Amelia

Amelia
Episode 168


__ADS_3

Thomas dan Dicky mencari keberadaan Diego di rumah. Ternyata Diego sedari kemarin tidak pulang ke rumah. Tempat tidurnya juga masih rapi.


Dicky memeriksa lemari baju Diego. Semua pakaiannya juga sudah tidak ada di sana. Kamar mandi juga sudah rapi. Dicky semakin yakin bahwa Diego memang sudah meninggalkan rumah beberapa hari yang lalu.


"Dicky lihatlah!" Thomas menunjuk foto-foto yang tergantung di sana.


"Iya. Aku sudah pernah melihatnya. Aku yakin Pak Thomas, Diego memiliki obsesi besar kepada istri anda!"


"Brengsek! Beraninya dia!" marah Thomas.


"Saya hanya takut, Diego melihat diri Monica pada Amelia. Dan pasti obsesinya semakin besar untuk memiliki Amelia."


"Aku yakin dia yang menculik Amelia," timpal Thomas, "Buktinya semua foto-foto Amelia di sini. Di situ juga foto Amelia. Diam-diam dia terobsesi dengan istriku!" gumam Thomas.


"Brengsek. Dia sudah merencanakan ini semua!" geram Thomas.


"Dicky, Kau adiknya. Kau pasti tahu kemana kakakmu pergi?" marah Thomas.


"Saya benar-benar tidak tahu, Pak. Maafkan saya. Tapi, sebisa mungkin saya akan membantu Anda!"


"Sial!"


Dicky berusaha untuk menghubungi Diego. Namun hanya jawaban operator telepon yang berbicara. Dicky semakin sangat kesal.


Dicky tidak habis pikir, teganya sang kakak melakukan semua itu. Di dalam hatinya Dicky terus mengumpat. Kali ini perbuatan Diego benar-benar sudah sangat gila.


"Aku akan menemui Bram."


"Aku ikut, Pak Thomas!"


"Baiklah, Ayo!"


Mereka berdua pergi ke Perusahaan Williams Group. Tempat bekerja Thomas dulu. Sekarang sudah diambil alih oleh Bram.


Dengan kecepatan tinggi Dicky mengendarai mobilnya. Dan itu karena permintaan Thomas, agar supaya mereka cepat sampai di sana.


Mobil mereka sampai di tempat parkir tepat jam pulang kerja karyawan. Thomas dan Dicky sudah menunggu Bram keluar dari Perusahaan.


Satu jam kemudian, Bram keluar dari Perusahaan. Perusahaan juga nampak sudah sepi. Semua karyawan sudah keluar dari kantor satu jam yang lalu.


Dengan langkah cepat Thomas keluar dari mobil Dicky. Mendekati Bram yang hendak masuk ke mobil.


BUGH ..


BUGH ..


BUGH ..


BRAKK ..


"Sial!" umpat Bram jatuh tersungkur. Dia memegangi pipinya, dan mengalir darah segar di sudut bibirnya. Bram menoleh ke arah seseorang yang sudah dengan berani memukulnya.


"Bang Thomas. Kau masih hidup?" Bram membelalakkan matanya ketika melihat Thomas berdiri dengan tatapan penuh amarah. Antara senang dan ketakutan. Itulah yang Bram rasakan sekarang.


"Brengsek Kau!" kembali Thomas ingin melayangkan tinju ke arah Bram. Tapi Dicky menghalanginya.


"Pak Thomas. Sebaiknya kita bicarakan baik-baik!" tutur Dicky.


"Apakah aku harus berbicara baik-baik dengan pengkhianat seperti dia?" marah Thomas.


"Maafkan aku, Bang. Aku tahu kalau aku salah!" ujarnya.


"Kau adalah manusia paling laknat. Tidak tahu berterima kasih!" bentak Thomas.


"Aku tahu, Bang. Aku memang manusia tidak tahu berterima kasih. Abang boleh memukulku. Abang juga boleh membunuhku. Aku ikhlas, Bang! Tapi aku mohon, dengarkan penjelasanku!"


"Brengsek. Adik sialan!" teriak Thomas kalap.


"Pak Thomas. Aku mohon berhentilah. Tahan emosi Anda!" seru Dicky, "Yang paling penting sekarang adalah mencari Amelia! Anda perlu mengumpulkan semua informasi dari berbagai sumber agar Amelia cepat ditemukan."


"Iya, Kau benar!" Thomas berusaha untuk mengatur emosinya.


"Apakah Kakak ipar hilang? Kemana Kakak ipar, Bang?"


"Harusnya aku yang bertanya kepadamu, Bodoh!"

__ADS_1


"Maafkan aku, Bang. Aku tahu ini adalah kesalahanku. Abang pantas membunuhku!"


to be continued ...


☄️☄️☄️☄️☄️


Ayo dong Say, tap like dan rate bintangnya. Kasih dukungan untuk karya ini. Biar author tetap semangat menulis..🤗🤗


Sebelum lanjut, Author mau promo dulu Babe ...


JUDUL : KETULUSAN CINTA DARA


BAB 2 :


***Flash on****


Sampailah Arthur di kawasan apartemen mewah.


"Tuan, sudah sampai?"Tony membuyarkan lamunan Arthur tentang Dara.


"Oke, terimakasih, Ton! Kembalilah besok! Aku akan istirahat! Besok datanglah lebih awal, aku akan ada pertemuan penting dengan Sanjaya Group!"


"Siap, Tuan!" Jawab Tony.


"Saya mohon diri, Tuan!" pamit Tony.


Arthur mengangguk.


**Di kediaman Dara**


Melihat luka bekas cambukan, Dara tak berhenti menangis sambil tangannya dengan cekatan mengoleskan salep di sekujur tubuh Rama.


"Rama, nggak seharusnya kamu melindungi kakak?"


"Ini cuma luka kecil kak! Kakak tidak usah khawatir! Luka kecil kau bilang! Luka seperti ini pasti sakit dan perih!" Dara hanya menggeleng saja.


"Sudah kak, jangan menangis terus !"


"Malu, kak, sama umur!" goda Rama.


"Ish, Kau ini!" sambil mencubit perut Rama.


Sampai suatu ketika orang tua Dara meninggal karena kecelakaan yang tragis. Membuat Dara kecil (10 tahun) dan Rama kecil ( 5 tahun) harus kehilangan sosok orang tua. Dan pihak polisi menyerahkan hak asuh anak kepada bibi dan pamannya. Termasuk rumah orang tua Dara beserta asetnya. Dara dan Rama memang terlahir dari keluarga sederhana, ayahnya yang pekerja keras mampu membeli rumah sederhana dan tanah di dua tempat.


Orang tua Dara berfikir , suatu saat mereka meninggal ada sedikit harta yang bisa mereka bagikan kepada kedua anaknya.


Namun karena keserakahan dari bibi dan pamannya, semua aset peninggalan orang tua Dara di jual tanpa sepengetahuan adik beradik itu. Mereka gunakan untuk taruhan di meja judi.


Mereka juga sering menghabiskan waktu hanya untuk bersenang-senang. Setiap harinya mereka hanya minum-minum dan menghambur -hamburkan uang. Dara yang harus kerja keras mencari uang, paman dan bibinya yang menghabiskan.


Dara sudah terbiasa dengan bekerja, karena semenjak kecil dia dituntut mencari uang untuk menghidupi paman dan bibinya ( termasuk Rama , adiknya). Tanpa belas kasihan, Dara kecil diperas tenaganya hanya untuk mendapatkan uang.


Setelah Dara menginjak umur sembilan belas tahun, Dara terpaksa harus bekerja sebagai pemandu lagu .


Yah, memang selain cantik dan memiliki tubuh yang sintal dan lumayan seksi. Dara juga dikaruniai suara yang indah dan serak - serak basah seperti iis Dahlia..🤭


Dengan begitu, dia bisa menghasilkan uang yang lumayan. Paling tidak, bisa menyumpal mulut bibi Sarah supaya tidak mengoceh terus.


Cerita Dara tidak sampai disini. Dulu, pertama kali mendapatkan pekerjaan sebagai pemandu lagu pun tidak segampang yang dibayangkan.


Dara berjuang keras untuk meluluhkan hati pemilik club malam , tentu dengan suaranya ( Jangan berpikir macam -macam readers )


Ya, Dara berhasil meluluhkan pemilik club karena suara Dara memang sangat indah termasuk body yang sangat mendukung untuk pekerjaan pemandu lagu.


Pelanggan Dara sangat banyak termasuk anak muda dan om-om yang hatinya sedang galau.


Dara hanya menemani menyanyi saja tidak lebih, Karena prinsip Dara,dia hanya menjual suaranya bukan tubuhnya. Berbeda dengan teman seprofesinya, demi mendapatkan uang lebih mereka rela menyerahkan tubuh mereka.


Pernah ada salah satu pelanggan yang ingin membookingnya, tentu saja dengan bayaran yang fantastis. Namun Dara menolaknya dengan halus, dia berikan langganannya pada teman seprofesi. Namun langganannya tidak menolak, karena bagi seorang pria adalah kepuasan.


***********************************************


**Royall Springhill Residence**


Jam sudah menunjukkan pukul 2 malam, namun Arthur masih saja belum bisa memejamkan matanya. Kepingan-kepingan masa lalu yang suram masih membuatnya terjaga. Masa lalu mengingatkan kembali akan kepedihan, kesedihan dan rasa sakit yang luar biasa. Saat itu pula ingatannya menerawang jauh, sebelum dia menjadi seorang Arthur yang sekarang.

__ADS_1


Dibukanya sebuah amplop coklat,didalamnya berisikan foto-foto. Arthur mengambil salah satu foto, dimana foto tersebut menampilkan keluarga yang harmonis keluarga yang bahagiya. Ya, itu adalah foto keluarga baru ayahnya.


"Tunggu, aku akan datang sebagai iblis ayah, penghancur keluargamu!" ucap Arthur sambil membakar foto tersebut.


Arthur pun mencoba memejamkan matanya.....


Arthur mendengar tangisan seorang perempuan,meminta tolong.


Terdengar sangat pilu dan menyayat hati.


Saat di dekati dan sang perempuan menoleh, ternyata ...


"Damn it ... !"


"Kenapa dia bisa muncul dI mimpiku?"


"Ah, sungguh sangat sial aku berjumpa dengannya! Tak seharusnya aku menolongnya waktu itu," Arthur mengumpat dirinya sendiri.


Berkali-kali Arthur merutuki diri nya,karena sudah menolong wanita itu.


Akan tetapi tiba - tiba saja muncul ide gila di pikirannya.


*****Flash Back*****


Dret...dret...dret...


"Ah, cepat sekali pagi? Perasaan aku baru tidur."


"Jam berapa sekarang?"Dara melihat jam diponselnya.


"Huft, baru jam 5!"


Tiba-tiba nada dering ponsel tak berhenti berbunyi. Ponsel beringtone I hate everything about you dari soundtracknya Three days grace terus saja berdering. Sekilas Dara melirik meja sebelah kanannya, sambil mengingat.


"Bukankah ini jas pria kulkas itu?"Dara mencoba mencari bunyi tersebut.


"Ups, ponsel ini?"


"Duh,bagaimana ini? Aku angkat tidak yah?"


"Sudah panggilan ke lima!"Dara nampak ragu.


"Hallo..?"Dara memberanikan diri menerima panggilan.


"Hey, Nona! Ini aku! Pemilik ponsel itu Kembalikan ponselku!" Arthur marah-marah ditelpon.


"Nanti malam aku temui kau di club! Jangan mencoba kabur dariku!" ancam Arthur.


"Ish,kau pikir siapa dirimu?"Dara memberengut kesal.


"Ya, kita bertemu di klub! Tuan pikir saya tertarik dengan ponsel tuan?"tambah Dara yang langsung mematikan sambungan telponnya.


"Dasar pria aneh! Kemaren baik mau menolong! Sekarang seperti harimau mengaum!" umpatnya.


"Marah-marah ditelpon, membuat kesal saja," kesal Dara.


********


Flashback Off


Seperti hari-hari biasanya, Dara selalu bangun pagi untuk mengerjakan pekerjaan rumah.


Dari memasak, membersihkan rumah,mencuci baju bibi dan pamannya. Semua pekerjaan dikerjakan oleh Dara sendiri.Terkadang Rama pun membantunya,tapi selalu dilarang oleh Dara.Karena Dara melarang keras , Rama mengerjakan pekerjaan perempuan. Saat hampir selesai dengan pekerjaannya, dari arah pintu Bibi memanggil.


"Dara,, Dara!" panggil bibi.


"Iya, ada apa, Bi?" jawab Dara.


"Hari ini kamu jangan kemana-mana! Karena ada tamu penting! Cepat, mandi dan dandan yang cantik!" ucap Bibi mendorong tubuh keponakannya untuk berdandan dan bersiap-siap.


"Emang kita mau kemana?" tanya Dara.


"Ish,kau nurut aja perintah bibi! Pokoknya kamu dandan yang cantik!" ucapnya lagi.


Dara pikir tamu bibi adalah kerabat dari pamannya.

__ADS_1


to be continued...


**************


__ADS_2