Amelia

Amelia
Episode 143


__ADS_3

"Thomas, Siapa mereka?" cemas Celine, mukanya sangat panik karena ada satu mobil yang mengejar mobil mereka.


"Thomas nggak tahu, Ma. Lebih baik Mama menghubungi polisi!" ucap Thomas.


"Iya, Thom,"


Aksi saling menyalip terjadi, Celine yang hendak menghubungi polisi, tiba-tiba terhenti saat maniknya melihat arah jurang yang curam di depan sana.


"Thom, hati-hati!" tutur sang Mama.


Chieeeeettttttt ...


Brukkk ...


Brakkkk ...


Booomm ...


Mobil Thomas terguling ke jurang. Terbakar dan meledak di tempat. Seorang pria menyunggingkan senyum lebar, diatas jurang curam itu.


"Auw," pekik Amelia menahan sakit terkena pisau, saat dirinya sedang mengupas alpukat.


"Mommy, Kenapa?" tanya Sherly.


"Mommy kena pisau, Sayang,"


"Sakit nggak, Mom?"


"Nggak kok," sahutnya sambil tersenyum. Amelia tahu jika dia berkata jujur, pasti kedua buah hatinya akan khawatir. Selesai mengobati lukanya, dia kembali melanjutkan pekerjaannya, yaitu membuat jus untuk kedua buah hatinya.


"Sayang, jusnya sudah jadi!"


"Asyik. Aka au, Mom!"


"Sherly juga mau, Mommy,"


"Kita kasih susu pasti akan terasa sangat enak,"


"Asyik,"


"Ini buat kalian,"


Sembari menunggu kedua buah hatinya menikmati jus buah alpukat, Amelia kembali menghubungi nomor suaminya. Namun yang menjawab suara operator telepon.


"Tadi aktif. Sekarang justru tidak aktif. Mas Thomas kemana sih?" gumam Amelia mulai panik.


"Aku telepon Mama saja kalau begitu," pikirnya. Amelia mendial nomor Mama mertuanya. Nomor Mama mertuanya juga tidak aktif. Semakin bertambalah kegelisahan Amelia.


"Assalamualaikum!" sapa seseorang dari pintu masuk.

__ADS_1


"Walaikumsalam,"


"Kakak ipar!" panggil Alina begitu bahagia. Dia langsung memeluk tubuh kakak iparnya.


"Alina. Senang bisa melihatmu lagi. Kau tahu aku kesepian di rumah, jika tidak ada kamu. Hanya dua bocah ini pelipur hatiku,"


"Loh, Bang Thomas dan Mama kemana, Kak?" tanya Bram.


"Mama ada acara reunian. Dan Mas Thomas yang mengantarkan. Tapi, aku heran jam segini mereka kok belum pulang," cemas Amelia.


"Apakah Kakak sudah menelfon Kak Thomas?"


"Sudah dari tadi, Al. Tapi nomornya malah tidak aktif,"


"Coba aku hubungi!" Bram mencoba untuk menghubungi nomor Thomas, namun benar juga nomornya tidak aktif.


"Belum aktif, Kak,"


"Tuh kan!"


"Sudah ya, Kak. Jangan cemas, aku yakin mereka baik-baik saja kok!" tutur Alina.


"Semoga seperti itu, Al. Kakak sangat menghawatirkan kakak kamu dan juga Mama,"


"Oya, Ini aku ada oleh-oleh dari Bandung!" Alina menyerahkan paper bag berisi oleh-oleh. Aska dan Sherly begitu bahagia mendapatkan oleh-oleh dari Tante kesayangannya. Dua buah boneka Boba yang bisa kelap-kelip karena didalamnya terdapat lampu warna-warni. Mereka nampak sangat senang menerima hadiah itu.


"Terimakasih, Al," ucap Amelia.


"Sama-sama,"


"Kamu pasti lelah, sebaiknya kamu istirahat dulu. Kalau ada kabar dari Mama dan Mas Thomas akan aku kabari!"


"Baiklah, Kak. Kami ke kamar dulu ya!"


to be continued ....


☄️☄️☄️☄️☄️


Ayo mampir ke "ISTRIKU BERBEDA"


Michelle bisa bernafas lega setelah mengetahui hasil tesnya negatif. Namun dia masih belum tenang, sebelum mendengar penjelasan langsung dari suaminya yang masih terpejam di tempat tidur. Mungkin efek obat yang disuntikkan Dokter ke tubuhnya.


Sembari menunggu suaminya siuman, Michelle mengambil wudhu dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, sholat subuh dua rakaat. Dia menangis sedih di atas sajadahnya dengan linangan air mata. Dia bingung harus berbuat apa. Dilain sisi dia merasa tidak tega meninggalkan suaminya begitu saja, di sisi lainnya hatinya masih merasa sakit dan hancur.


Sayup-sayup Nathan mendengar suara seseorang melantunkan ayat suci Al-Quran. Suaranya sangat merdu mendayu-dayu. Dia mengerjapkan matanya, dan mencari suara merdu tersebut. Ternyata itu adalah suara indah istrinya.


"Michie!" panggilnya terbata. Michelle yang mengetahui Nathan sudah terbangun, dia mendekati tempat tidur suaminya.


"Apakah Mas membutuhkan sesuatu?" tanya Michie.

__ADS_1


"Minum," pintanya.


"Minum?" Michie langsung mengambil air mineral yang berada di atas nakas. Dia membantu Nathan untuk duduk, dan meminum airnya.


Glek ... Glek ... Glek


Satu gelas air putih tandas tidak tersisa. Michelle kembali meletakkan gelas tersebut di atas nakas.


"Bagaimana keadaanmu, Mas? Apakah jauh lebih baik?" tanya Michelle. Nathan mengangguk pelan.


"Terima kasih banyak," ucapnya lirih namun masih bisa terdengar di telinga Michie.


"Kamu harus fokus untuk kesembuhan kamu dulu, Mas," ujar istrinya. Seketika Nathan menundukkan kepalanya karena merasa sangat malu.


"Maafkan aku," ujarnya lirih. Michelle menghela nafasnya panjang.


"Bagaimana bisa kamu terjangkit penyakit itu, Mas?" tanya Michelle. Nathan menundukkan kepalanya. Dia benar-benar tidak berani menatap istrinya. Rasa malu yang luar biasa, yang sekarang dia rasakan.


"Ini semua karena Dewi," jawab suaminya lirih. Sontak Michelle terkejut.


"Dewi? Apakah Dewi ...?" Nathan menganggukkan kepalanya.


"Aku bersumpah, aku hanya melakukannya dengan Dewi," terangnya. Michelle melangkah mundur. Sakit, itulah yang sekarang dia rasakan. Apakah ini adalah sebuah karma yang diberikan Allah untuk mereka? pikir Michelle.


"Jadi, Dewi juga ...?"


"Sudahlah, jangan membahas itu lagi. Aku benar-benar menyesal. Aku mohon maafkan aku. Aku bersalah, aku sangat bersalah. Sekarang aku menerima karmaku," isaknya sedih, "Jika memang kau akan pergi dari hidupku, Aku siap, aku ikhlas, aku akan membebaskanmu," ujarnya dengan linangan air mata.


Perih, sedih, sesak dan kebimbangan itulah yang sekarang Michelle rasakan. Bagaimana tidak, pernikahan yang hampir lima tahun ia jalani dengan sang suami, sekarang sedang diujung tanduk. Michelle bingung harus menjawab apa, dia hanya terdiam melihat Nathan menyesali perbuatannya.


"Berhentilah menyalahkan diri sendiri, Mas. Percuma saja kamu menyalahkan diri sendiri. Semuanya juga sudah terjadi. Yang terpenting kamu harus bertaubat, Mas. Mohon ampun kepada Allah. Karena perbuatan zina di dalam agama tidak dibenarkan!" tutur Michelle.


"Maafkan, Aku. Aku memang bersalah. Aku berdosa. Maukah kau mengajariku!" pinta Nathan.


"Aku bukanlah ustadzah. Aku juga sedang proses belajar. Kalau kamu mau, aku bisa mendatangkan seseorang untuk kamu sharing!" ucap Michelle.


"Iya, aku mau," jawab Nathan, "Aku ingin berubah. Aku ingin bertaubat. Aku menyesalinya, Michie," isaknya lagi. Michelle menghela nafasnya berat.


Sudah tiga hari berlalu, Nathan di Rumah Sakit. Michelle terpaksa harus ambil cuti, karena tidak mungkin juga dia membiarkan suaminya sendiri di Rumah Sakit.


Semua keperluan suaminya ia yang menyiapkan. Dari makan, minum obat, sampai pergi ke kamar mandi. Michie juga membantu suaminya untuk membersihkan tubuh dan mengganti bajunya.


"Terima kasih banyak," ucap Nathan lagi.


"Sama-sama. Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang istri," jawab Michelle tersenyum manis, "Oya, Mas. Nanti sore, salah satu temanku akan datang. Semoga dengan kedatangannya, hatimu bisa lebih terbuka dan bisa mengambil pelajarannya," tutur Michelle.


"Baiklah, nanti mas coba ya," jawab Nathan lebih lembut. Michelle hanya mengulas senyum.


to be continued....

__ADS_1


__ADS_2