Amelia

Amelia
Episode 158


__ADS_3

Bram duduk di kursi kebesaran Thomas. Memandang bingkai foto Thomas dan keluarganya dengan perasaan bersalah. Sesekali dia mengusap wajahnya kasar.


"Maafkan aku, Bang! Aku terpaksa memfitnah istrimu supaya keluar dari rumah! Ini semua demi keselamatan Alina dan bayi kami!" monolognya.


"Br*ngs*k! Kenapa aku menjadi tidak berdaya seperti ini?" kesal Bram menjambak rambutnya sendiri.


Tok ... Tok ... Tok


"Masuk!"


"Pak, Ada tamu!"


"Siapa?"


"Namanya Pak Martin,"


"Suruh dia masuk!"


"Baik, Pak,"


"Selamat siang, Pak Bram!"


"Siang, Pak Martin. Silahkan duduk!"


"Terimakasih,"


"Mau minum apa?"


"Tidak usah, Pak. Saya hanya sebentar saja!"


"Baik," sahut Bram, "Ada perkembangan apa, Pak?"


"Seperti yang Pak Bram perintahkan. Dengan hati-hati saya menyelidiki pria yang sudah berusaha mengancam Anda. Dan ini, Pak!" Martin menyerahkan amplop berwarna cokelat ke tangan Bram. Bram nampak mengamati foto-foto yang ada di amplop itu.


"Namanya Diego Brixton. Kakak dari Dicky Brixton, pemilik agensi model,"


"Dicky. Saya pernah mendengar nama itu!"


"Menurut penyelidikan saya. Butik keluarga Anda pernah bekerjasama dengan Pak Dicky,"


"Saya kurang tahu. Karena saya tidak pernah mencampuri urusan butik. Lalu apa lagi yang Anda ketahui?"


"Saya menyelidiki bahwa Pak Dicky tidak tahu apa-apa. Sepertinya memang Diego ini memiliki dendam pribadi dengan keluarga Williams," terang Martin.


"Lalu?"


"Saya juga menyelidiki kasus meninggalnya kedua orang tua Anda, Pak Bram," ujar Martin.


"Apa yang Kau ketahui? Apakah benar yang dikatakan oleh Diego, Bahwa Keluarga Williams lah yang menyebabkan kematian kedua orang tuaku?"

__ADS_1


"Tidak seperti itu, Pak. Anda bisa melihat koran lama, yang diterbitkan oleh Golden News. Itu semua sudah saya kumpulkan bukti-buktinya. Dan sudah saya simpulkan sendiri. Dan semuanya dari berita terpercaya. Tidak ada manipulasi ataupun fiktif. Semua sesuai fakta," tegas Martin, "Ayah Anda adalah orang kepercayaan dari keluarga Williams. Tapi, Ayah Anda sudah mengkhianati kepercayaan keluarga tersebut. Dengan menyelewengkan dana ke rekeningnya sendiri. Dan perbuatan ayah Anda diketahui oleh suami Bu Celine. Karena ketakutan akan memperkarakan kasus ini kepada pihak berwajib, akhirnya Ayah anda mengajak keluarganya untuk pindah ke luar negeri. Namun naas, ditengah perjalanan, mobil yang Ayah Anda kendarai mengalami sebuah kecelakaan. Membuat Ayah dan Ibu Anda meninggal di tempat," jelas Martin.


"Keluarga Williams tidak tega melihat Anda yang masih kecil harus dibawa ke panti asuhan. Karena disini Anda tidak memiliki keluarga. Mereka pun mengadopsi Anda!" imbuh Martin.


"Ya Tuhan. Apa yang telah aku lakukan? B*jing*n itu berhasil memperalatku!" Bram mengusap rambutnya kasar.


"Apakah ada tugas lain, Pak?"


"Tolong selidiki terus Diego! Kenapa Diego dendam kepada keluarga Williams?"


"Baik, Pak. Saya permisi!"


"Oke. Terimakasih informasinya!"


Bram terduduk lemas dikursi. Tubuhnya bergetar. Dia sudah melakukan kesalahan besar didalam hidupnya. Berkali-kali dia memukuli kepalanya sendiri. Merutuki kebodohannya.


"Apa yang telah aku lakukan? Aku yang sudah membuat Mama dan Bang Thomas terjatuh ke jurang! Seharusnya saat itu aku menolongnya!" isak Bram.


"Bo-dohnya aku. Aku memang b*jing*n. Tidak tahu terimakasih!" isaknya sesenggukan.


"Sekarang aku memfitnah istri Bang Thomas! Aku harus mencarinya! Aku akan meminta maaf kepada kakak ipar!"


Selesai memandikan kedua buah hatinya, Amelia menyuruh keduanya untuk sarapan. Hari ini, Amelia sengaja memasak sendiri. Memasak makanan kesukaan kedua anaknya. Disela dia sedang menyuapi kedua buah hatinya, tiba-tiba terdengar pintu diketuk. Dan suaranya semakin terdengar dengan jelas.


"Tunggu Mommy disini. Mommy buka pintu sebentar! Jangan kemana-mana!"


"Okey, Mom,"


"Selamat pagi!"


"Pak Diego," kejut Amelia, "Bagaimana Anda bisa tahu rumah saya?"


"Tahulah. Ke ujung dunia pun saya akan mengejar kamu!" ujarnya seraya menerobos masuk ke dalam rumah sederhana milik Amelia.


"Tolong pergi dari rumah saya! Saya tidak enak jika ada tetangga yang melihat!" suruh Amelia.


"Kamu betah dirumah sekecil ini? Apa kamu tidak kasihan dengan anak-anak?" tanya Diego. Justru perintah Amelia tidak diindahkannya.


"Apa sih mau Anda? Tolong jangan ganggu saya!"


"Ha ... Ha ... Ha!" Diego tertawa lepas.


"Ikutlah dengan saya! Kamu akan mendapatkan kemewahan seperti yang kamu dapatkan dari Thomas. Dan menikahlah dengan saya. Saya jamin kamu akan hidup bahagia," ujarnya.


"Anda sudah gila ya!" marah Amelia, "Aku ini wanita bersuami. Jadi, Anda jangan bermimpi untuk menikahi saya!"


"Bersuami?" gelak Diego.


"Kau lupa suamimu sudah menjadi mayat?" kekehnya, "Jika memang dia masih hidup, pastinya dia sudah datang menemuimu. Ini sudah dua bulan lamanya, Dan apakah suamimu datang?" gelaknya lagi.

__ADS_1


"Bahkan ada kabarnya pun tidak!"


"Ti-dak. Saya yakin suami saya masih hidup. Sa-ya yakin!" isak Amelia.


"Sudahlah Amelia. Terimalah kenyataan, kalau suamimu sudah meninggal!"


"Ti-dak," isaknya lagi.


"Ikutlah denganku. Masa depan anak-anakmu akan terjamin. Bahkan dengan tangan terbuka aku akan menerima anakmu dan anak tirimu. Kita akan hidup bahagia selamanya!"


"Pergilah dari sini! Sampai kapanpun aku akan tidak akan menerimamu! Tolong pergilah!"


"Ternyata dengan cara halus kau tidak bisa aku yakinkan!" kesal Diego, "Baiklah, akan aku lakukan dengan cara yang kasar!"


"Apa maksudmu?"


"Kau tahu, Aku bisa melakukan apa saja kepadamu. Seperti yang sudah aku lakukan selama ini kepada ibu mertua yang sangat kau sayangi dan kepada suamimu!" kekehnya.


"Jadi Kau yang sudah mencelakakan Mama dan Mas Thomas!" tangan Amelia hendak menampar pipi Diego, namun sekali sentak tangan wanita itu dipelintir oleh Diego.


"Auw, Sakit," pekik Amelia.


"Ke-na-pa Kau lakukan itu?"


"Thomas dan Mertuamu hanyalah seorang penghalang. Mereka harus ditiadakan!" bisik Diego tepat ditelinga Amelia.


"A-pa salah mereka?"


"Kesalahan mereka adalah mereka memiliki hubungan darah dengan keluarga Williams,"


"Apa maksudmu?" Diego melepaskan tangannya dari tubuh Amelia. Kemudian mendorong tubuh itu hingga terjerembab ke sofa. Tubuh Diego mendekat ke arah Amelia. Menatapnya dengan intens. Amelia sangat ketakutan.


"Dimalam pernikahanku dengan calon istriku bernama Monica. David Williams, Ayah dari Thomas Williams. Mengendarai mobilnya dalam keadaan mabuk. Dia sudah menabrak calon istriku hingga sekarat dan tidak bisa diselamatkan. Dia meninggal ditempat. Dan pria itu lari dari tanggung jawabnya!"


"Kenapa Kau tidak melaporkannya kepada polisi?"


"Percuma aku melapor ke Polisi. Aku bukanlah orang kaya. Orang yang memiliki uang, akan menang dan bebas dari tuntutan. Bukankah sepeti itu hukum di negara kita?"


"Tapi sayangnya, aku tidak perduli dan tidak ada hubungannya denganku!" ujar Amelia.


"Kau tahu. Sejak saat itu hidupku hancur. Aku bersumpah, aku akan menjadi orang sukses. Dan akan membalaskan semuanya!" ujar Diego, "Pertama, Aku kirim teror ke rumah keluarga Williams. Dan aku berhasil membuat kalian kalang kabut. Rasanya aku bahagia sekali!" gelaknya.


"Jadi Kau yang sudah meneror kami semua,"


"Iya, Sayang," sahutnya sambil tersenyum.


"Kau sudah tidak waras ya?" marah Amelia, "Jadi, selama ini Kau dalang dibalik semua ini!"


"Bukan hanya itu. Aku juga yang sudah menyerempet mobil Thomas hingga masuk ke jurang!" ujarnya tanpa merasa bersalah.

__ADS_1


"Tega sekali Kau, Diego!"


To be continued ...


__ADS_2