
"Mungkin jika keadaanku sudah seperti sedia kala, aku akan bekerja lagi di butik," jawab Amelia, "Ehm, butik baik-baik saja kan?" tanya Amelia.
"Baik kok, Mba!" jawab Rani, "Cuma ada beberapa laporan yang harus Mba Amelia cek,"
"Nanti akan aku cek dari sini," jawab Amelia. Maniknya menoleh ke arah Dicky, dia baru menyadari ternyata Dicky ikut dengan mereka.
"Pak Dicky?" sapa Amelia. Dicky tersenyum dan mendekat ke arah Amelia.
"Maaf, aku baru tahu kalau kau mengalami kecelakaan," ujarnya.
"Tidak apa-apa, Pak," jawab Amelia.
"Ayo silahkan masuk!" ajak Mama Celine, "Kenapa mengobrol di depan?"
"Eh, ibu, Apa kabarnya?" tanya Fifin.
"Alhamdulillah saya sehat," jawab Celine sambil tersenyum.
"Kami semuanya kangen sama Ibu," celetuk Rani.
"Saya juga, Bu!" timpal Fifin. Celine terkekeh melihat semua karyawan-karyawan merindukannya.
Baru mau masuk ke dalam rumah, mobil Thomas masuk dari pintu gerbang. Dia memarkiran mobilnya di halaman rumah. Dengan gaya cool, dia berjalan ke arah sang istri dan merangkulnya.
"Kamu sudah pulang, Mas?" tanya Amelia. Perhatian dan kemesraan yang ditunjukkan Thomas, membuat semua yang ada di sana merasa iri.
"Ehm, iya, Sayang!" Thomas mencium kening sang istri didepan banyak orang. Dicky hanya tersenyum kecut melihat kejadian tersebut.
"Oya, Mas, Mereka datang ingin menjengukku!" ucap Amelia.
"Oh, jadi merepotkan kalian semua. Padahal istri saya sudah tidak apa-apa," terang Thomas.
"Wah, kami tidak merasa direpotkan kok, Pak!" ucap Rani.
"Kalau begitu, Ayo, silahkan masuk!" ajak Thomas kepada semuanya.
"Ayo kita masuk! Jangan sungkan-sungkan, anggap rumah sendiri!" ajak Celine.
"Silahkan Pak Dicky!" Thomas mempersilahkan Dicky masuk ke dalam.
"Terima kasih banyak!" jawab Dicky.
Di ruang tamu mereka berbincang hangat, sambil menikmati minuman dan cemilan yang disuguhkan pelayan untuk mereka. Lumayan lama mereka bercengkrama. Karena hari sudah terlalu sore, mereka semua memutuskan untuk pulang. Amelia sangat berterima kasih atas kunjungan dan perhatian mereka terhadapnya.
"Semoga lekas sembuh ya, Mba!" ucap Fifin dan Rani secara bersamaan. Disusul karyawan yang lain, kemudian Dicky.
"Cepat sembuh ya!" ucapnya. Namun mendapat tatapan mata tidak suka oleh Thomas.
"Terima kasih banyak, Pak Dicky!" jawabnya. Dicky menganggukkan kepalanya.
"Kamu tidak perlu tersenyum semanis itu di depan Dicky," ucap Thomas, saat mobil Dicky sudah tidak terlihat.
"Kenapa?" tanya Amelia, namun Thomas berlalu masuk ke dalam rumah dan meninggalkan istrinya begitu saja. Amelia tahu kalau sang suami sedang cemburu. Dia pun bergegas menyusul sang suami.
Thomas sedang melepaskan pakaiannya di kamar, badannya terasa gerah dan lengket, dia ingin mandi dan berendam di dalam bathtub. Dari arah belakang Amelia membantu melepaskan pakaian sang suami.
"Apakah Mas cemburu?" tanya Amelia.
__ADS_1
"Tidak," jawabnya.
"Beneran?"
"Kenapa aku harus cemburu?"
"Tapi aku bisa merasakan kalau Mas sedang cemburu," ujarnya.
"Aku hanya tidak suka melihatmu tersenyum kepada pria lain," jawabnya.
"Mas, Aku tersenyum bukan hanya untuknya. Aku juga tersenyum kepada Mba Rani, Fifin dan karyawan lainnya. Masa aku harus bermuka masam?" protes sang istri
"Tapi aku nggak suka, Sayang! Bibir ini, hidung ini, mata ini dan semua yang ada padamu hanya untukku seorang. Kau mengerti?" ucap suaminya.
"Ck, Mas ini! Jika semuanya untukmu lalu untuk Aska mana?"
"Aska hanya membutuhkan ini saja, jadi, berikan yang ini saja! Dan selain itu adalah milikku seorang!" ucap suaminya menunjuk sumber kehidupan sang buah hati.
"Dasar mesum! Sana mandi!" suruh Amelia, Thomas terkekeh geli.
Thomas menarik pinggang Amelia, membuat tubuh Amelia terjerembab ke pelukan sang suami. Thomas mencium bibir sang istri dengan lembut, menyesapnya sangat dalam, hingga bertukar air liur. Amelia sangat menikmati ciuman dan ******* suaminya, hingga tanpa sadar kedua buah hatinya sudah berdiri diambang pintu.
"Mommy?" panggil Sherly sambil menutup matanya.
"Mommy?" panggil Aska juga ikut-ikut Sherly menutup matanya. Amelia mendorong tubuh suaminya, hingga terjungkal ke belakang.
"Auw," pekik Thomas, membuat kedua buah hatinya tertawa terbahak-bahak. Mereka pikir Daddy-nya sedang membuat lelucon yang menggelikan.
"Sayang, Kenapa harus mendorong sih?" kesal Thomas. Dia berdiri dan memegang pantatnya yang sakit.
"Dasar pengganggu kecil!" Thomas berlari mengejar kedua buah hatinya, dan menggelitik perut mereka satu-persatu. Mereka terkekeh geli, dan meminta bantuan kepada sang Mommy.
"Mas, Sana Mandi!" suruh istrinya, "Ini sudah sore, Mas!" omel Amelia sambil berkacak pinggang.
"Kasian Daddy, diomelin Mommy!" ejek Sherlly.
"Weeee!" ledek Sherly menjulurkan lidahnya, diikuti oleh Aska.
"Awas ya kalian, nanti Daddy gelitik lagi!" sungut Thomas. Mereka langsung berlari ke belakang Mommynya. Thomas menyambar handuk dan langsung masuk ke kamar mandi.
"Sayang, sudah mandi belum?" tanya Amelia kepada kedua buah hatinya.
"Sudah dong, Mom. Sherly sudah wangi!" jawab Sherlly.
"Aka uga angi," jawab Aska dengan suara cadelnya, menunjukkan ketiak dan seluruh tubuhnya yang wangi. Amelia terkekeh geli melihat tingkah lucu kedua buah hatinya.
🍀🍀🍀🍀🍀
Hari ini Alina merengek meminta makan sate kepada sang suami, padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Bukannya Bram tidak mampu membeli, namun melihat keadaan yang kurang aman, membuatnya enggan untuk keluar rumah.
Bram sudah menyarankan istrinya agar memesan saja lewat aplikasi, namun Alina bersikeras ingin memakan sate ditempatnya. Mendengar rengekan sang istri, akhirnya Bram tidak tega. Dia pun menuruti keinginan sang istri.
Bram menjalankan mobilnya melewati gerbang, dia melajukan dengan kecepatan sedang. Berkeliling ke pusat kota mencari penjual sate yang masih buka.
Berhentilah Bram disebuah warung sate yang cukup ramai. Bram dan Alina turun dari mobil, mencari tempat yang nyaman untuk duduk. Mereka duduk di dekat jendela, dari sana mereka melihat dengan jelas jalanan yang ramai.
Bram memesan dua porsi sate dengan ketupat. Alina menikmati satenya dengan sangat lahap. Satu porsi sate tandas tanpa sisa.
__ADS_1
"Ah, kenyangnya!" ucap Alina sambil mengusap-usap perutnya yang sudah terlihat buncit.
"Mau tambah lagi?" tawar Bram.
"Nggak, Bang! Aku sudah kenyang," jawabnya.
"Baiklah kalau begitu, kita langsung pulang ya!"
"Iya, Bang!" jawab istrinya dengan anggukan kepala.
Bram melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju rumah. Ditengah jalan ada sebuah mobil yang menyelip dan berusaha memepet mobilnya. Bram yang sadar ada seseorang yang mengikuti, dia pun berusaha untuk menambah kecepatan mobilnya. Aksi saling menyalip terjadi, membuat Alina berteriak ketakutan dengan memagangi perutnya.
"Aaaaaaaa, Aku takut, Bang!" jerit Alina.
"Sabar, Sayang!" ucap Bram, "Telepon Bang Thomas. Katakan kepadanya kalau kita sedang diikuti seseorang!" suruh Bram kepada Alina.
"Bbbaik, Bang!" jawab Alina.
Dret .... Dret ..... Dret
Alina mendial nomor kakaknya, dan syukurlah langsung tersambung dengan sang kakak.
"Hallo, Al, Ada apa? Kenapa kau menelpon Kakak dirumah?" tanya Thomas. Karena memang Thomas tidak tahu kalau Bram dan Alina sedang ke keluar.
"Kak, Tolong kami!" ucap Alina.
"Kau kenapa?" teriak Thomas, terkejut karena mendengar suara Alina ketakutan. Amelia yang kebetulan berada dekat dengannya, dia langsung mendekat ke arah sang suami.
"Kami ada di luar rumah. Sekarang kami sedang dikejar seseorang yang tidak dikenal," ucap Alina terbata.
"Kau sekarang berada di mana?" tanya Thomas.
"Jalan Perintis, Bang! Cepatlah kemari!"
Tut .... Tut .... Tut
Alina mengakhiri panggilannya secara sepihak, karena mobil yang sedang dikendarai suaminya sedang dipepet oleh mobil itu.
"Ada apa, Mas?" tanya Amelia khawatir. Thomas langsung mengganti bajunya dan menyambar jaket dan kunci mobil.
"Sayang, Bram dan Alina dalam bahaya!" ucapnya.
"Apa?"
"Aku harus menolongnya," jawab Thomas.
"Aku ikut,"
"Sayang, ini berbahaya!"
"Tapi aku nggak mau terjadi apa-apa dengan kamu, Mas?"
"Aku aktifkan GPS nya. Jika dalam waktu satu jam aku tidak kembali, telepon polisi! Kau mengerti!"
"Baik, Mas!" Amelia menganggukkan kepalanya. Mobil Thomas langsung melesat cepat ke alamat yang Alina kirim.
to be continued......
__ADS_1