
"Tolong, jangan pergi dari sini! Sherly pasti akan sangat kehilangan dirimu," ucapnya lagi. "Oke, Aku akan pergi dari kamar ini, tapi, saya mohon berikan saya kesempatan untuk memiliki kamu," ucapnya. Namun tidak dihiraukan oleh Amelia, dan Amelia mendorong tubuh Thomas agar keluar dari kamarnya.
Semenjak kejadian itu, Mereka jarang bertemu meskipun tinggal dalam satu atap. Amelia berusaha untuk menghindari Thomas, juga sebaliknya Thomas juga berusaha menghindari Amelia. Dia takut tidak bisa menahan diri untuk mengatakan cinta kepada Amelia. Tante Celine yang merasakan keanehan pada sikap keduanya pun berusaha mencari tahu apa penyebab mereka saling diam. Celine terus memaksa putranya untuk mengakui apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dengan Amelia. Thomas pun menceritakan semuanya kepada sang Mama, hanya dia yang bisa dan mau mengerti keluh kesahnya.
"Kamu harus lebih bersabar lagi, karena kamu kan tahu, dia masih dalam proses bercerai, ditambah lagi dia masih trauma dengan rumah tangganya yang dulu," ujar Mama. "Seorang wanita yang baru saja bercerai, pasti masih ada rasa takut untuk berumah tangga kembali, dan kebanyakan seorang wanita harus benar-benar menata hatinya kembali untuk menerima seorang Pria di dalam hidupnya," nasehat Mama.
"Baiklah, Thomas akan bersabar menunggu sampai dia benar-benar menerima Thomas," ucap putranya.
"Bagus, Nak! Kamu memang anak Mama, pantang menyerah! Mama akan selalu mendukung keputusan kamu," tutur Mama.
"Terima kasih banyak ya, Ma,"
Tiga Bulan Berlalu
Hari ini adalah hari terakhir persidangan di gelar. Dimana akan ada keputusan secara adil yang akan dibacakan oleh hakim. Amelia sudah berdandan sangat cantik, dengan baju hamil longgar dengan rambut yang digerai indah. Amelia yang memiliki wajah sangat cantik dengan lesung pipi dan bulu mata yang indah, dengan hanya memoleskan bedak tipis saja sudah membuat wajahnya semakin cantik.
Sebelum berangkat ke pengadilan agama, dia meminta doa Restu kepada Tante Celine supaya diberi kelancaran dalam persidangannya nanti. Celine sudah menawarkan diri untuk menemaninya di Pengadilan, akan tetapi, Amelia menolak karena tidak mau terlalu merepotkan Tante Celine.
Amelia sudah menaiki mobil Tante Celine, yang dikendarai oleh sopir pribadi Tante Celine. Dari kejauhan, Thomas nampak memperhatikan Amelia keluar rumah. Dia pun mengikutinya, dengan mobilnya sendiri. Sampai di pengadilan, Thomas hanya duduk di mobil untuk menunggu Amelia selesai dengan persidangan. Sekitar satu jam setengah dia menunggu Amelia. Akhirnya yang ditunggu keluar juga dari ruangan sidang tersebut.
Amelia nampak sedang berdebat di depan ruang pengadilan, Thomas tidak tahu apa yang diperdebatkan antara Amelia dan mantan suaminya. Namun sepertinya suaminya tidak mau menerima hasil keputusan hakim, sehingga dengan kasar Arga menarik tangan Amelia untuk mengikuti dirinya masuk ke mobil.
Thomas yang melihat kejadian tersebut, tidak bisa terima dan dia keluar dari mobil untuk menolong Amelia.
"Lepaskan aku, Mas! Kita sudah resmi bercerai, jadi kita sudah tidak ada ikatan apapun," kata Amelia.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah bisa menceriakan mu! Hakim memberikan keputusan yang salah, dia tidak tahu apa masalahnya," ujar Arga merasa dirinya paling benar.
"Kamu sudah tidak waras ya, Mas! Lepaskan aku," teriak Amelia. Tapi, Arga tetap saja memaksa Amelia masuk ke mobilnya. Dari arah belakang, Thomas menarik bahu Arga dan melayangkan tinjunya di pipi dan perut Arga. Membuat Arga jatuh tersungkur di aspal.
"Kau tidak bisa memaksa wanita yang sudah bukan istri kamu! Kau benar-benar laki-laki pecundang dan brengsek," marah Thomas. "Kau sudah menyakitinya, sekarang kau justru ingin dia kembali! Kau pikir dirimu siapa?" bentak Thomas. Arga berusaha untuk bangkit dari duduknya, dan hendak menyerang Thomas tapi Thomas berhasil menghindarinya. Dia pun kembali tersungkur. Thomas mendekat ke arah Amelia untuk membawanya pulang, dari arah belakang Arga hendak menghajar muka Thomas, Amelia yang melihatnya langsung mendorong tubuh Thomas ke samping, sehingga pukulan tersebut mengenai wajah Amelia dan dia jatuh tersungkur hingga perutnya terbentur ke aspal.
BUGH ....
BRUGH ...
"Auw," pekik Amelia.
"Mel?" panggil Thomas. Seketika darah segar mengalir di sela pangkal pahanya. Amelia memekik kesakitan akibat benturan tersebut.
"Aku akan membawamu ke Rumah Sakit," ucap Thomas panik, Amelia terus memekik menahan rasa sakit yang teramat sangat. Thomas membopong tubuh Amelia kemudian ia letakkan di kursi mobil. Thomas menatap tajam ke arah Arga, rasanya dia ingin mencabik-cabik muka mantan suami Amelia.
Thomas melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju Rumah Sakit.
"Sakiiiiit," pekik Amelia, terus memegangi perutnya.
"Sebentar lagi sampai," ucap Thomas,
Sekitar lima belas menit Thomas sampai di depan Rumah Sakit tempat Alina bekerja. Dua orang petugas Rumah Sakit datang dengan membawa brankar. Thomas membopong tubuh Amelia dan meletakkannya di brankar. Dua petugas membawanya ke ruangan persalinan. Alina yang kebetulan sedang tugas,.dia yang menangani Amelia sebagai pasiennya.
"Kakak?" panggil Alina ketika melihat Kakaknya di depan ruangan persalinan.
__ADS_1
"Al, selamatkan Amelia! Aku mohon, Al," pinta Thomas kepada Alina.
"Tenang, Kak! Oke, aku masuk dulu ke dalam, aku harus memeriksa keadaan Amelia, Kakak tunggu disini!" perintah Alina.
Alina masuk ke dalam, Amelia masih memegangi perutnya.
"Coba aku periksa!" ucap Alina kepada Amelia.
"Kau jatuh?" tanya Alina di jawab anggukan kepala oleh Amelia. "Terjadi pendarahan," ujarnya lagi.
"Suster, Siapkan ruangan operasi! Bayinya harus segera dikeluarkan," perintah Alina kepada dua suster yang menjaga Amelia.
Alina keluar dari ruang persalinan Amelia, dan mengatakan kepada kakaknya bahwa Amelia harus segera di operasi. Untuk melakukan operasi dia membutuhkan tanda tangan seseorang sebagai penanggung jawab, akhirnya Thomas yang menandatangani surat persetujuan dari Alina.
Semua peralatan sudah disiapkan oleh kedua suster. Alina menyuntikkan obat bius ke tubuh Amelia, hingga Amelia tidak sadarkan diri barulah dilakukan tindakan operasi. Suster memasang selang infus di tubuh Amelia dan memasang jalur nafas bantuan berupa selang Endotrakeal untuk mengatur pernafasannya. Tujuannya adalah agar asupan oksigen bagi ibu dan bayinya di dalam kandungan tetap stabil.
Alina mengoperasi pasien selama dua jam lamanya, hingga bayi mungil itu terlahir dengan selamat, meskipun belum waktunya lahir, namun kandungan Amelia sudah tergolong usia kandungan yang sudah siap.
"Oek ... Oek ... Oek," tangis bayi terdengar memekik di ruangan persalinan. Suster membawanya untuk di bersihkan.
Operasi berjalan dengan sangat lancar, bayi terlahir dengan selamat dengan proses caesar. Amelia masih dalam keadaan tidak sadarkan diri, karena masih dalam pengaruh obat bius. Alina membantu Amelia mengganti bajunya dengan baju Rumah Sakit, bajunya sangat kotor bercampur dengan noda darah, barulah Amelia dipindahkan ke ruang rawat.
Thomas mengurus ruang rawat Amelia, dan Dia memilih ruangan VIP untuk Amelia. Masih dalam keadaan pingsan, dia dipindahkan ke tempat tidur yang bersih di ruangan VIP tersebut.
to be continued.....
__ADS_1