Amelia

Amelia
Episode 121


__ADS_3

"Pak Dicky? Pak Dicky?" panggil Mona.


"Eh, iya," jawabnya tergagap. Mona membuyarkan lamunan nakalnya.


"Bagaimana, Pak? Apakah Anda suka dengan rencana kami?" tanya Mona.


"Rencana? Rencana apa?" tanya Dicky.


"Ajang pencarian model berbakat?"


"Oh, yang itu. Aku serahkan padamu, Mona!" ucap Dicky, "Aku keluar dulu. Aku butuh udara segar!" ujarnya.


"Baik, Pak,"


Dicky meninggalkan ruang rapat, dia merasa dirinya tidak baik-baik saja. Entah kenapa, otaknya hanya berisi bayangan Amelia. Wajah wanita berparas ayu itu menari-nari di dalam otaknya.


Dicky kembali ke ruangannya. Saat membuka pintu, dia sangat terkejut karena dia kedatangan tamu tak diundang.


"Dicky?"


"Diego," ucap Dicky. Dia menghampiri pria yang berdiri di depannya, dan langsung memeluknya.


"Kemana saja kau selama ini? Kau sehat?" tanya Dicky.


"Iya, aku sehat!" jawab Diego.


"Apakah kau sedang menungguku?"


"Tidak. Aku baru saja datang," jawabnya.


"Ayo, Masuklah!" ajak Dicky, "Aku sangat senang melihatmu lagi. Kemana saja kau selama ini?" Dicky memberikan kode, mempersilahkan Diego duduk. Diego sendiri adalah kakak kandung Dicky. Sepersekian tahun mereka tidak bertemu. Diego juga tidak memberi kabar apapun.


"Selama ini aku tinggal di Bali. Aku mendirikan Perusahaan kecil disana. Dan membuka hotel dan villa. Jika Kau ke Bali, mampirlah ke tempatku!" ucapnya.


"Wow, Kau hebat!" puji Dicky, "Kapan-kapan pasti aku akan ke sana, dan mampir ke tempatmu!"


"Baiklah, aku tunggu!"


"Kau masih bertahan dengan agensi model mu?"


"Iya, tentu saja. Aku suka pekerjaanku," jawab Dicky.


"Baguslah kalau begitu. Aku sedang ada pekerjaan di sini. Makanya aku mampir ke tempatmu!"


"Pekerjaan? Pekerjaan apa?" tanya Dicky penasaran.


"Biasalah, masalah bisnis," jawabnya.


"Kalau begitu, Tinggallah di rumahku!" suruh Dicky.


"Terima kasih banyak," jawab Diego, "Aku pergi dulu! Setelah pekerjaanku selesai, nanti aku langsung pulang ke rumahmu!"


"Baiklah. Aku tunggu Kau di rumah,"


"Okey. Aku pergi dulu!"


"Bye!"


🍀🍀🍀🍀🍀


Amelia membangunkan suaminya, Thomas semakin mengeratkan pelukannya pada bantal guling.


"Mas, Ayo bangun!" suruhnya.


"Ehm. Dingin, Sayang!" sahutnya.


"Makanya kalau tidur pakai baju, Mas. Siapa suruh hanya bertelanjang dada?" cibir Amelia.

__ADS_1


"Usaha, Sayang!"


"Usaha apa?" bingung Amelia.


"Usaha menggodamu," kekeh Thomas merasa lucu dengan raut muka istrinya yang cemberut.


"Ck,"


"Memangnya kamu nggak ke kantor?"


"Ke kantor," jawabnya malas karena masih mengantuk.


"Kalau begitu, Ayo bangun!" suruh istrinya lagi. Thomas membuka sedikit matanya, kemudian menarik tubuh Amelia ke dalam pelukannya.


"Ish, Mas. Apa yang kau lakukan?" kesalnya.


"Memelukmu," jawabnya, "Berhentilah bergerak. Gerakan mu membuat yang dibawah sana ikut terbangun!"


"Yang dibawah apa?"


"Sesuatu yang sangat kau suka," kekeh Thomas lagi.


"Ish, dasar mesum!" sungut sang istri.


"He ... He ... He."


"Ayo, Bangun! Sepagi ini jangan macam-macam, Karena aku sudah mandi!" ucap⁰ Amelia.


"Kita lakukan sekali saja, Sayang!" pinta Thomas.


"No. Sudah sana mandi!" suruh Amelia. Dengan langkah yang malas akhirnya Thomas pergi juga ke kamar mandi. Amelia dibuat terkekeh oleh tingkah suaminya.


Seraya menunggu Thomas mandi, Amelia menyiapkan baju kantor dan dasi suaminya, ia letakkan di atas kasur.


"Eh, jagoan Mommy sudah bangun!"


Amelia membopong tubuh Aska dan meletakkannya di kasur. Dia meluangkan sedikit waktunya untuk bermain dengan putranya.


Thomas keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk dipinggang. Rambutnya dalam keadaan sangat basah, air mengalir dari ujung rambut suaminya, membuat lantai menjadi sangat basah.


"Jagoan Daddy sudah bangun!"


"Daddy?" panggil Aska. Hanya dua kata itulah yang paling jelas ia ucapkan.


"Sini, biar aku keringkan rambut kamu, Mas!" Amelia meraih handuk kecil dari tangan suaminya. Thomas duduk di atas kasur, dan meraih tubuh putranya agar lebih mendekat. Sedangkan Amelia membantu mengeringkan rambut sang suami.


"Daddy?" panggil Aska lagi.


"Sayang, sepertinya Aska perlu teman deh!" ujar Thomas.


"Teman apa?"


"Teman bermainlah,"


"Maksud Mas?"


"Dia perlu adik laki-laki, supaya ada teman untuk bermain," sahut suaminya.


"Itu sih mau kamu," cemberut Amelia.


"Tapi, Sayang, aku serius," ujarnya lagi.


"Aku juga dua rius," sahutnya, "Tunggu Aska berusia tiga tahun, barulah kita kasih adik," imbuh Amelia.


"Wah, Aska mau dikasih adik sama Mommy," goda Thomas.


"Mas, sudah kering rambutnya. Sekarang pakai baju kamu!"

__ADS_1


"Pakaikan dong, Sayang!"


"Ish, Manja!" seloroh Amelia, Thomas terkekeh geli. Memang hari ini, dia ingin sekali bermanjaan dengan sang istri. Dengan telaten Amelia memakaikan baju dan dasi suaminya. Setelah tugasnya selesai, barulah Amelia memandikan putranya dengan air hangat.


Semuanya sudah berkumpul di ruang makan untuk menikmati sarapan dalam suasana bahagia karena menyambut pagi yang sangat cerah. Berbeda dengan Alina, mukanya nampak masam dan kusut.


Amelia duduk disebelah suaminya untuk menikmati sarapan, sedangkan Aska ia serahkan kepada baby sister. Dia melihat kalau adik iparnya terlihat tidak bersemangat.


"Al, ada apa? Apakah makanannya tidak enak?" tanya Amelia.


"Tidak, Kak," lirihnya.


"Lalu, kenapa? Apakah kau sakit?" Alina kembali menggelengkan kepalanya.


"Itu karena tidak ada Bram disisinya," celetuk Thomas. Amelia mencubit kecil paha suaminya.


"Auw, sakit, Sayang!" pekik Thomas.


"Makanya, jangan menggoda adikmu! Dia sedang bersedih," bisik Amelia.


Karena ada pekerjaan yang sangat mendesak, Bram terpaksa harus kembali ke Jerman. Dan Alina harus mengikhlaskan kepergian suaminya.


"Al, kamu jangan khawatir! Bram pasti akan kembali ke Indonesia. Dia ke Jerman kan karena harus menyelesaikan pekerjaan, kalau pekerjaan disana sudah beres, Bram pasti kembali!" tutur Amelia.


"Iya, itu benar, Al," tambah Mama Celine.


"Jika kamu stress, pasti akan berdampak buruk buat janin. Kamu kan tahu betul dunia kesehatan, jadi, kau harus bahagia!" tutur Amelia lagi.


"Iya, Al. Apa yang dikatakan Amelia benar. Lagian kenapa sih Kau bersedih dengan kepergian Bram? Dia itu kan bekerja, dan uangnya juga untuk kamu dan calon anak kalian. Bram itu sudah tua, tidak perlu kau tangisi kepergiannya," oceh Thomas. Amelia dan Mama Celine saling berpandangan. Mereka juga kompak mendelik kan matanya ke arah Thomas.


"Ada apa? Kenapa kalian melotot ke arahku? Apakah kata-kataku salah? Dimana salahnya?"


"Ck, Mas, Alina itu sedang bersedih. Jangan membuat beban pikirannya!" sungut Amelia. Thomas terkekeh melihat istrinya mengomel.


"Iya, Maaf, Sayang!"


"Kalau kau bosan, bagaimana kalau kau ikut saja denganku ke butik?" tawar Amelia.


"Iya, Sayang. Boleh juga tuh ide Amelia!" ucap Mama Celine.


"Baiklah," jawab Alina.


"Gitu dong," sahut Amelia senang melihat adik iparnya kembali ceria.


Selesai sarapan mereka pun bersiap-siap untuk berangkat. Thomas mengantarkan Sherly ke Sekolah, barulah dirinya mengantarkan istrinya ke butik. Kali ini Amelia tidak datang sendiri, Alina ikut bersamanya ke butik.


Thomas menurunkan mereka di depan butik. Amelia berpamitan kepada suaminya, tidak lupa juga dia mencium punggung tangan suaminya.


Thomas kembali melajukan mobilnya menuju Perusahaan. Dengan kecepatan tinggi dia memacu mobilnya. Hingga dalam hitungan menit saja dia sampai.


Thomas melangkahkan kakinya masuk ke Perusahaan. Semua karyawan menyapa ramah. Thomas juga tidak kalah ramahnya, namun masih menampilkan kewibawaannya sebagai seorang pemimpin.


Thomas masuk ke dalam lift, dan menekan tombol nomor tujuh, letak kantornya. Di depan kantor, sang sekretaris wanita menyambut dengan ramah.


"Selamat pagi, Pak!" sapa Siska.


"Pagi, Siska,"


"Oya, Pak. Ini ada paketan buat Anda!"


"Dari siapa?"


"Tidak ada nama pengirimnya, Pak. Tapi, ini ditujukan untuk Anda!" Siska menunjuk tulisan nama CEO.


"Baiklah, Terima kasih banyak!" jawab Thomas. Thomas berlalu masuk ke dalam kantor dengan membawa paketan tersebut.


Dia meletakkan paketan tersebut di mejanya. Thomas duduk di kursi kebesarannya, dia membuka berkas-berkas pekerjaan dan membuka email yang masuk di laptopnya.

__ADS_1


to be continued........


__ADS_2