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Arga menemani istrinya di dalam ruangan. Kemudian dia teringat untuk memberikan kabar kepada ibunya.
Di rumah, Dahlia sangat bahagia, setelah mendengar kabar bahwa cucunya telah lahir di dunia ini. Sayangnya dia tidak bisa meninggalkan Mila di rumah sendiri. Dia bisa merasakan kebahagiaan putranya.
Tiga Hari Berlalu
Hari ini akhirnya Ratih sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter. Setelah Arga mengurus biaya Rumah Sakit, dia pun membawa istri dan anaknya pulang ke rumah.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Dahlia. Dahlia sudah bersiap-siap di depan rumah untuk menyambut kedatangan cucunya.
Mobil Arga berhenti tepat di halaman rumah. Mereka turun dari mobil, Baby Keyla berada di gendongan sang istri.
Dahlia mengambil Baby Keyla dari gendongan Ratih. Dia sangat bahagia dengan kedatangan cucunya. Dahlia terus menciumi pipi dan kening cucunya.
Ratih memasuki rumah dengan raut muka yang masam. Dia langsung ke kamarnya untuk bersih-bersih. Dahlia bisa melihat kalau menantunya sedang merajuk.
"Ada apa dengan istri kamu?" tanya Dahlia kepada Arga.
"Biasa, Bu. Sepulangnya dari RS, Ratih ingin berjalan-jalan ke mall. Katanya dia ingin membeli baju. Tapi, Arga menolaknya. Arga sudah tidak memiliki uang simpanan. Tabungan Arga habis untuk membayar biaya RS," jelasnya.
"Jangan terlalu memanjakan istri kamu, Nak. Sekarang kalian sudah memiliki anak. Pengeluaran kalian sekarang lebih besar. Jadi, ibu harap kamu bisa lebih berhemat," tutur Dahlia.
"Iya, Bu. Arga mengerti," jawab Arga.
Sore hari, Ibu dan ayah Ratih datang ke rumah untuk menjenguk cucunya yang baru lahir. Ibu Ratih sangat bahagia melihat cucunya terlahir di dunia ini. Dia terus menciumi pipi dan kening Baby Keyla.
Berbeda dengan ayahnya. Tanpa basa-basi, ayah Ratih langsung mengutarakan maksudnya untuk datang ke sana. Dia meminta uang kepada Arga menantunya. Tentu saja Arga sangat marah dan emosi.
"Bapak pikir saya mesin ATM? Yang setiap hari harus ada uang untuk Bapak. Bukankah baru satu Minggu yang lalu, Bapak meminta uang pada Ratih, kenapa sekarang minta lagi?" sewot Arga. "Kebutuhan saya juga banyak, Pak. Jadi, Tolong. Mengerti saya!" ucap Arga tegas.
Ayah Ratih juga tidak kalah sewot. Dia memaki-maki menantunya, yang menurutnya sangat kurang ajar. Di rumah Dahlia, terjadilah perang mulut antara ayah Ratih dengan Arga.
__ADS_1
Dengan kasar, ayah Ratih menarik tangan istrinya untuk pergi dari rumah itu. Ibu Ratih menangis, pasalnya dia masih sangat rindu dengan sang putri. Sudah lama juga mereka tidak bertemu. Begitu juga dengan Ratih, dia menangis dan sangat marah dengan sikap suaminya.
to be continued....