
Tok ... Tok .... Tok
"Masuk?" ucap Amelia.
"Mba Amel, Ada seseorang yang ingin bertemu dengan mba!" ucap Rani.
"Siapa Mba Rani?" tanya Amelia.
"Seorang pria dan wanita paruh baya," jawab Rani.
"Seorang pria dan wanita paruh baya? Apakah aku mengenalnya?"
"Sepertinya mba mengenal mereka," ucap Rani, "Mereka orang yang tempo hari ke sini, Mba,"
"Iya, sudah. Suruh masuk saja, Mba!" ucap Amelia.
Rani mengantarkan Arga dan ibunya menemui Amelia.
"Silahkan!" ucap Rani. Mereka berdua masuk ke dalam, dan Amelia nampak terkejut dengan kedatangan mereka.
"Ibu, Mas Arga! Ada apa datang kesini?" heran Amelia. Amelia mencium punggung tangan mantan ibu mertuanya. Meskipun sudah tidak menjadi mertua, Amelia masih menghormatinya sebagai seorang ibu.
"Oh, Silahkan duduk!" ucap Amelia ramah, dia mempersilahkan tamunya duduk di sofa, kemudian menyuruh Vivin untuk membuatkan minuman. Arga terus memandangi wanita yang pernah menjadi bagian hidup. Sekarang dia begitu cantik, anggun dan terlihat bahagia.
"Nak, kedatangan kami kemari. Kami ingin meminta maaf atas kesalahan kami," ucap Dahlia, "Selama ini kami tidak bersikap baik kepadamu. Ibu mohon, maafkanlah ibu dan Arga," ucap Dahlia merasa bersalah.
"Amelia sudah memaafkan Ibu dan Mas Arga. Jadi, ibu jangan merasa bersalah terus kepada Amelia," ucapnya.
"Benarkah, Nak?" senang Dahlia.
"Iya, Bu. Amel sudah memaafkan kesalahan ibu dan Mas Arga. Kalian tidak usah merasa bersalah. Sama sekali Amelia tidak pernah dendam," ucapnya, "Amelia harap ibu dan mas Arga, bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Dan bisa menghargai dan menghormati orang lain," tutur Amelia.
"Terima kasih banyak, Nak. Ibu sangat bahagia. Kamu memang wanita yang sangat baik," puji Dahlia. Dia beranjak dari duduknya, lalu, memeluk Amelia dengan sayang.
"Jika ada waktu mampirlah ke rumah. Sekarang Arga sudah menjadi Ayah, dan Anaknya perempuan," ucap Dahlia.
"Wah, selamat ya, Mas. Akhirnya kamu dikaruniai anak juga. Semoga kalian menjadi keluarga sakinah, mawadah dan warahmah," ucap Amelia memberikan selamat kepada mantan suaminya.
"Terimakasih, Mel," ucap Arga, "Tapi, aku dan Ratih sudah bercerai," imbuh Arga.
"Bercerai?" kaget Amelia, "Kapan Mas? Kok bisa?"
"Aku memang harus menceraikannya. Dia pantas di ceraikan. Ada sesuatu hal yang tidak bisa aku jelaskan kepadamu. Yang jelas kesalahan Ratih sangatlah fatal. Dan sebagai seorang laki-laki, aku merasa sangat terhina," jelas Arga panjang lebar. Ada kesedihan di mata Arga, Amelia bisa melihat itu.
__ADS_1
"Yang sabar ya, Mas. Mungkin ini adalah ujian buat kamu. Semoga kamu kuat menjalaninya," ucap Amelia memberi semangat untuk mantan suaminya.
"Terima kasih banyak, Mel,"
Lumayan lama mereka mengobrol, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Mengingat Keyla di rumah bersama Mila.
"Terimakasih banyak, Bu. Sudah mau mampir ke sini!" ucap Amelia.
"Iya, Nak. Justru ibu yang bahagia, kamu masih mau menerima kedatangan kami," jawab Dahlia.
"Ehm .... Ehm, Sayang!" panggil Thomas tiba-tiba datang. Dan memeluk pinggang sang istri. Membuat Amelia terkejut dengan perilaku suaminya yang tiba-tiba datang memeluk.
"Mas, kamu disini?" tanya Amelia.
"Iya, aku sengaja datang ke sini. Karena aku ingin mengajakmu makan siang!" ucap Thomas.
"Oh," jawab Amelia ber'oh ria.
"Oya, Mas perkenalkan ini Ibu Dahlia. Ibunya mas Arga," ucap Amelia memperkenalkan mantan mertua kepada suaminya.
"Selamat siang!" sapa Thomas dengan ramah.
"Siang," jawab Dahlia menjabat tangan Thomas.
"Baiklah, Nak. Kami pamit pulang dulu!" ucap Dahlia.
"Hati-hati, Ibu!" Amelia melambaikan tangan sambil tersenyum, begitu juga dengan Arga.
Melihat keakraban Amelia dengan mantan suami dan mantan ibu mertuanya, membuat Thomas agak tercubit hatinya. Dia nampak bermuka masam saat masuk ke kantor istrinya.
"Aku ambil tas dulu!" ucapnya. Dijawab anggukan oleh suaminya.
"Ayo, Mas. Kita mau makan siang di mana?" tanya Amelia.
"Bagaimana kalau di tempat kesukaan kita?"
"Boleh," jawabnya sambil tersenyum. Amelia berpamitan dengan karyawan butik, dan menggamit tangan suaminya. Semua yang melihat kemesraan mereka menjadi sangat iri.
Di lain sisi, seorang wanita sedang bersimbah keringat karena tubuhnya dikerjai oleh empat orang bule dari berbeda Negara. Secara bergiliran, mereka menikmati tubuh Ratih. Awal perjanjiannya, hanya seorang saja yang harus dia layani. Ternyata, setelah di dalam kamar hotel. Ratih harus melayani empat orang sekaligus. Sebenarnya, dia berusaha untuk menolak. Namun, keempat orang itu mencekal lengan dan kakinya, membuat dia tidak berdaya.
Tubuh Ratih begitu lemas dan letih. Dia sudah tidak kuat lagi melayani ke empat pria bule itu. Hingga tanpa dia sadari, dia sudah tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Keesokkan paginya, Ratih mengerjapkan matanya, badannya terasa remuk. Bagian intinya begitu perih dan lengket. Banyak sisa-sisa cairan yang menempel pada bagian pangkal pahanya. Dia mengingat apa yang terjadi semalam.
Dia berusaha untuk berdiri, dan mencari semua orang di kamarnya. Tidak ada seorangpun di sana. Dia pun langsung mandi dan membersihkan tubuhnya.
Selesai mandi, dia berusaha menelfon ayahnya. Namun tidak diangkat. Ratih begitu jengkel kepada sang ayah, di situasi genting seperti ini ponselnya tidak diangkat. Hingga yang sekian kalinya, akhirnya diangkat juga.
"Hallo, Ayah?"
"Ada apa, Ratih?" tanya Baron dengan suara khas bangun tidur.
"Apakah pria bule itu sudah memberikan uang kepada ayah?" tanya Ratih.
"Tidak, kan perjanjiannya setelah dia puas!" ucap Baron santai.
"Aku telah ditipu, Yah!" panik Ratih.
"Maksud kamu apa, Ratih?
"Dia tidak datang sendiri di hotel itu. Mereka berjumlah empat orang. Dan mereka semuanya sudah mengerjai tubuhku sampai puas. Tapi, mereka pergi begitu saja, tanpa memberikan uang sepeser pun," jelas Ratih.
"Apa? Bagiamana bisa?" marah Baron.
"Itu karena Ratih pingsan, Yah," lirih Ratih.
"Ini semua gara-gara kau. Coba saja kok tidak ada acara pingsan. Pasti ini tidak akan terjadi!" kesal Baron.
"Kenapa justru ayah menyalahkanku? Ini juga gara-gara ayah, bukankah ayah yang mencari pelanggan itu untukku!" kesal Ratih, "Ah, sudahlah. Percuma berbicara dengan Ayah!" marah Ratih.
"Bre\*\*\*\*\*\*\*sek! Sialan!" Ratih menjambak rambutnya sendiri karena frustasi.
Setelah berpakaian rapih, terpaksa dia harus check out sendiri. Namun betapa terkejutnya dia, ada biaya-biaya lain yang harus dia bayar. Seperti biaya pemesanan makanan selama dua Minggu, biaya laundry dan minibar.
"Astaga, kenapa mahal sekali?" tanya Ratih kepada pihak hotel.
"Ini yang memesan teman Anda. Katanya Anda yang akan bertanggung jawab untuk semuanya," jawab pihak hotel.
Seketika tubuh Ratih tidak bertenaga, kakinya begitu lunglai, seperti tidak ada tulang.
"Aku telah ditipu! Dasar bule bre\*\*\*\*\*sek, sialan. Mereka sudah menipuku!" geramnya.
__ADS_1
to be continued.....