Amelia

Amelia
Episode 57


__ADS_3

Thomas pun membuka lemari tersebut mencari popok Aska. Saat hendak menarik celana paling bawah, di lipatan terakhir ada sebuah benda yang terjatuh. Dia mengambil benda tersebut, ternyata itu adalah sebuah anting. Ia memperhatikan anting tersebut dengan seksama. Seketika hatinya begitu gelisah, pikirannya tidak sinkron. Ada sesuatu rahasia besar yang selama ini dia pendam sendiri tanpa ada seorangpun tahu termasuk keluarganya. Ia menyimpan anting tersebut di sakunya.


"Mas, kok lama sekali?" tanya Amelia kepada Thomas.


"Eh, iya, ini sudah aku ambilkan!" Thomas bergegas menutup pintu lemari dan memberikan popok itu.


"Terima kasih, Mas," ucap Amelia sambil tersenyum sangat manis sekali. Thomas terus memperhatikan Amelia, dia wanita yang cantik, wanita yang sangat baik. Dia juga sangat lembut, Thomas merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan wanita sebaik dan setulus Amelia.


"Ada apa? Kok dari tadi memperhatikan Amelia terus?" tanyanya, membuat lamunan Thomas buyar.


"Eh, tidak, kamu sangat cantik dan baik," ujarnya. "Ehm, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Thomas tiba-tiba.


"Tentu saja boleh, masa mau bertanya saja tidak boleh?" ucap Amelia. "Ada apa?" tanya Amelia menoleh ke arah Thomas.


"Apakah laki-laki yang tempo hari aku temui, dia kah ayah kandung Aska?" tanya Thomas tiba-tiba. Seketika raut muka Amelia berubah pucat pasi. Ada rasa tidak senang mendengar masa lalunya diungkit-ungkit, namun sebentar lagi dia akan menjadi istri Thomas William, berarti dia harus jujur dan berterus terang.


"Bukan, Mas!" jawabnya. "Aska bukan anak dari Mas Arga," imbuhnya.


"Aku akan menceritakan semuanya kepadamu, karena memang aku harus jujur. Sebentar lagi aku akan menjadi istri kamu, Mas. Dan untuk kedepannya kita harus saling jujur, benar kan?" ucapnya. Di jawab anggukan oleh Thomas. Amelia menatap tajam manik calon suaminya.


"Sebelum pernikahanku dengan Mas Arga, aku telah diperkosa seseorang," ujar Amelia.


"Apa?" kaget Thomas.


"Tapi, aku tidak tahu siapa orangnya?" sedih Amelia. "Karena orang ini, masa depan ku hancur. Karena orang ini juga, rumah tangga ku seperti di neraka. Dan karena orang ini juga kedua orang tua ku harus mengalami kecelakaan tragis. Aku dihina dan direndahkan oleh orang tua Mas Arga. Aku sangat membencinya, Mas!" jelasnya tiba-tiba dengan amarah yang memuncak.


"Aku minta maaf, kalau aku sudah membuat mu kecewa. Tapi, bagaimanapun aku harus jujur sama kamu," jelasnya.

__ADS_1


"Kau tidak bersalah, Amelia," jawabnya.


"Akulah yang bersalah," batin Thomas.


Setelah obrolan yang panjang itu, Thomas keluar dari kamar Amelia, seketika wajahnya sangat pucat. Dia bergegas ke kamarnya, dia mencari sesuatu di laci lemarinya. Dia mengeluarkan sebuah kotak, dimana isinya sebuah anting yang sama dengan anting yang dia temukan di antara lipatan baju Amelia. Anting ini jatuh di tempat tidurnya, saat dia hendak check out dari hotel. Dia pun mengambil anting tersebut dan menyimpannya.


Seketika kakinya lemas tidak bertenaga, kepalanya terasa pening, dia duduk dilantai dengan tubuh bergetar hebat. Ada rasa sesak di dadanya, nafasnya memburu tidak beraturan. Rahasia yang disembunyikannya begitu rapat, kini justru menjadi bumerang baginya.


"Apa yang telah aku lakukan? Aku sangat bodoh, aku telah menghancurkan kehidupan wanita yang sangat baik kepada keluarga ku," Thomas terisak, dia menyesali perbuatannya.


"Bagaimana jika Amelia tahu? Bagaimana jika dia mengetahui akulah yang telah merenggut kesuciannya waktu itu?"


Thomas mengurung dirinya di kamar, dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia juga tidak tahu bagaimana menjelaskan semuanya kepada Amelia. Secara tidak langsung, Amelia juga sudah membencinya. Seketika, dia teringat bagaimana dirinya bisa sampai melakukan perbuatan laknat itu.


Kala itu, Thomas mengikuti acara pesta yang diadakan oleh teman-temannya di sebuah Club malam dekat dengan hotel. Ada seorang teman yang sedang mengerjainya dengan memasukkan obat perangsang ke dalam minumannya. Itu terjadi, karena diantara semua temannya, Thomas sendiri yang masih bertahan untuk menduda. Salah seorang temannya dengan jahil memasukkan obat perangsang, agar Thomas bisa tertarik kembali dengan wanita malam, di Club tersebut.


Tiba-tiba tubuhnya terasa sangat panas. Thomas merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Dia pun memutuskan untuk pulang, namun dia mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah. Karena jika sampai itu terjadi, maka akan ada banyak pertanyaan dari Mamanya. Dia pun memilih hotel dekat dengan klub malam itu untuk tempat tinggalnya sementara.


Wangi tubuh itu membuat dirinya semakin terangsang. Apalagi, saat kedua buah melon itu tidak sengaja menyenggol kulitnya. Entah setan apa yang merasuki dirinya, dia langsung menerkam mangsa yang sudah menolongnya.


Keesokkan paginya, Thomas terbangun dan mendapati dirinya dalam keadaan polos. Kepalanya terasa sangat pusing, tapi, dia mencoba untuk bangkit. Dia menyilakkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Betapa terkejutnya dia, ada noda darah di sprei putih itu. Dia memeriksa si Joni miliknya, ada sedikit bekas darah dan S****ma yang mengering di sana.


"Apa yang telah aku lakukan?" Thomas mengacak rambutnya sendiri.


Tok.... Tok .... Tok


Suara pintu diketuk, dia bangkit dari duduknya dan membuka pintu itu. Ternyata Amelia yang datang.

__ADS_1


"Ada apa? Apakah ada masalah?" tanya Amelia khawatir, karena calon suaminya terlihat sangat berantakan. Thomas memaksa untuk tersenyum.


"Tidak, Sayang! Masuklah!" ajaknya.


Tiba-tiba saja, Thomas memeluk tubuh Amelia. Membuat Amelia bingung dan heran. Tidak biasa-biasanya sikap calon suaminya seperti itu. Amelia pun berusaha untuk bertanya, tapi, Thomas masih memeluknya dengan erat.


"Ada apa, Mas?" tanya Amelia.


"Aku tidak mau kehilanganmu," jawabnya.


"Aku tidak akan kemana-mana, kenapa kau aneh sekali, Mas?" tanya Amelia heran.


"Karena aku sangat mencintaimu dan aku tidak mau kehilanganmu," ujarnya. Membuat Amelia semakin heran.


"Kita akan segera menikah, jadi, mana mungkin Mas kehilangan aku," ucap Amelia.


"Berjanjilah, Apapun yang terjadi jangan pernah meninggalkan ku dan Sherly! Kami sangat membutuhkan mu," ucapnya. Tentu saja membuat Amelia bertambah heran.


"Tapi, sebentar lagi kita akan menikah," ucap Amelia, namun belum selesai melanjutkan kalimatnya Thomas memotongnya.


"Berjanjilah?" tegasnya, menatap tajam manik Amelia.


"Iya, Amel, berjanji," ujarnya.


"Terima kasih, Sayang," ucap Thomas mengecup kening Amelia dengan sayang.


"Ayo, sarapan dulu! Bukankah Mas belum sarapan?" tanya Amelia.

__ADS_1


"Belum," jawabnya. Meskipun Amelia mengatakan seperti itu, tetap saja hatinya merasa sangat takut. Dia takut rahasia yang sudah lama dia tutupi, akan terbongkar disaat pernikahannya.


to be continued...


__ADS_2