
Amelia mengerjapkan matanya, dia mengamati sekeliling ruangan. Dia masih bingung, dimana dia sekarang berada. Kepalanya terasa pusing, dia hendak bangkit dari tempat tidurnya, namun Alina yang baru saja masuk ke ruangan Amelia, berlari pelan menghampirinya.
"Anda sudah bangun?" tanya Dokter Alina. memandang Dokter cantik yang berdiri didepannya.
"Saya ada dimana, Dok?" tanya Amelia kepada Dokter Alina.
"Anda berada di Rumah Sakit," jawab Alina ramah.
"Rumah Sakit? Siapa yang membawa saya ke Rumah Sakit?" tanya Amelia lagi, karena perasaan dia masih berada di rumah.
"Itu ,,,, !" belum selesai menjawab pertanyaan, Tante Celine datang bersama Sherly.
"Tante cantik?" teriak Sherly.
"Sherly," Sherly berlari menghambur ke pelukan Amelia, dia memeluk tubuh Amelia dengan erat, Tante Celine tersenyum bahagia.
"Bagaimana keadaan kamu, Sayang?" tanya Tante Celine.
"Alhamdulillah baik, Tan!" jawab Amelia.
"Bagaimana Amelia bisa berada disini, Tan?" tanya Amelia kepada Tante Celine.
"Tante yang membawa kamu ke Rumah Sakit, Sayang!" jawabnya.
"Oh,"
"Terima kasih banyak, Tan! Lagi-lagi Tante menolong Amelia," ucapnya.
"Iya, Sayang! Tidak usah merasa tidak enak! Sesama manusia kita harus saling tolong menolong!" ucapnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Tante Celine tiba-tiba. Amelia melirik ke arah Dokter dan Sherly.
"Oh, iya, Tante hampir lupa! Kenalkan, ini anak perempuan Tante! Dia bernama Alina! Dia seorang Dokter kandungan di Rumah Sakit ini," ucap Tante Celine.
"Oh,"
"Perkenalkan nama saya Amelia," ucap Amelia memperkenalkan diri.
"Senang berkenalan dengan kamu, Amelia," kata Alina.
"Saya juga sangat senang, Dokter,"
__ADS_1
"Alina yang menjaga kamu di sini, Sayang!" ujar Tante Celine. "Alina ini adik papanya Sherly," jelas Tante Celine.
"Oh, begitu,"
"Terima kasih banyak, Dok! Saya jadi merepotkan Dokter dan Tante Celine!"ucapnya.
"Tidak, Kamu sama sekali tidak merepotkan saya! Kebetulan saya juga sedang tugas malam disini," ujarnya.
"Oh, ya, sebaiknya saya ajak Sherly berkeliling Rumah Sakit,"
"Sherly, Ayo jalan-jalan!" ajak Alina ke Sherly. Alina tahu bahwa Amelia sedang membutuhkan seseorang untuk membagi suka dan dukanya. Dan sepertinya hubungan Mama dan Amelia sangatlah baik.
"Ayo, Tan! Tapi, nanti Sherly dibelikan ice Cream ya, Tan!" ucap Sherly.
"Iya, Sayang! Ayo!" ajak Alina, menggandeng tangan mungil Sherly.
"Sherly keluar dulu ya, Tan!" pamitnya kepada Amelia dan Omanya.
"Iya, Sayang," jawab Amelia.
Kini tinggallah Tante Celine dan Amelia, Amelia menundukkan kepalanya, dia tidak tahu akan bercerita apa. Hatinya begitu sedih, pernikahannya hancur. Sudah tidak bisa lagi dipertahankan, ibarat gelas yang jatuh dan pecah tidak bisa lagi disatukan, pikir Amelia.
Tante Celine memeluk Amelia dengan sayang, dia tahu apa yang terjadi dengan wanita didepannya, tanpa perlu dia bertanya kepada Amelia.
"Semua keputusan ada ditangan mu! Hanya dirimu yang bisa dan tahu caranya bahagia!" tutur Tante Celine.
"Hiks ... hiks ... hiks." tangis Amelia.
"Iya, Tan! Amelia perlu waktu untuk memikirkannya! Amelia ingin hidup bahagia," ucapnya.
"Iya, Kau berhak untuk bahagia! kau wanita yang kuat, Tante yakin kau mampu menjalaninya," ucap Tante lagi.
"Baiklah, Tante! Terima kasih banyak!" ucap Amelia.
Hari-hari Amelia ditemani oleh Tante Celine dan Sherly, terkadang Alina juga menemani Amelia mengobrol jika sedang suntuk. Ternyata Alina juga seseorang yang sangat menyenangkan diajak mengobrol, sangat mirip dengan Tante Celine, yang penuh kasih sayang dan kelembutan.
"Bagaimana? Apakah perasaan mu jauh lebih baik?" tanya Dokter Alina kepada Amelia.
"Tentu saja, Dok! Saya lebih tenang dan rileks," ujarnya.
"Kau harus sering bercerita, supaya kau tidak terlalu stress! Sebenarnya ini memang sering terjadi kepada ibu hamil seperti kamu!" ucap Dokter Alina.
__ADS_1
"Benarkah, Dok?" tanya Amelia penasaran.
"Tentu saja! Kamu harus lebih rileks dan sering-seringlah mengajak baby berbicara dengan mengelus-elus perut kamu!" tutur Alina.
"Ah, terima kasih, Dok! Ini adalah pelajaran yang paling berharga!" senang Amelia.
"Jika ibunya bahagia, baby yang berada di perut kamu juga akan bahagia! Jadi buatlah hati kamu bahagia!" tutur Dokter Alina lagi.
"Iya, Dokter," jawabnya. Kata-kata Alina seperti siraman dihatinya yang sangat gersang.
Tiga hari berlalu
Tidak terasa Amelia sudah berada di Rumah Sakit ini selama tiga hari. Dia merengek ingin pulang, karena sudah tidak betah tinggal di Rumah Sakit. Tante Celine dan Sherly sampai tertawa geli melihat Tante cantiknya merengek minta pulang. Akhirnya siang ini juga Amelia diperbolehkan untuk pulang.
Mereka semua menaiki mobil Tante Celine, kecuali Dokter Alina. Dia masih ada shift sampai sore hari, sehingga dia tidak bisa ikut dengan rombongan itu.
"Aku akan sering-sering main kerumah Mama! Dan kita akan mengobrol lebih lama lagi," bisiknya kepada Amelia, Amelia tersenyum bahagia.
Tante Celine menyuruh Amelia untuk sementara tinggal dirumahnya, karena memang kondisi Amelia yang masih perlu perawatan intensif. Sebelum pulang ke rumah Tante Celine, Amelia memohon kepada Tante untuk mengantarnya ke pengadilan agama. Keputusannya sudah bulat ingin berpisah dari suaminya. Apapun yang terjadi dia harus melakukannya, itu adalah tekad kuat Amelia. Tante Celine pun mengizinkannya.
Mobil berhenti di depan pengadilan agama, dengan didampingi Tante Celine, Amelia mengajukan pengajuan perceraian. Dengan menyerahkan bukti-bukti visum dari Rumah Sakit, Amelia berharap perceraiannya secepatnya diurus oleh pengadilan agama.
Selesai urusan di pengadilan, mereka kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah Tante Amelia. Beberapa menit kemudian, mobil berhenti didepan rumah yang super mewah dan super megah. Ini adalah pertama kalinya Amelia datang ke rumah Tante Celine. Rumahnya sangatlah mewah, semua perabotan di rumah itu barang-barang bermerek dan mahal. Banyak sekali pelayan yang bekerja di rumah ini, bisa dilihat betapa kayanya Tante Celine. Amelia jadi minder sendiri. Sherly begitu bahagia karena Tante cantiknya ikut pulang bersama dirinya. Sherly langsung menarik tangan Amelia untuk masuk ke dalam rumah tersebut.
"Hati-hati, Sayang! Tante Amelia sedang hamil," tutur Omanya, Namun tidak diindahkan oleh Sherly.
Tante Celine memperkenalkan Amelia kepada para pelayan di rumah itu, mereka menyambut hangat kedatangan Amelia. Tante menyuruh pelayan menyiapkan kamar tamu untuk dibersihkan dan dirapihkan. Pelayan pun bergegas untuk membersihkan kamar tersebut, tidak terlalu kotor dan berdebu, karena memang setiap hari ada pelayan lain yang tugasnya membersihkan dan mengepel semua kamar-kamar di rumah itu.
"Sayang, ikut Tante! Kamu beristirahatlah dikamar tamu ini! Jangan pernah menolak niat baik Tante! Karena Tante tidak suka penolakan!"ujarnya.
"Terima kasih banyak, Tante!" Amelia mengekor di belakang Tante Celine.
Rumah Tante Celine sangatlah besar, ada banyak kamar, kamar mandi, dapur yang sangat luas, ruang makan, ruang keluarga dan ruang tamu. Dibelakang rumah besar ini, ada taman dan kolam renang yang sangat luas. Bahkan jika dibandingkan dengan rumah milik ayah dan bundanya, kolam renang itu dua kali lebih luas dari rumahnya dulu.
to be continued......
*****************************************
Yuk mampir juga di novel paling baru aku dengan judul "HIDDEN RICH TWINS"
__ADS_1