
Alina mendatangi kamar Celine, Mamanya sedang berbaring di tempat tidur. Alina memeriksa kondisi Mamanya, namun Mamanya masih tergolek lemah dan badannya juga masih panas, tapi, tidak sepanas tadi.
"Mah, kita ke Rumah Sakit saja ya?" ucap Alina pelan kepada Mamanya.
"Alina, Sudah lama, Nak?" tanya Celine.
"Baru kok, Mah," jawab Alina. "Kita ke Rumah Sakit, ya, Ma?" ajak Alina.
"Nggak, Sayang! Mama sudah baikan kok," jawabnya. "Ada Amelia yang merawat Mama," imbuhnya lagi.
"Mama yakin?" tanya Alina.
"Iya, Sayang," jawan Celine.
"Syukurlah kalau Mama sudah baikan, Alina sangat mengkhawatirkan Mama," ucap Alina.
"Mama sudah minum obat dari Dokter Lucas, sebentar lagi pasti Mama sembuh," kata Mama.
"Baiklah kalau begitu," jawab Alina.
Hari itu juga pun Alina memutuskan untuk menginap di rumah Mama. Bagaimanapun juga, Alina sangat khawatir dengan keadaan Mamanya. Dia sangat berterima kasih karena Amelia sudah menjaga Celine dengan baik.
Makan malam sudah tersaji di meja makan. Alina, Amelia dan Sherly sudah duduk di meja makan. Alina mempersilahkan Amelia untuk menyendokkan nasinya terlebih dahulu. Seperti biasa, Amelia mengambilkan nasi dan lauk untuk Sherly, barulah gilirannya mengambil nasi dan lauk.
Selesai makan malam, Amelia menyuruh Sherly untuk beristirahat, karena besok pagi Sherly sudah bisa mulai belajar lagi. Alina masuk ke kamar Sherly, dia begitu kagum dengan sifat keibuan yang dimiliki seorang Amelia.
"Bisa kita ngobrol?" ajak Alina sambil tersenyum. Alina adalah gadis yang cantik dan sangat ramah. Sifatnya sangat mirip dengan Celine. Sangat bersahabat dan tidak pernah memilih dalam bergaul. Mereka berdua terlihat sangat akrab.
"Boleh," jawab Amelia menunjuk balkon kamar Sherly. Mereka berdua duduk di kursi balkon.
"Berapa bulan usia kandunganmu?" tanya Alina sangat lembut.
"Enam bulan," jawab Amelia.
"Sepertinya anak laki-laki," ujar Alina.
"Benarkah?" Amelia tersenyum bahagia.
"Apakah ayah anak ini tidak merindukannya?" tanya Alina tiba-tiba. "Bukannya aku ingin mencampuri urusan pribadimu, tapi, seorang ayah seharusnya dia merasa sangat khawatir," jelas Alina. Amelia tersenyum, dia mengerti dengan kebingungan Alina.
"Huft," Amelia menghela nafasnya panjang.
__ADS_1
"Sebenarnya, anak yang aku kandung bukanlah darah dagingnya," ucap Amelia, membuat Alina terhenyak.
"Apa?" tanya Alina penasaran. Amelia pun berusaha untuk sedikit terbuka kepada Alina, dan sepertinya Alina adalah teman yang baik untuk diajak mengobrol.
"Empat hari sebelum acara pernikahan, kesucian ku telah direnggut oleh seorang pria tidak dikenal," terangnya. "Aku sangat terluka, hatiku sangat sakit! Pada saat itu, rasanya aku ingin mati saja! Tapi, kedua orangtuaku yang selalu memberikan semangat dan dukungan, hingga aku bersedia melanjutkan pernikahan tersebut."
"Namun bukan kebahagiaan yang aku dapat, justru kemalangan yang aku terima," tambahnya. "Secara diam-diam, suamiku menikah lagi, dan dia mengkhianati janji suci pernikahan kami! Disitulah puncak rasa sakit dan penderitaan yang aku alami," jelasnya.
"Kenapa suamimu begitu tega?" tanya Alina.
"Entahlah," ujar Amelia sambil tersenyum. "Aku berusaha ikhlas menerima semua ini, aku akan merawat anak ini sendiri! Anak ini tidaklah berdosa," ujar Amelia mengelus-elus perutnya yang sudah semakin terlihat jelas.
"Aku benar-benar semakin kagum sama kamu, Amelia," puji Alina. "Kamu bukan saja cantik, tapi, kamu sangat keibuan dan memiliki jiwa yang besar,"
"Semoga laki-laki yang sudah merenggut kesucian mu mendapatkan ganjaran dari Tuhan, dia harus menerima karmanya," umpat Alina kepada laki-laki yang sudah menodai Amelia. "Semoga kamu bahagia dan mendapatkan laki-laki yang bisa menjadi imam mu," ucap Alina.
"Terima kasih banyak, saya benar-benar berhutang budi kepada keluargamu, Al," ucap Amelia.
Tidak terasa malam semakin larut, mereka pun memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing. Amelia langsung merebahkan tubuhnya di kasur miliknya.
Keesokkan paginya
"Selamat pagi," sapanya.
"Amelia, kamu cantik sekali, Sayang," puji Tante Celine.
"Terima kasih, Tan," ucapnya. "Tante sudah sehat?" tanya Amelia kepada Tante Celine.
"Sudah, Sayang! Semua ini berkat kamu," ujarnya.
"Wah, Amelia senang sekali, Tan," ucap Amelia.
"Mau kemana?" tanya Alina.
"Oh, saya mau ke kantor pengadilan agama, Al," jawab Amelia. Tante Celine mengerutkan keningnya.
"Apakah sudah ada panggilan dari pengadilan, Nak?" tanya Tante.
"Iya, Tan," jawab Amelia. "Do'akan Amelia ya, Tan! Semoga diberi kelancaran," pintanya.
"Iya, Sayang! Tante selalu mendoakan kebahagiaan kamu, Semoga urusan perceraian kamu dan suamimu lancar," ucap Tante Celine.
__ADS_1
"Dengan begitu Thomas bisa maju," batin Tante Celine tersenyum nakal.
"Kalau begitu, kita bareng! Aku juga akan langsung ke Rumah Sakit, jalan kita kan searah," ucap Alina.
"Bener tuh, bareng saja sama Alina! Sekalian anterin Sherly ya, Sayang!" pinta Mama kepada Alina.
"Beres Mah," jawab Alina.
Dengan menggunakan mobil Alina, Amelia sampai di depan kantor pengadilan agama.
"Terima kasih banyak, Al," ucapnya.
"Beres," jawab Alina. "Aku langsung jalan saja ya? Karena aku ada praktek pagi," ujar Alina.
"Oh, Silahkan! Hati-hati di jalan, Bye!"
Setelah mobil Alina tidak nampak lagi, Amelia hendak masuk ke dalam kantor pengadilan. Namun seseorang mencekal lengannya.
"Amelia?" panggilnya. Amelia menoleh ke sumber suara, ternyata itu adalah suaminya.
"Lepaskan!" Amelia menepis kasar tangan suaminya.
"Kenapa kau lakukan itu? Apakah karena gara-gara aku memukulmu?" tanya Arga dengan nada meninggi.
"Baguslah kalau kamu tahu, Mas!" ucapnya.
"Amelia, Maafkan aku," ucapnya. "Aku tahu, aku salah! Aku mohon batalkan gugatan itu," imbuhnya.
"Maafkan aku Mas, tapi, keputusanku sudah bulat," jawab Amelia.
"Mel, Kenapa kau berkata seperti itu? Aku tahu salah, dan aku ingin meminta maaf, kita mulai dari awal lagi," ucap Arga.
"Tapi, aku minta maaf, aku tidak bisa, keputusan ku sudah bulat! Di antara kita sudah tidak ada kecocokan lagi, Aku sudah terlalu kecewa denganmu, Mas! Jadi, lepaskan aku!" tegas Amelia.
"Tapi, aku masih sangat mencintaimu, Mel," ucapnya.
"Jika kau memang mencintaiku, seharusnya saat kau menikahi wanita lain, kau berpikir dua kali! Kau justru meninggalkan ku demi wanita lain, Kau torehkan luka di hatiku, dan aku tidak akan pernah bisa melupakan itu," ujar Amelia panjang lebar. "Dan sekarang kau sudah berani main tangan denganku! Aku bisa memaafkan kesalahanmu, jika kau menghinakan! Tapi, kau hampir saja membunuh anak yang aku kandung, dan itu tidak akan bisa aku maafkan," tambah Amelia lagi.
"Aku sudah lelah dan capek, sebaiknya kau jangan mempersulit jalannya persidangan, Mas!" geram Amelia. "Permisi, Aku pergi dulu."
to be continued....
__ADS_1