Amelia

Amelia
Episode 186


__ADS_3

"Oh, itu Sayang. Aku hampir kecelakaan. Arum dan Pak Badi menolongku!"


"Oh, begitu!" Thomas tersenyum simpul.


"Nama saya Arum, Mba. Kata Kak Thomas, Nama Mba, Amelia!"


"Iya, Namaku memang Amelia!" kekehnya. Amelia memperhatikan gadis didepannya. Kemudian mengulurkan tangannya. Menjabat tangan Arum.


"Senang berkenalan denganmu!" gelaknya.


"Mas, Aku bosan. Ayo kita pulang!"


"Iya. Tunggu Bram dan Alina! Sebentar lagi mereka datang!"


Tak berapa lama, Bram dan Alina memang datang. Alina begitu bahagia bisa melihat kakaknya dan kakak iparnya. Dia berhambur ke pelukan Thomas. Wanita cantik itu menangis menyesali perbuatannya. Thomas hanya bisa tersenyum tipis, dan menguasai diri untuk tidak marah di depan sang istri.


"Ada apa ini? Kenapa Alina menangis? Apa Mas sedang marah dengan Alina?" tanya Amelia mengintimidasi suaminya.


"Ti-dak Sayang. Aku tidak marah. Apa kau melihat kalau aku sedang marah?" Amelia menatap tajam ke arah suaminya.


"Jangan menangis Alina. Jika kakakmu marah dengan mu, biar aku tarik telinganya!" serunya membuat semua tekekeh. Thomas hanya tersenyum kecut.


Thomas menarik tangan Bram, untuk menjauh dari para perempuan. Dia nampak serius ingin membicarakan sesuatu dengan adiknya.


"Bram, Apakah yang ku perintahkan semuanya sudah Kau siapkan?"


"Sudah, Bang. Abang tenang saja!"


"Jaga anak-anak selama aku tidak ada. Bila perlu sewa pengasuh anak profesional, masalah biaya tidak masalah! Sementara itu, Aku ingin membantu penyembuhan istriku!" Thomas memberikan interupsi kepada adiknya.


"Pokoknya semuanya beres!"


"Bagus."


"Kenapa Abang ingin membawa kakak ipar ke puncak?"


"Aku butuh Quality time dengannya! Kata Dokter, Amelia belum sembuh benar. Sedikit memorynya ada yang hilang. Sehingga dibagian-bagian dia tidak mau mengingat, hilang begitu saja. Dia lupa soal kecelakaan, Mama yang meninggal, kasus penculikannya, dan semua yang berhubungan tidak baik. Dia tidak mau mengingatnya!" Thomas menghela nafasnya, "Sebagai suami, Aku sih lebih memilih supaya dia tidak mengingat kejadian buruk itu. Dan efek histerisnya akan berkurang. Tapi ... !"


"Tapi apa, Bang?"


"Kata Dokter, jika dibiarkan motorik halusnya tidak berfungsi, maka itu tidak baik untuk perkembangan otaknya. Bisa-bisa memorynya akan hilang semua!"


"A-pa?"


"Kau tahu kan, sebelum aku menikahinya. Dia juga pernah mengalami tekanan mental bersama mantan suaminya. Jiwanya sangat kuat, tapi bukan berarti batinnya tidak tertekan. Dia tertekan, tapi dia diam. Amelia menyimpannya dengan sangat rapi. Apalagi ditambah kasus penculikan itu. Dia dalam kondisi ketakutan dan kecemasan yang berlebihan. Oleh Dokter disebut Anxiety Disorder. Aku harus menyembuhkannya, Bram!"


"Separah itukah, Bang?" Thomas mengangguk.


"Aku akan menyembuhkannya. Dia harus sembuh."


"Iya, Bang. Aku akan mendukungmu. Jika Abang butuh bantuan, Aku dan Alina siap!"


"Terima kasih, Bram!"

__ADS_1


"Oya, Bang. Biar aku yang mengurus biaya administrasinya. Kalian semua tunggu saja di luar Rumah Sakit!"


"Oke. Aku serahkan semuanya kepadamu. Kau memang bisa diandalkan!"


"Sama-sama, Bang! Kita kan semua keluarga, jadi harus saling membantu!"


"Oke. Aku dan Amelia menunggumu di parkiran!"


"Oke."


Menunggu Bram mengurus biaya Rumah Sakit. Rombongan Thomas dan Amelia menunggu di depan Rumah Sakit itu. Dicky berpamitan kepada semuanya. Dia tidak mau mengganggu waktu Thomas dan keluarganya.


"Kak Thomas, Arum boleh ikut Kakak kan?" ujar Arum. Thomas bingung. Tidak mungkin dia membawa serta Arum bersamanya.


"Ada Bram dan Alina. Kau ikut saja mereka. Mereka akan mengantarkan mu pulang ke ayahmu!"


"Tapi, Aku tidak mau Kak. Aku juga ingin ikut Kak Thomas!"


"Dengar Arum. Istriku sedang tidak baik-baik saja. Aku ingin membawanya ke puncak, supaya kami memiliki waktu bersama. Dan aku juga tidak mengajak siapapun bersama kami. Jadi maaf, Aku tidak bisa mengajakmu!"


"Tapi Kak ... !"


"Kau ikut saja denganku!" ajak Dicky.


"Pak Thomas. Aku akan membawa gadis ini bersama ku. Silahkan Anda pergi dengan tenang dan nyaman! Saya berdoa, Semoga perjalanannya lancar tanpa hambatan. Dan Amelia diberi kesembuhan!"


"Amin. Terimakasih Pak Dicky!" Thomas menepuk pundak Dicky.


Thomas mengajak istrinya untuk menaiki mobil yang sudah disediakan oleh Bram. Terlihat Amelia begitu bahagia. Bisa terpancar wajah ayunya yang terus tersenyum.


"Terimakasih, Mas!"


Thomas mengulas senyum, "Sama-sama."


Mobil berjalan meninggalkan Rumah Sakit. Juga meninggalkan orang-orang yang masih berdiri di sana. Mereka mengantarkan kepergian Thomas dan Amelia.


Setelah mobil Thomas keluar dari pintu keluar RS dan tidak terlihat lagi, barulah mereka masuk ke mobil masing-masing untuk pulang. Dicky membawa serta Arum bersamanya. Di dalam mobil, wajah gadis itu nampak masam. Dicky hanya terkekeh geli di dalam hati.


"Oya, jika kau mau ada pekerjaan di kantor agensiku. Apa kau berminat?" tanya Dicky membuka percakapan.


Gadis itu menoleh ke arah Dicky. Sepertinya Dicky sedang menawarkan sebuah pekerjaan yang membuatnya tetap bertahan di kota besar itu.


"Apakah Mas Dicky sedang berusaha untuk menawarkan pekerjaan kepada saya?"


"Yupz, betul sekali."


"Ehm, tapi saya cuma lulus SMA. Dan saya juga tidak memiliki pengalaman bekerja!"


"Tidak masalah. Nanti saya ajari!"


"Apakah Anda yakin ingin mempekerjakan orang tidak berpengalaman seperti saya?" Dicky tergelak mendengar ucapan gadis itu.


"Saya yakin."

__ADS_1


Arum nampak berfikir. Antara iya atau tidak. Memang impiannya adalah ingin bekerja di kota. Tidak mungkin dia terus hidup dalam garis kemiskinan. Dia juga ingin membahagiakan orang tua satu-satunya. Tapi, Apakah dia bisa melakukan itu? Timbul rasa keraguan dihatinya.


"Kau tenang saja. Aku akan mengajarimu sampai bisa!" Dicky menggenggam tangan Arum. Meyakinkan gadis itu. Menumbuhkan sikap percaya diri.


"Baiklah, Pak. Saya setuju. Mohon bimbingannya!" ucap Arum. Dicky tersenyum senang.


"Kau bisa tinggal di rumah itu. Nggak mungkin kan Kau kubiarkan mencari tempat tinggal sendiri!"


"Lalu, dimana Anda tinggal? Bukankah itu rumah Anda?"


"Aku tinggal di rumah ku yang lain. Kau tidak perlu khawatir!"


"Jadi, Apakah saya nantinya tidak akan merepotkan Anda jika terus tinggal di rumah itu?"


"Ti-dak. Saya tidak merasa direpotkan! Saya senang menolong kamu!" jawabnya tersenyum. Sementara Arum tersipu malu. Pipinya merona merah.


Tidak terasa mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan rumah. Arum turun dari mobil Dicky dan menawari Dicky untuk meminum teh. Tapi Dicky menolak, karena dia masih ada urusan lain.


"Nanti malam. Dandan lah yang cantik. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat!"


"Kemana?"


"Rahasia."


"Ih, kok pakai rahasia-rahasiaan sih! Menyebalkan!" manyunnya.


"Hem, manis juga." Batin Dicky.


Sementara itu, mobil Thomas berjalan keluar dari Kota J. Amelia nampak bingung, kenapa suaminya justru meninggalkan kota. Apakah suaminya akan pergi ke luar kota? Apakah ada pekerjaan di luar kota? batin Amelia.


"Mas, kita mau kemana? Ini bukan jalan pulang ke rumah!"


"Iya, Sayang. Rencananya aku ingin mengajakmu berlibur ke puncak!"


"Puncak?"


"Iya."


"Apakah anak-anak ikut?"


"Tidak. Ada Bram dan Alina yang menjaga mereka. Kamu tenang saja, Sayang!"


"Tapi, Mas. Aku merindukan mereka. Aku juga merindukan Mama Celine. Merindukan rumah juga!"


"Iya, Sayang. Kamu tenang saja. Nanti kita bisa video call mereka!"


"Tapi, kenapa kita tidak mengajak mereka sih? Kan kalau rame tambah seru, Mas! Apalagi kalau ada Mama disini!"


"Huft."


"Apa yang terjadi kalau kau mengingat semuanya! Apakah Amelia akan kembali histeris?" Thomas menghela nafasnya panjang.


to be continued ...

__ADS_1


Mana dukungannya?????


__ADS_2