Amelia

Amelia
Episode 123


__ADS_3

Dengan telaten Thomas menyuapi istrinya. Tangan kanan Amelia tidak bisa bergerak, tangannya terluka dan diperban.


"Sudah, Mas. Aku sudah kenyang," ujar Amelia.


"Beneran?"


"Iya, Mas," jawab Amelia.


"Mommy?" panggil Aska, seakan-akan bocah itu tahu kalau Mommy nya sedang sakit.


"Jagoan Mommy. Sini, Sayang!" Aska duduk dipangkuan Mommy nya. Kemudian menciumi pipi Amelia. Siapa coba yang tidak gemas dibuatnya, Amelia saja sangat gemas.


"Mommy?" teriak Sherly. Gadis kecil itu berlari menghambur ke pelukan ibu sambungnya.


"Mommy kenapa? Tangan Mommy kenapa?" cecar Sherly dengan banyak pertanyaan.


"Mommy tidak apa-apa, Mommy cuma terjatuh," jawab Amelia supaya Sherly tidak khawatir.


"Mommy yakin tidak apa-apa?"


"Iya, Sweetie. Mommy mu ini wanita yang kuat!" ujarnya.


"Syukurlah, Mommy tidak apa-apa," senang Sherly.


"Sherly, kamu baru pulang Sekolah?" tanya Daddy-nya.


"Yes, Dad. Tadi ada tambahan pelajaran, jadi, Sherly pulang telat," jawab Sherly.


"Kalau begitu, cepatlah ganti bajumu! Lalu, makan! Mommy sedang sakit, jadi Kau harus mandiri!" tutur Thomas.


"Yes, Dad," jawab Sherly, "Bye, Adik Aska! Kakak Sherly mau ganti baju dulu, nanti kita main ya?" ucapnya kepada Aska. Aska mengiyakan ajakan kakaknya, seolah-olah dia tahu apa yang dikatakan sang kakak.


"Kaka Chelly," ucapnya masih belum jelas. Thomas dan Amelia terkekeh.


"Sayang, sepertinya aku harus menambah security baru di rumah ini," ujar Thomas.


"Lho, kenapa, Mas?" heran Amelia, "Apakah ada masalah serius?"


"Iya. Kau ingat dengan orang yang menabrakmu?"


"Iya, Mas. Aku ingat," jawabnya.


"Ada apa dengan orang itu?"


"Aku berfikir dia sengaja melakukannya. Dia sengaja ingin mencelakai Alina. Jika, saja kau tidak menarik Alina. Pasti Alina yang terserempet, dan Kau tahu kan dia sedang hamil. Aku tidak bisa membayangkan seandainya dia yang terserempet," ucap Thomas.


"Apakah Mas tahu siapa orangnya?"


"Sayangnya tidak, Sayang. Aku tidak tahu," jawab Thomas, "Tapi, tadi pagi aku mengalami sesuatu yang aneh,"


"Aneh bagaimana, Mas?" heran Amelia. Thomas pun menceritakan kejadian tersebut kepada istrinya. Dia juga bercerita tentang kantong kresek yang ART temukan di depan gerbang. Amelia menutup mulutnya sendiri, dia tidak percaya ada orang yang tega ingin mencelakai keluarganya.

__ADS_1


"Siapa, Mas? Siapa orang yang sudah tega melakukan hal tersebut kepada keluarga kita?"


"Entahlah, aku tidak tahu. Yang jelas, aku melarang mu untuk bekerja dulu. Aku juga melarang mamah dan Alina pergi keluar rumah tanpa penjagaan. Aku akan menambahkan security lagi di rumah ini. Jadi, aku mohon sementara ini menurut lah kepadaku!" tegas Thomas.


"Baiklah, Mas," jawab Amelia.


Satu Minggu berlalu, Thomas menambah tiga security lagi untuk menjaga rumah, jadi, semuanya ada empat security yang bekerja di rumah ini.


Sherly sendiri, terpaksa harus mengikuti homeschooling. Thomas terlalu khawatir dengan keselamatan keluarganya, apalagi setelah kejadian yang dialami oleh istrinya. Dia menjadi lebih protektif dan lebih sensitif.


Sebuah mobil berhenti di seberang jalan, seorang pria nampak mengamati kediaman Williams. Dia nampak meremas dan memukul stir mobil, melihat di gerbang ada dua penjaga yang menjaga rumah besar itu.


"Apa kau pikir dengan mempekerjakan dua penjaga kalian bisa lolos dari tanganku?" gamamnya, pria itu tersenyum devil.


🍀🍀🍀🍀🍀


Satu Bulan Berlalu


Bram keluar dari Bandara, dia menenteng tas koper ditangannya. Dia sengaja tidak memberitahukan kepulangannya karena ingin memberikan surprise kepada sang istri.


Dengan taksi dia sampai di depan pintu gerbang. Setelah membayar ongkos taksi, dia turun dan melangkahkan kakinya menuju gerbang.


Bram nampak heran, karena rumahnya dijaga oleh empat orang penjaga sekaligus. Dan salah satu penjaganya, dia mengenal dengan baik.


"Pak Udin, buka pintunya?" suruh Bram kepada security.


"Eh, Tuan Bram," ucapnya, "Iya, Tuan, Saya buka," ucap Pak Udin.


"Iya, Den. Tuan Thomas yang mempekerjakan mereka. Karena akhir-akhir ini, ada yang berusaha meneror rumah ini," jelas Pak Udin.


"Teror?"


"Iya, Tuan,"


"Alina!" seketika Bram teringat dengan istrinya yang sedang hamil muda. Dia takut terjadi sesuatu dengan Alina, dia pun bergegas masuk ke dalam untuk menemui istrinya.


"Sayang?" teriak Bram.


"Alina?" teriaknya lagi.


"Abang?" Alina bahagia melihat kedatangan suaminya, dia menghambur kepelukan suaminya.


"Abang pulang kok nggak bilang-bilang?" kesal Alina.


"Iya, Maaf, Sayang. Abang ingin membuat kejutan buat kamu. Tapi, justru Abang yang terkejut," ujarnya, "Kata Pak Udin keluarga kita di teror, apakah itu benar?" tanya Bram.


"Iya, Bang. Keluarga kita sedang diteror oleh seseorang yang tidak kita kenal," jawab Alina.


"Kok bisa?"


"Entahlah, Al, tidak tahu," jawabnya.

__ADS_1


"Bram? Kau pulang!" teriak Mama Celine.


"Mama!" Bram memeluk wanita tua itu dengan sayang.


"Kok nggak kasih kabar?"


"Kejutan, Mah," jawab Bram.


"Mah, apakah benar keluarga kita sedang diteror?" tanya Bram.


"Iya,"


"Bagaimana ceritanya, Mah?" tanya Bram penasaran.


"Kau tanyakan saja nanti dengan Abangmu?" jawab Celine.


"Dimana Bang Thomas?"


"Dia masih di kantor," jawab Celine.


"Kau sudah pulang, Bram?" tanya Amelia yang baru keluar dari kamar, sambil menggandeng tangan putranya. Setelah Aska lancar berjalan dan sangat aktif, Amelia lebih memilih pindah ke kamar lantai satu. Itu akan memudahkannya mengawasi buah hatinya.


"Iya nih, Kak. Aku sudah pulang," jawab Bram.


"Akhirnya yang ditunggu-tunggu pulang juga. Kasihan istri kamu tuh, Bram. Seharian memikirkan kamu terus!" ucap Amelia. Alina tersipu malu, pipinya memerah seperti kepiting rebus. Entah kenapa sejak hamil, dia sangat sensitif. Suasana hatinya mudah berubah-ubah.


"Benarkah? Sekarang Abang sudah ada disini, Sayang! Kamu kangen yang mana? Yang diatas apa yang dibawah?" ucap Bram. Amelia dan Celine berdecak kesal. Mereka memilih untuk menyingkir dari hadapan suami istri itu. Amelia menutup mata putranya, agar mata putranya tidak ternoda melihat kemesraan dua orang dewasa yang sedang melepas rindu.


"Ayo, Sayang, kita pergi dari sini! Nanti matamu ternoda melihat adegan tidak senonoh yang dilakukan uncle mu!" sungut Amelia. Mereka berdua hanya terkekeh geli melihat kakak iparnya bersungut-sungut.


🍀🍀🍀🍀🍀


Thomas keluar dari Perusahaan menuju parkiran. Dia masuk ke mobil, dan memacunya dengan kecepatan tinggi membelah padatnya jalan raya.


Saat mobilnya berjalan ditempat yang sepi, tiba-tiba ada empat orang bermotor mengikutinya dari belakang. Mereka berhenti tepat di depan mobil Thomas, hingga akhirnya Thomas menginjak rem dengan mendadak.


Empat orang bertubuh besar dan kekar turun dari motor. Mereka menyuruh Thomas untuk keluar dari mobil. Thomas membuka pintu mobil, dan keluar.


"Mau apa kalian?" bentak Thomas.


"Kami dibayar untuk menghabisi kamu!"


Adu hantam dan pukul pun terjadi. Thomas yang notabenenya menguasai ilmu bela diri, dengan mudah ia mengalahkan lawannya.


BUGH ... BUGH .... BUGH


Satu pukulan ia layangkan kepada pria bertubuh besar, berkulit gelap, pria itu tersungkur tidak berdaya. Dari arah belakang, seseorang menendang punggung Thomas. Menghajar dan menendang, namun Thomas masih bisa berdiri dan mengalahkan mereka semua. Mereka nampak babak belur, Mereka pun kalah dan lari terbirit-birit.


Nampak Thomas kelelahan, nafasnya tidak beraturan. Dia kembali ke mobil dan memutuskan untuk langsung pulang.


to be continued.....

__ADS_1


__ADS_2