
"Jika kau memang mencintaiku, seharusnya saat kau menikahi wanita lain, kau berpikir dua kali! Kau justru meninggalkan ku demi wanita lain, Kau torehkan luka di hatiku, dan aku tidak akan pernah bisa melupakan itu," ujar Amelia panjang lebar. "Dan sekarang kau sudah berani main tangan denganku! Aku bisa memaafkan kesalahanmu, jika kau menghinakan! Tapi, kau hampir saja membunuh anak yang aku kandung, dan itu tidak akan bisa aku maafkan," tambah Amelia lagi.
"Aku sudah lelah dan capek, sebaiknya kau jangan mempersulit jalannya persidangan, Mas!" geram Amelia. "Permisi, Aku pergi dulu." ucap Amelia berlalu meninggalkan Arga.
Arga terpaku di tempatnya berdiri. Dia tidak percaya dengan semua ucapan Amelia yang lembut namun mengena di hati. Sekitar satu jam, Amelia dan Arga baru keluar dari kantor pengadilan agama. Mereka di tanya oleh petugas, dengan berbagai macam pertanyaan. Amelia menjawab dengan sangat lancar, pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan. Sedangkan Arga merasa tersudut, pasalnya perlakuan kasar Arga memang benar adanya. Dan visum Dokter sudah menjadi bukti yang sangat kuat. Keluar dari ruangan pengadilan, Arga kembali untuk mengejar Amelia.
"Amelia, tunggu!" ucap Arga, berusaha untuk mencegah kepergian istrinya.
"Ada apa lagi, Mas?" kesal Amelia.
"Aku tidak mau bercerai denganmu! Dan akan aku pastikan, kau tidak akan pernah mendapatkan tanda tangan dariku," ujar Arga.
"Ck, aku sudah menduga, kau akan berbicara seperti itu! Tapi, aku punya bukti visum Rumah Sakit, bahwa kau sudah main kekerasan dengan ku! Dan itu sudah menjadi bukti yang cukup di pengadilan," tegas Amelia sambil berlalu dan memberhentikan taksi yang kebetulan lewat di depannya.
"Amelia?" panggil Arga masih mengekor di belakang Amelia.
Arga mengambil mobilnya, dan berusaha mengikuti taksi yang ditumpangi oleh Amelia. Dan taksi Amelia berhenti di sebuah butik, dia turun dan masuk ke butik tersebut. Setidaknya ia tahu tempat Amelia bekerja. Kemudian dia kembali ke kantornya, tidak enak juga sebagai seorang manager harus terlambat ke kantor.
Kedatangan Amelia disambut baik oleh karyawan-karyawan Tante Celine. Mereka sangat senang bisa melihat Amelia kembali di butik ini.
"Wah, Mba Amelia semakin cantik saja," puji Fifin, salah satu karyawan Tante.
"Ah, Mba Fifin bisa saja," jawabnya.
"Duh, yang barusan jalan-jalan ke luar negeri," goda Rani. Rani juga salah satu karyawan butik Tante Celine.
"Ah, mba Rani," ucap Amelia tersipu malu, "Oya, ini ada oleh-oleh dari bos buat kalian semua," ucap Amelia, menyodorkan oleh-oleh khas dari Jerman. Karyawan butik yang berjumlah lima orang, sangat bahagia mendapatkan oleh-oleh khas Jerman. Karena pastinya oleh-oleh dari bos-nya adalah oleh-oleh terbaik dan mahal. Kapan lagi bisa makan oleh-oleh khas Jerman.
Mereka semua dengan riang gembira memilih oleh-oleh yang diberikan bos-nya lewat Amelia. Ada baju, parfum, gantungan kunci berlogo tulisan Jerman dan cokelat yang sangat enak dan terkenal. Secara bersama-sama mereka menikmati cokelat tersebut.
__ADS_1
"Ehm, enak banget," ujar Fifin.
"Kamu teh semua makanan dibilang enak," cibir Rani, membuat semuanya terkekeh. Ada-ada saja ulah mereka, namun itu yang membuat Amelia betah bekerja di sini.
"Sudah dulu ya? Aku mau mengecek pembukuan dulu," ucap Amelia sambil berlalu pergi.
"Oke, mba Amelia! Terima kasih oleh-olehnya," ucap Rani dan semua karyawan di butik.
"Sama-sama," jawabnya.
Amelia memasuki kantor Tante Celine dan memeriksa pembukuan butik selama satu Minggu. Kali ini pekerjaanya sangat menumpuk, dia membutuhkan tenaga ekstra untuk meneliti dan menyusun pembukuan selama satu Minggu.
Tidak terasa Jam makan siang tiba, dia masih belum selesai menyusun pembukuannya. Dia pun meminta tolong kepada teman-temannya untuk membelikan makan siangnya. Amelia pun melanjutkan pekerjaannya, supaya pembukuan tersebut cepat selesai dan tersusun dengan rapi.
Akhirnya, Amelia berhasil menyelesaikan pembukuannya dengan baik dan rapi. Dia bisa meregangkan otot-ototnya, duduk selama berjam-jam ternyata membuat pinggangnya terasa sakit. Apalagi ditambah pergerakan yang sangat aktif di dalam perut. Dia mengelus-elus perutnya supaya bayi yang ada didalam sedikit tenang.
"Ehm, Sayang kamu pasti lapar, tunggu sebentar ya? Sebentar lagi makanan datang," ujarnya.
"Apa yang kamu lakukan disini, Mas?" tanya Amelia terkejut dengan perlakuan aneh suaminya yang tiba-tiba masuk ke dalam butik, padahal di depan butik sudah ada papan pengumuman bahwa sekarang adalah jam makan siang karyawan.
"Sayang, Tolong batalkan gugatan cerai tersebut! Mas mohon," pinta Arga. "Kita mulai dari awal lagi," imbuhnya.
"Maaf, Mas! Aku tidak bisa," tegas Amelia.
"Apa karena gara-gara laki-laki itu?" bentak Arga kepada istrinya.
"Laki-laki siapa?" tanya Amelia mengernyitkan alisnya.
"Jangan sok berlagak bodoh," ujar suaminya. "Kau pikir aku tidak tahu apa-apa tentang perselingkuhan mu!" hardiknya. "Aku tahu kau berselingkuh, dan kau berselingkuh dengan orang kaya! Apakah karena itu kau ingin segera bercerai dengan ku?" tanyanya sambil menatap Amelia dengan tatapan membunuh.
__ADS_1
"Jaga bicaramu ya, Mas! Aku bukan wanita serendah itu!" jawabnya.
"Jangan sok jual mahal! Aku sudah mengetahui semuanya, kau sengaja mendekati pria kaya itu, agar kau bisa menikah dengannya!" ucapnya lagi, membuat Amelia benar-benar kesal.
"Cukup ya, Mas! Hentikan tuduhanmu itu, aku tidak berselingkuh dan aku bukan wanita gampangan," kesal Amelia.
"Lalu ini siapa? Siapa laki-laki yang ada difoto ini?" tanya Arga sambil menyodorkan foto diponselnya. Ternyata Arga sudah mengetahui foto dirinya dengan Thomas, cuma di foto tersebut Amelia sengaja menyamarkan wajah Thomas.
"Bukankah ini selingkuhanmu," hardiknya lagi.
"Iya, dia selingkuhan ku! Lalu, kau mau apa?" tantang Amelia.
"Cih, wanita menjijikkan! Apakah jangan-jangan dia ayah dari bayi yang kau kandung?" tanya Arga sangat marah.
PLAKKK ...
"Jaga ucapan kamu, Mas!" marah Amelia, karena dia merasa sudah sangat direndahkan oleh suaminya.
"Aku tidak akan membiarkan kamu meninggalkan ku, sekarang, Ayo ikut aku!" ucap Arga sambil menarik tangan Amelia.
"Lepaskan, kau sudah gila ya, Mas! Lepaskan aku!" ucapnya. Arga menarik tangan istrinya dengan kasar hingga keluar butik, dan hendak memasukkan tubuh Amelia ke dalam mobilnya. Namun teman-teman Amelia yang baru kembali dari makan siangnya, melihat perlakuan kasar pria tersebut, membuat mereka berlari dan menghampiri pria itu.
"Mba Amelia," teriak Fifin, karyawan paling cerewet dan suaranya membuat telinga orang yang mendengarnya kesakitan.
"Tolong," pinta Amelia.
"Hey, lepaskan Mba Amelia! Kalau tidak kami akan teriak maling supaya kamu dihajar massa," ancam Rani. Arga pun merasa ketakutan, dia pun melepaskan genggamannya di tangan Amelia.
"Sana pergi! Kami semua akan panggil keamanan jika kamu nggak mau pergi!" ancam Fifin. Arga pun masuk ke dalam mobilnya, dan berlalu dari tempat itu.
__ADS_1
to be continued.....