Amelia

Amelia
Episode 129


__ADS_3

"Siapa pemilik mobil ini?" tanya Thomas.


"Mobil ini dibeli beberapa tahun silam. Ini nama pemiliknya yang asli. Dan sepertinya mobil tersebut dijual kembali. Coba Anda tanya langsung ke pemiliknya," tutur Pak polisi memberikan penjelasan.


"Baiklah, terima kasih banyak atas informasinya, Pak!" mereka saling berjabat tangan. Thomas mengajak Bram ke kantor Polisi, karena hanya pihak kepolisian yang bisa melacak siapa pemilik mobil tersebut lewat plat nomor.


Thomas dan Bram tidak mau ketinggalan jejak, Mereka langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju alamat itu. Hatinya terasa sangat geram, karena sudah kesekian kali peneror hendak mencelakai keluarganya.


"Bang, sepertinya jalan ini deh!" ucap Bram kepada Thomas.


"Jadi, kita belok?" tanya Thomas.


"Iya, Bang. Ini jalan Anyelir, dan Nomornya 27," ucap Bram mengarahkan Thomas untuk berbelok ke jalan tersebut. Pas di tikungan mereka berhenti.


"Itu, Bang alamatnya!" tunjuk Bram.


CHIIIIIT ....


Mobil Thomas berhenti di sebuah rumah yang cukup sederhana. Di depan rumah tersebut terdapat garasi yang luas, di mana terdapat berbagai macam jenis mobil. Sepertinya orang ini suka mengoleksi mobil, pikir Thomas.


Mereka berdua turun dan melangkahkan kakinya masuk, Thomas mengamati sekelilingnya. Nampak sepi. Kebetulan ada seorang wanita paruh baya, dia keluar dengan membawa tempat sampah. Dia membuang sampahnya di bak sampah depan rumah.


"Permisi!" sapa Thomas dengan ramah, si wanita menoleh ke arah Thomas, "Apakah benar ini rumah Bapak Jonathan?" tanya Thomas kepada wanita paruh baya itu. Dilihat dari pakaiannya, sepertinya dia seorang ART.


"Benar. Bapak-bapak ini siapa yah? Kenapa mencari majikan saya?" tanya ART itu dengan ramah pula.


"Kami ingin bertanya tentang mobil. Kebetulan kami juga sangat menyukai mobil, Apalagi mobil-mobil yang Bapak Jonathan koleksi," terang Thomas kepada ART tersebut.


"Oh, Bapak mau membeli mobil?" Thomas mengangguk.


"Bisakah saya bertemu dengannya?" tanya Thomas.


"Bapak sedang tidak ada di rumah," jawab ART itu.


"Kalau boleh tahu kemana ya, Mba?" tanya Bram.


"Bapak dan keluarga lagi liburan di Bali. Mungkin pulangnya kalau nggak hari ini, ya, besok!" jawabnya lagi.


"Besok? Mungkin besok saja aku datang ke sini lagi," batin Thomas sambil berfikir.


"Baiklah, Mba. Besok saya datang lagi. Terima kasih banyak atas informasinya," ucap Thomas sangat ramah. ART tersebut tersenyum ramah seraya menganggukkan kepala.


Thomas dan Bram pun kembali ke mobil, dan mereka memutuskan untuk langsung ke kantor.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀


Seorang pria duduk menyendiri di kamarnya. Dia menjejerkan lembar demi lembar koran bekas, di mana di koran tersebut memperlihatkan sebuah berita kecelakaan sepuluh tahun yang lalu. Dia menyulutkan rokok, dan menyesapnya dalam, dan mengeluarkannya lewat hidung. Kemudian mengulanginya lagi, dan ia keluarkan lewat hidung lagi.


"Robby Williams, Kau sudah menghancurkan semuanya. Kau juga sudah menghancurkan mimpiku untuk bahagia. Aku akan menghancurkan keluargamu, sehancur-hancurnya!" ucap pria itu dengan meremas foto ditangannya.


Tok ... Tok ... Tok


"Diego?" panggil Dicky mengetuk pintu kamar Diego. Diego membuka pintu kamarnya secara perlahan dan melongok kan kepalanya di celah pintu yang terbuka sedikit.


"Hey, Dik. Ada apa?" tanya Diego.


"Ayo kita makan malam! Makan malam sudah siap!"


"Okey," dengan hati-hati Diego menutup pintu kamarnya. Dicky sampai penasaran ingin melihat ada apa di dalam kamar Diego.


"Lu, kenapa sih?" tanya Dicky.


"Nggak apa-apa. Ayo kita makan malam, gue udah lapar nih!" ajaknya.


"Okey!" Dicky mengernyitkan alisnya melihat tingkah aneh kakak kandungnya. Selisih usia mereka terpaut cukup jauh. Dicky seorang pria lajang berusia 33 tahun, sedangkan Diego seorang pria dewasa berusia 43 tahun.


Mereka duduk di ruang makan, menikmati makan malam yang dimasak oleh para pelayan. Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar. Biasanya, Dicky selalu menikmati makan malamnya sendiri. Namun, kali ini dia menikmati makan malam bersama dengan Diego.


"Buat apa gue nikah? Toh, gue sudah punya segala-galanya," ujarnya.


"Lu, Apa nggak ingin memiliki keturunan?"


"Nggak. Gue sama sekali nggak pernah memikirkan keturunan. Gua hanya ingin menuntut balas atas kematian Monica. Dan, mereka harus mendapatkan karmanya!" ucap Diego dengan mata yang penuh amarah.


"Astaga, Diego. Itu peristiwa kan sudah sepuluh tahun yang lalu. Kenapa harus diungkit lagi sih?"


BRAKK ..


"Karena Lu nggak pernah tahu jadi gue! Lu nggak pernah merasakan apa yang gue rasa!" marahnya setelah menggebrak meja.


"Okey, Okey. Kita tidak usah membahas ini lagi! Sekarang teruskan makannya!"


"Gue udah nggak selera makan," ucap Diego menyingkirkan piringnya, "Gue mau pergi ke rumah teman. Mungkin gue nggak pulang, jadi nggak usah nunggu gue pulang!" ucapnya. Dicky hanya menganggukkan kepalanya tidak bertanya apa-apa. Percuma jika harus berbicara dengan orang yang berfikir dengan emosi, pikir Dicky.


"Siapa sih orang yang Diego maksud?" tanya Dicky di dalam hatinya.


"Bodo ah, pusing aku mikirin Abang satu itu!" ucapnya sambil berlalu pergi.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀


Amelia nampak sibuk membuat kue untuk kedua buah hatinya. Dia bingung harus melakukan apa di rumah, rasanya sangat bosan hanya berdiam diri tidak melakukan apa-apa. Untunglah ada kedua buah hatinya yang setiap hari menghibur.


Dengan kelihaiannya di dapur, dia membuatkan cheese cake untuk kedua buah hatinya. Sherly yang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, dia sudah bersiap-siap untuk membantu Mommynya.


"Mommy, Sherly bantu ya!" ucapnya. Amelia tidak mungkin bisa menolak keinginan buah hatinya. Dia bisa memaklumi, anak sekecil Sherly memang sangat pintar dan memiliki rasa keingintahuan tingkat dewa.


"Kamu boleh membantu Mommy, dengan memarut keju di atas cheese cake nya," ucap Amelia. Tentu saja gadis kecil itu sangat senang mendapat perintah dari sang Mommy. Aska yang melihat mereka sangat sibuk, dia tidak mau ketinggalan. Dia juga ingin ikut membantu sang Mommy.


"Aka itut!" ucapnya, sungguh menggemaskan sekali.


"Okey, Aska boleh membantu Mommy. Tugas Aska nanti menaburkan keju yang diparut Kakak Sherlly, ya?" ucap Amelia sangat lembut. Aska sangat bahagia. Secara bersama mereka menaburkan banyak keju di atas cheese cake nya.


"Selesai!" ucap Amelia.


"Asyik, Sherly mau, Mom!"


"Aka juga au," ucapnya.


"No, No! Masih panas. Sambil menunggu cheese cake nya dingin, Ayo, kita mandi dulu!" ajak Amelia,"Ih, Kakak Sherly sama Dede Aska bau acem!" ledek Amelia sambil menggelitik perut kedua buah hatinya.


"Ih, Mommy geli," tawa mereka membuat Amelia sangat terhibur.


"Ayo, mandi dulu! Sudah sore, sebentar lagi Daddy pulang!"


"Okey, Mommy!" jawab mereka serentak.


Selesai memandikan mereka dan memakaikannya baju, mereka berlarian ingin secepatnya mencicipi cheese cake yang Amelia buat.


"Wah, asyik, pasti lezat banget," ucap Sherly.


"Aka au," ucap Aska dengan suara cadelnya.


"Wah, sepertinya enak. Tante boleh minta nggak?" ucap Alina.


"Boleh. Tapi, sedikit saja ya?" jawab Sherly.


"Ish, ko Sherly pelit amat sih. Masa Tante dikasih sedikit?" manyun Alina, "Memangnya, Sherly nggak kasihan sama Dede bayi yang ada di perut Tante?"


"Iya, deh, boleh. Yang banyak juga boleh," ujarnya.


"Asyik!"

__ADS_1


to be continued .....


__ADS_2