
Hari Pernikahan
Ratih sudah memakai kebayanya dengan sangat cantik, kebaya warna pich, dengan sanggul rambut yang sangat indah. Arga juga memakai setelan jas dengan warna yang sama.
Mereka berdua duduk dihadapan penghulu, disaksikan oleh kedua orang tua kedua mempelai, juga ada para saksi yang menyaksikan pernikahan tersebut. Tidak banyak yang mereka undang, karena memang keinginan Arga sendiri tidak mau mengadakan resepsi, yang penting sah.
Pak penghulu bertanya kepada kedua mempelai, apakah mereka sudah siap untuk menikah, dijawab anggukan oleh kedua mempelai.
"Saya terima nikahnya, Ratih Wulandari binti Syamsul dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" ucap Arga tegas, dengan sekali tarikan nafas, Arga mengucapkannya dengan lantang dan lancar.
"Sah!"
"Sah!" dijawab serempak oleh semua saksi yang hadir.
Akhirnya mereka pun sah menjadi suami istri dimata agama. Ratih begitu bahagia, karena dia berhasil menjadi seorang istri seorang manager. Itu berarti dia tidak perlu bersusah-payah mencari uang. Setelah menikah memang tidak ada acara resepsi, Arga pun langsung mengajak istri keduanya untuk langsung pulang ke Apartemen.
Sesampainya di Apartemen, Arga merasa lelah ditubuhnya, dia langsung rebahan di kasur. Ponselnya berbunyi, dia lihat ternyata ada nama istrinya dikontak panggilan.
Arga mengangkatnya, karena tidak mau istrinya menjadi curiga. Sebelum pernikahan, Arga berpamitan kepada Amelia untuk pergi ke luar kota karena ada pekerjaan yang sangat penting.
"Hallo, Sayang!"
"Mas, Apakah kamu sudah sampai?" tanya Amelia, "Kok tidak memberi kabar?"
"Maafkan mas, Sayang! Mas sibuk banget!" jawabnya.
"Bagaimana keadaan kamu, Sayang? Kamu baik-baik saja kan? Kalau ada apa-apa kabari aku, ya?" cerca Arga, namun tidak sekalipun Arga menanyakan bayi yang ada di dalam perutnya.
"Alhamdulillah baik, Mas, aku sehat kok," ucapnya.
"Oh, begitu!" cukup lama mereka mengobrol, hingga Ratih keluar dari kamar mandi dengan memakai pakaian yang sangat seksi, pakaian setipis sutra, menembus pandang hingga bentuk lekuk tubuhnya nampak sangat jelas, tentu saja jiwa kelakian Arga tergoda. Mata Arga tidak berhenti menatap istri barunya, sampai-sampai dia tidak fokus sedang menelfon Amelia. Ratih yang tahu kalau suaminya mulai terpancing, dengan sengaja Ratih duduk dipangkuan suaminya. Tentu saja membuat Arga, jantungnya berdesir, nafasnya tidak beraturan, dan adiknya yang sedari tadi tertidur hingga terbangun dengan kokohnya.
"Laki-laki siapa sih yang tidak tergoda apabila disuguhi dengan pemandangan yang sangat indah?" batin Ratih.
"Hallo, Mas, Kok diam saja! Ada apa sih?" tanya Amelia, karena nafas suaminya terdengar memburu.
__ADS_1
"Ah, Sayang, Aku ada pekerjaan mendadak, Aku tutup dulu telfonnya, nanti aku kabari lagi!" elaknya.
"Baiklah, hati-hati disana, Mas!" pesan istrinya.
Ratih terus memberikan sentuhan-sentuhan yang menggoda, tentu saja jantung Arga semakin memburu, adiknya berdiri dengan sempurna. Tidak menunggu lama, mereka melakukan ritual suami istri di Apartemen. Suara-suara laknat menggema di ruangan, hingga pagi mereka melakukan ritualnya.
Keringat membasahi kain sprei, Arga sudah tidak mampu lagi, sampai dia ambruk disamping istrinya. Mereka tertidur hingga pagi harinya.
Amelia merasakan gelisah dihatinya, perutnya terasa sakit. Dia mencoba untuk menghubungi suaminya, namun jam menunjukkan masih pukul 2 malam, akhirnya dia memutuskan untuk menelfon mertuanya. Bukan menolongnya membawa ke Rumah Sakit, justru ibu mertuanya malah memarahinya karena dia telah mengganggu di jam istirahat. Amelia merasakan perutnya semakin sakit, hingga akhirnya dia memutuskan untuk ke Rumah Sakit sendiri. Dengan berjalan kaki, dia ke Rumah Sakit, karena dijam seperti ini sangat susah untuk menemukan kendaraan umum.
Dengan tertatih-tatih Amelia berjalan, keringatnya sudah mengucur deras menahan rasa sakit diperutnya. Pandangannya mulai kabur, tanpa dia sadari dirinya berjalan di tengah jalan raya, sebuah mobil melintas hendak menabraknya.
Chiiiiiiiiiiit...
Brugh.....
Seorang pria keluar dari mobil, dan melihat kondisi wanita tersebut, dia cek nafasnya, masih bernafas. Dia langsung membawanya ke Rumah Sakit.
Sampai di Rumah Sakit, tim medis memberikan pertolongan pertama, membawanya ke ruang UGD. Suster menyuruh pria itu untuk keluar, karena Dokter akan segera memeriksanya.
Selesai memberikan pertolongan, Dokter pun keluar.
"Apakah Anda suaminya?" tanya sang Dokter.
"Bukan, Dok, saya menemukannya di jalan, dia hampir saja tertabrak mobil saya!" ucapnya.
"Wanita ini mengalami kram perut yang cukup parah, untung dia dan bayinya baik-baik saja!" ujarnya.
"Bayi?" heran pria itu, "Apakah wanita ini sedang hamil, Dok?" tanyanya.
"Iya, dia sedang hamil, fisiknya sangatlah kuat," jawab Dokter. " Biasanya ibu hamil yang mengalami kram perut parah, ibu tersebut akan keguguran, namun pada kasus ibu muda ini, dia dan baby-nya sangatlah kuat," ujarnya lagi.
"Saya sudah memberikan obat anti nyeri dan vitamin, mungkin sampai besok pagi ibu ini baru akan sadar," ucap Dokter panjang lebar.
"Bagaimana bisa malam-malam begini seorang wanita hamil berkeliaran di jalan?" batinnya.
__ADS_1
"Baiklah, saya permisi!" ujar Dokter.
"Terima kasih, Dok."
Beberapa menit kemudian dia ditelfon seseorang untuk segera pulang, pria tersebut pun membayar semua administrasi RS untuk Amelia, dan langsung pergi begitu saja.
Keesokan paginya
Arga beranjak dari tempat tidurnya, tubuhnya masih dalam keadaan polos. Dia menutupi sebagian tubuhnya menuju kamar mandi. Dia mandi dan bersih-bersih. Selesai mandi dan memakai baju, dia melihat sekilas ponselnya. Banyak sekali panggilan masuk dari Amelia. Dia sangat merasa bersalah, kemudian Arga mencoba untuk menghubungi istrinya, ponselnya aktif namun tidak diangkat oleh Amelia. Rasa bersalah menggelayut di fikirannya.
"Mas?" panggil Ratih mesra.
"Ratih, aku harus pulang, aku cemas dengan keadaan Amelia," ucapnya.
"Mas, kita baru menikah satu hari, kenapa kau malah ingin pulang?" kesal Ratih.
"Seharusnya, Mas, lebih lama denganku disini!" Rajuk Ratih.
"Baiklah, tapi besok aku harus pulang, karena bagaimanapun Amelia adalah istri sah ku!" ucapnya.
"Aku juga istri sah kamu, Mas!" Ratih memberengut sebal.
"Sudah, sudah, Jangan kesal lagi, bersiap-siaplah kita akan jalan-jalan hari ini," ujarnya.
"Benarkah, Mas, ya sudah aku mandi dan bersih-bersih dulu." Ratih langsung menyambar handuk menuju kamar mandi.
Selesai mandi mereka berjalan-jalan, Arga melajukan mobilnya menuju Mall besar di kota J, mereka memilih mall untuk mencari barang-barang yang Ratih inginkan. Mereka mengelilingi penjual aksesoris, baju, tas dan sepatu. Arga memenuhi kebutuhan istri barunya. Setelah berbelanja banyak barang, mereka menuju Restaurant untuk makan.
Ratih memilih Restaurant paling mewah di sana. Ratih makan dengan sangat lahap, memang dari semalem dia belum sempat mengganjal perutnya.
Selesai makan, mereka pun pulang ke Apartemen. Arga menasehati Ratih, supaya dia tidak usah bekerja lagi di Kantor, karena Arga lah yang akan bertanggung jawab atas biaya hidupnya sekarang. Namun Ratih menolak, alasannya, jika dia hanya duduk-duduk saja di rumah, dia akan sangat bosan.
Padahal dia sengaja, ingin selalu memantau pergerakan suaminya selama di kantor.
to be continued.......
__ADS_1