
"Bang Thomas!" panggil Bram saat memasuki kantor polisi. Dicky dan Bram baru saja datang.
"Bram, Dicky!"
"Bang, Dicky sudah tahu alamat Diego!" ucap Bram.
"Benarkah?"
"Iya, Pak. Saya dari tadi mencari Anda di Perusahaan. Tapi Anda tidak ada di sana!"
"Apakah benar yang dikatakan Bram?"
"Iya, Pak. Saya tahu dari dua orang pelayan. Katanya, merekalah yang mengantarkan pesanan baju pengantin ke rumah Diego!"
"Kalau begitu, Ayo kita ke sana!"
"Ayo!"
"Pak Polisi!"
"Iya, Saya akan ikut dengan Anda!"
Mereka pun langsung menuju ke alamat Diego. Dua mobil polisi mengekor dibelakang mobil Thomas, Bram dan Dicky.
Amelia sedang berfikir. Langkah apa yang harus dia ambil selanjutnya. Dia tidak mau menikahi Diego. Dia juga tidak mau ke Bali. Dia ingin selalu bersama anak-anaknya.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti saat lampu lalu lintas berwarna merah. Nampak Diego sedang konsentrasi bermain gawai pintarnya. Sedangkan sopir, sedang konsentrasi melihat ke arah lampu lalu lintas. Menunggu lampu berwarna hijau.
Dengan sigap, Amelia membuka handle pintu mobil. Diego dengan cepat pula memegangi lengan Amelia. Namun, dengan kekuatan yang tersisa pada ibu dua anak itu. Amelia mendorong tubuh Diego hingga terdorong ke belakang. Amelia juga sempat menendang barang berharga milik Diego. Membuat Diego mengerang kesakitan. Dia memegangi, terong Afrika miliknya dengan sekuat tenaga. Akibat tendangan Amelia yang begitu keras.
"Wanita sialan!" umpatnya.
Amelia langsung keluar dari mobil Diego. Dia tidak perduli dengan jalan raya yang ramai. Dia terus berlari.
Diego menyuruh sopirnya untuk mengejar. Anak buah Diego yang ada di mobil satunya juga ikut mengejar.
Amelia terus berlari. Padahal lampu lalu lintas sudah berwarna hijau. Dia tidak perduli dengan mobil-mobil yang melintas. Dia hanya butuh lari dan pergi dari Diego sejauh-jauhnya.
Aksi kejar-kejaran menjadi pusat perhatian. Menjadi sebuah tontonan yang menarik bagi pengendara lain. Ada yang bertanya, ada pula yang penasaran ingin tahu apa yang sedang terjadi. Ada juga yang mengunggahnya di channel YouTube. Dan kejadian itu ramai diperbincangkan di dunia Maya.
Amelia terus berlari, dia membuang kedua sepatunya entah kemana. Dia hanya ingin berlari cepat. Tidak perduli kakinya lecet akibat berlari jauh. Hingga dia berhenti di depan taksi, dia langsung masuk dan menyuruh sang sopir untuk berjalan.
"Cepat, Pak. Jalan!" Amelia berusaha keras mengatur nafasnya akibat berlari tadi.
__ADS_1
"Baik, Nona!"
Anak buah Diego gagal mengejar Amelia. Mereka tahu ini tidak baik untuk mereka. Mereka pun kembali ke mobil. Dimana banyak orang membunyikan klaksonnya. Menyampaikan aksi protesnya, kepada mobil yang berhenti ditengah jalan raya yang tidak kunjung berjalan. Dan itu sudah membuat jalanan sangat macet.
Mereka segera masuk ke dalam mobil. Sedangkan sopir Diego, segera menepikan mobilnya ke tepi jalan. Diego memerintahkan semua anak buahnya mengikuti Amelia. Dia tidak mau sampai harus kehilangan Amelia. Calon istri yang sebentar lagi akan dinikahinya.
"Sial! Brengsek!" murka Diego.
Diego mendial nomor anak buahnya yang ada di rumah. Dia memerintahkan untuk menghabisi kedua anak Amelia. Namun saat ditelepon, mereka semua tidak ada yang mengangkat. Membuat Diego semakin murka.
"Pak, Anda tidak apa-apa?"
"Cepat Kau juga harus mengejar calon istriku! Aku tidak mau harus sampai kehilangan dirinya!" bentak Diego.
"B-baik, Pak!"
Pak Sopir segera melajukan mobilnya mengejar taksi yang ditumpangi oleh Amelia.
Amelia menyuruh Pak Sopir untuk berhenti di sebuah terminal. Dia tidak mau kembali ke rumah. Karena itu akan membahayakan ke dua anaknya. Setelah membayar taksi, dia berlari menuju tempat pembelian tiket bis. Uangnya tinggal sedikit, dia juga lupa untuk makan dan minum. Dia membeli tiket untuk keluar dari kota tersebut. Bahkan dia sendiri tidak tahu tujuannya sekarang. Yang terpenting dia pergi untuk lari dari Diego. Pergi sejauh-jauhnya.
Dalam perjalanan Bripda Nadhif mendapatkan laporan dari anak buahnya, bahwa dia mendapatkan informasi dari Chanel YouTube yang sedang ramai di dunia Maya. Dua mobil yang mencurigakan berhenti di tengah jalan pada pukul 7 malam, dan membuat jalanan macet. Banyak pengguna jalanan lain, protes kepada orang-orang mencurigakan itu.
Dan yang paling hangat diperbincangkan. Seorang wanita berlari dari mobil tersebut. Seperti orang yang ketakutan. Dia lari tunggang langgang, tidak tentu arah. Entah kemana tujuannya seperti orang kebingungan.
Bripda Nadhif meminta anak buahnya untuk mengirim video CCTV di jalan tersebut.
Lima menit kemudian, video terkirim. Bripda Nadhif memperbesar wajah wanita yang ada pada Video. Dan hasilnya cocok dengan foto yang diberikan Thomas tempo hari. Anak buah Bripda Nadhif juga mengirimkan tujuan taksi yang ditumpangi wanita tersebut, dan mereka bisa mengira dengan jelas bahwa tujuannya adalah terminal.
"Kita bagi menjadi dua kelompok! Kalian ikuti mobil Thomas. Saya akan langsung menuju terminal. Saya yakin pasti tujuan taksi ini adalah terminal!" perintah Bripda Nadhif kepada anak buah di mobil satunya, "Tapi mengapa dia lari ke terminal? Kenapa tidak meminta perlindungan ke keluarga atau ke kantor polisi?" gumam Bripda Nadhif.
"Apakah wanita ini dalam tekanan atau memang dia sengaja mengecoh seseorang?" batinnya.
Mobil yang ditumpangi Bripda Nadhif berjalan membelok ke arah yang berlainan. Dengan kecepatan tinggi dia mengendarai mobilnya menuju terminal.
Amelia merasa sangat ketakutan di dalam bis. Dia mengambil pisau buah yang dia simpan di dalam tasnya. Ia tutupi dengan tasnya. Sesekali ia menyeka keringatnya yang bercucuran deras. Menoleh ke arah kaca jendela, kalau-kalau nampak pria berpakaian serba hitam. Dia akan langsung lari.
__ADS_1
Matanya tidak berhenti. Meskipun sangat mengantuk, dia harus terus terjaga.
Amelia melihat dua orang bertubuh kekar, memakai pakaian serba hitam. Jaket hitam. Sepatu juga hitam. Dia mulai panik, dan turun dari bis itu.
"Mereka tidak boleh menemukan ku! Aku harus pergi jauh!" isaknya.
Amelia berjalan. Melangkahkan kakinya, menjauh dari bis. Seorang kondektur memberitahukan bahwa busnya sebentar lagi akan berangkat. Amelia tidak mengindahkan kata-kata tersebut. Dia berjalan cepat, menjauhi bis dan berbelok ke arah kerumunan orang.
Saking ketakutannya, dia mundur. Dan menabrak orang yang ada di belakangnya. Amelia terbelalak melihat siapa yang ditabraknya. Dia mundur selangkah, dan menodongkan pisau tersebut ke arah pria bertubuh kekar tersebut.
"Bu Amelia! Syukurlah!" senang Bripda Nadhif.
"Jangan mendekat! Aku bilang jangan mendekat! Aku tidak mau ikut kalian!" teriak Amelia ketakutan.
"Tenang, Bu!"
Semua orang berteriak karena melihat seorang wanita menodongkan senjata tajam.
"Tenang, tenang, tenang, Bu. Saya polisi!"
"Menjauh!" menodongkan pisau tersebut kepada Bripda Nadhif.
Semua orang panik, bahkan berteriak penjahat ke arah Amelia. Amelia menutup telinganya dengan kedua tangan. Dia tidak mau dikatakan sebagai penjahat. Justru merekalah yang penjahat.
Bersambung ...
Mana dukungannya??????
Like..
Vote ...
Bunga..
Kopi ..
__ADS_1