
Alina mengerjapkan matanya, kepalanya terasa sangat pusing. Melihat sang istri sudah sadar, Bram sangat bahagia.
"Sayang, Kau sudah bangun?" Bram mengecup kening istrinya.
"Al, ada dimana, Bang?" tanyanya.
"Kamu ada di Rumah Sakit, Sweetie!"
"Rumah Sakit? Ah, Alina ingat! Tadi malam Alina terpeleset, Bang. Lalu, perut Alina sakit sekali dan darah merembes dari pangkal paha Alina, Bang!" ucap Alina.
"Iya, Sayang. Kamu pendarahan," sahut suaminya.
"Maksud Abang?"
"Kamu sedang hamil, Sayang?"
"Hamil? Abang jangan bercanda?"
"Iya, benar. Dokter sendiri kok yang mengatakannya?"
"Jadi, perkiraan ku benar. Aku hamil. Di dalam perutku akan ada bayi," batin Alina. Dia sangat senang, akhirnya yang ditunggu-tunggu sudah hadir diperutnya.
"Kata Dokter kandungan kamu lemah, Sayang. Jadi, kamu tidak boleh terlalu capek dan stress!" tutur Bram.
"Akhirnya kita akan menjadi orang tua, Bang?" senang istrinya.
"Iya, Sayang. Kau bahagia kan?"
"Tentu saja, aku sangat bahagia," senangnya.
Tok .... Tok ... Tok
"Assalamu'alaikum?"
"Walaikumsalam," jawab Bram dan Alina serentak.
"Alina?"
"Kakak ipar?"
Thomas, Amelia yang menggendong Aska dan juga Sherly datang mengunjungi Alina. Setelah tahu bahwa Alina di RS, mereka langsung datang menjenguk.
"Maaf kami baru tahu kalau kau di Rumah Sakit!" ucap Thomaz.
"Tidak apa-apa, Kak. Lagian juga sudah larut malam, tidak mungkin kan Alina membangunkan kalian di tengah malam?"
"Bagaimana keadaan mu sekarang? Mama sudah cerita kalau kau sedang hamil. Benarkah itu?" tanya Amelia.
"Iya, Kak. Dokter yang mengatakannya," jawab Alina, "Tapi .... !" Alina menjeda kalimatnya.
"Tapi, Kenapa?"
"Kandunganku lemah," jawab Alina sambil memegangi perutnya yang masih rata.
"Tidak apa-apa. Kau harus lebih berhati-hati sekarang. Tidak boleh terlalu capek dan stress,"
"Terima kasih banyak ya, Kak!"
"Apakah Mama tidak ikut?"
"Semalam dia menunggu kamu di Rumah Sakit, Sayang. Pagi-pagi sekali aku menyuruhnya pulang. Kasihan juga dia terlihat kelelahan," jelas Bram.
"Oh, begitu!"
__ADS_1
"Kenapa Tante bisa di Rumah Sakit?" tanya Sherly tiba-tiba.
"Tante sedang sakit," jawab Bram.
"Sakit apa? Apakah Tante demam?" mereka saling berpandangan, kemudian tersenyum.
"Tante Alina terpeleset di kamar mandi. Dan dia harus di bawa ke Rumah Sakit," jelas Bram.
"Kenapa kalau terpeleset saja harus dibawa ke Rumah Sakit? Sherly saja kalau terpeleset dan terluka, diobati dengan Betadine saja sembuh. Kenapa Tante harus dibawa ke RS? Apakah lukanya sangat besar?" tanya Sherly sangat polos, Alina terkekeh geli.
"Sudahlah ngomong sama kamu capek," jawab Bram, "Pokoknya Tante Alina ada Dede bayinya di dalam perut, itu kenapa harus di bawa ke RS,"
"Benarkah? Asyik! Berarti Sherly mau punya adik lagi?"
"Iya, Sayang," jawab Bram, "Om, capek ngomong sama kamu! Sherly bawel kayak Oma,"
"Biarin!" manyun Sherlly cemberut.
"Wah, selamat ya, Al. Kamu akan jadi orang tua," ucap Amelia memberikan selamat.
"Terima kasih, Kak,"
"Akhirnya Bram akan punya anak. Aku pikir Kau impoten!" ucap Thomas tertawa terbahak-bahak.
"Sialan Kau, Bang!"
"Siapa bilang dia impoten? Miliknya seperti anaconda yang siap memangsa lawan!" ucap Alina kalau mengingat benda keramat milik suaminya yang berdiri dengan gagahnya.
"Tapi, enakkan, Sayang?" goda Bram.
"Kalian sebenarnya ngomongin apa sih? Kenapa pikiran kalian jadi mesum? Disini ada Sherly dan Aska!" kesal Amelia.
"Ha ... Ha ... Ha." tawa semuanya.
"Mas, Ayo kita pulang? Sepertinya Aska mengantuk!" ajak Amelia.
"Baiklah, Ayo kita pulang!"
Setelah berpamitan dengan Bram dan Alina, mereka pun memutuskan untuk pulang.
Thomas menjalankan mobilnya meninggalkan Rumah Sakit. Aska juga mulai mengantuk, di dalam mobil dia tertidur di pangkuan istrinya.
"Mom, Sherly juga mau adik lagi dong?" pinta Sherly tiba-tiba. Amelia dan Thomas saling berpandangan, kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Kamu kan sudah ada Aska! Kenapa harus minta adik lagi?" tanya Amelia.
"Aku ingin adik cewek, Mom. Nanti Sherly akan mengajaknya bermain boneka berbie," ujarnya.
"Bermain sama Aska kan bisa, Nak?" ucap Thomas.
"Aska kan cowok, Dad. Masa disuruh main boneka?" manyun Sherly.
"Pokoknya Daddy sama Mommy harus bikin adik cewek untuk Sherly!" pinta Sherly.
"Hah," mereka saling berpandangan.
"Ck, dia pikir bikin bayi itu sama dengan bikin tahu!" batin Amelia.
"Sayang, kita memang harus bikin Dede lagi deh buat Sherly dan Aska," bisik Thomas.
"Jangan berpikiran macam-macam deh, Mas. Aska saja baru berusia satu tahun, masa harus punya adik!" cemberut istrinya.
"Lho, kenapa? Temanku saja satu tahun sekali bikin anak. Sekarang anak mereka berjumlah sebelas, selisihnya cuma satu tahun saja," jawab Thomas.
__ADS_1
"Mas, Aska masih terlalu kecil untuk memiliki adik!" ucap Amelia, "Sebelum Aska berusia tiga tahun, aku akan menundanya terlebih dahulu!"
"Iya, iya. Tapi kalau telanjur jadi nggak masalah kan, Sayang?" goda Thomas.
"Ck,"
"He .... He ... He." Thomas terkekeh geli melihat istrinya manyun.
Tidak terasa, mobil yang mereka tumpangi sampai di depan rumah, Thomas membantu istrinya membopong tubuh mungil putranya. Semakin hari, wajah Aska semakin mirip dengannya. Itu membuat suatu kebanggaan tersendiri bagi dirinya.
"Terima kasih, Mas," ucap Amelia.
"Sama-sama, Sayang," ucap Thomas tersenyum.
"Sherly, mandi dulu, baru makan siang!" suruh Amelia.
"Yes, Mom!" Sherly berlari ke kamar.
Thomas menidurkan putranya di tempat tidur. Dia memandangi wajah Aska yang tertidur dengan pulas. Semakin hari, wajah Aska semakin menggemaskan. Pipinya gembul, hidungnya mancung seperti Daddy-nya, dagunya mirip sekali dengan Amelia. Perpaduan yang sangat kontras. Berkali-kali Thomas menciumi wajah putranya. Namun sang empunya masih terlelap tidur.
"Sayang, sepertinya kita harus membeli tempat tidur baru untuk Aska," ucap Thomas, "Kaki Aska semakin panjang, bahkan box bayinya sudah tidak muat,"
"Iya, Mas. Aska cepat sekali tinggi, makanya boxnya sudah tidak cukup!"
"Bagaimana kalau kita pesan tempat tidur anak-anak, Sayang?"
"Boleh, terserah kamu saja, Mas!"
"Besok aku akan memesannya, dan akan aku taruh di sana!" tunjuk Thomas.
"Terserah kamu saja, Mas, enaknya gimana!"
"Okey, nanti besok aku akan memesan tempat tidur anak. Dan akan aku taruh disini. Setelah usianya cukup, nanti akan aku buatkan kamar sendiri untuk Aska," tutur Thomas, "Bagaimana menurut kamu, Sayang?"
"Aku sih setuju saja," jawab Amelia, "Iya sudah, Aku akan menyiapkan makan siang dulu!"
"He'em,"
Dilain sisi, hubungan Ratih dan Arga menjadi dekat kembali karena sering bertemu. Setiap dua Minggu sekali, Ratih meminta mantan suaminya untuk membawa Keyla ke taman. Karena sebagai seorang ibu, dia merasakan rindu dengan putrinya.
Diam-diam Arga mengagumi Ratih yang sudah berubah drastis. Ratih lebih lembut dan sangat perhatian dengan Keyla. Sekarang pun penampilan Ratih juga sudah berubah, dia lebih anggun dengan menggunakan hijab dan pakaian tertutup.
"Ratih?"
"Iya, Mas,"
"Kau tahu kan, kalau anak sekecil Keyla masih sangat membutuhkan kasih sayang kedua orangtuanya. Jika aku mengajakmu kembali rujuk, Apakah kamu bersedia?" tanya Arga kepada Ratih.
"Tapi, Mas. Aku wanita kotor. Aku hina, Mas. Tolong pikirkan niat kamu untuk kembali rujuk denganku!"
"Itu sudah menjadi masa lalu, Ratih! Aku mohon lupakanlah semuanya!" ucap Arga.
"Tapi, Mas. Untuk apa mempertahankan wanita seperti aku?"
"Karena aku masih mencintaimu, Ratih. Aku berjanji akan menjadi suami dan ayah yang baik buat kamu dan Keyla. Aku tidak akan membandingkan kamu dengan wanita lain. Dulu, aku memang bersalah. Sekarang aku ingin memulainya dari awal. Apakah kau bersedia?" tanya Arga.
"Tapi, bagaimana dengan Ibu? Dia tidak akan setuju, Mas?"
"Kamu tenang saja. Aku akan membicarakan masalah ini dengan ibu. Aku yakin, jika untuk kebaikan Keyla pasti ibu menerima kamu kembali," ujar suaminya mencoba untuk meyakinkan Ratih.
"Baiklah. Aku bersedia, Mas!"
Arga begitu bahagia, mendengar jawaban mantan istrinya.
__ADS_1
to be continued.........