
Satu Bulan Berlalu
Ratih berjalan menuruni tangga dengan membawa Baby Key. Dia melihat Dahlia sedang duduk bersantai di ruang keluarga. Ratih menghampiri ibu mertuanya.
"Bu, Tolong jaga Key. Aku mau pergi!" ucap Ratih kepada ibu mertuanya. Ratih langsung memberikan bayinya ke gendongan sang mertua.
"Lho, kamu mau kemana?" tanya Dahlia.
"Ratih ada janji ketemu sama teman. Selesai dengan urusan, Ratih langsung pulang!" jawabnya, "Dan ini susu untuk Keyla," ucap Ratih memberikan susu formula. Memang, setelah Ratih pulang ke rumah, Ratih tidak mau memberikan ASI nya kepada Keyla. Alasannya, dia takut kalau putingnya sakit, lecet dan sebagainya.
"Lho, kamu bagaimana sih? Kenapa harus dititipkan kepada ibu? Ini kan anak kamu!" kesal Dahlia.
"Bukankah Ibu dan Mas Arga yang menginginkan anak ini? Jadi, Ibu harus mau dong membantu Ratih menjaga dan mengurus Keyla!" sungutnya.
"Iya, tapi, kamu itu kan ibunya! Kamu wajib dong merawatnya!"
"Ibu, Ratih ada urusan. Jadi, biarkan Ratih menyelesaikan urusan Ratih dulu!" ucap Ratih.
"Tapi ..... !" belum selesai Dahlia menyelesaikan kalimatnya. Ratih berlalu meninggalkan mertuanya di sana. Tentu saja, Dahlia sangat jengkel dengan kelakuan tidak sopan menantunya.
"Dasar, menantu tidak tahu diri!" kesal Dahlia.
Ratih memasuki taksi yang sudah dipesannya lewat aplikasi. Dia memberikan alamat kepada Pak Sopir, agar Pak sopir melajukan kendaraannya ke alamat tersebut.
Beberapa menit kemudian, Taksi berhenti di depan sebuah club. Ratih merasa bingung, apakah dia ingin turun dan masuk ke klub itu. Atau dia mengurungkan niatnya dan kembali pulang. Namun akal sehatnya sudah ditutupi oleh rasa marah, benci dan kejenuhan yang teramat sangat.
Ratih melangkahkan kaki masuk ke sebuah klub. Hari ini dia ada janji bertemu dengan ayahnya, Baron. Ratih mencari keberadaan sang ayah. Hingga matanya tertuju pada meja yang sangat ramai, dia menangkap sosok Baron di kerumunan orang itu. Dan sepertinya sang ayah bersenang-senang di sana.
Ratih menghampiri sosok tersebut. Banyak mata menatap ke arahnya. Termasuk ayahnya sendiri.
"Ratih?" panggilnya. Bau alkohol menyeruak di hidung Ratih.
"Ayah, katanya ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Makanya Ratih datang kesini," ucap Ratih.
"Ya .. Ya," ucap Syamsul sempoyongan. Dia menatap putrinya, dan memberikan kode kepada Ratih untuk mengikutinya. Syamsul menyuruh Ratih untuk duduk jauh dari kerumunan itu.
"Duduklah!" suruhnya.
__ADS_1
"Ada apa, Yah?" tanya Ratih.
"Begini, Nak. Kamu tahu kan, kalau ayah sudah tidak mau datang ke rumah mu. Karena, Arga juga melarang ayah untuk datang. Makanya, ayah menyuruh mu untuk datang kemari."
"Apa yang ayah mau dari Ratih?"
"Ayah membutuhkan uang banyak. Bisakah kau memberikannya?"
"Ratih tidak bisa memberikannya, Yah. Karena, sekarang suami Ratih hanya memberikan jatah uang bulanan. Kami harus berhemat, karena pengeluaran rumah tangga semakin besar, semakin banyak," jelas Ratih. "Ayah kan tahu. Sekarang adiknya Mas Arga membutuhkan psikiater, dan biaya ke psikiater tidaklah murah. Jadi, Mas Arga memiliki tanggungan lainnya. Belum lagi Mas Arga harus membayar perawatan Meli di RS Jiwa," imbuh Ratih.
"Lalu, jika bukan kepadamu, ayah minta kepada siapa?"
"Ratih juga butuh uang, Yah. Ratih butuh refreshing, butuh shoping. Ratih sangat bosan jika harus di rumah terus. Hanya menjaga dan merawat Keyla. Ratih bisa gila kalau seperti ini terus. Percuma jika Ratih meminta kepada Mas Arga. Dia tidak akan memberikannya. Sekarang, dia sangat pelit," kesal Ratih.
"Kau mau mendapatkan uang dengan gampang dan cepat?" tanya ayahnya.
"Bagaimana caranya, Yah?" ayahnya pun membisikkan sesuatu kepada Ratih. Dia nampak terperanjat dengan saran yang diberikan ayahnya.
"Tidak mau, Yah. Ratih takut!" jawab Ratih.
"Tapi, Yah, Bagiamana kalau Mas Arga sampai tahu?"
"Aman, Sayang. Dia tidak akan tahu, kau serahkan saja kepada ayah," ujarnya.
"Bbbbaiklah," jawab Ratih tergagap. "Tapi, kapan?"
"Bagaimana kalau sekarang?"
"Sekarang?" kaget Ratih.
"Kau lihat pria itu!" tunjuk ayahnya ke sebuah meja, dimana seorang pria paruh baya melihat ke arah Ratih terus. Ratih menganggukkan kepalanya.
"Dia adalah bos besar. Namanya Bastian. Pemilik beberapa swalayan besar di Indonesia. Dia itu seorang pria kesepian. Dia butuh belaian seorang wanita muda seperti dirimu. Dan dia sangat loyal dalam memberikan tips," jelas ayahnya.
Ratih pun diperkenalkan dengan Bastian oleh ayahnya. Awalnya Ratih menolak, karena melihat Bastian adalah pria berumur. Yang sepantasnya menjadi ayah baginya. Namun karena desakan sang ayah, akhirnya Ratih mengikuti perintah sang ayah.
Bastian mengajak Ratih ke suatu tempat. Ternyata dia mengajaknya ke sebuah hotel. Bastian memesan satu kamar, di hotel tersebut. Ratih pun berjalan mengekor di belakangnya.
__ADS_1
Sampai di dalam hotel, Ratih nampak ragu. Dia pun hendak membatalkan rencananya. Selagi, Bastian di dalam kamar mandi. Ratih buru-buru keluar dari kamar hotel. Namun, Bastian keburu keluar dari kamar mandi.
"Kau mau kemana?" teriak Bastian.
"Aku harus pergi. Aku tidak bisa melakukan semua ini. Jadi, biarkanlah aku pergi," ucap Ratih.
"Tidak bisa!" bentaknya. "Aku sudah membayar enam puluh lima persen kepada ayahmu. Jadi, kau harus melayaniku dulu, baru kau boleh pergi," ucap Bastian.
"Apa?" Ratih sangat terkejut dengan ucapan Bastian. Dia tidak menyangka ayahnya sudah menerima pembayarannya diawal.
"Ayolah, Sayang, Kemarilah!"
"Tidak, aku tidak mau. Aku harus pulang. Suami dan anakku menunggu di rumah!" ujarnya. Namun Bastian tidak menghiraukan perkataan Ratih.
Bastian menarik tubuh Ratih dengan kasar, hingga dia terjerembab ke kasur. Bastian menindih tubuh Ratih, hingga mengungkungnya. Ratih tidak bisa bergerak, dia menangis ketakutan.
"Tolong, lepaskan aku!" mohonnya. Ratih berusaha dengan keras untuk melepaskan kungkungan Bastian, namun karena tenaga Bastian lebih kuat, membuat dirinya kalah dalam tenaga.
Bastian mencium bibir wanita itu dengan brutal, seakan-akan dia rakus akan belaian seorang wanita. Ratih yang tubuhnya merasa lemah, dia pun pasrah menerima setiap sentuhan-sentuhan pria yang bukan suaminya.
Tiga jam berlalu, Bastian memakai kembali pakaiannya setelah menikmati tubuh wanita dengan satu anak itu. Dia tersenyum puas dengan pelayanan yang Ratih berikan. Kemudian pria itu memberikan uang dalam jumlah besar kepada Ratih.
Ratih melihat jam dinding yang terpasang di kamar hotel. Jam sudah menunjukkan pukul satu malam. Dia harus pulang, akan tetapi tidak dalam keadaan seperti ini. Dia pun memutuskan untuk mandi dan bersih-bersih.
Setelah terasa segar dan bersih, dia memutuskan untuk pulang. Dia memesan taksi online kembali. Karena selarut ini tidak mungkin ada kendaraan lain.
To be continued....
*****************************
Yuk kasih like, favorit, bunga dan Vote. Dukungan kalian sangat membuat semangat bagi AUTHOR. Semoga kebaikan kalian di balas oleh Allah dengan rezeki yang melimpah. Amin.
Happy Reading...🥰🥰🥰
Happy Reading...🥰🥰🥰
Happy Reading...🥰🥰🥰
__ADS_1