
Amelia menangis sesenggukan di makam kedua orang tuanya. Hatinya begitu bimbang dan ragu, dia tidak tahu apa yang akan di lakukannya sekarang.
"Hiks ... Hiks .... Hiks." tangis Amelia.
"Ayah, Bunda. Aku sudah tahu siapa orang yang telah melakukan perbuatan bejat itu. Ternyata dia adalah calon suamiku sendiri. Amelia benar-benar bingung, Ayah, Bunda!" ucap Amelia sambil terisak. Aska masih didalam dekapannya. "Sekarang Amelia harus bagaimana? Apakah Amelia harus meneruskan pernikahan ini atau Amelia harus membatalkannya? Jika Amel meneruskan pernikahan ini, seumur hidup Amel akan dirundung rasa bersalah kepada ayah dan bunda, karena laki-laki itu adalah penyebab kecelakaan kalian. Amel, benar-benar bingung, Yah, Bun!" Amelia berdialog dengan dirinya sendiri. "Maafkan, Amel, Yah, Bun. Amelia sudah terlalu mengecewakan ayah dan bunda," Amelia kembali terisak.
Setelah lelah menangis dan mengadu akhirnya Amelia melangkahkan kakinya untuk pulang ke rumah ayahnya. Dari makam ke rumah itu, jaraknya tidak terlalu jauh. Sehingga dengan hitungan menit saja, Amelia sudah sampai di depan rumah. Rumah ayahnya terlihat sangat kotor dan berdebu. Rumah yang lumayan lama ia tinggalkan, sejak menikah dengan seorang Arga.
Dia membuka rumah tersebut, meskipun cukup lama ditinggalkan, namun rumahnya masih rapih seperti terakhir ditinggalkan. Hanya sedikit berdebu dan kotor saja. Amelia meletakkan Aska di tempat tidur di depan televisi. Kemudian dia sedikit membersihkannya, mengelap semua debu yang menempel di meja dan kursi. Dia juga mengganti lampu yang sudah rusak dengan yang baru.
Listriknya mati, mungkin sudah lama juga tidak diisi pulsa elektrik. Dia pun keluar sebentar untuk membeli pulsa listrik. Amelia langsung menggendong putranya, keluar menuju toko pulsa listrik. Di jalan dia bertemu dengan ibu-ibu rempong, bertanya ini dan itu. Namun Amelia hanya menjawab singkat saja, dia tidak mau berurusan dengan ibu-ibu yang kerjaannya hanya menggosip.
"Aku dengar, dia sudah bercerai. Katanya, dia hamil dengan pria lain," ucap salah satu ibu-ibu.
"Benarkah? Hati-hati, sekarang dia seorang janda. Kita harus menjaga suami dan anak laki-laki kita," ejeknya.
"Ibu, benar. Apalagi dia janda cantik dan masih seksi, nggak seperti kita sudah melar," timpal ibu satunya.
"Pokoknya kita harus waspada!" cetus satunya lagi.
__ADS_1
Amelia hanya mendengar sayup-sayup ghibahan dari ibu-ibu tersebut tanpa membalas atau menjawabnya. Dia langsung pulang menuju rumahnya. Karena tidak ada untungnya juga, dia mengurusi orang seperti mereka.
Sampai di rumah, Amelia langsung mengganti sprei tempat tidur miliknya, agar Aska bisa tidur dengan nyaman. Mumpung Aska sedang tidur, ia gunakan waktunya untuk melanjutkan bersih-bersih. Dia menyapu dan mengepel semua lantai yang sedikit berdebu.
Membersihkan rumah ayahnya, ternyata lelah juga. Pantas saja di rumah Tante Celine yang besar dan juga mewah itu, mempekerjakan pelayan banyak untuk mengurus rumahnya. Dan itupun, mereka sudah memiliki tugasnya masing-masing. Seketika pikirannya menerawang, hatinya begitu merindukan Tante Celine dan Sherly. Dia juga merindukan laki-laki itu.
"Ish, kenapa aku harus memikirkannya lagi? Dia sudah membuatku kecewa," ucapnya.
Kemudian dia berlalu ke kamar mandi untuk mandi dan bersih-bersih. Setelah mandi tubuhnya terasa segar dan wangi, Amelia menoleh ke arah putranya, ternyata dia sudah terbangun.
"Cup .... Cup, Sayang! Apakah kau merindukan Daddy mu?" tanya Amelia. "Tentu saja kau merindukannya, biasanya kalau jam segini kau selalu digendong Daddy mu!" Amelia berdialog dengan dirinya sendiri.
Amelia memberikan ASI-nya untuk Aska, tetap saja Aska masih menangis. Sampai kelelahan akhirnya Aska kembali tertidur. Amelia merasakan perutnya sangat lapar. Dia tidak mungkin memasak, karena memang dia belum sempat berbelanja. Akhirnya dia memutuskan untuk memesan makanan online.
Makanan sudah sampai, Amelia menikmati makanan tersebut dalam kesendirian. Biasanya, Sherlly meminta kepada Amelia untuk menyuapinya. Sekarang dia makan sendiri, benar-benar sendiri.
"Aku juga sangat merindukannya," ujarnya.
__ADS_1
Kemudian dia membuka foto-foto diponselnya. Dimana di ponsel tersebut, ada kenangan dirinya dan pria itu. Sekilas senyumnya mengembang. Ada banyak notifikasi pesan dan panggilan masuk, ternyata nama Thomas yang tertera di layar kontaknya. Seketika wajahnya berubah sangat sedih, dia kembali meneteskan air matanya.
Dilain sisi, Thomas juga merasakan rindu yang teramat sangat. Bukan hanya kepada Amelia, dia juga sangat merindukan Aska, putra kandungnya. Biasanya jam segini, Aska akan meminta dirinya untuk bermain. Kalau Thomas tidak mau bermain, dia akan menangis dengan sangat keras. Hingga sampai akhirnya Aska akan tertidur tengkurap di dadanya.
Thomas sangat merindukan momen-momen seperti itu. Seketika dia teringat dengan kesalahannya kepada Amelia. Dia yakin Amelia pasti sangat membencinya. Tidak terasa air matanya mengalir.
Dari kamar, terdengar suara Sherly merengek ingin bertemu dengan Mommy Amelia dan dedek Aska. Namun para pelayan hanya menjanjikannya saja tanpa ada kepastian. Sherly berlarian kesana kemari membuat para pelayan kualahan dan pusing. Hingga Thomas kesal akhirnya membentak Sherly.
Sherly menangis dan mengadu kepada Omanya. Celine juga nampak terkejut melihat kemarahan Thomas kepada Sherly, dan ini adalah pertama kalinya Thomas membentak putrinya. Celine bisa memahami keadaan putranya yang sedang bersedih karena kehilangan Amelia dan Aska.
Keesokkan paginya Thomas dan Bram kembali mencari keberadaan Amelia. Dia mengecek semua bis dan kendaraan umum lainnya, yang kemungkinan besar Amelia menaiki angkutan tersebut, Namun hasilnya nihil. Bram pun memberikan ide kepada Thomas untuk memasang iklan di surat kabar dan brosur, yang kemudian akan mereka sebarkan di berbagai tempat.
Brosur yang mereka sebarkan, ternyata dibaca oleh seorang wanita yang baru saja keluar dari supermarket. Wanita tersebut adalah Ratih, dengan senyuman yang mengembang dia memiliki sebuah rencana yang akan membuatnya bahagia. Dia mendial nomor mertuanya, untuk menanyakan alamat Amelia. Walaupun dengan keadaan terpaksa, namun demi hadiah berupa uang yang dijanjikan Thomas di brosur tersebut, akhirnya Ratih meminta alamat rumah dari mertuanya.
Ratih tidak berani meminta alamat rumah Amelia ke suaminya, tentu saja nanti akan ada banyak pertanyaan dari suaminya. Dia juga takut kalau suaminya akan kembali dengan Amelia, secara pasti suaminya tahu kalau Amelia kabur dari kekasih barunya.
"Ck, beruntung sekali dia! Sudah bercerai dengan Mas Arga, eh, malah mendapatkan orang kaya!" umpat Ratih sambil memandangi brosur itu. "Harusnya aku yang berada di posisinya, secara aku lebih cantik dan seksi. Siapa sih yang akan menolak dengan kecantikan ku yang paripurna?" ucap Ratih berdialog dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
to be continued....