Amelia

Amelia
Episode 103


__ADS_3

"Ternyata takdir sedang berpihak kepadaku!" batin Clara tersenyum bahagia.


"Oh, begitu! Kok Sherly sendiri? Apakah Daddy tidak menjemput?" tanya Clara.


"Hari ini Sherly pulangnya lebih awal. Karena ada rapat mendadak. Sherly sedang menunggu Daddy menjemput," jawab Sherlly.


"Oh, begitu. Bagaimana kita menunggu Daddy sambil makan ice Cream?" bujuk Clara.


"Boleh, dimana kita beli ice Creamnya, Mommy?"


"Tuh, di sana ada!" tunjuk Clara pada Toko seberang jalan.


"Oke, Mom," jawab Sherlly.


Clara menggandeng tangan anaknya, mengajak Sherly untuk memilih rasa ice Cream yang dia suka. Sherly memilih ice Cream rasa coklat. Karena memang dia sangat menyukai sesuatu berbau coklat.


Sherly nampak asyik memakan ice Creamnya. Sesekali dia bercerita dengan Clara tentang masa kecilnya. Dia juga bercerita, kalau dulu dia memiliki kucing yang sangat lucu. Namanya Angel, sayangnya kucing yang sangat dia sayangi meninggal karena sakit. Sherly nampak sangat sedih.


"Jangan bersedih, Sayang. Nanti kapan-kapan Mommy Clara akan mengajak kamu ke rumah Mommy di Australia. Dan Mommy punya banyak kucing di sana. Mereka sangat lucu-lucu. Dan Mommy akan memberikan semua kucing Mommy kepadamu. Kamu boleh mengambilnya semua. Dan ini adalah rahasia kita, Okey!" ucap Clara.


"Benarkah, Mom? Sherly boleh memeliharanya?" tanya Sherly.


"Tentu saja, Sayang. Kamu boleh memeliharanya, sebanyak yang kamu mau? Bahkan kalau kurang, Mommy bisa membelikan untukmu lagi!"


"Hore, Hore," senang Sherly, "Sherly sayang Mommy," ucapnya sambil memeluk tubuh Clara.


"Tapi, Sherly harus berjanji kepada Mommy untuk merahasiakan semua ini?"


"Okey, Mom. Sherly ini anak pintar. Sherly akan merahasiakan semuanya," ucapnya.


"Oya, kenapa Mommy tidak pernah menemui Sherlly selama ini?" tanya Sherly membuat Clara bingung harus menjawab apa.


"Mommy harus bekerja, Sayang. Tempat Mommy kerja sangat jauh, dan tidak boleh pulang. Dan sekarang Mommy ambil cuti, sehingga Mommy boleh menengok Sherly. Mommy bekerja juga kan untuk Sherly. Apapun yang Sherlly mau pasti akan Mommy turuti, sekarang Sherly mau apa?" ujarnya.


"Sherly?" teriak seorang laki-laki yang berdiri tepat di belakang mereka dengan suara baritonnya.


"Daddy!" Sherly nampak terkejut, begitu juga dengan Clara.


Thomas mendekat ke arah Clara dengan tatapan mata yang tajam.


"Bukankah sudah kukatakan padamu, jangan pernah menemui Sherlly lagi!" bentaknya.

__ADS_1


"Tapi, dia adalah anakku. Aku yang melahirkannya," isak Clara.


"Kau memang melahirkannya, tapi, Apakah kau pernah memberikan kasih sayangmu? Atau apa Kau pernah memberikan ASI mu kepadanya? Kau lebih memilih pergi dengan pria itu, dan hidup bahagia dengan keluarga barumu itu," marah Thomas, "Kau jangan egois! Kau bukanlah ibu yang baik untuk Sherly. Sherly sudah bahagia dengan hidupnya sekarang. Jadi enyahlah dari hidup kami," marah Thomas.


"Sherly, Ayo kita pulang!" ajak Thomas.


"Ntar dulu, Dad. Sherly masih mau sama Mommy," ucapnya.


"Tapi, dia bukan Mommy kamu. Mommy kamu Mommy Amelia. Ayo kita pulang!" ajak Thomas dengan menarik tangan Sherlly.


"Thom, Tunggu! Kamu nggak bisa memisahkan seorang ibu dan anak. Aku hanya ingin dekat dengan anakku. Aku juga ingin memberikan kasih sayangku kepada Sherly," ujar Clara.


"Tidak, Sherly tidak membutuhkan kamu. Dia tidak pernah kekurangan kasih sayang," tegas Thomas.


"Sherly, Ayo pulang!" Thomas meninggalkan Clara yang masih berdiri di sana.


Sherly masuk ke dalam mobil dengan raut muka yang sangat kesal. Thomas bisa melihat itu.


"Ayo, Sayang, Berhentilah bermuka masam seperti itu? Aku bukanlah musuhmu, Aku Daddy mu, Sweetie!" bujuk Thomas.


"Daddy jahat! Kenapa Daddy berusaha memisahkan Sherly dengan Mommy? Kenapa Dad?" tanya Sherly sambil menangis.


"Daddy nggak pernah memisahkan kamu dengan Mommy. Daddy hanya nggak mau kamu terlalu dekat dengan Mommy. Kamu kan sudah punya Mommy Amelia?" ujar Thomas.


"Tapi, Sherly mau Mommy yang melahirkan Sherly, Dad! Mommy yang sesungguhnya!" isak Sherly, "Bukan Mommy Amelia. Dia hanya orang lain. Bukan Mommy Sherlly," ucapnya sangat polos.


"Apa yang dikatakan wanita jahat itu. Pasti dia sudah meracuni pikiran Sherly!" batin Thomas.


"Hey, kenapa kau bisa bilang begitu? Selama ini Mommy Amelia selalu menjadi Mommy yang sangat baik buat kamu!"


"Pokoknya, Sherly mau Mommy Clara. Sherly mau Mommy Clara. Sherly mau Mommy Clara!" teriak Sherly di dalam mobil. Thomas yang sedang menyetir mobil jadi kurang konsentrasi.


"Sherly! Hentikan!" bentak Thomas secara refleks. Sherly langsung terdiam tidak bersuara. Thomas benar-benar sangat marah.


"Berhenti kamu menyebut nama itu! Daddy tidak suka!" ucapnya dengan nada agak tinggi.


Tidak terasa mobil yang dikendarai Thomas sampai di depan rumah. Sherly langsung membuka pintu mobil, dan membantingnya.


"Daddy jahat!" teriaknya sangat keras. Kemudian lari ke kamarnya sendiri. Celine yang melihat kejadian itu, sangat terkejut. Karena pasalnya, Sherly tidak pernah bersikap seperti itu.


"Ada apa, Thom?" tanya Celine.

__ADS_1


"Itu, Ma. Tadi saat aku menjemput Sherlly, Thomas melihat Clara di sana. Mereka terlihat sangat akrab. Dan Thomas tidak suka dengan itu!" ucapnya. Celine bisa memaklumi, kenapa putranya begitu membenci Clara. Dia juga tidak bisa menyalahkan putranya begitu saja.


"Dimana Amelia?"


"Amelia ada urusan penting di butik cabang Mall. Mungkin sore dia pulang," jawab Thomas, "Dimana Aska?"


"Dia tidur. Habis makan dan minum susu, langsung tidur," jawab Mama Celine.


"Sudah, kamu makan siang dulu. Nanti urusan Sherly, biar Mama yang tangani!" ujarnya.


"Thomas makan siang di kantor saja, Ma. Thomas langsung ke kantor ya!" pamit Thomas.


"Iya, sudah. Hati-hati!"


Thomas pun kembali ke kantornya dengan perasaan yang tidak tenang. banyak pikiran yang menggelayut di benaknya.


Clara berjalan menaiki lift sebuah hotel, berhenti di lantai tiga, dia keluar dari lift dan berjalan ke ujung lorong. Dia berhenti di depan sebuah kamar, dan mengetuk pintunya.


Tok ... Tok ... Tok


"Sayang!"


"Billy,"


"Bagaimana? Apakah kau berhasil? Kita sudah tidak memiliki waktu?" ujarnya.


"Kamu pikir itu gampang! Aku harus merebut hatinya dulu, baru dia mau menerima ku sebagai Mommy nya," ujar Clara, "Kendala ku adalah Thomas. Aku sangat sulit mengambil kepercayaannya lagi!" ujarnya.


"Mantan suamimu?" tanya Billy.


"Iya, Sayang,"


"Lalu bagaimana rencana kita selanjutnya?" tanya Billy.


"Aku sedang berusaha keras. Kau tenanglah!" ucap Clara sambil menenggak air mineral yang ada di kulkas.


"Aku sedang mencari cara supaya Sherly mau ikut denganku. Dan dia luluh denganku," ujarnya.


"Bagus, Kamu memang bisa diandalkan. Yang terpenting, kamu harus bergerak cepat. Kita sudah tidak mempunyai waktu lagi!" ucap Billy suaminya. Billy adalah suami yang selama ini dinikahi oleh Clara. Seorang pengusaha dari Australia. Dia juga termasuk orang yang kaya raya di negaranya.


to be continued.......

__ADS_1


__ADS_2