
Arga turun dari mobil, memasuki area kantor.
Semua karyawannya menundukkan kepalanya, memberikan hormat kepada bosnya.
Saat Arga memasuki ruangannya, tiba-tiba Ratih menyerobot masuk ke dalam. Sontak Arga sangat terkejut, dan Arga memberikan tatapan tajam kepada karyawan satu ini, yang menurut Arga tidak sopan.
"Apakah kamu bisa sopan sedikit?" ketus Arga kepada Ratih.
"Maaf, Mas! Ratih dari tadi menunggu Mas! Ratih mau berbicara penting!" ujarnya.
"Jika memang kamu mau berbicara masalah pribadi, sebaiknya nanti di Apartemen! ini adalah kantor, Ratih! kamu harus bisa bersikap profesional!" tegas Arga.
"Baik, Mas!" lirih Ratih, karena sepertinya perkataan Arga tidak main-main.
"Selama di kantor, Jangan panggil Mas! karena saya adalah atasan kamu! mengerti!" tegas Arga lagi.
"Baik, Pak! kalau begitu saya permisi dulu!" ucap Ratih, namun hatinya agak dongkol dengan sikap atasannya.
Jam menunjukkan pukul empat sore, waktunya suaminya pulang. Amelia sudah berdandan cantik dan wangi. Kini saatnya dia menata meja makan, karena sesuai dengan pesan suaminya, mulai hari ini suaminya akan sering makan di rumah.
Hari ini Amelia masak makanan kesukaan suaminya, garang asem daging dengan sedikit cabe rawit, perkedel, dan tumis lidah sapi.
Semuanya tertata rapih di meja makan, kini tinggal dia menunggu suaminya pulang.
Sekitar setengah jam, Amelia menunggu dan benar saja suaminya pulang ke rumah.
Amelia menyambut kedatangan Arga dengan bahagia, dia mengambil tas Arga dan mencium punggung tangan suaminya dengan takzim, tanda baktinya sebagai seorang istri.
Arga pun mencium kening Amelia dengan sayang.
"Bagaimana keadaan mu, Sayang?" tanya Arga.
"Aku baik, Mas! Aku senang karena kamu pulang cepat!" ucapnya, Arga tersenyum, pasalnya dia menyadari bahwa sikapnya kepada istrinya benar-benar telah melukainya.
"Ayo, Masuk!" ucap Arga seraya menggandeng tangan istrinya.
Amelia melayani suaminya dengan bahagia, dari mengambilkan handuk, baju ganti, hingga pakaian dalam suaminya.
Selesai mandi, Amelia mengajak suaminya untuk menikmati makan malamnya.
Masakan Amelia sangatlah enak, sampai-sampai Arga meminta nambah sampai dua kali. Masakan ibunya saja tidak seenak masakan Amelia, makanya Arga jarang sekali makan di rumah. Selesai makan Amelia membereskan meja makan, sedangkan suaminya menonton televisi diruang tengah.
Tok....tok....tok
Suara ketukan pintu yang terdengar sangat keras, Amelia hendak membukanya namun dilarang oleh suaminya, karena memang acara membereskan piring-piring yang kotor belum selesai. Arga merasa kasihan dengan istrinya.
"Kenapa lama sekali?" suara ibu menyerobot masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Oh, Ibu! Ada apa ibu malam-malam begini datang ke rumahku?" tanya Arga.
"Kenapa? Apakah kamu tidak senang ibumu datang ke rumah?" ketus ibu.
"Bukan begitu, Bu! ini kan sudah malam!" ucap Arga.
"Sudah! jangan berbelit-belit!"
"Bukannya ibu sudah mengatakan kepadamu untuk menceraikan istrimu!"
"Arga tidak bisa, Bu! lagipula Arga mencintai Amelia!" ucap Arga.
"Alah, Cinta! meskipun dia hamil dengan pria lain!" cibir ibunya.
"Masalah hamil, nanti aku pikirkan belakangan!" ujarnya.
"Sekarang, Arga mohon ibu tidak usah mencampuri urusan rumah tanggaku lagi!" tegasnya.
"Oh, begitu! baiklah! tapi, jika terjadi sesuatu! jangan salahkan ibumu!" cebik Dahlia tidak kalah sengit.
"Huft!" Arga menghela nafas berat. Mendengar perdebatan antara suami dan ibu mertuanya, Amelia pun keluar, melihat wajah Amelia tentu saja membuat Dahlia naik pitam. Dahlia menampar pipi Amelia dengan keras.
Plakk..
"Auw!" pekik Amelia, memegangi pipinya.
"Dasar wanita tidak tahu diri! apa yang telah kau perbuat, sampai anakku begitu luluh kepadamu?" ketus Dahlia.
"Hiks....hiks.....hiks! tidak Bu! Amelia tidak melakukan apapun!" tangis Amelia merasakan perih di pipinya.
"Kau tidak apa-apa kan, Sayang?" tanya Arga.
"Tidak apa-apa, Mas!" jawab Amelia.
"Bu, sebaiknya ibu pulang! aku tidak mau ibu terus-menerus menyakiti Amelia!" ucap Arga kepada ibunya, membuat Dahlia semakin kesal kepada putra dan menantunya, akhirnya dia pun memilih untuk meninggalkan rumah putranya.
"Terima kasih, Mas! kamu sudah mau membelaku!" puji Amelia.
"Iya, tentu saja! karena kau adalah istriku!" ujarnya.
"Sudah malam, sebaiknya kita tidur!" ucap Arga, namun Amelia hendak pergi ke kamarnya, Arga mencegahnya.
"Tidurlah dikamar ku!" ajak suaminya.
"Lakukanlah kewajiban mu sebagai seorang istri untuk memenuhi hak ku sebagai suami!" pinta suaminya. Amelia mengerti dengan maksud dari suaminya, bahwa suaminya meminta haknya kepada Amelia. Sebagai seorang istri tentu saja, Amelia akan memenuhi permintaan suaminya.
Sebelum mereka melakukan ritual suami istri, Amelia membersihkan tubuhnya dari bekas keringat dan bau masakan.
__ADS_1
Amelia berdandan sangat cantik, memoles wajahnya dengan bedak dan lipstik rasa strawberry. Memakai lingerie seksi warna merah, menambah kecantikan dan keanggunan Amelia. Siapa yang tidak terpikat dengan wajah ayunya, kulit putihnya dan tubuh bak model internasional.
Arga yang melihat istrinya begitu mempesona, tidak menunggu lama. Arga langsung meminta haknya sebagai suami, Mereka melakukan ritual suami istri, ******* dan rintihan kenikmatan yang terdengar di kamar peraduan mereka hingga pagi hari.
Keesokan paginya, Amelia merasakan tubuhnya benar-benar remuk. Seluruh tubuhnya pegal-pegal, semua itu karena ulah suaminya, yang tidak puas hanya sekali melakukannya.
Amelia melirik ke arah suaminya, masih tertidur dengan pulas. Amelia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi, untuk mandi dan bersih-bersih.
Walaupun ini adalah kedua kalinya melakukan penyatuan, namun bagian intinya masih terasa perih. Amelia berendam sejenak di bathtub yang lumayan besar.
"Ah, segarnya!" ujarnya, tiba-tiba ada tangan kekar yang melingkar di perut langsing Amelia, sontak Amelia sangat terkejut. Ternyata itu adalah Arga, suaminya.
"Mas? aku kaget!" ucap Amelia, memberengut kesal.
"Ha...ha...ha! maafkan aku, Sayang!"
"Kenapa mandi tidak mengajak, Mas!"
"Kelihatannya mas sangat pulas! aku tidak berani untuk membangunkan!" jawab Amelia.
"Benarkah? sebagai hukumannya, sekarang kau harus mandiin suamimu!" ujarnya, perkataan suaminya membuatnya sangat malu.
Kegiatan mandi pun berjalan dengan sangat lama, itu semua karena suaminya, Amelia sampai tidak kuat melayani nafsu suaminya.
Arga terkekeh melihat istrinya tidak berdaya, akhirnya Arga membiarkan istrinya untuk istirahat.
"Aku ke kantor!" pamit suaminya, di jawab anggukan oleh Amelia.
Mobil Arga melaju dengan kecepatan tinggi, karena hari ini dia memang agak terlambat. Namun karena Arga memiliki tanggung jawab yang besar, dia harus profesional dalam bekerja. Dia tidak mau dicap sebagai seorang manager, yang suka membolos, hanya menerima gaji buta. Itu tidak ada dalam komitmennya.
Saat akan memasuki kantornya, seperti biasa Ratih menyerobot untuk masuk ke dalam. Namun kali ini wajah Ratih agak masam dan cemberut.
"Kenapa bapak tadi malam tidak datang ke Apartemen?" tanya Ratih tiba-tiba, membuat Arga sangat terkejut, pasalnya dia telah melupakan janjinya bertemu Ratih di Apartemen.
"Maaf, Ratih! aku tidak bisa! aku harus menemani istriku, yang masih dalam suasana berkabung!" ucapnya.
"Tapi bapak sudah berjanji akan membicarakan ini semua! bagaimana dengan nasib saya, Pak?" tanya Ratih sambil menangis, tentu saja Arga merasa tidak tega, Arga pun memeluknya.
"Aku janji! sore ini, kita bicarakan baik-baik!"
"Sekarang kau tenang, tidak perlu menangis!" ucapnya.
"Baiklah, saya akan menunggu bapak di Apartemen!" ujarnya sambil berlalu pergi.
Arga benar-benar dalam dilema, disaat dirinya sudah memulai menerima keadaan istrinya, justru dia dihadapkan dengan masalah pelik seperti ini. Arga hanya takut, sampai istrinya tahu mengenai perselingkuhannya. Apakah Amelia bisa menerima itu semua?
to be continued....
__ADS_1