
SYDNEY
Turun dari Bandara mereka disambut oleh detektif yang selama ini mengikuti pergerakan Clara dan suaminya.
"Pak Thomas?" panggil detektif tersebut.
"Pak Bastian!" Mereka berjabat tangan.
"Perkenalkan ini adikku, Bram!" ucap Thomas memperkenalkan Bram kepada Bastian.
"Bastian, seorang detektif swasta," ujarnya.
"Apakah ada informasi penting, Pak?" tanya Thomas.
"Ada, Ayo silahkan ikuti saya. Saya akan menunjukkan dimana Sherly!" ajak Bastian kepada Thomas dan Bram.
"Mari!"
Di Rumah Sakit, Sherly meronta-ronta karena dia tidak mau mengikuti kemauan Dokter. Billy yang melihat menjadi geram sendiri. Dia pun membentak Sherly yang masih saja meronta. Clara mendekat ke arah suaminya, supaya Billy berhenti memarahi Sherly.
"Berhentilah membentak Sherly, Mas!" ucap Clara kepada suaminya.
"Dia anak yang sangat susah diatur. Aku benar-benar kesal dengan tingkahnya!" marah Billy.
"Itu wajar, karena dia hanyalah anak kecil," ucap Clara. Sebenarnya Clara sangat tidak tega melihat anaknya di bentak. Tapi, dia juga membutuhkan sedikit donor sum-sum milik Sherly untuk putrinya Jenny.
Dokter memberikan suntikan obat bius ditubuh Sherly. Itu membuat tubuh Sherly lemah tidak berdaya, dia pun tidak sadarkan diri.
Thomas, Bram dan detektif itu sampai di Rumah Sakit. Mereka berlari menuju sebuah ruangan. Dimana didepan ruangan tersebut ada Billy dan Clara. Mereka nampak terkejut melihat kedatangan Thomas dan teman-temannya.
"Thomas?"
"Dimana anakku?" bentak Thomas kepada mantan istrinya.
"Bukankah kau Thomas?" ucap Billy. Lama tidak bertemu membuat Billy agak lupa dengan Thomas.
BUGH ....
Sebuah pukulan keras mendarat dengan mulus dipipi Billy.
"Keparat kalian semua!" murka Thomas. Kemudian dia menggebrak ruangan di depannya, dimana ada Sherly yang hendak diambil sum-sum tulangnya oleh Dokter.
"Stop!" teriak Thomas. Thomas memberikan surat-surat keterangan bahwa gadis kecil yang sedang terbaring di ranjang adalah putri kandungnya.
"Mereka telah menculiknya dariku!" ucap Thomas kepada salah satu Dokter.
"Astaga, Bagaimana ini bisa terjadi? Mereka bilang kalau orang tuanya sudah ikhlas mendonorkan sum-sum tulangnya!" ucap Dokter.
"Itu tidak benar. Mereka sudah mengelabui kalian semua!" jelas Thomas dengan menggunakan bahasa Inggris.
"Maafkan kami. Kami tidak tahu. Untung saja kami belum melakukan sesuatu. Dia hanya pingsan karena obat bius," ucap Dokter.
"Bukan kesalahan, Anda. Ibunya saja yang tidak waras!" ucap Thomas.
Thomas membopong tubuh Sherly, dan dia membawanya pergi dari ruangan tersebut. Thomas menatap tajam ke arah Billy dan Clara. Billy yang akan melakukan perlawanan dicegah oleh Bram.
__ADS_1
"Slow, Bro!" Billy menepis tangan Bram.
"Bram, Ayo kita pergi!" ajak Thomas kepada Bram.
"Okey,"
Melihat kepergian mantan suaminya, Clara merasa sangat bersalah. Dia mengejar Thomas sampai ke parkiran.
"Thom, Tunggu!" panggil Clara. Thomas menoleh ke sumber suara.
"Ada apa?" bentak Thomas.
"Maafkan aku, Thom! Aku tahu, aku bersalah. Aku mohon, maafkan aku!" mohon Clara.
"Wanita kejam seperti dirimu tidak pantas dimaafkan. Kau pantas membusuk di neraka!" murka Thomas.
"Aku tahu kau sangat membenciku. Tapi, aku ingin mengucapkan terima kasih kepadamu dan kepada Amelia. Kau sudah merawat Sherly dengan baik. Kau dan Amelia memang orang tua yang terbaik. Aku serahkan Sherly kepadamu dan kepada Amelia. Istrimu Amelia adalah ibu yang sangat baik. Dia pantas menjadi Mommy nya Sherlly. Dia sangat menyayangi Sherly, seperti putri kandungnya sendiri. Bahkan dia rela memohon kepadaku untuk menghentikan keegoisanku. Dia wanita yang sempurna untuk menjadi seorang istri dan ibu. Katakan permintaan maaf ku kepadanya," ucap Clara panjang lebar.
"Sudah. Aku akan pergi membawa Sherly. Sebaiknya, jangan pernah tampakkan batang hidungmu kepadaku!" kesal Thomas sambil berlalu pergi.
Mereka pun pergi meninggalkan Rumah Sakit menuju hotel. Karena tidak mungkin membawa Sherly pulang ke Indonesia dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Dua jam kemudian, Sherly nampak mengerjapkan matanya. Kepalanya terasa pusing karena efek obat bius. Dia mengerjapkan matanya sekali lagi, Daddy nya sedang tersenyum tepat dihadapannya.
"Apakah aku bermimpi?" ucap Sherly sambil mengucek matanya.
"Kau tidak bermimpi, Sayang. Aku memang Daddy mu!" ucap Thomas.
"Daddy?"
"Daddy?" teriaknya kemudian. Sherly bangkit dari tidurnya dan memeluk Daddy nya dengan erat. Dia menangis dan meminta maaf kepada Daddy-nya.
"Mommy? Kenapa Mommy tidak diajak?" tanya Sherly.
"Mana mungkin Mommy ikut. Dia kan harus menjaga Oma dan Dede Aska," ujarnya.
"Oh, begitu," jawab Sherly, "Sherly bahagia sekali, Dad. Karena bisa berkumpul kembali dengan Daddy,"
"Iya, Sayang,"
"Hey, anak manis," ucap Bram tiba-tiba.
"Om Bram," ucap Sherly berhambur ke pelukan Bram.
"Kamu sudah membuat semua orang khawatir. Kau tahu itu?" ucap Bram.
"Apalagi kau sangat membuat khawatir mommy Amelia," ujar Bram.
"Sherly memang bersalah, Om. Sherly janji tidak akan pernah mengulanginya lagi," ujarnya.
"Baiklah. Sekarang kamu makan dulu! Ini Om belikan sandwich dan susu buat kamu!"
"Terima kasih banyak, Om!" jawab Sherly. Sherly makan dengan sangat lahap, menikmati makanan yang dibawa oleh Bram.
"Bram, Apakah kau sudah pesan tiket?" tanya Thomas.
__ADS_1
"Sudah, Bang. Abang tenang saja!"
INDONESIA
Mereka bertiga keluar dari Bandara. Sherly tidak sabar ingin bertemu dengan Mommy nya dan adiknya. Di pesawat Sherly tidak berhenti berceloteh. Dia selalu membanggakan Amelia sebagai seorang Mommy yang terbaik. Itu membuat hati Thomas serasa tercubit. Karena selama ini, dia sudah menyalahkan Amelia atas apa yang terjadi dengan Sherly.
Thomas menyuruh sopir untuk menjemputnya di Bandara. Kedatangan Thomas, Bram dan Sherly sudah ditunggu-tunggu oleh semua penghuni rumah.
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai juga di depan rumah. Mama Celine dan Alina sudah menunggu kedatangan mereka. Mereka saling berpelukan karena rasa bahagia yang tak terhingga.
"Akhirnya cucu Oma pulang. Oma sangat rindu dengan Sherly!" ucap Celine memeluk erat cucunya.
"Sherly juga kangen banget sama Oma," jawab Sherly.
"Lain kali jangan membuat kami semua khawatir, kami semua sangat menyayangi Sherly,"
"Iya, Oma, Sherly juga sangat menyayangi Oma, Tante dan Mommy," jawabnya, "Dimana Mommy?"
"Ada di dalam, Ayo kita masuk!"
Amelia keluar dengan menggendong Aska.
"Sherly?" teriak Amelia.
"Mommy." Sherly berhambur ke pelukan Amelia.
"Maafkan, Mommy. Mommy nggak bisa jagain kamu, semuanya salah Mommy," isak Amelia.
"Mommy tidak salah, yang salah Sherly karena nggak mendengar apa kata-kata Mommy. Sherly sayang sama Mommy," ucap Sherly tidak berhenti mencium Amelia.
"Ehm ... Ehm ....Ehm."
"Gantian Daddy, dong! Kamu lama banget sih!" cibir Thomas.
"Biarin, Sherly lagi rindu sama Mommy," ujarnya.
"Ish, anak ini!" cebik Thomas.
"Sini biar Mama yang gendong Aska!" Celine menyerobot Aska dari gendongan Amelia.
"Yeay, asyik, Sherly bisa duduk dipangkuan Mommy," ucapnya.
"Astaga, Sherly, kamu nggak ngerti banget sih!" gumam Thomas.
"Ish, drama keluarga sudah dimulai!" cibir Bram, membuat Celine dan Alina terkekeh dan meninggalkan mereka.
"Sherly, Daddy ingin bicara dengan Mommy. Bisakah Sherly menyingkir?"
"No, Mommy hanya milik Sherly dan Aska!" ujarnya.
"Ayo, Sayang. Kita ke kamar, terus Sherly mandi dan bersih-bersih!" ajak Amelia.
"Ayo, Mom,"
Mereka bergandengan tangan masuk ke kamar Sherly, tanpa mempedulikan kehadiran Thomas.
__ADS_1
"Astaga, sepertinya dia ngambek!"
to be continued......