
Amelia mengingat apa yang dikatakan Diego kepadanya. Kata-kata Diego terus saja terngiang-ngiang di telinga. Jika memang apa yang dikatakan Diego benar, itu berarti dia harus lebih berhati-hati menjaga kedua buah hatinya. Dan besar kemungkinan, orang itu juga akan tega menyakitinya dan anak-anak.
Makan malam sudah siap, mereka semua sudah berkumpul di ruang makan untuk menikmati makan malam yang disediakan oleh juru masak keluarga. Bram menyapa Amelia dengan sangat ramah, namun sebisa mungkin Amelia bersikap biasa-biasa saja.
"Wah, masakannya menggugah selera! Pasti rasanya sangat lezat!" ucap Bram membuka suara, "Silahkan dimakan, Kak!" ucap Bram. Amelia menatap Bram dengan penuh selidik. Dia masih belum percaya, Apakah seorang Bram tega melakukan perbuatan keji itu kepada orang yang sudah membesarkannya.
"Apa yang sedang kupikirkan? Mana mungkin Bram tega melakukan hal itu? Ayolah Amelia, Buang prasangka buruk mu!" batin Amelia berusaha untuk menghilangkan pikiran buruknya.
"Kakak ipar!" panggil Alina.
"Kak?" Alina berusaha menyenggol lengan Amelia.
"Eh, iya. Ada apa?"
"Ayo makan! Kenapa makanannya cuma diaduk-aduk saja?"
"Eh, iya," jawab Amelia seraya tersenyum simpul.
"Mommy, Aka makannya sudah," ucap Aska.
"Oh, kalau begitu. Aska langsung ke kamar sama Mba Lina ya?"
"Iya, Mom,"
"Sherly juga sudah, Mom. Sherly mau main sama Aska ya, Mom?"
"Iya, Sayang. Mainnya jangan sampai malam! Ingat pesan Mommy! Tidur awal, karena besok Sherly sekolah!"
"Okey, Mom!" jawab mereka serentak.
"Oya, Kak. Aku sudah menyuruh orang untuk mencari keberadaan Bang Thomas. Tapi tidak ketemu, Kak!" ucap Bram ketika dua bocah itu sudah masuk ke kamar.
"Lalu?"
"Mereka mengatakan, kemungkinan besar Bang Thomas meninggal kemudian dimakan binatang buas. Orang-orangku mencari jenazahnya, sama sekali tidak ditemukan. Hanya darah yang berceceran di tempat kejadian, Kak!" lirih Bram.
Tringggggggg ...
Sendok makan Amelia terjatuh ke piring, dan mengeluarkan bunyi yang sangat nyaring. Alina sampai kaget dibuatnya.
"Itu tidak mungkin kan, Bram. Kamu bohong kan?" isak Amelia.
"Sabar, Kak," ucap Alina berusaha menenangkan hati kakak iparnya.
"Tapi yang aku katakan benar, Kak!" lanjut Bram lagi.
"Hiks ... Hiks ... Hiks!"
"Kakak yang sabar ya! Aku tahu ini berat bagi kakak. Ini juga berat buat Alina. Tapi, lihatlah Alina. Dia sangat tegar menghadapinya! Demi anak-anak, kakak juga harus seperti itu!"
"Bram, Tidak bisakah Kau mencarinya lagi?"
__ADS_1
"Maaf, Kakak. Aku tidak bisa mencari Bang Thomas lagi. Karena sudah jelas. Tidak ada jenazahnya. Lalu, harus mencarinya dimana lagi? Disepanjang tepian sungai, orang-orang ku juga sudah mencarinya. Dan di hutan juga!"
"Aku sangat yakin, Kak. Saat kecelakaan, jenazah Bang Thomas terjatuh ke dasar jurang. Dan tentunya, tidak akan selamat. Hanya ada bekas darah. Berarti, ada binatang buas yang memangsanya. Benarkan?"
Ucapan Bram di meja makan membuat Amelia terpukul. Bagaimana bisa dia hidup tanpa suaminya? Bagaimana dia akan membesarkan anak-anak tanpa ada sosok seorang suami?
Hiks ... Hiks ... Hiks
Sepanjang malam Amelia menangis. Dia tidak sanggup harus menerima kenyataan pahit ini. Rasanya terlalu cepat, Tuhan memanggil suaminya pergi. Bahkan pernikahannya saja belum genap lima tahun.
"Tidak. Aku yakin suamiku masih hidup. Aku bisa merasakannya. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya!" gumamAmelia, "Aku harus mencari kebenaran!"
"Ya, Aku harus mencari tahu dalang dibalik kecelakaan ini!" batin Amelia, "Aku masih ingat dengan kata-kata Diego. Aku harus mencurigai semua orang yang tinggal di rumah ini. Termasuk Alina dan Bram!"
Amelia masuk ke ruang kerja suaminya. Dia ingin mencari informasi di ruang kerja suaminya. Untunglah, ruang kerja suaminya tidak pernah dikunci. Sehingga dengan mudah dia bisa masuk.
Dengan perlahan, Amelia masuk ke dalam. Dia menutup pintu ruang kerja dengan pelan, supaya tidak menggangu orang-orang di rumah ini yang sedang beristirahat.
Amelia mencari sesuatu di laci meja kerja suaminya. Dia tidak mendapatkan bukti apapun. Lalu, dia mencari di rak-rak buku, dia juga tidak mendapatkannya. Dia mencoba membuka laptop di meja kerja suaminya. Hanya file-file kerja yang tersimpan di laptop itu.
Amelia membuka lemari besar yang terdapat disudut ruangan. Sedikit berdebu. Tapi, tidak apa. Amelia berusaha membukanya.
Satu lemari itu hanya berisi koran-koran bekas. Mungkin sudah agak lama. Membuat warna koran itu sedikit menguning, warna aslinya juga sudah memudar.
"Kenapa Mama menyimpan koran-koran bekas disini?" gumam Amelia.
Yang membuat menarik, meskipun warnanya sudah pudar. Mama Celine masih menyimpannya dengan baik. Dan, Amelia sangat penasaran dengan koran tersebut.
"Aneh, kenapa tidak dibuang saja? Padahal mereka orang kaya, kenapa koran bekas mereka jadikan koleksi?"
Amelia mengambil koran bekas tersebut, dan melipatnya menjadi lipatan terkecil. Dia mendengar derap langkah kaki menuju ruang kerja suaminya. Amelia langsung mematikan lampu ruang kerja. Dia bersembunyi dibalik tirai korden.
Seorang pria membuka pintu ruang kerja. Dia mengamati sekeliling, dan menutup kembali pintu itu. Derap langkahnya terdengar semakin menjauh. Bertanda kalau pria itu, berjalan menjauhi ruang kerja suaminya. Amelia bisa bernafas lega.
__ADS_1
Dengan perlahan, Amelia keluar. Dia hendak kembali ke lantai dua, kamarnya. Namun di ruang tengah dia bertemu Bram yang sedang duduk sambil merokok.
"Dari mana, Kak?" tanya Bram.
DEGH ...
"Aku mencari buku nikah di ruang kerja Mas Thomas," bohong Amelia. Bram nampak mengernyitkan alisnya.
"Sudah ketemu?"
"Su-sudah," jawabnya, "Aku ke kamar dulu ya! Takut Aska mencari ku!" dijawab anggukan oleh Bram. Namun tatapannya kepada Amelia sangat tajam.
"Huft." Amelia menghela nafasnya panjang. Dia langsung mengunci kamarnya agar seseorang tidak bisa masuk ke kamarnya.
Amelia duduk di karpet. Dia membuka koran yang sudah ia lipat menjadi lipatan paling kecil. Membentuk ukuran buku nikah.
"Aku yakin, Bram curiga!" batin Amelia, "Sebenarnya apa sih istimewanya koran-koran ini?"
Amelia mulai membaca koran tersebut. Berita di koran tersebut hanyalah berita-berita kecelakaan mobil yang masuk ke jurang.
"***Sebuah kecelakaan terjadi di jalan Cinere, Blok 11. Sebuah mobil menghantam pembatas jalan. Sepasang suami istri meninggal ditempat. Dan, anaknya yang berumur dua tahun masih hidup. Anak tersebut diadopsi oleh sepasang suami istri. Suaminya seorang pengusaha terkenal dari Jerman***!" lirih Amelia membaca kalimat demi kalimat berita itu.
"Apakah itu Bram?"
"***Setelah diketahui ternyata korban kecelakaan itu adalah sahabat dari pasangan yang mengadopsi anak laki-laki tersebut. Jenazahnya dimakamkan di TPU Dahlia***."
"Aku yakin, korban kecelakaan itu adalah orang tua Bram. Tapi, apa hubungannya dengan keluarga Williams?"
"Ah, tentu saja ada hubungannya. Mama Celine dan Almarhum Papa kan yang mengadopsi Bram," monolognya sendiri.
to be continued ...
☄️☄️☄️☄️☄️
Hey Readers, Ayo dukung karya ini dengan bagi hadiah berupa...💐 dan ☕
Ayo, Say, kasih dukungan kalian....🥰🥰🥰
__ADS_1