
"Aku yakin, korban kecelakaan itu adalah orang tua Bram. Tapi, apa hubungannya dengan keluarga Williams?"
"Ah, tentu saja ada hubungannya. Mama Celine dan Almarhum Papa kan yang mengadopsi Bram," monolognya sendiri.
"Eh, tunggu. Kenapa Mama juga menyimpan koran lain? Ini juga berita kecelakaan!" gumam Amelia.
"Hoam, sudah malam! Sebaiknya aku tidur, aku bisa kesiangan kalau begini!"
Amelia menyimpan semua koran-koran bekas tersebut di lemari kecil. Setelah membersihkan muka dan menggosok giginya, barulah dia naik ke ranjang dan tidur sambil mendekap putranya.
Thomas mengerjapkan mata kala sinar matahari menyeruak masuk dan mengenai maniknya. Dia mengamati setiap sudut ruangan itu. Ruangan yang hanya berukuran 7x9 meter saja. Bahkan jika dibandingkan dengan kamar mandinya, ruangan ini tidak ada apa-apanya.
Thomas berusaha untuk bangun, namun seluruh badannya terasa sangat sakit. Banyak sekali luka yang belum mengering, ditambah dengan luka memar di sekujur tubuhnya.
Thomas merasakan berat pada kakinya. Ternyata kakinya dibalut dengan kain, sepertinya sudah dibubuhi obat-obatan. Kemudian ditutup dengan pelepah pohon pisang, dan diikat dengan tali cukup kencang. Saat Thomas hendak berdiri, kakinya terasa masih sakit. Dia pun jatuh tersungkur ke lantai.
"Anda sudah bangun?" tanya seorang pria paruh baya masuk ke kamar karena terkejut mendengar Thomas terjatuh. Diikuti seorang gadis muda, yang cukup cantik. Menatap Thomas dengan malu-malu.
"Iya, Pak! Maaf saya ada dimana?" jawab Thomas serak. Suara khas orang bangun tidur.
"Ini rumah Bapak. Sekarang Saudara sedang berada di rumah saya!"
"Kok saya bisa sampai disini?"
"Saya menemukan Saudara di tepi sungai, saat itu saya sedang mencari kayu bakar," jawabnya, "Mari saya bantu duduk!"
"Kaki Saudara belum pulih benar. Sebaiknya Saudara jangan bergerak dulu!" tutur Pria tersebut.
"Terimakasih." Thomas duduk di tempat tidurnya.
"Siapa nama Saudara?"
"Thomas, Pak,"
"Perkenalkan, nama Saya Badi. Kamu bisa panggil saya dengan panggilan Pak Badi! Dan ini anak saya bernama Arum,"
"Terimakasih, Bapak sudah menolong saya!"
"Iya, sama-sama. Sepertinya kamu bukan orang sini?"
"Iya, Pak. Saya memang bukan orang sini," jawab Thomas.
"Bagaimana bisa kamu terseret arus sungai?"
Thomas nampak mengingat-ingat kejadian yang sudah menimpanya. Dia teringat saat mobilnya terguling ke jurang. Tubuhnya terpental ke sungai. Dan Mamanya.
"Pak, Apakah Bapak menemukan wanita paruh baya?"
"Tidak. Saya hanya menemukan Nak Thomas saja di tepi sungai," jawabnya.
"Ya Tuhan. Bagaimana keadaan Mama? Apakah dia baik-baik saja?" batin Thomas.
"Apakah Bapak punya ponsel?"
"Mana Bapak punya ponsel? Untuk makan saja susah!" Pak Badi mengulas senyum.
"Dimana saya bisa meminjam ponsel?"
"Ehm," Pak Badi nampak berfikir.
"Temen saya ada. Tapi, disini sinyalnya agak susah!" sela Arum.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana teman kamu menelfon?"
"Teman saya kalau menelfon, dia harus ke puncak bukit sana!" tunjuk Arum ke bukit. Letaknya memang tidak terlalu jauh, tapi, untuk mendaki bukit Thomas perlu kaki yang kuat dan tubuh yang sehat.
"Anda tidak mungkin ke sana dalam keadaan seperti itu kan?"
Thomas menghela nafasnya panjang. Apa yang dikatakan gadis itu benar. Dalam keadaan terluka seperti itu, mana mungkin dia akan mendaki bukit.
"Pulihkan dulu kondisi kamu! Setelah benar-benar fit dan kaki kamu sembuh, barulah kamu bisa mendaki bukit!"
"Baiklah, Pak. Terimakasih banyak! Saya hanya ingin memastikan keadaan Mama saya baik-baik saja. Saya sangat khawatir!"
"Kita doakan saja dari sini. Semoga Mama kamu baik-baik saja!"
"Oya, makanlah bubur ini, pasti Anda lapar!" Arum menyerahkan mangkok berisi bubur beras.
"Terimakasih." Thomas menyuapi dirinya sendiri dengan tangan kiri. Tangan kanannya tidak bisa dia gunakan, karena dibalut juga dengan kain berwarna putih. Arum melihat Thomas kesusahan menyendokkan bubur ke mulutnya sendiri. Arum pun mengambil sendok dan mangkok yang ada dipangkuan pria asing itu.
"Biar, aku suapi!" tawar Arum.
"Terimakasih banyak," ujar Thomas.
Arum nampak mengamati wajah pria tampan didepannya. Pria berwajah blesteran, memiliki hidung yang mancung dan lesung pipi. Bentuk badannya sangat proposional. Dengan dada bidang, dan perut kotak-kotak.
"Sudah cukup. Aku sudah kenyang," ujar Thomas membuyarkan lamunan Arum.
"Mau minum?"
"Boleh,"
"Sebaiknya Anda beristirahat. Supaya cepat sembuh!"
"Baiklah. Terimakasih banyak, Arum!" ucap Thomas.
to be continued ...
PENGGALAN BAB:
"Kenapa kamu terus menyalahkan dirimu sendiri, Nath?" tanya Adnan, "Allah itu Maha Pemaaf bagi umatnya yang benar-benar melakukan taubat. Ingat Nathan! Allah itu sangat mencintai para pelaku maksiat yang gemar bertaubat dibandingkan orang sholeh yang tidak pernah merasa bersalah!" tandas Adnan, "Jadi, berhentilah menyalahkan diri sendiri!"
"Sangat normal jika kita penuh dosa dan penuh dengan kekurangan, Nath. Yang menjadi masalah adalah saat kita berhenti menyesali dosa-dosa yang kita lakukan dan tidak bertaubat kepada Allah! Aku malu saat dianggap baik padahal aku adalah pendosa yang hebat hanya saja Allah sedang menutup aibku!" ucap Adnan.
"Astaghfirullah. Apa yang sudah aku pikirkan. Aku telah mendzolimi diriku sendiri. Terimakasih banyak, Bang. Abang sudah mengingatkanku!"
"Itulah manfaatnya seorang saudara muslim. Mereka akan saling membantu dan saling mengingatkan!" ucap Adnan, "Saranku, perbanyaklah berdoa. Serahkan semua masalah kepada Sang Pencipta. Jika memang dia adalah jodohmu pasti akan bersatu kembali. Namun jika hanya sampai disini kisah cinta kalian, berarti kalian tidak berjodoh. Karena jika memang berjodoh Allah akan semakin mendekatkan, bukan menjauhkan."
"Allah selalu punya skenario terindah untuk hamba-Nya. Kita hanya perlu bersabar dan ikhlas dalam menanti. Bersyukur atas semua kebaikan dan ujian yang Allah berikan pada kita. Kita hanya perlu menjadi hamba-Nya yang taat,"
"Iya, Bang. Nasehat Abang akan selalu ku ingat! Aku beruntung bisa mengenal Abang!"
"Ah, Kau bisa saja! Aku juga sedang proses belajar. Aku juga bukan seorang yang sempurna! Karena kesempurnaan hanyalah milik Allah,"
"Aku mengerti, Bang. Terimakasih sekali lagi! Aku sangat bersemangat, Bang!" senang Nathan. Nathan sangat bahagia jika sudah bertemu dengan Ustadz muda itu. Meskipun usia mereka tergolong tidak terlalu jauh, namun Nathan sangat senang jika dinasehati ustadz muda itu. Nasehat-nasehatnya bagaikan air sejuk yang menyirami gurun gersang dan panas.
"Oya, Bang. Rencananya aku akan membuka cafe dipusat kota. Mungkin Abang punya kenalan atau santri-santri Abang yang ingin bekerja di cafe saya. Insyaallah ada lowongan untuk 6 pekerja laki-laki. Dan yang jelas mereka berniat untuk bekerja!"
"Wah, hebat kamu! Jadi, Kamu mau membuka Cafe!"
"Begitulah, Bang!"
__ADS_1
"Sepertinya ada, dan mereka juga pasti mau! Karena, mereka memang ingin bekerja mencari nafkah untuk keluarganya,"
"Bagus itu, Bang. Abang bisa menyuruh mereka untuk datang ke alamat ini!" Nathan menyerahkan alamat Cafe miliknya.
"Memang baru pembukaan sih. Tapi, Insyaallah jika Cafe itu sukses maka akan menjadi ladang bagi mereka untuk mencari rezeki,"
"Iya, nanti coba aku tanyakan pada santri-santri ku!"
"Kapan grand openingnya?"
"Insyaallah bulan depan tepat tanggal satu, Bang. Abang dan keluarga datang ya! Saya mengundang Abang secara khusus!"
"Wah, saya jadi tamu istimewa dong!" gelak Adnan.
"Iya, Bang," tawa Nathan.
"Insyaallah, Saya dan keluarga datang. Semoga Allah terus melimpahkan Rahmat, nikmat dan rezekinya kepada kamu, Wahai Saudara muslimku!"
"Amin," jawab Nathan.
Setelah melaksanakan shalat dhuhur berjamaah di tempat pengajian Ustad Adnan, Nathan pun berpamitan pulang. Masih banyak yang harus dia urus. Dia harus ke Cafe, karena hari ini kulkas besar dan Freezer pesanannya akan diantar ke Cafe.
Michelle mengerjapkan matanya. Dia nampak mengamati sekelilingnya. Umi yang melihat putrinya sudah siuman, dia langsung mendekati tempat tidur Michelle.
"Sayang, Kau sudah bangun?" senang Umi.
"Michie dimana, Umi?"
"Kamu di RS. Kamu pingsan, Sayang. Umi panik dan menyuruh Abah untuk membawamu ke sini!"
"Badan Michelle lemes, Umi,"
"Tentu saja, Nak. Kan dari kemarin kamu memang tidak makan nasi. Kamu asyik makan asinan!" kekeh Umi.
"Maafkan Michie, Umi. Michie selalu merepotkan Umi dan Abah," ujarnya.
"Kamu ini ngomong apa sih? Sama sekali kamu nggak merepotkan kami," jawab Umi bahagia, "Kamu harus makan teratur ya! Sekarang bukan kamu saja yang harus diberi makan. Tapi, baby yang ada didalam kandungan kamu juga harus makan," tutur Umi.
"Iya, Umi," sahut Michelle, "A-pa? Baby? Maksud Umi?" Michelle membulatkan matanya. Umi tahu kalau Michelle pasti terkejut mendengar kabar gembira ini.
"Iya, Baby," gelak Umi, "Sekarang diperut kamu ada kehidupan. Kamu sedang mengandung, Nak,"
"Umi sedang nggak bercanda kan?"
"Ish, Mana mungkin sih Umi bercanda!" kekeh Umi, "Bukankah ini yang kamu tunggu-tunggu selama ini!"
"Jadi maksud Umi, Michie akan menjadi seorang ibu?"
"Iya," sahut Umi Kulsum.
"Alhamdulillah," senang Michelle dengan deraian air mata.
"Umi nggak bohong kan? Umi sedang nggak bercanda kan?" tanya Michelle ingin memastikan bahwa kehamilannya benar.
"Nggaklah, Sayang. Buat apa Umi bercanda?"
"Hiks ... Hiks ... Hiks." dengan deraian air mata, Michelle menengadahkan kedua tangannya menghadap kiblat seraya berdoa kepada Allah SWT.
"Bismillahilladziilaailaaha illaa huwal haliimul kariimu rabbil 'arsyil 'azhiim. Laa ilaaha illallaahu rabbus samaawaati wa rabbul'arsyil 'azhiim."
"Dengan menyebut nama Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Penyabar, Yang Maha Mulia, Tuhan 'Arsy yang Agung. Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan semesta langit dan bumi dan Tuhan 'Arsy yang agung."
"Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa."
"Allahummah fazh waladii ma daama fii bathnii. Wasyfihi ma'ii. Anta asy-syaafii laa syifaa'an illa syifaa 'uka syifaa 'an laa yughaadiru saqamaa."
"Ya Allah, semoga Engkau lindungi bayiku ini selama ada dalam kandunganku, Berikanlah kesehatan kepadanya bersamaku. Sesungguhnya Engkaulah Maha Penyembuh. Tidak ada kesehatan selain kesehatan yang Engkau berikan, kesehatan yang tidak diakhiri dengan penyakit lain."
__ADS_1
"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh."
"Amin," dijawab Umi.